Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 106. Someone From The Past


__ADS_3

“Maaf, aku harus pergi”


Judith mengangggukkan kepala sekilas diiringi langkah cepat keluar dari kamar mandi. Itulah keputusan yang menurutnya paling tepat untuk meninggalkan percakapan seperti ini. Dirinya masih tidak tau apakah wanita dari kehidupan Nayara tadi baik atau tidak, atau seperti apa hubungan keduanya dulu. Jadi sebelum berinteraksi lebih jauh lebih baik ia bertanya pada Jeanno.


Jeanno menoleh kearah Judith yang berjalan kearahnya, yang membuat kawan obrolannya undur diri. “Hey”


“Tuan, boleh aku bertanya sesuatu?”


Jeanno mengangguk. “Ada apa?”


“Tadi aku bertemu dengan seseorang ketika berada di toilet. Sepertinya dia mengenal Nayara”


Satu alis Jeanno terangkat. “Apa kau pernah bertemu dengannya?”


Judith menggeleng. “Tidak. Maka dari itu aku berpamitan langsung karena aku ingin memastikan dulu seperti apa hubungan mereka dimasa lalu”


“Seperti apa orangnya?”


Kepala Judith menoleh menuju kearah toilet, mencari sosok perempuan tadi. Namun berselang beberapa menit yang ia cari tak kunjung nampak. “Apa sudah keluar ya”


“Apa dia menyebutkan namanya?”


Judith menggeleng. “Tidak. Aku belum sempat bertanya, dan lagi bukankah sangat konyol kalau aku bertanya?”


“Aku tidak tau siapa yang kau temui, Judith. Tapi kuberitahu satu hal, Nayara tidak punya teman dekat perempuan dan aku tidak pernah membawanya ke acara seperti ini. Jadi siapapun yang kau temui, pasti seseorang yang mengenal Nayara sebelum kami menikah”


Dahi Judith mengerut, menyadari rahang Jeanno yang mengeras dan tatapannya menajam. Ada apakah?


“Apa dia.. perempuan yang menyapamu?”


Mata Judith mengarah kesatu titik yang ditunjuk pria itu. Dan benar saja, disana berdiri perempuan cantik yang tengah melambaikan tangan kearah mereka, atau lebih tepatnya kearah Jeanno sembari tersenyum manis. Judith yang salah lihat atau ia baru saja melihat wanita itu mengedipkan mata kepada Jeanno?

__ADS_1


“Ayo kita pergi dari sini”


Judith tidak bisa mencerna gestur mereka lebih jauh karena Jeanno menggenggam tangannya, menghelanya meninggalkan Ballroom menuju pintu keluar. Judith menoleh sekali lagi, pandangan perempuan itu masih mengikuti mereka dengan senyumnya yang masih sama.


**


“Jangan pernah berinteraksi dengan perempuan itu”


Pundak Judith tersentak ketika Jeanno membanting pintu mobil keras. Pria itu terlihat marah, tapi entah kepada siapa amarahnya ia tunjukkan. Kepada Judith yang sudah berinteraksi dengan orang asing, atau kepada perempuan yang mengerling nakal padanya?”


“Memang benar dia yang menyapaku tadi. Bagaimana tuan tau dia orangnya?”


Jeanno tak langsung menjawab, fokusnya lebih ia condongkan kepada stir kemudi yang membawa mobilnya keluar dari area hotel. “Dia mantan kekasihku”


Judith hanya mengangguk simpul. Ia sudah menduga, tapi mengapa tetap saja terkejut ketika kata itu keluar dari bibir Jeanno? Dan dilihat dari profile seorang Jeanno Alexander, bukankah hal yang wajar jika pria itu memiliki mantan kekasih yang super cantik?


“Kami sempat berkencan tidak lama ketika kuliah dulu. Aku memutuskannya sebelum bertemu dengan Nayara. Tapi entah mengapa dia tidak pernah menerima bahwa hubungan kami berakhir dan selalu menganggap Nayara merebutku darinya”


“Jadi dia mantan kekasih yang tidak bisa move on?”


Judith bergidik ngeri, jika diperhatikan senyum perempuan itu memang terlihat mengerikan. Seperti ingin memakan Jeanno bulat-bulat. Tapi setelah sekian tahun berjalan, apakah perempuan itu masih terobsesi pada Jeanno?


“Dia pernah mencoba menyakiti Nayara. Memfitnahnya di depan kedua orangtuaku, dan masih banyak lagi hal menyebalkan yang tak kusangka akan dia lakukan untuk merebutku. Maksudku, dia perempuan yang cantik, kaya raya.. dia bisa mendapatkan pria yang jauh diatasku”


Mendengar Jeanno berkata ‘mendapatkan pria yang jauh diatasku’ entah mengapa membuatnya menahan geli seakan itu hal yang mudah digapai. Sadarkah Jeanno bahwa ‘menyukai’nya saja sudah hal yang sulit digapai?


“Oia, namanya Sharin. Jadi kuharap.. kau berhati-hati padanya. Karena sejauh yang ia tau, kau adalah Nayara”


“Bagaimana kehidupannya sekarang? Maksudku, jika dia menyukai tuan sejak masa kuliah dulu, bukankah itu berarti sudah delapan sampai sembilan tahun lalu?”


