Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
bayang bayang


__ADS_3

flashback on


satu bulan yang lalu, Alayya masuk ke dalam kamar Nathan, ia tidak berniat kurang ajar, hanya saja ia ingin mengambil botol susu Raisa yang tertinggal di sana, Sekali lagi Alayya tidak ingin lancang, matanya melirik buku catatan yang penuh dengan tulisan di dalamnya, bahkan pulpennya juga masih ada di atasnya, rasa penasaran kian bergejolak untuk membaca buku itu, Alayya tersenyum, ia tidak mengira jika Nathan suka menuangkan perasaannya di dalam buku. tapi senyuman itu memudar karena isi dari buku itu hanya di penuh dengan perasaan rindu Nathan pada mendiang Alesha, Alayya tidak tau pasti seberapa banyak pria itu menuliskan perkembangan sang putri pada Alesha melalui buku ceritanya, yang lebih menyakitkan, Nathan juga menulis mengenai perasaannya pada Alayya, perasaan ragu untuk menerima Alayya di hatinya, luluh sudah air mata Alayya, sekarang ia tau jika bagi Nathan Alayya hanya di anggap sebagai pengasuh anaknya, sepertinya Alayya... labil, Alayya lemah karena cinta... kini kembali, ia menjadi wanita bodoh karena mencintai pria yang tidak pernah mencintainya.


ia tahan rasa sakit di hati dengan terus berpura-pura di hadapan Nathan, sebenarnya ia juga sering mendapati Nathan mengigaukan nama Alesha di tidurnya, yang Alayya perlukan sekarang adalah ketenangan, ia ingin menenangkan diri di dalam pelukan orang tuanya, barulah ia akan meminta petunjuk pada sang kuasa, meminta jalan seperti apa yang harus ia ambil dalam rumah tangganya.


Alayya tidak ingin mengecewakan banyak orang dengan berpisah dengan Nathan, ia juga tidak ingin Raisa kembali merasakan kehilangan sosok ibu di hidupnya, semuanya Alayya pasrahkan pada sang kuasa saja.


....


"kesayangan ibu, hidupnya ibu, gemesnya ibu, cantik nya ibu, ibu pergi dulu ya, nak. Cuman tiga hari doang ko, jangan bandel ya... sama ayah" Alayya menciumi seluruh wajah mungil Raisa, di gendongnya Raisa keluar karena sebentar lagi ia harus berangkat.


"Alya..."


Alayya mengentikan langkah, ia menoleh mendapati Nathan di belakangnya, pria itu berjalan mendekat, ia peluk Alayya dengan posisi Raisa masih di gendongan, Alayya tidak membalas pelukan Nathan, mungkin karena kesulitan dengan Raisa yang ia gendong, atau karena rasa kecewa pada pria itu, pandangannya pun kosong menatap lurus.


"Aku ikut yaa" kembali Alayya hanya menggeleng, hembusan nafas gusar terdengar kian jelas.


"Aku titip Raisa sebentar, jangan kasih makan sembarangan di pagi hari, aku cuman pergi tiga hari bukan selama nya"


"kalo gitu aku antar yaa"


"nggak usah, aku pergi sendiri" Alayya menyerahkan Raisa untuk di gendong Nathan, ia usap sesaat ubun-ubun sang anak.


"ingat ya, jangan nakal sama ayah"


....


Sekarang Alayya sudah berada di kamarnya, kamar di rumah orang tuanya, Alayya Tidur dengan menjadikan paha Farah sebagai bantal, tidak henti hentinya tangan Farah mengusap rambut sang putri, sungguh hal itu membuat perasaan Alayya tenang, Alayya tidak tidur, hanya menikmati setiap sentuhan dari Farah.


"anak ibu lagi ada masalah?"


Alayya menggeleng, ia tidak ingin berbagi masalah rumah tangganya pada siapapun termasuk ibunya sendiri.


"ada ibu di sini nak, kamu bisa cerita apapun, Jangan di pendam sendiri, sayang"

__ADS_1


Alayya berbalik menghadap Farah, wajahnya kini menempel sempurna pada perut sang ibu, tangannya melingkar di pinggang Farah


"Alayya kangen ibu"


"bukannya hampir tiap hari, ibu telpon kamu"


"tapi rasanya beda kalo bisa peluk ibu kaya gini"


"anak nakal itu kenapa buk, lagi manja banget kayanya "Ali yang baru tiba ikut bergabung dengan anak dan istrinya.


