
"dimana bram? aku ingin bertemu dengannya". teriak bu lidya.
"maaf bu, tuan bram tidak ada di rumah. tuan sedang perjalanan bisnis ke luar negeri". ucap bi nina.
"katakan pada bram, aku sebagai ibu Grace atau nenek alisya tidak menyetujui jika wanita ini sebagai ibu untuk cucu ku".
"bu, tenanglah. non karin ini pilihan tuan bram dan tidak ada yang bisa menentangnya".
aku hanya terdiam mendengar perdebatan antara bi nina dan ibu lidya. aku tidak berani untuk menjawab ucapannya.
"alisya takut bunda". alisya menatapku dengan wajah sedih.
"jangan takut sayang, ada bunda di sini".
bi nina masih terus untuk mencoba menenangkan ibu lidya, tapi sepertinya ibu lidya tidak mendengarkannya.
aku terus menatap mereka, sampai aku tidak bisa mendengar lagi apa yang mereka bicarakan, semua pandanganku kabur dan buram, sampai terlihat gelap.
"bunda.. ". aku mendegar teriakan alisya.
"non, bangun non........ ".
****
kamar tidur...
aku membuka mata dan penglihatanku sedikit kabur, aku melihat alisya tidur di sampingku, aku berpikir kapan aku bisa ketiduran.aku melihat jam sudah menunjukan pukul 23:20 malam.
"alisya..". aku memanggil alisya dengan suara pelan.
"kamu sudah bangun". aku terkejut mendengar suara mas bram di sebelahku.
"aggh ya ampun mas,kenapa buat aku terkejut". aku memegang dadaku yang deg-degan karena terkejut.
"kamu yang buat aku terkejut, harus ya kamu pingsan sampai berjam-jam gak bangun".
"aku? pingsan? kapan mas?". aku mencoba untuk mengingatnya.
"kamu gak ingat apa-apa ,coba kamu lihat wajah kamu itu terluka". mas bram mendekat dan memberikanku sebuah cermin.
aku menatap wajahku di cermin
"ahhh ini.... ".
"ahh ini kamu bilang. wajah kamu terluka dan kamu pingsan cumah oh ini reaksi kamu". mas bram sedikit marah padaku.
"mas, aku baik-baik saja,ini hanya luka kecil kan".
"kamu..... kamu yaa anggap semua ini sepele... ".
"sssttt jangan teriak-teriak mas, lihat dong anaknya tidur". aku melototin mas bram.
"baru aku tinggal beberapa hari kamu sudah seperti ini, apa kamu tidak bisa menjaga diri kamu sendiri".
aku kesal mendegar ucapan mas bram, seakan-akan dia menyalahkanku atas semua yamg terjadi.
"mas!! kamu fikir aku sengaja terluka, dan kamu fikir ini kemauanku. kenapa sih mas dari tadi ucapan kamu itu seakan-akan menyalahkan ku. apa kamu tidak bisa bertanya gimana kabar aku? gimana perasaan aku? .apa harus kamu marah-marah seperti ini".
mas bram terdiam sejenak mendengar perkataan ku.
"bukan begitu karin, aku hanya.... ".
"ahh sudahlah mas, aku tidak ingin membahasnya lagi. aku sedang tidak ada mood untuk bertengkar dengan kamu". aku langsung menarik selimut dan memeluk alisya.
mas bram mendekati ku dan mencoba untuk menjelaskan semuanya.
"bukan seperti itu sayang,aku hanya khawatir dengan kamu".
aku membalikkan tubuhku menghadap ke mas bram.
"terus apa mas,seharusnya aku yang marah sama kamu.beberapa hari ini,semenjak kamu ke singapura susah banget aku hubungi,bahkan no kamu gak bisa di telpon".
"maaf sayang, aku salah tapi itu semua karna aku lupa mengganti sim cardnya". mas bram memberikan ku alasan yang tidak masuk akal.
