
keesokan harinya....
pagi ini aku tidak memiliki kemampuan untuk bangun seperti biasanya. tubuh ku tidak ingin bergerak kemanapun, aku hanya berbaring di atas ranjang dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhku.
"mau sarapan sayang". ucap mas bram.
aku hanya menggelengkan kepala ku dengan tatapan kosong menghadap jendela kamar.
"sayang kalau kamu seperti ini terus nanti akan jatuh sakit".
aku terus terdiam tanpa sadar air mata terus mengalir di pipiku.
"sayang, kita semua juga sedih kehilangan abyan. tapi kamu jangan berlarut-larut karena akan mempengaruhi kesehatan kamu". ucap mas bram.
alih-alih tidak ingin mendengar ucapan mas bram, aku menarik selimut menutupi seluruh tubuh ku.
"sayang.... ". panggil mas bram.
"aku ingin sendiri mas". jawab ku.
"gak, aku gak akan biarin kamu sendiri. aku akan tetap di sini nemani kamu". ucap mas bram.
mas bram mendekati ku dan memeluk tubuhku yang tertutup dengan selimut.
"ayo kita turun dan sarapan sayang, ayah,ibu sudah menunggu di bawah untuk sarapan bareng kamu".
"aku gak ingin sarapan mas".
mas bram bangun dan menarik selimut di tubuhku.
"apa perlu aku gendong kamu".
"apaan sih mas". jawabku
"kalau kamu tetap gak mau bangun,aku akan gendong kamu.satu...dua....ti......". mas bram memberikan perhitungan padaku.
"iya iya mas,aku bangun". aku bergegas ke kamar mandi untuk membasuh wajahku.
saat aku keluar dari kamar mandi aku melihat mas bram yang masih duduk di atas ranjang menunggu ku.
"sudah selesai,ayo kita turun bersama". ucap mas bram saat melihatku keluar dari kamar mandi.
"iya mas".
mas bram merangkul ku dan menggenggam tanganku dengan eratnya.
"lihat ini tangan kamu, baru sehari tidak makan saja sudah terlihat sangat kurus".
"kamu mengejekku ya mas, sudah jelas berat badanku naik 10 kg semenjak hamil malah kamu bilang kurus". aku menatap tajam ke arah mas bram.
"be..beneran sayang, aku gak bohong. ibu lihatlah karin terlihat kuruskan". mas bram memainkan matanya pada ibu.
"ahh... iyaa bener. kamu terlihat kurus nak. duduk sini, ibu sudah masakan sarapan pagi untuk kita semua". jawab ibu.
aku memukul pundak mas bram dan membuatnya sedikit terkejut.
"aawhh sakit sayang".
"ngapain main mata sama ibu, mau ajak ibu bohongi aku juga".
"gak sayang, kamu beneran terlihat kurus".
"sudah, sudah bercandanya,ayo kita sarapan dulu". ucap ayah yang sudah menunggu kami.
"iya ayah". jawab mas bram.
"bunda". sapa alisya yang sedang menikmati susunya.
"pagi anak bunda". aku mencium kening alisya.
"bunda,alisya hari ini gak mau sekolah".
"loh,kenapa sayang?".tanyaku.
"alisya mau di rumah aja nemani bunda". ucap alisya dengan raut wajah sedikit sedih.
"sayang, kamu harus sekolah jangan fikiri bunda.alisya harus jadi anak pintar jadi harus rajin sekolah".
"hari ini aja bunda, boleh ya. papa!!?". alisya menatap mas bram yang duduk di sampingnya.
"tanya bunda sayang". jawab mas bram.
alisya membalikkan wajahnya ke arahku dan menatap ku dengan penuh harapan.
"iya sayang, tapi hari ini aja ya".
"iyaa bunda, horee..... ". alisya merasa senang setelah aku menyetujuinya.
"hehehee senang banget ya kalau di izinkan libur sekolah". sahut ayah.
