Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 121. D-Day


__ADS_3

Hari sakral itu pada akhirnya tiba.


Pernikahan Mark Sebastian menjadi headlines di hampir seluruh portal berita. Menjadi acara akbar karena pada akhirnya, sang pewaris Sebastian menyudahi masa lajangnya. Semua penasaran, seperti apa rupa gadis yang mampu memikat hati Mark. Omong-omong, mengenai latar belakang Hannah, sudah menjadi rahasia umum di kalangan pers bahwa calon nyonya Sebastian adalah mantan penari erotis. Namun untuk menghormati Tuan dan Nyonya Sebastian yang dikenal dermawan, mereka sepakat untuk tidak membuka masa lalu Hannah. Lagipula untuk apa? Toh Hannah diterima baik oleh keluarga calon suaminya, dan mereka akan menikah dalam hitungan jam.


Resepsi diadakan di hotel Iris, sementara pemberkatan di gereja dekat hotel, itulah mengapa sejak satu hari sebelumnya Mark sudah membooking beberapa kamar untuk keluarga dekatnya.


“Sayang, dasiku dimana?”


Judith yang tengah menyisir rambut Aera, melirik kearah Jeanno yang sedari tadi mondar-mandir dengan kemeja yang belum terkancing semua dan lengan yang tidak sama panjang antara kanan dan kiri. Juga rambut yang masih berantakan.


“Bisakah kau mencarinya dulu? Nanti kubantu setelah selesai menata rambut Aera”


“Semalam kau sudah memasukkannya kedalam koper, kan? Tapi tidak ada”


Judith memutar bola mata jengah. Tangannya meraih jepit rambut kelopak bunga berwarna putih yang indah, untuk diselipkan ke rambut Aera sebagai pemanis.


“Aku bertanya padamu ‘Dasinya sudah kau siapkan?’ kau menjawab ‘Sudah, sudah kumasukkan ke koper’. Apa kau lupa?”


Sementara si kecil sedari tadi terkikik melihat kepanikan papanya.


“Apa jangan-jangan tertinggal? Tidak, tidak. Bisa mati aku jika ada yang tertinggal”


Judith menggelengkan kepala, kemudian melihat kearah Aera. “Berputarlah sayang, mama ingin lihat apa penampilanmu sudah oke”


Si kecil menurut, berputarlah ia di depan Judith yang membuat perempuan itu tersenyum puas. “Putri mama cantik sekali. Aera duduk sebentar ya, biar mama bantu papamu yang pelupa itu”


Judith berdiri dari duduknya, menghampiri koper Jeanno yang masih dalam keadaan terbuka dan berantakan.


“Aku sudah mencari disemua sisinya” ujar Jeanno ketika Judith membuka satu persatu bagian kecil dari kopernya. Perempuan itu tak mengindahkan, ia harus memastikan sendiri dengan tangannya.


“Oh ya? lalu ini apa?”


Jeanno berdehem ketika dasi yang ia cari berada di tangan Judith. “Bagaimana bisa disitu?”


Aera yang berada di kursinya menahan tawa.


“Sepertinya kau harus banyak minum vitamin supaya tidak pelupa. Sini kupakaikan sekalian”


Tanpa perlu disuruh dua kali, Jeanno mendekatkan tubuhnya. Membiarkan Judith membantu merapihkan kemejanya yang masih berantakan, kemudian mengenakan dasinya.


“Maaf, jangan marah-marah terus”


Sabit itu berubah menjadi puppy eyes yang melemahkan Judith untuk berhenti mengomel. “Aku tidak marah”


Jeanno tersenyum, memandangi lawan bicaranya yang tengah fokus memasang dasi. Judith sungguh cantik pagi ini, dengan balutan gaun berwarna merah muda yang membungkus tubuhnya sempurna. Kemudian aksen jepit rambut bunga yang terselip dalam tatanan rambut yang sederhana. Jeanno tahu hari ini adalah hari sempurna bagi Mark, tapi jika boleh jujur, hari ini juga hari sempurna untuknya. Menghabiskan malam bersama keluarganya, berbagi ranjang bertiga dengan canda dan tawa pengantar tidur. Kemudian bangun, merasakan hiruk pikuk hecticnya persiapan pernikahan Mark dan Hannah. Perasaannya menghangat, sadar atau tidak, yang mereka lakukan sudah persis seperti keluarga pada umumnya. Hampir membuat Jeanno lupa bahwa sesungguhnya Judith hanyalah lakon pengganti.


“Sudah selesai”


“Kau mau aku berputar seperti Aera?” Judith terkekeh. “Tidak usah, kau sudah tampan. Kalian boleh turun dulu, aku mau menemui Hannah bersama bridesmaid yang lain”


Jeanno mengangguk, sebelum menghampiri Aera, dirinya menunduk, mencuri kecupan dari bibir Judith. “Kau cantik”


**


Hannah terlihat menawan sekali dengan gaun putihnya. Seperti Hannah, gaun itu sederhana. Tak ada aksen berlebihan, namun tetap pas dilihat. Helga dan sang ibunda yang memang datang kemarin sore dan ikut menginap bersamanya, tak berhenti memandang takjub melihat bagaimana sempurnanya Hannah dengan balutan gaun pernikahannya.

__ADS_1


Judith masuk, membuatnya memekik penuh kegirangan. Tak percaya sebentar lagi sahabatnya akan menjadi seorang istri.


