Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 93. Bargaining


__ADS_3

“Aku berpapasan dengan Renatta tadi”


Jeffrey yang baru menyelesaikan suapan terakhirnya, terbatuk mendengar ucapan Tyona. Ia lantas meraih gelas air dan menandaskan isinya sebelum ia tersedak semakin parah.


“Lalu?”


“Aku memintanya untuk tidak menemuimu di Rumah Sakit. Dia menurut dan pada akhirnya pulang”


Jeffrey menghela nafas lega, setidaknya Tyona cukup memahaminya bahwa menjaga nama baik di lingkup kerja adalah hal penting bagi Jeffrey. “Terimakasih, sayang”


Tyona diam sejenak, membalik sendok dan garpunya ketika ia sudah selesai makan. “Aku memaafkanmu, tapi bukan berarti aku melupakan pengkhianatan ini, Jeff. Kesalahanmu fatal, kau tau kan? Aku memberimu waktu, setidaknya sampai bayi kalian lahir”


“Itu lima bulan lagi, Anna”


“Ya, lima bulan lagi. Kurasa itu waktu yang panjang untukmu berpikir. Mengingat ketika berselingkuhpun kau tidak membutuhkan waktu lama untuk berpikir seperti apa akibatnya”


Jeffrey menggigit bibirnya. “Jika pertimbanganmu memilih kita berpisah karena tidak mau bayi Renatta tumbuh tanpa seorang ayah, bagaimana jika… kita merawat bayi itu?”


Tyona terkesiap mendengar solusi yang baru dilontarkan Jeffrey.


“Pikirkan, Anna. Bukankah ini solusi yang paling menguntungkan? Renatta bisa kembali menjalani hidupnya tanpa repot merawat anak. Sementara bayinya tetap akan tumbuh tanpa kehilangan kasih sayang kedua orangtua. Dan yang terpenting.. kita memiliki bayi di rumah ini, Anna”


Sang istri menggeleng berkali-kali. “Ini konyol, Jeff. Menurutmu bagaimana perasaan Renatta ketika kau, kita mengambil anaknya? Kau tidak mengerti, keinginannya adalah membangun keluarga bahagia bersamamu. Bukan terbebani dengan kehadiran anaknya. Dia seorang ibu, Jeff”


“Dan lagi, kau pikir Mama akan menerima kehadiran anak yang bukan dari rahimku, hm? Kita pernah membicarakan perihal adopsi, yang ditentang keras oleh Mama. Namun jika Mama tau bahwa itu adalah bayi hasil hubungan gelapmu, kau pikir respon Mama akan senang?”


Tyona menggeleng lagi. Menolak keras usulan Jeffrey. “Aku tidak sejahat itu, Jeff”


Tyona meninggalkan percakapan untuk mencuci peralatan makan mereka. Membiarkan Jeffrey duduk termenung sembari menatapi punggung Tyona disana. Sungguh, ia masih tak rela jika harus berpisah dari Tyona. Jeffrey mencintai Tyona, yang masih menjadi pemilik tahta tertinggi di hatinya. Namun sikapnya yang gegabah, terkadang membuat Tyona ragu apakah perasaan Jeffrey murni cinta, atau hanya ia gunakan sebagai ‘alat’ untuk menjaga nama baik Jeffrey.


**


“L-louis”


Pria bermata biru itu menghentikan kegiatannya mengolesi selai pada roti. Bertanya-tanya apakah gerangan yang membuat Hannah memanggilnya dengan panggilan yang terdengar merdu sekali. Sepasang kelereng biru itu memandang lawan bicara pemilik mata legam di sampingnya.


“Apa?”


“Bolehkah aku.. pergi jalan-jalan?”


Louis melanjutkan kembali mengoles selai. “Tidak”

__ADS_1


Pundak Hannah turun, bibirnya melengkung kecewa. “Kumohon. Sebentar lagi kan kita menikah, lalu kau akan membawaku keluar negeri untuk menetap disana. Ijinkan aku untuk menikmati waktu kesendirianku yang tinggal lima hari lagi”


“Tidak, sayang. Siapa yang bisa menjamin kalau kau tidak kabur dariku?”


Hannah menggeleng cepat. “Aku tidak akan kabur. Kau bisa pegang janjiku”


Sang lawan bicara terkekeh sinis. “Aku pebisnis. Seorang pebisnis tidak bisa memegang janji belaka. Tanpa ada jaminan yang menguntungkan”


“Kau bisa meminta Johnny untuk menemaniku”


“Aku bilang aku mau jaminan yang menguntungkan, Hannah”


Hannah terdiam. Ia bukan gadis bodoh yang tak tau maksud perkataan Louis. ‘Jaminan’ yang dimaksudnya pastilah tidak jauh-jauh dari hal tak senonoh. Tapi ia tak memiliki waktu lagi. Sudah dua hari ia tidak mengunjungi Mark. Jika hari ini berlalu begitu saja, maka sama saja ia membuang waktu yang berharga.