"udalah mas, aku lagi badmood".
entah kenapa mood aku berubah saat melihat mas bram di hadapanku, bahkan sebelumnya aku sangat merindukannya. apa mungkin karna kehamilanku, suasana hatiku jadi tidak karuan.
"sayang, maafkan aku. aku hanya khwatir, bukan maksud marah-marah sama kamu".
"sstttt... please mas, udah ya. aku gak mau kita berdebat di depan alisya".
wajah mas bram terlihat lesu, aku tau dia lelah karena bisnisnya tapi aku juga kecewa dengan sikapnya yang marah-marah tanpa bertanya apapun dulu.
"y uda, kamu istirahat aja dulu ya. besok kalau kamu udah tenang fikirannya kita omongi lagi". mas bram pergi keluar entaha kemana.
sekejap aku langsung meneteskan airmata ku, aku berubah kasar terhadap mas bram, tidak seharusnya aku membentak mas bram seperti itu.
"maafkan aku mas". aku menangis sambil memeluk alisya.
****
keesokan paginya....
seperti pagi sebelumnya, sulit untukku bangun pagi karena aku selalu merasa mual dan ingin muntah, bahkan beberpa hari ini aku sering merasakan pusing yang hebat.
"aku merasa mual lagi... hueekk... huekk".
aku berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua yang bisa aku muntahkan.
"huekk... huekkk..huekk... ".
"sayang, kamu kenapa?". .
aku menggelengkan kepala ku, mengisyaratkan bahwa aku baik-baik aja.
"kamu seperti ini semenjak aku berangkat ke Singapura kan, ada apa sayang. jangan-jangan kamu hamil ya?".
mas bram langsung peka apa yang terjadi padaku, bisa bisa menebak kalau aku lagi hamil.
__ADS_1
jelas saja, kenyataannya dia sudah paham tentang kehamilan.
"iya mas, aku hamil".
mas bram terlihat sangat bahagia mendengar berita kehamilanku, dia langsung memelukku dan memgelus lembut perut ku.
"selamat sayang, akhirnya kita punya anak lagi. aku sangat bahagia sayang". mas bram tidak berhenti teriak bahagia.
"mas sudahlah, aku semakin mual kalau kamu menggoyangkan tubuhku". akibat mas bram terlalu senang.
"maaf sayang maaf... cup.. cup.. cup.. ". mas bram terus mencium pipiku.
"ihh mas, ya ampun bener-bener ya, udah dong".
"kamu sudah ke dokter?".
"belum".
"kenapa?".
"menurut kamu kenapa mas?". aku mengerutkan keningku.
"hehehehe iya sayang, hari ini kita ke dokter bareng ya ".
aku hanya menjawab dengan menganggukkan kepalaku.
"oke.. oke sayang, aku mandi dulu ya".
"jangan lama-lama mas, kita sarapan bareng".
"oke sayangku, mmuaach.... ". lagi-lagi mas bram menciumku.
setelah aku meyiapkan pakaian mas bram, aku berjalan menuju dapur untuk membantu bi nina menyiapkan sarapan pagi.
"pagi non". ucap bi nina.
"pagi juga bi, udah selesai bi sarapannya".
karena masih sedikit lemas,aku memilih duduk di kursi dapur.
"gimana non keadaannya? ya ampun ,wajah non sampai tergores".
"aku baik-baik aja bi. o iyaa bi,yang kemarin itu ibunya grace?". tanyaku karena penasaran.
"iya non, ibunya non grace emang sedikit kasar non, dan ibu lidya itu yang dulu memaksakam tuan untuk cepat-cepat nikahi non grace".
"loh kenapa begitu bi?".
"dulu,tuan besar (papa bram) tidak menyetujui tuan bram untuk menikah terlalu cepat non,karena tuan bram waktu itu masih meniti usahanya yang pertama dan belum begitu besar.tapi, begitu ibu lidya tahu kalau tuan bram adalah anak orang paling kaya di negara ini,bu lidya langsung memaksa tuan untuk segera menikah".
"lalu ,mas bram menyetujuinya bi?.
