Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 186. Feels Like Home


__ADS_3

“Bagaimana bisa aku mengejar bahagiaku, sementara bahagiaku ada padamu?”


Judith yang lebih dulu memutus kontak mata. Dirinya tak bisa menjamin akan tetap berpikir jernih jika terlalu lama tenggelam dalam netra legam milik sang tuan muda. Ia tahu saat seperti ini pasti akan datang ketika keduanya bertemu. Judith sudah mengantisipasi, sudah pula meneguhkan hati. Maka dari itu, dengan perlahan ia melepaskan genggaman tangan Jeanno pada pergelangan tangannya.


“Bahagia datang dari banyak sumber, tuan. Bukan hanya dariku. Aku tidak bisa memberikan tuan hal itu, maafkan aku..”


“Aku kemari murni, sebagai bentuk dukungan antar teman. Supaya setidaknya, tuan tidak merasa sendiri melawan publik yang telah berpindah sisi. Jika tuan menyalahartikan perhatianku, maka kumohon enyahkanlah pikiran itu. Aku sudah tidak sama lagi seperti Judith yang tuan kenal”


Bohong. Karena bagaimanapun hal terbesar yang mendorong Judith menepuh ratusan kilometer adalah cinta. Cinta yang begitu besar, masih tersisa disana. Nyatanya tidak pernah kemana-mana. Bahkan Owen yang notabene calon suaminya saja tidak ia ijinkan menempati ruang hatinya, barang secuil.


Jeanno mengangguk samar. Menyadari tindakannya yang bisa disebut lancang. “Maafkan aku jika kau kurang nyaman dengan perlakuan ataupun perkataanku barusan”


“Ya, tidak apa-apa” wanita itu tersenyum, masih sama manisnya seperti dulu. “Ayo makan. Aku buatkan sup kesukaan tuan”


Keduanya melangkah bersamaan. Jeanno berpikir, jika ia masih menjadi pribadi yang keras, sudah pasti sekarang dirinya akan mengurung Judith untuk tetap bersamanya selamanya, tidak akan ia ijinkan wanita itu kembali pada kehidupan ‘normal’nya bersama pria asing yang diakui sebagai calon suami.


Namun sekarang, Jeanno hanya mampu memandangi punggung Judith sendu. Ia sungguh takut jika Judith memilih pergi karena tidak nyaman dengan perkataannya barusan. Ia takut menyakiti wanita itu lagi barang seujung kuku. Judith dimatanya sekarang tak ubahnya seperti porselen, yang harus ia perlakukan hati-hati.


“Makanlah yang banyak. Tuan terlihat kurus dan pucat”


Jeanno hanya diam saja menerima uluran piring yang sudah terisi lauk pauk menggiurkan. Kegiatan makan yang terlihat biasa namun sudah lama Jeanno rindukan. Memang dirinya sudah berdamai dengan kedua orangtua, akan tetapi kehangatan di meja makan yang terakhir Jeanno rasakan adalah ketika Judith tinggal bersama dengannya dan Aera.


“Tuan?”


“Ah, ya. Maaf”


Tak ada yang bicara. Suasana ruang makan hanya terisi latar suara berupa dentingan alat makan yang bersentuhan dengan piring. Selesainya, Judith membawa peralatan makan Jeanno untuk dicuci. Meninggalkan tuannya yang duduk terpaku memandangi postur ramping yang biasa ia peluk dulu. Sekali lagi, Jeanno yang dulu akan langsung memeluknya dari belakang. Tapi sekarang, Jeanno menyadari bahwa tidak seharusnya ia melewati batas dalam hal sentuhan. Terlebih status Judith yang akan menjadi istri orang lain.


Karena pikiran itulah, Jeanno memutuskan untuk kembali ke kamarnya.

__ADS_1


**


Arman menggeram keras usai menggebrak meja. Mengakibatkan orang-orang dihadapannya terlonjak kaget. Mengenai penyebab yang membuat bos mereka marah luar biasa, adalah fakta bahwa Jeanno, yang tengah terpuruk, tetap memiliki Judith disisinya. Bahkan menginap dua malam di penthouse yang Arman yakini hanya dihuni oleh Jeanno saja.


Tangannya meraih satu lembar foto yang menampilkan Judith memasuki unit apartemen dengan tentengan yang sepertinya bahan makanan. Tak perlu menebak ke lantai mana tujuan wanita itu, sudah terpampang jelas, bukan?


Arman berdehem, menyuruh dua suruhannya keluar dari ruangan selagi pikirannya masih berkecamuk. Ia benci, sungguh membenci Jeanno Alexander. Pria dengan segala kesempurnaan yang bahkan masih memiliki Judith disaat ia sudah diambang kehancuran. Arman iri. Dibanding Jeanno, dirinya kehilangan jauh lebih banyak. Ia menghabiskan harinya di sel dan rehabilitasi dengan sunyi. Satu-satunya yang rutin mengunjungi hanyalah pengacara keluarga. Yang dikirim ayahnya karena beliau enggan bertatap muka dengan Arman. Katanya, sudah bagus kasusnya masih diurus pengacara keluarga.