“Aku… “ Hannah meremat peralatan makannya. Berusaha meneguhkan hati bahwa apa yang akan ia ambil adalah hal yang benar, atau setidaknya.. terpaksa ia lakukan.


“Aku akan… menari untukmu”


Louis terkekeh keras. Tawanya memenuhi ruang makan, untunglah Ibu dan Helga sedang keluar. “Bukankah itu terlalu biasa? Aku ingin sesuatu yang lain”


Hannah mendegut ludah. Haruskah ia.. menyerah?


“Kalau begitu kau.. “ Hannah memejamkan matanya erat. “Kau bisa.. memilikiku semaumu”


“Tawaran yang sangat menarik”


“Tapi dengan satu syarat”


Satu alis Louis terangkat, menyadari bahwa Hannah pasti akan meminta hal lain. “Apa itu?”


“Aku mau kau memberi kebebasan untukku selama lima hari. Aku tidak mau dikekang. Aku ingin pergi ke luar rumah”


“Bukan sesuatu yang sulit. Tapi kau tentu paham jam malam”


Hannah mengangguk. “Aku akan pulang sebelum jam sembilan malam”


Senyum Louis masih mengembang disana. “Deal”


**


Betapa bahagianya Hannah ketika ia bisa bebas bepergian tanpa harus mencuri waktu. Namun satu sisi ia harus memikirkan cara lain untuk membuat Louis tidak menyentuhnya, walaupun itu dirasa mustahil mengingat bagaimana besar keinginan pria itu untuk menjamahnya.

__ADS_1


“Judith, apa menurutmu aku benar-benar harus menyerahkannya pada Louis?”


Pelita pagi itu cukup lengang. Hannah tidak bisa langsung masuk karena dokter dan beberapa tenaga medis pendamping tengah melakukan morning visit. Jadilah ia menunggu bersama Judith yang juga di-drop Jeanno usai mengantar Aera ke sekolah. Sementara Jose dan Maria sedang sarapan.


“Tentu saja tidak, sayang. Jangan menyerah semudah itu”


“Lalu bagaimana? Kalau aku ingkar, dia pasti akan marah. Bagaimana jika dia mengurungku sampai hari H kami menikah?”


Pandangan Judith mengawang. Teringat sesuatu yang menurutnya akan bisa mencegah Hannah kehilangan kegadisannya.


“Kau sudah haid?”


Hannah menggeleng. “Aku sudah telat dua minggu karena stress”


“Aku ingat ada obat yang bisa mempercepat haid. Aku pernah memakainya dulu ketika ada pria yang tidak begitu kusukai memintaku untuk menemani malamnya. Karena aku tidak bisa menolak, jadilah aku menggunakan obat itu untuk mempercepat haidku”


Mata Hannah mengerjap, tertarik akan ucapan Judith. “Benarkah? kau masih menyimpannya?”


“Tidak. Tapi aku ingat nama obatnya, dan itu dijual bebas di apotek”


Binar di mata Hannah meredup. “Tapi bagaimana jika itu tidak mengurungkan niatnya untuk menyentuhku?”


“Sayang, bercinta dalam keadaan haid itu beresiko dan menjijikkan sekali menurutku. Jika Louis pria cerdas aku yakin ia akan menunda hasratnya. Tapi ya, mungkin saja dia akan menggunakan cara lain selain bercinta”


Sekali lagi, tidak pernah bercinta bukan berarti Hannah tak mengerti maksud ucapan Judith. Menjalani pekerjaan malam selama lima tahunan cukup membuatnya mendengar cerita-cerita dari banyak rekannya mengenai bagaimana memuaskan pria. Hal yang tak pernah Hannah pikirkan akan terjadi padanya dalam kurun waktu beberapa jam lagi.


“Sudah jangan dipikirkan, sekarang fokus saja pada kondisi Mark. Okay?” Hannah mengangguk. “Kau sendiri.. bagaimana?”


“Aku? kenapa kau bertanya tentangku?”


Hannah tersenyum. “Kau terlihat semakin dekat dengan tuan Jeanno. Apa kalian sudah resmi berpacaran?”


Lawan bicaranya tersenyum sembari menggeleng. “Tentu saja tidak, sayang. Perjanjian kami jelas tertulis untuk dilarang jatuh cinta satu sama lain”


“Tapi kutebak, kau pasti melanggarnya”


Judith menghembuskan nafasnya lirih. Menyadari dirinya tidak bisa berbohong pada Hannah. “Aku.. tidak tau”


“Perjanjian kalian tinggal sebentar lagi, kan?” Judith mengangguk. “Kurang lebih dua bulan lagi”


“Kubilang juga apa, perjanjian kalian bukan perjanjian biasa. Sekarang kau jatuh pada api yang kau mainkan sendiri”

__ADS_1


“Tapi aku tidak menyesalinya, Hannah” Judith membalas tatapan Hannah sendu. “Aku tidak menyesal telah jatuh cinta padanya”


**


__ADS_2