Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
rumah baru


__ADS_3

" kamu suka?' pandangan mata Alayya menyusuri seisi rumah baru mereka,Raisa yang ada di gendongan Alayya meminta di turunkan.


"suka banget Nat"ucap Alayya dengan mata berbinar-binar. Alayya mengusap pucuk kepala Sang istri.


"ayo... aku liatin kamar baru kita" Natan menggandeng tangan Alayya untuk naik ke lantai dua


"ca, jangan lari-lari nak" teriak Nathan dari atas.


Nathan membuka satu pintu.



kamar tidur utama yang akan mereka tempati nantinya, Alayya membuka gorden Kamar, nuansa kamar terasa hangat, desain yang Nathan pilih tidak terlalu berlebih-lebihan tidak juga biasa saja, Nathan tau selera yang di inginkan sang istri.


"kamu suka?"


"suka banget, makasih" Alayya berlari dan memeluk erat Nathan.


"Tempatnya lebih lebih luas, jadi kita bisa lebih nyaman bikin adek buat Raisa" Kejahilan Nathan mendapatkan cubitan di perutnya


"awww...sakit, sayang" adu nathan


"makanya punya mulut itu dikasih rem, dong"


"kan aku nggak salah, yang salah itu kalo aku bikin adiknya sama perempuan lain" masih saja Nathan menjahili sang istri.


"yaak, Nathan" jerit Alayya tidak terhatan, Nathan berlari Karena di tangan Alayya sudah memegang remote tv, bersiap memberikan hantaman di mulut brutal suaminya.


'jangan lari kamu NATHANN"


"ampun sayang, ampuuun " Nathan menggendong Raisa, mereka bermain kejar-kejaran di rumah baru.


...


"Sebenarnya rumah ini sudah lama aku persiapkan buat kita, aku nunggu waktu yang tepat, tapi ternyata..."


"sudah jangan di bahas lagi" Alayya menyenderkan kepalanya di dada bidang Nathan.


"semuanya juga sudah terjadi, jadikan pelajaran aja, pelajaran di rumah tangga kita ke depannya"


"Makasih ya Al, makasih sudah ngasih aku kesempatan lagi, makasih sudah mau menerimaku lagi" Alayya mengangguk


"Nat"

__ADS_1


"Hem"


"em... kamu tau kan satu bulan lalu aku keguguran, dokter bilang kemungkinan aku hamil lagi lebih kecil, apa kamu mau menerima ku, juga ke kekurangan ku, kalo misalnya aku nggak bisa ngasih kamu anak"


"sayang, kita menikah di awali karena permintaan mendiang Alesha, dari awalnya tidak ada sedikitpun rasa, kini berubah menjadi Cinta, aku begitu mencintai kamu, aku menyayangi kamu, begitu juga segala kekurangan dan kelebihan yang ada di diri kamu, sayang... kita menikah bukan untuk mendapatkan anak, tapi untuk menyempurnakan ibadah kita, anak adalah Rizki dan pelengkap kebahagiaan kita, Walaupun nantinya kamu nggak bisa mengandung lagi, bagi ku kamu dan raisa sudah cukup untuk ku" Nathan sedikit menunduk agar bisa melihat wajah sang istri, mata Alayya mulai berkaca-kaca lagi.


"Nathaaan..." Alayya tidak sanggup menahan agar bulir bening tidak jatuh lagi


"huus, jangan menangis lagi " Nathan mengusap air mata Alayya dengan ibu jarinya, pria itu tersenyum begitu tulus.


"aku sayang kamu Nat"


"aku lebih sayang sama kamu"


keduanya kembali menyatu setelah semua badai yang telah berlalu, penyatuan dua insan akan takdir dan ketetapan Tuhan, setiap manusia bisa berencana tapi takdir Allah jauh lebih indah dari rencana manusia tersebut.


setiap manusia boleh berharap, tapi jangan pernah kecewa jika apa yang di harapkan tidak sesuai dengan apa yang di dapatkan, percaya sesuatu yang lebih indah telah Tuhan persiapkan untuk setiap hamba-nya.


....


hari-hari mereka di mulai kembali, Nathan di sibukkan dengan pekerjaan di rumah sakit, Alayya di sibukkan dengan pekerjaan rumah dan mengurus suami juga anaknya.


