
Mark mengusap wajahnya kasar ketika menyadari dirinya salah memberikan laporan kepada Jeanno. Untunglah sepupunya tidak marah besar, hanya bertanya kabar dirinya karena ini sudah kali kedua Mark membuat kesalahan dalam kurun waktu dua hari. Well, Mark baik-baik saja. Hanya fokusnya yang berantakan akibat ia merindukan Hannah.
Ya, Hannahnya yang sudah lama tak ia temui.
Mereka masih intens bertukar pesan, hanya saja tidak bisa sesering mungkin mengingat Mark juga bekerja dan tidak selalu memegang ponsel. Terakhir kali Hannah mengatakan akan pulang lusa, membuat Mark berpikir untuk menjemputnya sekaligus membawanya ke rumah untuk dikenalkan pada Ayah dan Ibunya.
“Kalau memang begitu keinginanmu, dan Hannah sudah siap, ya bawa saja dia kesini. Ayah dan Ibu tidak akan menghakiminya”
Begitu kata Ibu tadi pagi, ketika Mark menelpon untuk meminta pertimbangan perihal menjemput Hannah dan membawanya ke rumah. Dan karena lusa masih hari kerja, sudah pasti ia harus meminta ijin kepada Jeanno untuk mengambil cuti.
“Halo, Nora? Apa Jeanno masih sibuk? Tidak ya? Beritahu padanya kalau aku mau kesana, ada yang ingin kubicarakan. Ya, terimakasih, Nora”
Usai mengkonfirmasi bahwa Jeanno sedang senggang, Mark segera pergi ke ruangan sepupunya. Ia sudah membulatkan pilihannya, dan entah mengapa ia sangat bersemangat kali ini.
**
“Cuti?”
Mark mengangguk. “Dua hari saja, bisa kan? Aku sangat memerlukan hari itu, Jean”
Jeanno mengusap dagunya sembari memandang Mark tajam sebelum mengubah ekspresinya dan tersenyum jahil. “Tentu saja bisa, Mark. Apa yang tidak untuk kakak sepupuku tersayang\~”
“Terimakasih, Jean! Omong-omong, jangan katakan itu lagi, terdengar menggelikan”
Jeanno tertawa. “Memang kau mau kemana?”
Mark menjelaskan rencananya dari awal. Selama bercerita, ekspresi Jeanno banyak berubah. Mulai dari terkejut hingga dahinya mengerut.
“Kau yakin dengan keputusan itu, Mark? Maksudnya.. kau mau melangkah lebih jauh disaat Hannah masih bekerja di Victoire?”
Mark memang meminuskan bagian rahasia Hannah yang belum berkenan dibagi dengannya. Sekali lagi, ia tak ingin orang lain mengetahui ‘kekurangan’ Hannah. Untuk sementara biarlah hanya dirinya dan sang ibu yang tau.
“Ya, aku sudah mantap dengan keputusanku. Sepulang dari berkenalan dengan orangtuaku, aku akan mengikatnya sebagai tunanganku. Kemudian aku akan bicara padanya mengenai pekerjaan. Aku yakin aku mampu memberinya nafkah yang setara dengan pekerjaannya disana sehingga ia tak memiliki alasan untuk tetap bekerja disana”
Jeanno mengangguk-angguk. “Jika itu yang membuatmu bahagia, aku tidak bisa berkata apalagi selain mendukungmu. Hah, kau sungguh beruntung memiliki orangtua yang berpikiran terbuka”
Mark tersenyum tipis mendengar ucapan Jeanno yang memuji orangtuanya, sekaligus menyindir orangtua kandungnya sendiri.
“Bagaimana komunikasimu dengan mereka?”
Jeanno mengangkat bahu. “Tidak ada komunikasi. Bukankah mereka sendiri yang membuangku? Orangtua yang masih waras tidak akan mengusir putranya hanya karena jatuh cinta dengan gadis sederhana. Memang sekarang jaman apa? Masih memandang oranglain dari derajatnya, kolot sekali”
“Tapi mau sampai kapan, Jean? Bukankah Bibi sudah meminta maaf secara pribadi?”
__ADS_1
“Memang sudah, tapi Mama masih takut kepada Papa sehingga apapun yang Papa katakan ia turuti. Menurutmu apa yang harus kulakukan selain melindungi keluarga kecilku sendiri, Mark?”
Kali ini Mark yang mengangguk-angguk. “Oh iya, bagaimana kabar Judith? Rasanya sudah lama sekali aku tidak bertandang ke rumahmu”
Mendengar nama itu disebut, entah mengapa ujung bibir Jeanno tertarik membentuk senyuman. “Baik-baik saja. Dia menjalankan perannya dengan baik sebagai ibu pengganti”
--juga sebagai istri pengganti, sambung Jeanno dalam hati. Masih membekas dengan manis pergumulan panas mereka dua hari lalu usai Judith membacakan dongeng tidur untuk Aera.
“Senyummu seperti orang cabul, Jean. Jangan bilang kau sedang melamunkan hal mesum?”
