Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 68. Lakon Lama


__ADS_3

Gugup yang semula hilang, kini kembali membekapnya bahkan lebih parah hingga ia kesulitan bernafas. Tubuhnya menegang dan keringat dingin kembali membanjiri telapak tangan yang masih berada dalam genggaman Jeanno. Ketika netranya bersatu dengan milik Arman, Judith takut bukan main. Ini kali pertamanya ia takut melihat Arman. Pria itu, yang nampaknya juga mengenalinya, terlihat sama terkejutnya. Walau pada akhirnya Arman memperkenalkan diri dengan formal kepada Jeanno.


“Ini istriku, Nayara”


Ketika tangan Arman terulur kearahnya. Judith serasa ingin kabur dari tempat itu. Jika bukan karena Jeanno yang menegurnya lembut, Judith tidak akan mau membalas jabatan tangan Arman.


“Nayara. Senang berkenalan dengan anda, Tuan Mahendra”


Arman tersenyum tipis. Senyuman yang bagi oranglain hanya senyum biasa, tapi tidak bagi Judith. Senyuman Arman seperti petanda bahwa pria itu mengenalinya.


“Nayara, Nayara. nama yang indah”


Judith menarik tangannya lebih dulu. “Terimakasih”


Untuk selanjutnya, keduanya berbincang singkat karena istri Arman, yaitu Paula Winona harus pulang karena ada jadwal syuting dini hari. Membuat Judith menghela nafas lega karena tak lagi bertemu muka dengan Arman.


“Kau baik-baik saja? tadi genggamanmu erat sekali ketika kita bertemu dengan Arman dan istrinya”


Judith menerima gelas champagne yang diulurkan Jeanno. “Aku.. mungkin aku gugup karena bertemu dengan Paula Winona. Aku mengidolakannya, jadi melihatnya langsung refleks membuatku gugup, dan senang secara bersamaan”


Satu alis Jeanno terangkat. Menyadari ucapan Judith yang tidak sinkron dengan gesturnya. Tak ada kesan ‘bahagia’ seperti fans yang bertemu idolanya. Justru wanita itu nampak tertekan dan pucat.


“Kau mau pulang? Kalau iya, kita pamit sekarang”


Judith menggeleng, walau ia sungguh ingin pulang. Tapi tak enak hati, bagaimanapun Jeanno sudah melakukan yang terbaik untuk menenangkannya. Hanya tinggal sebentar lagi acara selesai. Lagipula sudah tak ada lagi Arman disini, Judith yakin bisa menemani Jeanno hingga acara selesai.


“Tidak usah, lagipula sebentar lagi acara selesai”


“Baiklah kalau begitu”


“Tuan, aku ijin ke toilet sebentar”


“Mau kuantar?”

__ADS_1


Judith tersenyum seraya menggeleng. “Tidak perlu. Lagipula toiletnya dekat”


**


Judith menghabiskan menit-menit terakhir untuk bercermin. Memandangi sosok buatan Jeanno yang terbalut gaun mahal dengan sempurna. Pujian, sanjungan, dan keramahan yang ia dapatkan malam ini ditujukkan untuk Nayara. Bukan untuknya. Judith tersenyum sendu, menyadari bahwa kebahagiaan yang tengah ia sesap adalah kebahagiaan semu yang sifatnya sementara.


Pertemuannya kembali dengan Arman, seakan pengingat akan kehidupan lamanya. Yang cepat atau lambat akan kembali ia jalani usai kontrak ibu pengganti berakhir. Sebagai penari erotis yang tak pernah dipandang penuh cinta. Tak pernah ditenangkan hatinya jika sedang gugup. Tak pernah didekap dalam kehangatan. Menjadi dirinya yang lama hanya dipandang para pria tak lebih dari alat pemuas gairah.


Kembali kepada Arman. Menjalani hari sebagai Nayara, benar-benar membuat Judith terbuai hingga ia melupakan lakon dalam kehidupannya sebagai Judith. Ia lupa kalau mereka berada dalam satu kota, dan Arman pasti akan kembali untuk mencari Judith. Seingatnya, pria itu terakhir pergi keluar negeri untuk memulai bisnis, sekaligus menemani Winona menjalani schedule sebagai aktris. Tapi Judith lupa bahwa Arman tidak menetap disana. Pun sejak diberitahu perjanjian kontrak kerja, Judith memutuskan untuk mengganti nomor. Karena pasti pria-pria akan menghubunginya untuk mengajaknya tidur bersama. Arman pasti menghubungi nomor lamanya. Bukan tak mungkin pria itu juga mencarinya ke Victoire dan ke apartemen. Tapi mengapa Hannah dan Renatta tak menghubunginya perihal Arman?


Judith tersentak ketika ponselnya bergetar, menunjukkan pesan dari Jeanno yang bertanya apakah ia masih berada di toilet. Judith lantas mencuci tangan sekali lagi sebelum membalas pesan dari pria tampan itu.