"nanti kakek main sama alisya ya".
"ohh... oke sayang. hahahaha". jawab ayah.
"yeee.... hore!". teriak alisya.
"sudah sudah ayo buruan di makan". ucap ibu sambil menuang minuman ke dalam gelas.
"kamu masih libur bram". tanya ayah.
"iya yah, aku ambil cuti seminggu".
__ADS_1
"kok lama banget sih mas!? ". sahut ku.
"buat nemani kamu. ohh iya, ayah dan ibu masih lama kan di sini?".
"gak bram, sekitar 2 hari lagi ibu dan ayah akan pulang". jawab ibu.
"loh kenapa bu? kenapa cepat banget?". ucap mas bram.
"ayah dapat proyek baru dari kantor dan harus segera ayah tinjau, jadi ayah gak bisa lama-lama di sini".
"nanti alisya main sama siapa?". sahut alisya yang mendengar obrolan kami.
"kan ada bunda dan papa". jawab ibu.
"tapi alisya mau main sama kakek, terus kalau nenek juga ikut pulang, siapa yang buatkan camilan untuk alisya". rengek alisya.
"uuhh sayang cucu kakek, kakek dan nenek gak lama kok pulangnya. kakek dan nenek pasti datang lagi kemari ". ucap ayah untuk menenangkan alisya.
"janji kakek". alisya mengacungkan jari kelingkingnya.
"iya janji sayang".ayah juga menautkan jarinya.
"sudah sayang jangan sedih gitu dong, papa janji kalau alisya libura sekolah nanti akan papa ajak main kerumah kakek". ucap mas bram pada alisya.
"hhhmm.. ayah selalu janji aja".jawab alisya.
"dengar itu mas, jangan hanya sekedar janji aja". sahut ku.
"iya sayang, papa akan tepati janji". mas bram menggenggam tangan alisya.
"ini non susunya". bi nina datang memberikan ku segelas susu.
"terima kasih bi".
setelah sarapan pagi, mas bram, alisya dan ayah mereka duduk di taman belakang sembari menikmati secangkir teh dan kudapan manis.
sementara aku tetap di dapur untuk membantu ibu dan bi nina.
"ibu istirahat aja, biar aku yang membersihkan nya".
"tidak apa-apa karin, lagian tidak banyak lagi kok yang harus di bersihkan". jawab ibu sambil mencuci piring kotor.
"bu, sayuran ini mau di apakan?". tanya bi nina yang memegang beberapa ikat sayuran hijau.
"ohh itu letakkan saja di kulkas bi, nanti sore kita masak untuk makan malam". jawab ibu.
"baik bu". bi nina langsung membuka kulkas dan meletakkan sayuran tersebut di tumpukkan sayuran lainnya.
"kenapa ibu banyak banget siapkan sayuran di kulkas?". tanyaku.
"untuk persiapan kamu nanti kalau ibu pulang. kamu harus banyak makan sayuran hijau agar ASI kamu lancar. walaupun kamu tidak menyusui lagi tapi kamu harus rajin makan yang bergizi". jawab ibu.
"ahh iyaa, kalau payudara kamu terasa sakit dan bengkak harus segera di pompa dan keluarkan ASI nya agar kamu tidak merasa kan nyeri dan demam". lanjut ibu.
"banyak banget sih pesan ibu".
"ihh kamu ini di bilang kok ngeyel, 2 hari lagi ibu pulang. ibu harus siapkan semua apa yang kamu butuhkan, lagian jarak rumah ibu dan kamu itu jauh karin. ibu gak mau kepikiran di rumah karena belum persiapan kebutuhan kamu". ucap ibu.
aku berjalan mendekati ibu dan memeluknya dari belakang.
"terima kasih ibu ku tersayang".
"sama-sama sayang". ibu mengelus-elus kepala ku.
"udah kamu istirahat aja sana". ucap ibu.