Jeanno hanya membalas ucapan Mark dengan senyuman tipis. Membuat sepupunya bergidik dan memilih angkat kaki dari ruangannya.
**
Mine – Busy
Kau betul pulang lusa?
Kirimkan aku alamatnya, biar aku yang menjemputmu.
Sekalian aku berkenalan dengan keluarga dari kekasihku
Hannah tak bisa menyembunyikan antusiasnya ketika membaca pesan balasan dari Mark yang mengatakan akan menjemputnya lusa. Oh, jangan tanya apakah Hannah merindukan Mark atau tidak. Karena jawabannya adalah ia sangat amat merindukan lelakinya. Bahkan sampai terbawa mimpi bertemu dengan Mark dan memeluk tubuhnya erat. Sekalipun pertemuan terakhir mereka kurang mengenakan akibat ketidakjujuran Hannah, namun menjelang tatap muka usai satu minggu terakhir ini tidak bertemu, Hannah memutuskan untuk jujur, sedikit demi sedikit.
Mine – Busy
Tapi apa tidak apa-apa?
Perjalanannya lumayan jauh, Mark.
Jika kau lelah, lebih baik jangan dipaksakan.
Tapi aku akan sangat senang jika kau bersedia datang
Mine – Busy
Tentu saja aku tidak keberatan, sayang.
Katakan pada keluargamu bahwa kekasih
Tampanmu yang akan datang menjemput :p
__ADS_1
*
Mine – Busy
Baiklah,akan kukatakan pada ibu dan dua adikku.
Aku merindukanmu, Mark. Sangat!
Mine – Busy
Sampai bertemu lusa.
Aku juga merindukanmu, sayang
Hannah menyimpan ponselnya ketika Ibu dan adik perempuannya baru pulang dari warung. Gadis itu bangkit untuk membantu bawaan plastik belanjaan sang ibu. Sementara adiknya, Helga sudah lebih dulu pergi ke dapur untuk meletakkan belanjaan, dilanjutkan kembali ke kamar untuk belanja.
“Kau tadi senyam-senyum sendiri di teras rumah”
Pipi Hannah memerah. “Ibu melihatnya?”
“Tentu saja, sayang. Ibu, kan, punya mata. Adikmu saja menyikut Ibu, mengatakan apa kau ketempelan karena senyum-senyum sendiri”
Hannah memalingkan wajahnya dengan mengeluarkan barang belanjaan dari plastik. “Tidak apa”
“Haikal bilang kau sudah punya kekasih”
Rona itu berubah menjadi wajah masam. “Ck, jadi anak itu membocorkannya kepada Ibu?”
Sang Ibu tersenyum lembut. “Tidak ada yang salah dengan memiliki kekasih, sayang. Lagipula kau sudah dewasa, Ibu juga tidak melarangmu. Malah senang jika kau memiliki seseorang yang kau percaya bisa menjagamu disaat jauh dari Ibu disini”
Perasaan Hannah menghangat mendengar dukungan dari ibunya. Sontak saja ia menghentikan kegiatannya merapikan dapur, untuk menghampur memeluk sang Ibu.
“Coba, ceritakan bagaimana kekasih anak Ibu yang cantik ini”
“Eum.. dia sangat tampan, sangat baik, dia juga mencintaiku, Bu. Akupun juga mencintainya, rasanya bertambah setiap harinya. Oh iya, lusa dia akan kemari untuk menjemputku. Dan dia mengatakan ingin berkenalan dengan Ibu dan Adik-adikku. Bagaimana, Ibu? Aku senang namun juga gugup. Dia jauh lebih berada dibanding aku. Walaupun aku yakin dia tidak akan menghakimi kondisi keuangan keluargaku, tapi aku tetap saja takut, Ibu”
Tangan wanita paruh baya itu mengusap surai putrinya lembut. “Ibu akan menyambut lelaki itu dengan pintu yang terbuka lebar. Dan walaupun kita hidup sederhana, tapi kita harus membuktikan bahwa kita terpelajar, sayang. Nanti Ibu akan menyuruh Haikal dan Helga untuk bersih-bersih. Setidaknya walaupun rumah kita kecil, tapi tetap rapi dan enak dipandang. Oh iya, kekasihmu suka apa? Nanti biar Ibu masakkan. Ibu kan harus memberikan kesan yang baik juga untuk calon menantu Ibu”
Hannah mendongak, merengut. “Ah, Ibu. Masih terlalu jauh untuk sampai ke tahap pernikahan”
“Masih jauh bukan berarti tidak mungkin, kan?” Jemari Ibu mencubit hidung Hannah gemas. “Apalagi melihat bagaimana caramu menceritakannya, Ibu sangat yakin bahwa dialah orangnya”
__ADS_1
“Berbahagialah, Hannah. Kau sudah cukup menderita menjadi tulang punggung keluarga kita. Ini saatnya kau rehat sejenak, dan mengejar bahagiamu sendiri”
**