“Nyonya Alexander, kita bertemu lagi”


Judith nyaris menjatuhkan ponselnya ketika ia keluar dari toilet hanya untuk berpapasan dengan figur yang tak ingin ia temui hari ini.


Arman Mahendra.


**


Sudah selesai, aku kembali sekarang.


Usai membaca pesan dari Judith, Jeanno yang semula ingin menyusul ke toilet, mengurungkan niatnya. Terlebih ketika ia bertemu dengan petinggi Iris Group. Tenggelamlah ia dalam obrolan formal bersama sang pemilik acara.


Sementara Judith yang masih membeku, tak bisa berkutik ketika Arman yang semula dalam posisi bersandar di dinding, kini berjalan mendekatinya.


“Suatu kehormatan bagiku untuk bertemu dengan Jeanno Alexander, dan istrinya yang sangat menawan ini. Jujur, aku sangat terkejut melihat bagaimana cantiknya anda yang bahkan tidak kalah dengan istriku yang seorang aktris”


“Tapi apa anda tau, nyonya Nayara? Aku terkejut bukan hanya karena kecantikanmu. Tapi karena wajahmu, mengingatkanku kepada seseorang”


Judith membuang muka, menghindari tatapan lekat Arman yang seakan menelanjanginya. “Apa yang anda maksud, Tuan Arman? Ini kali pertamanya kita bertemu. Saya tidak mengenal anda sebelumnya”


“Sungguh lucu sekali, bagaimana bisa dua orang terlihat begitu identik yang bahkan mereka bukan saudara kembar. Kuberitahu satu hal, Nyonya Nayara, perempuan yang mirip denganmu itu.. adalah pelacurku”

__ADS_1


Wajah Judith memerah, dan itu merupakan respon yang diharapkan oleh Arman. Pria itu tersenyum lebar. “Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau disini, Judith”


Judith melangkah mundur, dengan tangan bersilang di depan dada seakan melindungi dirinya sendiri. “Saya tidak tau apa yang anda maksud. Siapa Judith, saya tidak mengenal nama itu”


“Kau mungkin bisa membohongi oranglain. Tapi tidak denganku, sayang”


“T-tuan, saya sedikit kurang nyaman dengan percakapan kita. Dengan segala hormat, saya terpaksa harus meninggalkan anda disini. Permisi”


Judith yang dengan susah payah mengumpulkan kekuatan untuk melangkah melewati Arman, dicegat lengannya dengan erat.


“Kau pikir kau mau kemana?”


“Tuan! Lepaskan, atau aku akan berteriak” wajah Judith semakin memerah campuran dari rasa takut, marah dan malu. “Oh, berteriak saja. Dan aku akan dengan senang hati membongkar penyamaranmu di depan banyak orang”


Dengan airmata yang sudah diujung, Judith meronta. Namun Arman tak juga mengendurkan cengkramannya, justru semakin kuat hingga kukunya ia benamkan di kulit lengan gadis malang itu.


“Ayo, sayang. Kita habiskan malam ini untuk bersenang-senang seperti biasa. Kau tau aku hampir gila karena tidak bisa menemukanmu dimana-mana”


“Lepaskan saya!”


Arman yang kesabarannya mulai mengikis, mendorong Judith ke dinding dengan kasar, membuat gadis itu mengaduh. “Katakan, berapa banyak Jeanno Alexander membayarmu? Atau permainannya lebih hebat dariku sampai kau punya nyali untuk kabur dariku? Mau kemanapun kau pergi, aku akan mengejarmu, dan mendapatkanmu kembali, Judith”


Arman tersenyum penuh kemenangan, ketika ia memajukan kepalanya untuk mengecap ranum menggoda milik Judith, tubuhnya justru terhuyung ke belakang akibat pukulan keras yang mendarat di wajahnya. Begitu ia membuka mata, terlihat Jeanno Alexander yang tengah melepas jasnya untuk menutupi pundak telanjang istrinya.


“Kau baik-baik saja? Maafkan aku, sayang” Jeanno mengecup kening Judith, membuat tubuh itu semakin gemetar akan isak tangis.


Arman bangkit, disekanya setitik darah yang lolos akibat bibirnya yang sobek. Jeanno memandang Arman tajam.


“Aku tidak tau kalau perkenalan kita hanya akan berlangsung secara singkat. Apa yang kau lakukan kepada istriku adalah hal yang tidak pantas. Aku bisa membawa ini ke pengadilan jika bukan karena rasa seganku pada ayahmu. Tapi dengar, Arman. Jika sekali lagi aku melihatmu mengganggu istri, atau keluargaku. Aku akan membuatmu menyesal”


Begitu, Jeanno merangkul Judith pergi meninggalkan Arman.


**

__ADS_1


__ADS_2