Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 53. An Old Friend


__ADS_3

Tyona memandang takjub kearah Darren yang baru saja menyebutkan menu makanan mereka kepada seorang pelayan. Usai si pelayan pergi, pria berkacamata itu bertanya heran.


“Mengapa memandangku begitu? Aku tau aku tampan, tapi dipandang oleh wanita yang sudah bersuami rasanya aneh sekali, Anna”


Tyona tertawa, kemudian menggeleng pelan. “Aku hanya takjub karena kau masih ingat makanan kesukaanku”


“Tentu saja. Kau lupa aku memiliki ingatan yang tajam, hm?”


“Baiklah Mr.Pengingat, omong-omong terimakasih sudah mengajakku makan”


Darren melepas kacamatanya yang sedikit berembun. “Sebenarnya kau diberi makan apa oleh Jeffrey? Kau terlihat kurus dibandingkan dulu, Anna. Jangan bilang pria itu menyuruhmu diet”


“Tidak. Jeffrey tidak menekanku perihal penampilan. Dia juga memberikan nafkah yang lebih dari cukup, kok. Kau tidak perlu cemas”


Lawan bicaranya memakai kembali kacamatanya. “Jika saja aku punya nyali lebih dulu, pasti sekarang akulah yang berada ditempat Jeffrey”


“Eh, apa?”


Darren tersenyum. “Tidak. Bagaimana kabar poli anak?”


Tyona mengangkat bahunya. “Ya, sama seperti biasa. Selalu ramai. Poli tersibuk selain interna. Terkadang aku menyesal mengapa dulu aku mengambil PPDS pediatri, hanya karena aku menyukai anak-anak”


“Kan sudah kubilang berkali-kali, Anna sayang. Apa kau yakin dengan keputusanmu mengambil pediatri? Karena astaga.. saat stase pediatri saja aku sudah ingin menyerah. Tidak kuat mendengar tangisan satu anak dengan anak lain. Belum rewelnya, rasanya aku ingin ikut menangis bersama mereka”


Tyona tertawa. “Kau mengatakan tidak suka stase pediatri tapi kau koass dengan nilai tertinggi”


“Tapi serius, neurologi, interna dan pediatri adalah tiga terbawah pilihanku ketika aku memutuskan mau mengambil program spesialist dokter”


“Lalu tiga teratasmu apa?”


Darren membiarkan pundaknya bersandar, pandangannya mengawang. “Eum.. psikiatri, forensik, lalu bedah. Tapi aku tidak kuat harus menjalani 10 semester dibedah. Kalau forensik, memang yang paling singkat tapi aku masih trauma melihat brankar yang jalan sendiri ketika jaga malam di stase forensik. Jadilah pilihan yang tersisa, psikiatri”


“Kalau kau sendiri? Tiga pilihan teratas dan terbawahmu, apa?”


Tyona menopang dagunya dengan telapak tangan. “Bukan tiga, tapi dua. Dua terbawahku, forensik dan neurologi. Lalu dua teratasku.. pediatri dan orthopedi”


“Tapi pada akhirnya kau mampu menang melawan pediatri”


“Kata siapa, lututku serasa mau copot setiap hari”

__ADS_1


“Tapi kau menikmatinya kan?”


Tyona tersenyum. “Ya, aku menikmati setiap melihat tangisan mereka berubah menjadi tawa. Rasanya seperti aku sudah berjaga membuang rasa sakit anak-anak itu. Tawa dan kesembuhan mereka, itu tidak bisa diganti oleh apapun”


“Kau hebat, Anna. Jeffrey beruntung memilikimu”


Wanita itu menggeleng. “Aku juga beruntung memilikinya. Kami beruntung satu sama lain”


Darren tersenyum, dalam hati merutuki bagaimana bajingannya seorang Jeffrey yang tega bermain api dibalik punggung Tyona. Oh, jangan dikira Darren tidak peka. Ia bisa membaca situasi, bagaimana Jeff yang tidak fokus beberapa hari terakhir, dan bagaimana ekspresi paniknya ketika perempuan itu mendatanginya. Darren tau ada yang tidak beres dengan pernikahan dua sahabatnya ini.


Jika saja bisa memutar waktu, Darren akan memperjuangkan perasaannya kepada Tyona. Cinta pertamanya sejak masa kuliah dulu. Jika saja Darren tidak minder dengan penampilannnya yang menurutnya cupu. Jika saja Darren tidak memilih untuk menjadi pengagum rahasia saja. Apalah daya, karena sebelum julietnya mengetahui cinta terpendamnya, ia sudah lebih dulu menemukan romeonya. Seorang mahasiswa yang populer akan ketampanannya. Membuat Darren semakin yakin bahwa menjadi pengagum rahasia adalah pilihan yang tepat. Lagipula Tyona terlalu sulit dijangkau. Perempuan itu dengan segala kesempurnaannnya, serasa cocok jika disandingkan dengan Jeffrey.