“Kau pengantin tercantik yang pernah kulihat”


Judith melangkah mendekat, memeluk Hannah sekilas usai memberi salam kepada Bibi. “Bagaimana perasaanmu?”


“Aku.. tidak tahu. Gugup, tapi juga bahagia sekali. Pipiku sakit karena tidak bisa berhenti tersenyum”


“Sejak tadi kakak memintaku untuk mencubitnya, memastikan apakah ini mimpi atau bukan” Helga menambahkan. Direspon Judith dengan kekehan. “Tentu saja ini bukan mimpi, sayang”


“Aku merasa seperti cinderella yang bertemu dengan pangeran. Yang tadinya aku bukan siapa-siapa, lalu dalam hitungan waktu beberapa jam lagi, aku sudah menjadi seorang istri. Oh astaga Judith, apa aku pantas?”


“Tidak ada yang lebih pantas menjadi nyonya Mark Sebastian selain dirimu, sayang”


“Dadaku rasanya mau meledak karena berdetak terlalu kencang”


Masih terkekeh, Judith mengusap punggung tangan sahabatnya. “Tarik nafas, hembuskan perlahan sayang. Kau sudah menghapalkan janji sucimu kan?”


“Sudah. Tapi aku takut lupa”


“Aku yakin kau pasti bisa. Sekali lagi, selamat atas pernikahanmu, sayang. Selamat berbahagia”


Kedua karib itu kembali berpelukan. “Akupun berharap kau mendapatkan akhir yang bahagia, Judith”


**


Proses pemberkatan berlangsung lancar. Hannah yang gugup setengah mati, pada akhirnya berhasil mengucap janji dengan lantang dan penuh keyakinan. Mark? Jangan ditanya. Dia mengucapkannya tanpa ada gangguan berarti. Diakhiri dengan pengantin yang saling berciuman, para tamu yang bertepuk tangan. Menghantarkan perasaan turut bersuka cita akan sah-nya Mark dan Hannah sebagai sepasang suami-istri.


Acara selanjutnya akan dilaksanakan di Ballroom hotel sore nanti. Sedikit memberi waktu bagi mereka untuk beristirahat sejenak.


“Rasanya aku masih tidak percaya mereka sudah menikah. Aku ikut bahagia, sangat bahagia”


Jeanno mengangguk, setuju akan pernyataan Judith. “Akupun begitu. Selama ini Mark sudah berada disisiku baik suka maupun duka. Jika tidak ada Mark, aku pasti sudah tersesat sejak lama. Aku ikut senang pada akhirnya dia bisa menemukan seseorang yang menemaninya tua bersama”


Judith hendak menimpali, namun terhenti karena ponsel Jeanno yang berdering. “Bibi Maria? Ada apa? Aku di kamar dengan Judith, beristirahat sebentar. Apa?”


Tidak tahu kabar apa yang dibawa bibi Maria, namun melihat perubahan ekspresi dari Jeanno, Judith tebak pasti bukan berita baik.


“Baik, aku akan segera kesana”


“Ada apa, tuan?” tanya Judith usai sambungan telpon Jeanno selesai. Pria itu tidak langsung menjawab, mengatur nafas supaya lebih tenang.


“Orangtuaku… datang”


**


Jeanno duduk disana, hening. Layaknya seorang pengagum rahasia hanya mampu mengamati seseorang itu dari jauh, atau lebih tepatnya dari balik kaca mobilnya. Sengaja hari ini ia memilih menggunakan mobilnya yang lain. Supaya Nayara tidak menyadari bahwa dirinya ada dibalik kaca itu, mengamati seperti Nayara mengamatinya tempo hari lalu.



*



Mark benar, sepenuhnya benar. Apa yang Jeanno lakukan, tidak bisa dibenarkan apapun alasannya. Ialah yang sudah membawa Nayara kedalam hidupnya, juga sengsara karenanya. Jeanno tidak yakin, apa Nayara akan memaafkannya setelah ini. Terlebih jika mengetahui alasan beasiswanya dicabut adalah karena dirinya, atau lebih tepatnya karena kekuasaan ayahnya.

__ADS_1



*



“Tuan Alexander? Apa yang kita lakukan di depan toko bunga?”



*



Jeanno mengangkat wajahnya, melihat dari arah cermin. “Aku ingin kau turun, dan memesankan sebuket lily untukku”



*



Sang supir, walaupun terheran, memutuskan untuk tidak banyak bertanya. Namun sebelum dirinya turun, Jeanno memberinya uang yang menurutnya terlalu banyak untuk sebuket lily.



*



“Berikan tip untuk penjual bunga itu. Jangan katakan apapun tentangku atau keluarga Alexander. Kau mengerti? untuk imbalanmu, nanti akan kutransfer sendiri”



*



Pria itu mengangguk, tanpa banyak bertanya melaksanakan apa yang telah diperintahkan. Dari jaraknya, Jeanno bisa melihat bagaimana tulusnya Nayara melayani pembeli. Senyum itu, senyuman yang menjadi favoritnya sampai sekarang. Ia rindu, teramat sangat. Dua bulan tidak bertemu, membuat dadanya merasa kosong. Ketika supirnya memberikan tip, Nayara terlihat senang bukan main dan mengucap terimakasih berkali-kali.



*



Jeanno bersyukur, setidaknya Nayara bisa menggunakan uang itu untuk menambah tabungannya. Ia memang belum bisa menemuinya sekarang, tapi Jeanno bertekad untuk melindungi Nayara, sekalipun dari jarak jauh.



*



**

__ADS_1


__ADS_2