"iya bu". aku langsung duduk di ruang keluarga sembari menonton TV.
tanpa sengaja aku menghidupkan channel TV yang menayangkan acara ibu dan balita. pandanganku terus menatap TV dengan terpaku, aku terdiam dan mataku berkaca-kaca.
sesekali aku tersenyum melihat bayi-bayi yang berada di TV, betapa bahagianya aku jika abyan sekarang bersama ku.
tiba-tiba mas bram datang dan mengganti channel TV ke acara lain.
"loh kok di ganti mas". ucapku.
"acara ini lebih seru sayang". jawab mas bram.
"kemarikan remotenya, aku mau nonton acara yang hari mas". aku merebut remote dari tangan mas bram tapi tidak berhasil.
"gantian dong sayang". mas bram menyembunyikan remotenya di belakang badannya.
"iihh mas bram". aku mengalah dengan wajahku yang cemberut.
aku tau mas bram melakukan itu agar aku tidak teringat terus dengan abyan tapi dengan cara itu aku bisa melepaskan rinduku pada nya.
"jangan cemberut dong sayang". mas bram mencubit pipiku.
"sakit mas".
"sini aku peluk". mas bram memelukku dengan erat sehingga aku sulit bernafas.
"hmmm kalian pagi-pagi sudah mesra-mesraan gitu". ibu datang dengan membawakanku vitamin dan air.
"ehh ada ibu". mas bram merasa malu karena di tegur oleh ibu.
"terima kasih bu". ucap ku.
"minum dulu vitaminnya karin, ibu mau ke pasar dulu sama bi nina".
"iya bu, tapi di kulkas masih banyak sayuran bu? kenapa ibu belanja ke pasar lagi". tanyaku.
__ADS_1
"ibu mau belanja rempah-rempah untuk buat jamu". jawab ibu.
"jangan bilang jamunya buat aku ya bu".
"emang buat kamu, biar tubuh kamu sehat dan kencang kembali".
"aku mau dong bu, jamu buat kuat". ucap mas bram.
"apaan sih mas". aku tersenyum mendengar perkataan mas bram.
"istri masih lemah gitu, kamu mau yang kuat aja". jawab ibu.
"ibu apaan sih, malah di jawab ucapan mas bram". ucap ku yang merasa geli dengan obrolan ibu dan mas bram.
"kan kita mau buat anak lagi sayang". bisik mas bram.
aku mencubit pipinya mas bram dengan kuat dan membuatnya menjerit kesakitan.
"aagghh... iya iya sayang maaf".
ibu tersenyum melihat tingkah ku dan mas bram.
"ya sudah ibu pergi dulu ya".
"biar aku antar bu". ucap mas bram.
"gak usah, ayah yang antar ibu kok. kamu di rumah saja temani karin".
"iya bu, hati-hati di jalan". jawab mas bram.
setelah ibu pergi ke pasar, aku dan mas bram masih di ruang keluarga sembari ngobrol ngebahas hal telah kami lewati.
"mas, aku berniat untuk menyumbangkan baju-baju abyan yang masih baru ke panti asuhan".
"ide Bagus itu sayang, kapan kamu mau pergi ke panti asuhan biar aku temani". jawab mas bram.
"minggu depan aja ya mas, aku akan susun dulu baju-baju ke dalam tas agar rapi. kamu gak keberatan kan mas?". tanyaku.
"gak dong sayang, kenapa juga aku harus keberatan. itu semua terserah kamu sayang, aku sih dukung saja".
"iya mas". jawabku sambil menyandarkan kepala di bahu mas bram.
setelah aku pikir-pikir, alangkah baiknya jika semua barang-barang abyan yang begitu banyak aku sumbangkan saja. karena akan sia-sia jika aku simpan terlalu lama di dalam lemari, dengan begitu anak-anak yang mendapat kan baju-baju abyan akan merasa bahagi dan itu juga akan membuatku merasa seperti melihat abyan bahagia.