"Alayya sudah nggak nakal ayah, Alayya sudah jadi anak baik, ramah, baik hati, murah senyum, dan penyayang" Ali terkekeh mendengar celetukan Alayya.


"iya, iya, anak manja ayah, sekarang sudah nggak nakal lagi, tapi kayanya masih suka pergi dari rumah kalo ada masalah, ya buk" Ali menatap Farah


"iya, yah. tapi dia nggak mau ngaku yah, ketahuan banget kalo lagi ngambek ya gini, Kabur dari rumah"


"siapa yang kabur coba, Nathan tau ko kalo Alayya ke rumah kalian " Alayya merubah posisinya menjadi Tidur terlentang, wajahnya di tekuk.


"ya udah... kalo nggak mau ngomong nggak papa, tapi kalo nathan kasar sama kamu, jangan pernah ragu bilang ke ayah, ayah nggak akan rela anak ayah di kasari"


"Ayah ke supermarket dulu, mau nitip sesuatu "


"ayah, Alayya mau di beliin jajan "


"jajan apa anak ayah"


"terserah aja deh, yang penting jajanan, Alayya mau ngemil "


"baik bos" Ali berdiri lagi.


....


di rumah, Nathan sejak tadi mencoba menghubungi nomor alayya, tapi wanita itu terus saja mengabaikan panggilan nya, ia biarkan ponsel berdering hingga mati sendiri.


Nathan mengusap wajah kasar, ia ingin mendengar suara wanita yang sudah dua hari tidak ada kabar itu.

__ADS_1


"Alayya kamu marah, angkat panggilan nya" Resah kini pria itu rasakan, rasa rindu juga sangat menyiksa, padahal baru 2 hari Alayya pergi tapi harinya seperti kosong.


"i--ibu, i--ibu, ibuu..."


"kangen ibu ya nak" Nathan mengendong Raisa yang merangkak di bawah kakinya.


"sama sayang, ayah juga kangen ibu... kayanya ibu marah sama ayah nak, ibu nggak mau angkat panggilan nya"


....


"hati-hati sayang, di jalan jangan ngebut "


"iyaa ibu" entah berapa kali sudah... Farah mengingatkan anaknya untuk tidak mengebut di jalan. selesai memasukkan barang nya ke bagasi, Alayya memeluk Farah bergantian dengan Ali sekali lagi.


"doa in perjalanan Alayya sekeluarga lancar ya buk, insyaallah nanti kita berangkat bareng juga"


"iya nak, pasti. doa ibu akan selalu menyertai kalian, sayang" Alayya berjalan dengan menggandeng tangan orang tuanya, setelah Nya ia masuk ke dalam mobil.


"Alayya pulang dulu, assalamu'alaikum"


"waalaikumsallam, hati-hati. nak" Alayya melambai dengan mobil yang perlahan menjauh dari pekarangan rumah.


"ibu berharap kamu selalu bahagia, nak"


Ali mengerti kekwatiran sang istri, ia juga paham betul, Ali mengusap punggung sang istri


"Alayya akan baik-baik aja, Bu"


"semoga, yah"


...


Di jalan pulang Alayya mampir sebentar mengisi perut, ia memesan sepiring nasi goreng cumi dengan segelas teh. di tengah menunggu pesanannya tersaji, Alayya tersenyum hangat memerhatikan satu keluarga bahagia di depannya, di mana sang suami menyuapi istrinya yang sedang menyapih anak mereka, suaminya terlihat begitu tulus, ia juga menyeka sudut bibir sang istri kala saus dari makanannya mengotori.


"kapan Nathan bisa menerima ku setulus itu, di hati Nathan, di hidup Nathan hanya ada Alesha, alesha beruntung bisa di cintai Nathan, sedangkan aku... aku hanya ia jadikan bayang-bayang di hidup mereka, menyedihkan " Alayya menghapus sudut mata yang mulai berair.

__ADS_1


__ADS_2