Lampu berubah hijau ketika Jeanno mengedikkan bahu. Mobil mereka melaju dengan kecepatan standar. “Terakhir yang kudengar dia menikah dengan pria lain, lalu pindah keluar negeri. Setelah itu aku tidak mendengar apapun darinya”

__ADS_1


**


Mark diperbolehkan pulang hari ini, tentu kabar yang sangat menggembirakan mengingat hampir satu bulan sejak kecelakaan naas yang nyaris merenggut nyawanya. Sejak itu, badai seakan tak berhenti menerjangnya, hingga pelangi muncul, menandakan waktu yang indah itu telah tiba.


Maria memaksa Hannah untuk tinggal di rumah, selagi Mark masih belum bisa kembali ke apartemen. Menurutnya selain membantu mempercepat kesembuhan Mark, hal itu juga memudahkannya mempersiapkan pernikahan. Sekalipun Mark sudah berkata bahwa mungkin pernikahannya masih lama, tapi sang ibu tetap keukeuh untuk menyiapkan segala sesuatunya sekarang.


“Menurutmu apa tidak berlebihan kalau aku satu kamar denganmu?”


Mark mengangkat wajahnya dari ponsel, memandang tunangannya yang sedang melipat pakaian untuk dimasukkan kedalam lemari. “Kau keberatan? Kalau iya nanti aku akan minta pembantu untuk menyiapkan kamar tamu”


“Tidak, Mark. Bukan begitu” Hannah telah menyelesaikan potongan pakaian terakhir. Usai memasukkannya kedalam lemari, ia mendudukkan tubuhnya disamping Mark. Memijat kaki pria itu lembur. “Aku hanya tidak enak kalau tetangga tau. Bagaimanapun kan kita belum menikah”


Mendengar itu sontak Mark tertawa keras, hingga wajahnya memerah dan Hannah bisa melihat tetesan airmata di sudut mata pria itu. “Astaga.. sayang, kau dari tadi diam karena berpikir begitu?”


Yang ditanya mengangguk.


“Begini..” Mark menarik nafas panjang setelah menuntaskan tawanya. “Kebanyakan di kompleks perumahan ini tidak begitu mempedulikan masalah pribadi satu sama lain. Jangankan peduli, untuk hanya sekedar keluar dan bersosialisasi saja jarang. Jadi kau tidak perlu memikirkan gosip buruk mengenai kita”


“Begitu ya.. tapi aku tetap tidak enak dengan orangtuamu”


“Bukankah ibu yang memintamu sekamar denganku? Tidak apa-apa, sayang. Itu artinya ibu percaya padaku, pada kita. Dulu sewaktu tinggal bersama di apartemen saja aku tidak menyentuhmu diluar batas, apalagi kita tinggal di rumah yang mana ada Ayah dan Ibu”


Hannah mengangguk, mengusap wajahnya malu. “Kau benar, aku minta maaf Mark”


Mark yang gemas lantas mengusak kepala Hannah, membiarkan tatanan rambut perempuan itu berantakan.


**


Sharin pulang dengan perasaan bercampur aduk. Benci luar biasa dengan kemesraan Nayara dan Jeanno yang tidak berubah sekalipun sudah bertahun-tahun lamanya mereka bersama. Iri setengah mati dengan Nayara yang penampilannya bahkan jauh lebih cantik dan glamor, well, sebenarnya sejak dulu gadis itu cantik, namun sekarang seiring dengan bertambahnya usia juga gaya hidup, Nayara jauh lebih elegan dan sekali lagi, cantik. Hal yang Sharin benci untuk akui. Nayara yang sekarang membuatnya jauh lebih terlihat pas jika disandingkan dengan Jeanno. Oh, juga Jeanno. Pria itu bertambah tampan berkali-kali lipat dari yang terakhir Sharin lihat. Wajahnya tegas, hidungnya yang tinggi, juga matanya yang tajam. Sharin tidak peduli jika sepasang mata itu memandangnya penuh kebencian. Yang ia tau, Jeanno tetaplah Jeanno yang sama. Yaitu cinta pertamanya.


Dulu sewaktu mendapat kabar Jeanno diusir oleh Thomas Alexander, Sharin pikir ia akan hidup susah dengan Nayara seumur hidup. Hal itu, setidaknya membuat Sharin bernafas lega karena berpikir barangkali Jeanno tidak tahan dengan hidup pas-pasan, lalu akan merangkak kembali padanya. Tapi ternyata ia salah, Jeanno tetap memilih bertahan dengan Nayara. Sembari menggunakan otaknya untuk membangun usaha yang sekiranya akan mengangkat perekonomiannya. Dan Jeanno, membuktikan bahwa otak cerdas Thomas Alexander menurun padanya. Dan.. Boom! Tak butuh waktu lama baginya untuk membangun kerajaan bisnisnya sendiri hingga namanya sebesar sekarang. Dan itu tanpa campur tangan sang ayah sama sekali.

__ADS_1


Sharin mengerutkan dahinya. Menyadari ada sengatan rasa iri yang kembali menusuk dadanya. Tidak, Nayara sama sekali tidak pantas berada di tempatnya sekarang.


**


__ADS_2