Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 83. There Will Be Tomorrow


__ADS_3

Hannah memang tidak seharusnya meremehkan Louis sedari awal. Diamnya pria itu selama ia pulang ke Desa, bukan karena telah melepaskannya pergi, namun karena sedang menyusun rencana picik untuk merebutnya dari Mark. Begitu cerdasnya hingga tak hanya bukti palsu, namun juga hati Ibunya berhasil ia curi. Membuat kesan pertama sebagai pria yang baik dan bertanggungjawab.


Satu lagi, Louis seakan tau apa yang ada di otak Hannah. Sehingga sesampainya mereka di kota, Louis menguncinya di salah satu kamar di rumah megahnya. Kamar yang hanya berisi ranjang, pendingin ruangan, dan kamar mandi. Tidak ada kaca, atau objek tajam lain yang sekiranya bisa Hannah gunakan untuk melukai diri.


Intinya, Hannah tak memiliki jalan keluar lain. Louis tak hanya memegang kendali atas tubuhnya, tapi juga atas hidup dan matinya.


“Mark.. maafkan aku”


Sesal tak ada artinya, karena semua telah terjadi atas kesalahannya sendiri. Hannah merasa ini karma baginya. Menyiakan Mark yang tulus, untuk mengabdi pada sosok iblis berwujud pria seperti Louis. Ia bertanya-tanya bagaimana reaksi Mark ketika sampai di rumahnya nanti, dan mendapatkan penjelasan dari Ibunya. Mark pasti akan sangat terluka, kan?


Bulir airmata yang semula telah mengering, kini kembali mengaliri pipi gadis itu kala ia teringat pria Sebastian. Sungguh, ia hanya ingin mencintai dan dicintai. Tapi mengapa akhirnya harus seperti ini?


**


Hari ini Tyona diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Bukan hal membahagiakan untuknya sendiri karena itu berarti ia harus pulang ke rumah yang ia bagi dengan Jeffrey. Mengingat kisruh rumah tangga mereka yang masih menggantung, enggan rasanya pulang ke rumah. Ironis bukan? Tempat yang dulu terasa hangat kini justru menjadi tempat yang dihindari Tyona.


“Semua pakaianmu sudah kumasukkan kedalam tas” ucap Kiran usai menutup resleting tas milik Tyona. Dokter kandungan itu kembali lagi ke kamar rawat Tyona untuk membantu kawannya berbenah. Entah mengapa Kiran memiliki firasat bahwa Jeffrey tak akan datang, dan ternyata benar adanya.


“Aku tidak habis pikir bagaimana pria itu tidak datang mengunjungi istrinya yang sedang dirawat di rumah sakit yang sama”


Tyona mengambil alih tas dari jangkauan Kiran. “Terimakasih, Kiran”


“Mungkin Jeff sibuk” sambung Anna. Kiran berdecak sebal, spesialis itu melipat dua tangannya di depan dada. “Aku sibuk, tapi aku ada waktu untuk kemari. Begitupun dengan Darren”


“Anna, aku tau ini bukan ranahku tapi.. aku mohon, sayangilah dirimu. Jika memang kau sudah tidak tahan dengan semua ini, lepaskanlah. Jika memang kemungkinan buruknya.. berpisah, aku ada kenalan pengacara hebat. Dia bisa membantumu memproses perce—“


“Aku tau, Kiran” Anna tersenyum. “Tapi untuk saat ini aku belum bisa dan belum berani mengambil keputusan mengenai masa depan pernikahan kami. Setidaknya belum sampai aku bicara empat mata dengan Jeffrey”


“Kau sudah bicara dengannya, dan tidak membuahkan hasil”


Masih dengan senyuman khas yang terpampang di wajahnya, Tyona meraih jaket dan mengenakannya. “Kurasa perceraian harus dipikirkan lebih matang dibanding ketika memutuskan untuk menikah. Karena prinsipku sejak dulu memang menikah sekali seumur hidup, jadi selagi masalah dalam rumah tanggaku bisa diselesaikan tanpa perceraian, kenapa tidak?”


“Tapi dia sudah menyakitimu, Anna. Dia harus memilih antara kau atau selingkuhannya!” Kiran berdehem, sadar jika intonasinya sudah berubah dan topik obrolan mereka sudah kelewat jauh.


