
Judith lantas meminta botol kosong kepala pelayan untuk dipergunakan sebagai alat permainan. Putaran pertama mengarah pada Hannah dengan lawan Jeanno.
“Eum.. truth”
Jeanno tersenyum penuh misteri. Dilipatnya lengan kemejanya hingga siku. “Pernahkah kau.. melakukan lebih dari sekedar ciuman dengan sepupuku?”
Hannah tersenyum. Pertanyaan yang tidak sulit ia jawab. “Tidak. Kami tidak pernah melewati batas, dia menghargaiku sebagai wanitanya”
“Stop, aku tidak bisa melihat yang romantis-romantis seperti ini”
Semua tertawa, saatnya Hannah memutar botol. Berhenti pada Judith yang berlawanan dengan Mark. “Eum.. truth juga”
“Apakah ada kejadian yang mengejutkanmu 3 hari belakangan ini?”
Semuanya terdiam, menunggu jawaban Judith yang seperti tengah berperang batinnya akan memilih menceritakan, atau menyimpan untuk dirinya sendiri. “Ya, hari ini”
Judith dan Hannah saling bertukar pandang. Pertemuan tak terduga dengan Arman tadi membawa keduanya untuk bersepakat merahasiakannya dari siapapun.
“Aku.. ketika tadi siang aku dan Hannah berada di kafe, aku bertemu dengan Arman”
Mata Jeanno membulat. “Brengsek. Lalu apa yang dia lakukan?”
“Dia tidak melakukan apa-apa. Hanya meminta maaf dan memintaku untuk membujuk tuan supaya tidak mengungkitnya lagi, terutama di hadapan ayahnya”
Jeanno menarik ujung bibirnya, membentuk senyum sinis. “Rupanya dia sangat takut dengan tuan Robert”
“Sebentar, apa dia melihat Hannah?”
“Tidak, untunglah. Karena pada saat Arman menghampiri mejaku, Hannah sedang di toilet”
“Syukurlah. Karena sekali ia melihat kalian bersama, dia pasti akan percaya kalau kau Judith”
Semuanya mengangguk, setuju akan ucapan Mark. “Perlukah aku menyewa bodyguard?”
Judith secara refleks menggoyangkan telapak tangannya, menolak usulan Jeanno yang menurutnya berlebihan. “Tidak perlu, tuan. Kurasa Arman tidak akan menggangguku lagi”
“Beritahu aku jika ada kejadian seperti ini. Aku tidak mau kau celaka” suara rendah Jeanno yang mengintimidasi sedikit membuat canggung suasana. Judith hanya mengangguk kaku. “Maaf tuan”
“Sudah, Jean. Jangan menyalahkan Judith. Toh sudah berlalu dan dia baik-baik saja” sela Mark. Tanpa menunggu persetujuan yang lain, permainan kembali dilanjutkan. Putaran menit kedepan membawa gelak tawa dan sorakan heboh untuk beberapa tantangan dan pengakuan kejujuran. Game yang seru sekalipun hanya mereka berempat yang berpartisipasi.
Jam yang merangkak menuju tengah malam sama sekali tak menyurutkan semangat muda-mudi disana. Justru semakin menggelora, ketika botol berhenti kepada Judith dan lagi-lagi Mark sebagai lawan.
“Sedikit membosankan jika aku menjawab truth lagi. Maka… dare”
Mark tersenyum puas, memang itu yang ia harapkan. “Aku mau kau make out dengan Jeanno”
Untuk sesaat suasana canggung. Namun Judith, dengan kepercayaan diri yang ia miliki bercampur dengan beberapa gelas champagne yang ia minum, membalas senyuman Mark dengan seringai yang sama. “Terlalu mudah”
Tak perlu menungggu waktu lama ketika ia berdiri untuk berpindah duduk di pangkuan Jeanno secara berhadapan dan menyatukan ranum mereka. Tak butuh waktu lama untuk mengubah pagutan mereka menjadi semakin dalam dan panas. Dibalut dengan lenguh Judith ketika tangan Jeanno mengusap pahanya yang tertutup gaun satin, juga geraman rendah Jeanno ketika Judith yang tidak bisa diam dalam posisinya. Menggodanya dengan gerakan seduktif.
__ADS_1
"Okay,that’s enough” Mark menyela, sebelum semua bertindak terlalu jauh. Judith yang lebih dulu menarik kepala, memandang Jeanno dengan wajah merona. Pria itu tersenyum, yang menurut Judith lebih kearah seringai. Pandangan itu, Judith tahu apa artinya. Well, sepertinya ia harus bersiap untuk tidak tidur malam ini. Dengan kikuk Judith turun dari pangkuan Jeanno, kembali ke kursinya.
Botol selanjutnya menunjuk Jeanno dengan ujung mengarah ke Judith. Jeanno memilih truth, yang membuat Judith memutar otak pertanyaan apa yang ia butuhkan untuk mendapatkan kejujuran seorang Jeanno Alexander.
“Tuan…”
Mendadak kerongkongannya terasa kering. Ia ingin menanyakan perasaan Jeanno padanya, namun segera ia urungkan karena tak ingin merusak suasana malam ini. “Pernahkah tuan… melihatku sebagai Judith? Bukan sebagai Nayara?”