"iya non,mau gak mau tuan menyetujuinnya dari pada tuan harus kehilangan non grace, itulah awal mula pertengkaran hebat antara non grace dan ibunya".
"tapi kenapa mas bram gak pernah mau cerita ya bi dan masalah kemarin, mas bram tau kan kalau ibu lidya yang memukul ku bi?".
"tau non, gak lama saat non pingsan. karena waktu itu tuan sampai di rumah dan ibu lidya masih ada di sini non. tuan sangat marah non dengan ibu lidya setelah bibi ceritakan semuanya".
"bahkan tuan lebih sangat marah saat tuan tau kalau non sedang hamil. tuan langsung mengusir bu lidya. mungkin saja kalau bu lidya itu cowok, sudah habis babak belur di hajar tuan non".
setelah aku pikir-pikir ada yang aneh , bi nina bilang kalau mas bram sangat marah karena tahu kalau aku hamil. tapi, kenapa pagi ini dia pura-pura terkejut setelah tau aku hamil.
"jadi mas bram tau kalau aku hamil dari semalam bi?". aku masih tidak percaya, sebenarnya ada apa dengan mas bram.
"iya non, tapi.... ".ucapan bi nina terhenti ketika melihat mas bram turin dari lantai atas.
"ada apa sih? kok sepertinya seru banget obrolannya". tanya mas bram.
"bukan apa-apa mas, biasa obrolan perempuan".
"ceritanya nanti-nanti aja ya di lanjuti lagi. aku udah laper banget sayang". mas bram memegang perutnya.
"ya sudah bi, tolong panggilkan alisya ya".
"baik non".
aku menatap wajah mas bram, seperti banyak yang dia sembunyikan tapi ekspresi wajahnya terlihat santai.
"sayang ,hei....kenapa melamun".
"ahh gak apa-apa mas. segini nasinya mas,cukup?". aku menuangkan nasi ke piring mas bram.
"sudah sayang,terima kasih".
"kenapa mas pakai baju santai? apa mas gak kekantor? ".
"gak sayang, hari ini aku mau antar kamu ke dokter untuk pemeriksaan".
"aku kan bisa pergi sendiri mas".
mendengar ucapan ku mas bram langsung menghentikan makannya.
"sayang, aku suami kamu jadi aku harus bertanggung jawab atas keselamatan istri dan calon anakku. aku juga ingin tahu perkembangan masalah kehamilannya".
aku tersenyum dan menatap mata mas bram
"baik banget suami aku".
"bunda...... ". teriak alisya.
"selamat pagi sayang,cium bunda dulu". alisya langsung menciumku tanpa kata tidak.
"papa mau juga".
"mmuaachh.. muaachh.... ". alisya mencium kedua pipi mas bram.
"terima kasih cintanya papa". mas bram membelai rambut alisya.
awalnya aku sedikit takut melihat keadaan alisya pagi ini, karena kamaren dia menyaksikan ku di pukul oleh ibu lidya. aku merasa bersalah, karena membuat alisya menyaksikan kekerasan secara langsung.
__ADS_1
"makan yang banyak ya sayang". ucapku.
****
perjalanan ke rumah sakit.....
"pakai sabuk pengamannya sayang".
"iya mas". segera aku memakainya.
suasana agak canggung saat di mobil, banyak yang ingin aku tanyakan tapi bibirku seakan membisu tak bisa untuk mengatakanya. sesekali mata ku terus. menatap maa bram yang tengah menyetir mobil.
"ada apa sayang? kenapa menatap aku seperti itu".
"gak apa-apa mas".
"katakan aja kalau ada yang mau di katakan sayang".
sejenak aku berfikir, kapan lagi aku punya kesempatan untuk bertanya tentang hal yang membuatku penasaran.
"mas".
"kenapa sayang".
"sebenarnya kamu sudah tahu kalau aku hamilkan dari bi nina semalam saat aku pingsan. lalu, kenapa pagi tadi mas pura-pura terkejut?".
mas bram sedikit terkejut karena aku telah mengetahuinya.