Namun jika sudah terjadi seperti ini, Darren bertekad untuk merebut Tyona. Jika memang Jeffrey tidak bersedia atau tidak bisa menjaga istrinya lagi, biar Darren yang menggantikan posisinya.


“Kau sendiri kapan Darren?”


“Kapan apanya?”


“Menemukan pasangan. Kita sudah diusia matang, penghasilan tetap juga sudah ada. Mau tunggu apalagi hm?” Tyona menaikturunkan alisnya, menggoda Darren.


“Bagaimana ya menjawabnya, sepertinya tidak ada yang mau dengan dokter culun sepertiku”


Mau tak mau bibir Darren tak bisa menahan senyum mendengar sanjungan Tyona. “Menurutmu begitu?”


“Ya, itu pandanganku sebagai seseorang yang sudah mengenalmu lebih dari satu dekade”


“Baiklah aku jujur padamu, sebenarnya aku memang menyukai seseorang”


Respon Tyona terlihat sumringah dan antusias. “Benarkah? Apa aku mengenalnya? Lalu bagaimana kemajuan hubungan kalian?”


“Ya, kau mengenalnya. Dia sangat cantik, baik dan pintar. Pokoknya tak ada kurangnya dimataku”


“Aku mengenalnya? Katakan siapa dia! Astaga Darren, bagaimana bisa kau menyembunyikan ini dariku hm?”


Darren menggeleng, membetulkan letak kacamatanya yang miring. “Nanti aku akan mengatakannya, aku belum siap jika kau tau siapa orangnya”


“Baiklah kalau begitu. Lalu bagaimana perkembangan hubungan kalian?”


“Aku masih menjadi pengagum rahasia. Sejak dulu aku menyukainya tapi sahabatmu ini terlalu pengecut untuk sekedar jujur. Jadilah hubungan kami stuck, tidak ada kemajuan. Yang ada malah kemunduran”

__ADS_1


Dahi Tyona mengerut. “Mengapa kau bilang kemunduran?”


“Yah.. karena aku kalah cepat dengan pria lain. Aku menyesal sampai sekarang”


Tangan Tyona terulur menepuk punggung tangan Darren, bermaksud memberi dukungan. “Kalau begitu lupakan dia jika sudah bahagia bersama pasangannya. Kau berhak mendapatkan kebahagianmu sendiri, Darren”


“Bagaimana jika dia tidak bahagia dengan pasangannya?”


“Maksudmu?”


“Pasangannya berkhianat, Anna. Aku merasa buruk sekali karena aku tau tetapi aku diam saja melihatnya disakiti. Tapi disisi lain bukan ranahku untuk mencampuri rumah tangganya”


“Astaga, kasihan sekali perempuan itu. Kau mengenal pasangannya?”


Darren tersenyum pilu. “Sialnya, ya. Aku mengenalnya”


“Kalau begitu nasehati saja dulu pasangannya supaya berhenti bermain api. Kalau perlu ancam saja ku akan merebut istrinya jika dia terus-terusan berselingkuh”


“Haruskah aku bilang begitu?”


Tyona mengangguk mantab. “Ya, harus. Terkadang lelaki harus diberi pelajaran dulu supaya menyadari bahwa ia memiliki pasangan yang sempurna, tapi malah mencari yang lain diluar sana. Biar dia merasakan sakitnya penyesalan ketika istrinya direbut oleh temannya sendiri. Terlebih jika sang istri lebih bahagia bersama temannya”


“Terimakasih Anna atas sarannya”


Tyona tertawa kecil. “Sama-sama Darren. Sampaikan padaku jika kau sudah berhasil merebut wanitamu”


“Kujamin kau orang pertama yang tau ketika hari itu datang, Anna”


**


“Hannah”


Betapa terkejutnya Hannah ketika melihat siapa yang ada di hadapannya sekarang. Bukan, bukan Johnny maupun Louis. Namun sosok yang nyaris ia lupakan eksistensinya.


“Arman? S-sejak kapan kau kembali?”


“Aku kembali tiga hari yang lalu. Aku kemari setiap hari tapi kita tidak pernah ada kesempatan untuk bertemu. Aku ingin menanyakan perihal keberadaan temanmu itu, dia sudah mengabaikanku dan menghilang bak ditelan bumi. Aku asumsikan kau tau dimana dia berada, Hannah?”


Oh astaga, Hannah ingin ikut menghilang saja dari bumi. Mengapa ia harus berpapasan dengan Arman disaat seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2