"Nathaaaaan, cepat turun, nanti makanannya dingin" teriak Alayya dari ujung tangga paling bawah, Alayya mengacak pinggang Karena emosi, sejak tadi makanan sudah tersaji di atas meja makan, tapi Nathan Belum juga menunjukkan batang hidungnya, sampai lah kesabarannya habis.


"iyaaa sayang, sebentar, aku selesaikan laporan dulu"


Alayya yang sudah memuncak emosi nya, menutup laptop Nathan, untungnya semua data sudah tersimpan, jika tidak, habislah semua laporannya.


"iya sayaaang, aku turun"


Nathan meneguk salivanya, karena di ujung tangga, ada Alayya yang berkacak pinggang menunggunya, terlihat jelas kekesalan di wajah wanita itu.


"Sa--sayang, ayo makan"


"kebiasaan deh, kalo sudah sama kerjaannya, lupa sama yang lain, aku tuh dari tadi nunggu kamu, Raisa juga sudah Tidur" kesal Alayya, mengomeli Nathan


"iya, iya... aku salah, minta maaf"


"minta maaf hari ini, besok di ulang lagi, gitu aja terus"


"janji nggak ngulangin "


"awas aja kalo gitu lagi, satu bulan aku nggak mau kasih kamu jatah"

__ADS_1


"ayyh... jangan gitu dong, bisa tersiksa batin ku, kalo nggak dapat jatah" adu Nathan yang sekarang sudah memeluk Alayya dari belakang.


"makanya, kalo sudah waktunya makan... turun, kerjanya nanti lagi, emang bisa fokus kalo perutnya nggak di isi" Alayya masih mengomel


"nggak, sama kaya kalo kamu misalnya nggak kasih jatah, aku jadi gelisah nggak tenang" goda Nathan, dengan tangan yang sudah merambat masuk ke dalam bajunya, Alayya memutar Matanya jengah, ia keluarkan tangan Nathan dari dalam bajunya dan menginjak kaki pria itu agar melepaskan pelukannya


"Dasar mesum" ucap Alayya meninggalkan Nathan yang sudah merintih kesakitan, sambil memegang kakinya.


Nathan terpincang-pincang mengejar sang istri.


"tega banget kamu Al" Nathan memajukan bibirnya, bersikap manja, berharap Alayya gemas, bukannya gemas... Alayya justru menarik bibir Nathan


"awww"


"makan" tegas Alayya


"kamu mah gitu" Nathan merajuk dan menyendok makanannya


kata orang, jika seorang pria telah menemukan wanita yang tepat, maka bagaimana pun tegasnya, wibawanya, dinginnya, akan luluh juga di hadapan wanita yang ia cintai, begitulah kira-kira yang Nathan alami sekarang, pria itu bersikap manja pada Alayya, kalo boleh jujur ia tidak bertingkah semanis itu waktu masih bersama Alesha, mungkin karena dua istrnya memiliki kepribadian berbeda, Alesha dan Alayya yang bertolak belakang, jadilah Nathan menyesuaikan diri nya, dimana harus bersikap dewasa, di mana Harus bermanja-manja seperti anak kecil pada ibunya, tapi Nathan bisa melakukan keduanya hanya jika bersama Alayya .


...


Alayya memasangkan dasi Nathan, seperti biasa, pemasangan dasi yang tidak terlepas dari tingkah jahil Nathan.


"Cepat turun ke bawah, sarapan"


"ok sayang"


"enak nggak "


"enak banget"


"kan suamiku yang ngajarin aku masak"


"bisa aja kamu" Nathan menyunggingkan senyum malu-malu.


"Nathan "


"Hem"


"aku sebenarnya sudah telat dua Minggu " langsung saja Nathan mendongak menatap Alayya


"kamu telat?"

__ADS_1


"iya... tapi aku takut buat ngecek, aku takut hasilnya mengecewakan " Alayya mengaduk-aduk makanannya


"Apapun hasilnya nanti, kita serahkan saja pada yang di atas " Nathan menggenggam tangan Alayya, ia beri kekuatan untuk sang istri, Nathan pun sama sepertinya dengan Alayya, ia takut kecewa, tapi Nathan berusaha agar lebih tegar, kalo bukan dia, siapa lagi yang menguatkan sang istri.


__ADS_2