“Maaf, kuharap kau tidak tersinggung. Aku hanya ingin kau bahagia. Kau wanita yang baik, Anna. Kau terlalu berharga untuk disakiti pria seperti Jeffrey”


Tyona melangkah, memeluk Kiran erat. Usai menangis di pelukan Kiran untuk yang kedua kalinya kemarin, Tyona berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tak akan menangis lagi, setidaknya di depan orang lain.


“Terimakasih untuk segalanya, Kiran. Aku bersyukur memiliki sahabat baik sepertimu dan Darren. Doakan saja yang terbaik untukku dan Jeffrey”


Kiran mengangguk, melepas pelukan Tyona. “Tentu saja aku akan mendoakanmu. Ayo kupanggilkan taksi”


Tyona mengekor langkah panjang Kiran dari belakang. Dalam benaknya muncul satu alamat yang akan ia kunjungi setelah ini, yang jelas bukan rumahnya.


Renatta terkejut bukan main melihat penampakan sosok Tyona di depan rumahnya. Awalnya ia mengira bel yang berbunyi adalah dari kurir paket, namun bukannya pria berseragam ekspedisi, yang di hadapannya justru wanita cantik yang terpancar kesenduan dalam matanya.


“Maaf.. apa benar ini rumah Renatta?”

__ADS_1


Renatta. Tyona mendapatkan nama itu dari Kiran. Kawannya pada akhirnya mengaku mengenai sandiwaranya beberapa waktu lalu mengenai berita kehamilan Tyona dan memberitahunya bahwa nama perempuan yang diantar Jeffrey untuk memeriksakan kandungannya adalah Renatta.


Lawan bicaranya mengangguk kikuk. “Ya, benar”


Tyona tersenyum tipis. “Kau.. Renatta?”


Lagi, Renatta mengangguk. Berhadapan langsung dengan Tyona adalah hal yang tak pernah ia pikirkan. Juga bagaimana rupa wanita itu yang masih terlihat sangat cantik sekalipun pucat dan ada jejak sembab disana. Sungguh, Renatta iri.


“Kita belum pernah bertemu. Perkenalkan, namaku Artyona. Aku istri Jeffrey”


Mendadak, tenggorokan Renatta kering dan lidahnya kelu. Apakah dirinya akan bernasib sama seperti perebut suami orang didrama-drama? Yang akan dijambak rambutnya dan disiram air?


“Aku.. ingin bicara denganmu. Empat mata. Apa kau ada waktu?”


**


Jeanno tidak main-main dengan ucapannya untuk menyambangi kediaman Hannah di Desa. Dengan persiapan seadanya dan menitipkan Aera di rumah Nora, Jeanno berangkat sehabis jam sarapan bersama Judith. Semakin awal mereka berangkat, semakin cepat mereka pulang bersama Hannah.


“Apa Hannah sudah mengangkat telpon?”


Judith menggeleng seraya memandangi ponselnya frustasi. Sudah tak terhitung berapa kali ia menelpon sahabatnya sejak kemarin. Namun tak ada satupun yang direspon. Membuat Judith merasa ada yang tidak beres, karena tidak biasanya Hannah bertingkah seperti ini.


“Atau mungkin disana tidak ada sinyal?”


Judith mengangkat bahu. “Entahlah, Tuan. Tapi pesan-pesanku berstatus terkirim. Ponselnya hidup tapi tidak ada yang merespon. Seperti jatuh ditempat yang tidak bisa dijangkau”


“Kau punya nomor keluarganya?”


Jeanno mengangguk memberi ijin yang diterima Judith dengan baik. Ia lantas menelpon salah satu rekannya dulu, Debby.


“Astaga Judith! Kemana saja kau? Aku berpikir kau sudah pensiun dan pindah keluar negeri”


Judith terkekeh ketika panggilannya direspon pada dering ketiga, hanya untuk mendengarkan pekikan heboh dari Debby.


“Ya, aku sedang ingin menyendiri. Maaf jika menelponmu sepagi ini, aku pasti menganggumu”


“Jangan bicara omong kosong, sayang. Aku sama sekali tidak terganggu. Omong-omong, ada apa kau menelponku? Jangan salah paham, aku senang kau menelpon. Hanya saja tidak biasanya”


Judith meringis. Ia dan Debby cukup dekat, namun untuk berkomunikasi melalui telpon memang jarang mereka lakukan.


“Begini, aku ingin menanyakan perihal Hannah. Apa kau tau alamat rumahnya di Desa? atau nomor telpon ibu dan adik-adiknya?”