Jadi, jangankan seorang wanita disampingnya. Winona saja sekarang sudah bahagia bersama suami barunya. Yang kabarnya sedang mengandung anak mereka. Arman mendengus, dunia begitu baik untuk manusia seperti Jeanno. Pria itu mendapatkan apa yang ia impikan.


Diletakkannya foto Judith, untuk beralih ke brangkas yang terletak dibelakang mejanya. Ia masukkan kombinasi pin, kemudian tersenyum melihat benda apa yang tersembunyi disana. Benda yang ia simpan didalam tas ketika menghadiri konferensi pers kemarin. Benda yang niatnya akan ia gunakan jika tidak mendapatkan pengakuan yang memuaskan dari Jeanno.


Sebuah senjata api.


Arman mengangkat pistol itu. Memandangnya penuh gairah, jiwanya meletup tak sabar ingin menggunakannya. Sedikit banyak orang tahu, Arman pernah menjuarai turnamen menembak beberapa tahun lalu. Yang kembali ia pertajam skillnya usai keluar dari rehabilitasi. Jika dulu obsesinya adalah Judith, maka sekarang telah resmi berubah.


“Jeanno Alexander. Akan kubuat kau bertemu dengan Nayaramu…”


**


Judith luar biasa terkejut ketika ia mendapati Jeanno tengah mematung didepan pintu kamarnya. Entah sudah berapa lama Jeanno berada ditempatnya sekarang. Apa tuannya membutuhkan sesuatu? Tapi jika iya, bukankah seharusnya pria itu mengetuk pintu?


“Ada yang tuan butuhkan?”


Bukannya menjawab, Jeanno justru melongok sedikit ke kamar Judith. Dimana masih ada tas pakaian yang resletingnya masih terbuka namun terlihat sudah terisi penuh. Usai menghabiskan dua hari dua malam, Judith memutuskan untuk pulang besok pagi. Yang tentu saja tidak bisa Jeanno cegah.


“Aku…”


“Judith, sebelum kau pulang…”

__ADS_1


“Bolehkah aku.. memelukmu dalam tidur?”


Judith mengerjapkan matanya terkejut. Tentu saja, dua hari menghabiskan waktu bersama dalam satu atap, tak ada sentuhan antara keduanya. Interaksi verbal maupun non verbal sangatlah tipis. Bak tidak saling mengenal, seakan ada dinding yang membatasi keduanya. Penthouse mewah itu semakin terasa dingin akibat kecanggungan didalamnya.


“Aku berjanji tidak akan menyentuhmu lebih. Aku tau batasanku. Aku hanya… aku hanya ingin memelukmu untuk yang terakhir kalinya”


Tak bisa dipungkiri nada goyah dan lirih dari bibir Jeanno mampu menyentuh pendirian Judith. Maka tanpa memikirkan apapun, gadis itu mengangguk pelan.


**


Berada di satu ranjang dengan pria lain yang bukan calon suaminya, bergelung nyaman saling membagi hangat pelukan dibalik selimut. Seharusnya mampu membuat Judith merasa bersalah, akan tetapi sebaliknya. Ia justru merasa nyaman. Jauh lebih nyaman dibanding semua momen yang ia habiskan bersama Owen. Jika otaknya berpikir jernih, pastilah Judith akan bangun dan memilih untuk pergi malam itu juga. Tapi hatinya menolak. Ia merasa sedang berada di ‘rumah’.


“Penyesalan ini seperti tidak mau pergi, Judith”


Kepala Judith mendongak, mendapati Jeanno yang memandang lurus kearah atap. “Penyesalan apa?”


“Penyesalan bahwa aku menyakitimu dan menghilangkan nyawa bayi kita. Kupikir, aku sudah menebusnya. Bahkan ketika publik membenciku dan aku mundur dari perusahaan yang kubangun dari nol. Kupikir hal itu mampu meringkankan, tapi nyatanya.. tidak”


Jeanno memejamkan matanya. Mengeratkan pelukannya pada tubuh Judith hingga terlihat postur mungil itu ‘tenggelam’ dibaliknya.


“Aku minta maaf. Sungguh meminta maaf atas segala kebodohanku”


Judith masih mendongak, tertegun kala melihat bulir airmata lolos dari mata yang terpejam. Hatinya turut sakit, kejadian antara ia dan Jeanno sudah berlalu cukup lama. Memang tragedi yang memilukan, namun ia sudah memaafkan Jeanno.


“Aku sudah memaafkan tuan. Jadi, kuharap itu mampu mengangkat penyesalan yang membekap dada”


Padahal, kalau diurut kebelakang.. jika saja Jeanno lebih bersikap tenang sedikit saja. Maka ia akan mendapatkan akhir yang bahagia. Bersatu bersama Judith dengan anak mereka yang masih bertumbuh di rahim wanita itu. Aera akan menjadi kakak perempuan yang hebat.


Dan ya, apa mau dikata. Penyesalan memang selalu datang belakangan, kan?

__ADS_1


__ADS_2