Jeanno memandang lurus kearah lawan bicaranya yang terlihat gugup dengan menatap lantai. Ia mengerti arah pertanyaan Judith yang sebetulnya bukan pertanyaan sulit. Jika memang ia harus menjawab jujur, maka ia akan menjawab…
“Pernah”
**
Seperti tidak habis kesialan yang Nayara dapatkan, selang beberapa hari setelahnya ia dipanggil oleh pihak kampus. Menghadiahkannya surat berupa pemberhentian beasiswa entah karena alasan apa, padahal nilai Nayara tidak turun, dirinya pun tidak pernah absen masuk kuliah. Bagai petir disiang bolong, segala sanggahan keberatan diajukan oleh Nayara tapi apalah daya, keputusan sudah tidak bisa diganggu gugat. Mulai hari ini, ia resmi dikeluarkan dari universitas.
Tak kuasa lagi menahan tangisnya, Nayara memutuskan untuk menelpon Jeanno. Mengabaikan segala kemungkinan jika telponnya akan mengganggu Jeanno. Persetan, ia butuh prianya.*
“Kumohon angkat, Jean. Sebentar saja.. aku ingin mendengar suaramu, aku membutuhkanmu Jeanno” isaknya tak terbendung ketika panggilannya berujung voicemail. Tak ingin menyerah, Nayara kembali mencoba dengan hasil yang sama.*
Berhenti. Nayara melemaskan genggamannya pada ponsel ketika ia menyadari seluruh usahanya menghubungi Jeanno sia-sia. Gadis itu duduk dengan menangis sembari memeluk lutut.*
***
“Kau tidak bisa terus menerus seperti ini, Jeanno? Menghindar seperti pengecut”
Mark mengekori Jeanno memasuki apartemennya. Yang lebih muda menghela nafas jengah seraya mengendurkan dasi. “Lalu aku harus bagaimana? Menemui Nayara dan berakhir pada sesuatu yang lebih buruk? Tidak, Mark”*
“Dia butuh kepastian, Jeanno. Jika kau tidak menginginkannya lagi, pergi dan putuskan hubungan kalian”*
__ADS_1
Jeanno berbalik. Efek dari jenuh akibat pekerjaan yang menumpuk dan tekanan dari Mark, membuat emosinya bergejolak. “Aku tidak akan melepaskannya”*
“Tapi kau bertindak seperti bajingan yang tidak tahu diri. Dia membutuhkanmu, Jean. Jika kau tidak bisa menemuinya, setidaknya telpon Nayara. Katakan kau baik-baik saja”*
“Aku tidak bisa! kau berkata semudah itu karena kau tidak berada di posisiku, Mark”
Mark tersenyum sinis. “Apa? Mengenai ayahmu yang memberimu pilihan antara warisan atau gadis yang kau cintai? Jeanno, ingatkah masa-masa ketika kau berjuang untuk mendapatkan Nayara? Kau sudah memilikinya sekarang. Gadis itu juga mencintaimu setengah mati. Bisakah kau..setidaknya berlaku seperti pria dan memperjuangkan hubungan kalian?”*
Hening. Jeanno masih berdiri terpaku membelakangi Mark. “Papa berjanji untuk tidak mengusiknya selama aku menuruti permintaannya”*
“Klise. Seperti kisah cinta di drama-drama antara si kaya dan si miskin”*
Jeanno tidak mempedulikan cibiran Mark. Ia memilih untuk masuk kamar, mandi dengan air dingin mungkin akan meredamkan gejolak di dadanya.*
Tiga minggu yang lalu, sang ayah, Thomas Alexander masuk rumah sakit akibat jantung yang dideritanya. Bukan tanpa alasan penyakit itu kambuh usai sekian lama. Alasannya adalah Jeanno sendiri, sebagai pemicu sakit papanya. Kala itu mereka berdebat hebat, dengan topik yang sama, yaitu Nayara. Jeanno yang ingin mengenalkan Nayara kepada orangtuanya, berakhir dengan sang papa yang membeberkan fakta mengenai kehidupan Nayara yang memiliki orangtua berandalan. Ayah sang pengedar dan Ibunya bagian dari prostitusi. Pernyataan yang membuat Jeanno emosi dan meninggikan suaranya. Jeanno ingat, bagaimana teriakan panik ibunya, dan tamparan keras papanya. Ia ingat ketika sebuah vas bunga melayang karena Jeanno yang menolak mentah-mentah Sharin Widjaja. Lalu ketika Jeanno berbalik untuk memilih Nayara, sang ayah melontarkan satu kalimat final yang membuatnya skakmat.*
“Kau pilih dia, dan yang akan kau temui adalah mayatnya”*
Jeanno tidak peduli dengan warisan. Tidak peduli dengan kemewahan asalkan Nayara mau menerimanya, berada disisinya untuk menghabiskan tua bersama. Tapi jika ia harus melihat papanya menyakiti Nayara, tidak. Ia tidak akan sanggup. Itulah mengapa ia memutuskan untuk beristirahat sejenak, mengikuti aturan main Thomas sembari menelisik apa yang direncakan sang ayah.*
Jika memang Thomas serius, Jeanno memutuskan untuk melepaskan Nayara. Dengan berat hati, asalkan gadis itu hidup, dan sehat. Setidaknya Jeanno masih bisa melihatnya. Tapi jika nyawanya direnggut paksa hanya karena ia jatuh cinta, bukankah itu sangat tidak adil?*
**
__ADS_1