Terdengar suara seseorang tengah mengiris sesuatu. Sepertinya Debby sedang memasak. “Aku hanya tau nomor ponsel adik lelakinya. Husen, eh aku lupa namanya”


“Boleh aku minta?”


“Tentu saja, sayang. Nanti kukirimkan padamu. Omong-omong, temanmu itu akhir-akhir aneh”

__ADS_1



*


Dahi Judith mengerut. Ia bertukar pandang dengan Jeanno yang memang turut mendengarkan panggilan yang diloudspeaker. “Aneh?”



“Ya. Pertama dia sudah tidak menerima slot untuk private dance. Tapi tetap menghilang ke ruang VIP setiap saat dengan pakaian berbeda yang dibawa oleh Johnny. Lalu setelah itu dia menghilang dari panggung utama, tapi tetap datang ke Victoire. Berdandan dan berpakaian layaknya penari. Bahkan dua minggu belakangan ini dia sudah tidak ke Victoire”


“Deb, apa kau tau siapa tamunya?”


“Entahlah, sayang. Aku dan yang lain hanya bisa menebak tapi kami tidak menemukan nama pria itu. Namun yang jelas bukan orang sembarangan mengingat ia memiliki power untuk ‘mengambil’ Hannah dari Victoire. Kau tau sendiri, sejak Renatta mangkir, disusul kehilanganmu, Hannahlah yang tersisa dari 3 penari terbaik. Kalau aku jadi Johnny, aku tidak akan mengijinkan satu-satunya penari yang tersisa diusik oleh orang lain. Kau mengerti maksudku?”


Judith mengangguk, detik berikutnya teringat bahwa Debby tidak bisa melihat gesturnya. “Ya, aku mengerti”


“Johnny juga sepertinya tenang-tenang saja. Kami penasaran sekali seistimewa apa pria misterius itu. Dan terlihat sekali ia sangat menyukai Hannah. Tapi benarkah kau baru tau dariku? Kupikir kau bersahabat dengannya”


“Ya, kami memang dekat. Tapi karena aku sedang berada di tempat yang jauh, jadi kami jarang berkomunikasi”


“Memang kau dimana sekarang?”


Judith menggigit bibir. “Aku harus pergi, Deb. Terimakasih untuk waktunya. Dan jangan lupa kirimkan nomor adik Hannah. Bye, Deb”


Judith mematikan secara sepihak panggilannya. Usai mendapatkan nomor adik lelaki Hannah, dengan segera Judith memblokir nomor Debby. Mengingat poin perjanjian kerjanya untuk tidak menghubungi siapapun yang bersangkutan dengan kehidupan lamanya.


“Sudah dapat nomornya?”


Wanita itu mengangguk. Kemudian mendial nomor pemberian Debby. Dering pertama hingga terakhir, tidak ada respon. Judith menghela nafas, dicobanya lagi. Syukurlah pada dering keempat, panggilannya terangkat.


“Halo?”


“Hei.. eum, maaf mengganggumu tapi benarkah ini nomor adiknya Hannah?” Judith menggigit bibir, mengutuki dirinya bagaimana ia bisa lupa nama adik sahabatnya. Well, yang jelas bukan Husen seperti yang Debby katakan.


“Ya, benar. Ini Haikal. Maaf, ini siapa?”


“Aku J-ehm, Rena. Teman baik Hannah. Begini Haikal, aku dan… tunanganku sedang berlibur ke kota tempat tinggal Hannah. Kami berpikir ingin mengunjungi rumah Hannah tapi aku lupa alamatnya. Bisakah kau mengirimkan secara detail alamat rumah kalian?”


Tak langsung terdengar suara disana. Namun telinga Judith sayup-sayup menangkap helaan nafas berat dari seberang.


“Percuma kalian kemari, Kakak juga tidak ada disini”


“Ya? tapi terakhir yang kudengar Hannah pulang kerumah sudah sekitar satu minggu”


“Memang. Tapi dia kembali ke kota kemarin”


Seperti tadi, Judith dan Jeanno saling bertukar pandang. “Aku tidak mengerti. Apa ia kembali ke kota sendirian? kebetulan aku sudah menelponnya berkali-kali tapi tidak kunjung diangkat”

__ADS_1


“Tidak. Dia kembali bersama pria yang akan menikahinya”


**


__ADS_2