"hanya baju aja yang mau kamu sumbangkan?". tanya mas bram.
"gak mas, semua yang ada di kamar abyan. boleh kan mas?".
"boleh dong sayang, ahh... aku bahagia banget punya istri yang hatinya baik dan lembut seperti kamu". ucap mas bram.
"kamu juga suami yang baik mas". jawabku sambil memeluknya.
"hmm mas!!?". aku menatap mata mas bram.
"ada apa sayang? kok natap aku begitu".
"maafkan aku ya mas, kalau belakangan ini aku tidak merawat alisya dengan baik dan bahkan aku sering mengabaikannya".
"kenapa kamu harus merasa bersalah sayang? seharusnya aku yang berterima kasih sama kamu, karena selama ini sudah merawat alisya dan menjaganya. kamu itu ibu yang baik bagi alisya, jadi jangan merasa bersalah lagi ya". jawab mas bram dengan suara lembutnya.
"aku janji mas, kedepannya aku bakalan lebih ekstra lagi memberikan waktu dan perhatian ku pada alisya. karena saat ini anak kita hanya alisya". aku merasa sangat bersalah pada alisya.
"kamu ini ada-ada saja sayang, perhatian kamu itu sudah sangat lebih dari cukup untuk alisya. coba kamu lihat alisya sekarang, dia jauh lebih bahagia saat bersama kamu. begitu juga denganku yang sangat bahagia memiliki kamu dan alisya". mas bram mengecup keningku.
dari ku hamil sampai melahirkan, waktu ku sedikit berkurang bersama alisya. aku juga merasakan bahwa alisya sangat merindukan ku tapi saat itu aku tidak bisa selalu bersamanya karena beberapa hal.
aku bersyukur karena alisya anak yang baik dan mandiri. dia begitu mengerti keadaan ku sehingga dia tidak mengeluhkan masalah apapun padaku.
Tuhan telah mengambil abyan tapi Tuhan juga telah memberikanku hadiah sangat berharga dalam hidupku yaitu alisya.
"sayang, kok melamun. kamu mikiri apa?".
"ahh gak kok mas, aku gak mikirin apapun". jawabku dengan tersentak kaget.
"kamu jangan sering melamun ataupun mikirin yang enggak-enggak sayang".
"gak kok mas, kamu jangan khawatir ya. aku gak akan mikiri hal yang membuat aku sedih kok". aku tersenyum menatap mas bram.
"kamu ya, paling bisa membuat aku khawatir".mas bram memencet hidungku.
"aaughh sakit mas".
"hehehehe maaf sayang". jawab mas bram sembari membaringkan kepalanya di pangkuan ku.
"alisya ikut ibu dan ayah ya mas? kok gak kelihatan". mataku berputar mencari alisya.
"sepertinya iya sayang, karena dari tadi aku juga tidak mendegar suara alisya ataupun melihatnya". jawab mas bram.
"mas, apa kamu keberatan ya kalau kita ibu dan ayah tinggal di sini lama-lama". tanyaku penasaran.
"aaihh siapa yang bilang seperti itu sayang? aku gak pernah merasa keberatan ataupun terganggu dengan kehadiran ibu dan ayah. bahkan aku merasa sangat bahagia karena semua berkumpul di rumah ini. kenapa kamu bisa tanya seperti itu sayang?".
"gak apa-apa mas, aku hanya tanya saja". jawabku.
"jangan pernah berfikir seperti itu lagi ya, ayah dan ibu sudah menjadi orang tua ku juga. aku akan sayang pada mereka seperti kamu sayang pada ayah dan ibu". ucap mas bram.
"iya mas". aku tersenyum ke arah mas bram.
kata-katanya mas bram membuatku merasa lega, karena mas bram benar-benar menunjukkan perasaan tulusnya pada ayah dan ibu.
aku tidak salah menerima perjodohan waktu itu, karena aku juga yakin bahwa mas bram orang yang baik dan berhati lembut.
__ADS_1