"aduhh...bi nina itu ya gak bisa jaga rahasia banget". ucap mas bram sambil ketawa-tawa.
"jawab mas".
"iyaa sayang. iya bener,semalam bi nina sudah cerita semuanya masalah kamu yang hamil,masalah selama seminggu kamu menahan rasa mual ,masalah kamu di pukuli,aku tau semuanya dari bi nina".
"terus,kenapa bersikap seakan gak tau apa-apa?".
"karena aku tau perjuangan kamu sayang, kamu menahan semuanya demi kasih kejutan buat aku. kamu nahan rasa mual dan sakitnya hanya karena ingin aku yang mengantarkan kamu kerumah sakit untuk periksa kandungan. jadi aku bersikap pura-pura tidak tahu untuk membuat kamu bahagia. aku gak ada maksud lain sayang, beneran".
aku menundukkan kepala dan memainkan jari-jari tanganku.
"seharusnya kan kamu gak perlu berpura-pura mas".
mas bram menggenggam tanganku
"maafkan aku sayang".
"lalu masalah bu lidya mas".
"kamu jangan mikiri itu ya, semua itu gak ada hubungannya dengan kamu. biar aku yang menyelesaikannya".
"tapi kenapa mas?
"sssttt... udah ya sayang jangan di bahas lagi. aku gak mau kamu terlalu banyak pikiran".
"iya mas".
mungkin ada sesuatu hal yang tidak bisa mas bram ceritakan. tapi ya sudahlah, aku juga gak berhak untuk teruk menanyakannya.
"kita udah sampai sayang, tunggu sebentar ya biar aku bukakan pintunya". mas bram cepat-cepat turun dari mobil.
"gak usah mas, aku bisa sendiri... ".
"silakan keluar sayang".
aku tersenyum melihat tingkah mas bram yang begitu perhatian pada ku.
"aku sedikit khawatir mas, aku gugup untuk ketemu dengan dokter". aku menggandeng tangan mas bram.
"jangan khawatir sayang, dokter kandungan ini adalah teman ku, semua akan baik-baik saja".
seharusnya aku gak perlu khawatir, karna ada mas bram yang berada di sisiku. dengan adanya dia, aku menjadi semangat.
"terima kasih mas, sudah mau nemenin aku".
mas bram mengusap kepala ku
"udah jadi kewajiban ku sayang".
saat kami menuju ke ruang dokter, ada beberapa orang yang menyapa mas bram.
"selamat pagi pak bram, ada yang bisa saya bantu". ucap seseorang dari rumah sakit.
"pagi juga. ahh tidak apa-apa, saya bisa sendiri".
"ah sayang, kenalkan ini direktur eksekutif di rumah sakit ini".
"salam kenal bu".
"salam kenal kembali pak".
"baiklah pak, saya mau bertemu dengan dokter Jeff dahulu". ucap mas bram.
"baik pak, silakan".
tak heran, jika semua instansi yang ada di kota ini mengenal mas bram. begitu populernya mas bram di kalangan para petinggi.
"kamu udah kayak artis ya mas, dimana-mana banyak yang mengenali".
"mereka-mereka yang mengenal aku karena sudah sering untuk bekerja sama sayang".
"termasuk rumah sakit ini mas?". tanyaku
"hmm iya sayang, bahkan saham ku sudah mencapai 54% di rumah sakit ini".
aku terkejut mendengar ucapan mas bram dan menghentikan langkahku.
"apa? itu namanya rumah sakit ini sudah jadi milik kamu mas".
"kamu kok terkejut gitu sih. iyaa, rumah sakit ini udah jadi milik kita sayang".
__ADS_1
aku tidak menyadari kalau mas bram begitu kayanya, karna selama aku menjadi istri mas bram, aku tidak pernah bertanya tentang hartanya ataupun yang dia miliki.
aku hanya berpikir bahwa mas bram hanya direktur di perusahaan orang tuanya.