Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Episode 19


__ADS_3

"kamu sudah sampai Bayu" terdengar suara mama yang berjalan ke ruang tamu.


Bayu langsung menghampiri mama dan memeluknya.


"udah ma".


"mana aira?".


"tidur ma di kamar, di perjalanan tadi dia rewel dan ini baru tidur".jawab Bayu.


"ya sudah, ngobrol aja dulu dengan abang dan papa, mama mau ke dapur dulu".


lalu mama berjalan ke dapur untuk melihat kami.


"loh naiya di sini". ucap mama.


naiya langsung menghampiri dan memeluk mama.


"iya ma, maaf tadi gak langsung ngabarin mama waktu sampai, karena mama lagi tidur".


"iyaa gak apa-apa, mama senang kalian sampai dengan selamat".


"iya ma". naiya langsung kembali memotong buah-buahan.


"hmm baunya enak banget, kalian masak apa sih". tanya mama.


"masak capcay dan soup ayam ma". jawab ku.


"ada yang bisa mama bantu?".


"gak usah ma, sebentar lagi selesai kok".jawab ku.


"beneran ini". tanya mama lagi untuk memastikan.


"iya ma, mama duduk aja dulu".


"baiklah, mama tinggal ke ruang tamu ya". mama langsung berjalan ke ruang tamu.


"ayo bi, kita rapikan makanannya. sebentar lagi waktunya makan malam". ucapku.


"iya non".


"wah, kelihatannya enak-enak semua mbak. mbak pintar masak ya". ucap naiya.


"ahh gak kok, aku itu belum terlalu pintar masak. lebih seringnya itu di bantu sama bi nina". jawab ku.


"gak non,non karin emang pinter masak,dan masakkannya jauh lebih enak dari masakkan saya non". bi nina sedikit memujiku.


"ahh bi nina ada aja deh.gak naiya,gak bener yang di bilang sama bi nina".


"iya mbak,tapi aku percaya kok apa yang di bilang oleh bi nina". ucap naiya dengan senyum manisnya.


"ahh kamu naiya". aku menjadi malu.


"udah selesai non".


"terima kasih bi nina, terima kasih naiya udah bantu masak untuk makan malam". ucapku.


"sama-sama mbak". naiya merangkul pundakku.


"biar aku panggil yang lain dulu ya". aku langsung ke ruang tamu.


"ma, pa, mas bram, Bayu ayo kita makan malam dulu". ucapku.


"nah, makan malam udah siap, ayo kita makan". ucap mas bram.


"baik, ayo". jawab papa.


saat mereka berjalan ke meja makan, aku pergi untuk naik ke lantai atas.


"sayang, kamu mau kemana?". tanya mas bram.


"mau bangunin alisya mas,mas duluan aja". jawab ku.


"baiklah,jangan lama-lama sayang, biar kita bisa makan malam bareng".


"iya mas".


sampai di kamar alisya, aku melihat alisya masih tertidur pulas di ranjanngnya.


"sayang, ayo bangun". aku berusaha membangunkan alisya.


"sayang, ayo bangun kita makan bareng sama nenek, kakek, ada om Bayu sama tante naiya". ucapku.


"ada adik aira bunda". tanya alisya yang langsung terbangun.


"ada dong sayang, lagi tidur dikamar bawah". jawab ku.


alisya masih terlihat males untuk bangun, berkali-kali dia hanya merenggangkan badannya.


"ayo sayang, mau bunda gendong".


alisya menganggukkan kepalanya dan langsung memelukku.


"aaawhhb anak bunda uda besar banget, bundanya sampai gak kuat lagi". aku berusaha menggendong alisya.


aku berjalan pelan-pelan saat menggendong alisya, aku takut jatuh saat menuruni tangga.


"karin.... ". terdengar teriakan mama dari bawah.


aku terus berjalan menuruni anak tangga satu persatu, tanpa mengetahui kenapa mama berteriak.


selang beberapa saat, aku melihat mas bram berlari ke arahku dengan wajah tegang.


mas bram langsung mengambil alisya dari gendonganku.


"apa yang kamu lakukan karin".


"aku hanya menggendong alisya mas, dia ingin aku menggendongnya".


"apa kamu gak lihat ini tinggi banget, kalau kamu jatuh saat gendong alisya gimana?  kamu lagi hamil karin".


"maaf mas". ucapku.


aku tau, aku salah menggendong alisya dengan keadaan hamil. aku pikir akan baik-baik saja jika aku menggendong alisya sebentar.


"ayo turun, mama papa udah nunggu". mas bram turun dengan menggendong alisya.


aku sedikit badmood dengan ucapan mas bram yang berteriak padaku, aku tau aku salah tapi apa tidak bisa berkata pelan padaku.

__ADS_1


"ayo makan karin". ucap papa.


"lain kali jangan seperti itu ya karin, sangat berbahaya.mama sampai terkejut tadi saat melihat kamu". ucap mama.


"iya ma, maaf udah buat mama khawatir". jawab ku.


"mau aku ambilkan". tanya mas bram.


"gak usah". aku sedikit cuek kepada mas bram.


"terima kasih mbak udah masakkin buat kami". ucap Bayu.


"iya Bayu sama-sama, naiya juga bantuin masak tadi.makan yang banyak ya". jawab ku.


"iya mbak".


"alisya bunda ambilkan ya nasinya".


"iya bunda,alisya mau pake ikan aja".ucap alisya.


"iya sayang".


mama, papa ,Bayu dan ma bram sudah selesai makan, mereka duduk kembali diruang tamu.


"mbak, biar aku aja yang cuci piringnya ya". ucap naiya.


"gak usah naiya, biar mbak aja nanti".


"gak apa mbak, mbak udah capek karena masak tadi, jadi biar aku aja yang bersih-bersih".


"baiklah". jawabku.


"alisya udah kenyang bunda". ucap alisya.


"iya sayang, minum dulu".


"udah bunda, alisya mau ketempat kakek".


"iya sayang".


alisya langsung berlari ke ruang tamu dan duduk di pangkuan kakeknya.


"kenapa perutku sakit ya". aku memegangi perutku.


"bi, nanti tolong buat kan teh dan snack letakkan di ruang tamu ya". ucapku


"iya non".


"naiya, maaf ya aku gak bisa bantu. aku mau istirahat dulu di kamar".


"mbak kenapa?  mbak sakit? ". tanya naiya.


"gak, cuma kram aja perutnya".


"iya mbak, hati-hati mbak naik tangga". ucap naiya.


rasa sakitnya semakin terasa saat aku berjalan, perut ku terasa tegang dan kaku.


"apa karena aku gendong alisya tadi ya, perutku jadi sakit". ucapku.


aku terus memegang perutku saat menuju kamar, sampai di kamar aku terus merebahkan diriku di kasur.


aku terus membolak-balikkan tubuh ku kanan kiri untuk mencari posisi nyaman. pada akhirnya aku memilih tidur bersandar dan itu membuatku sedikit nyaman.


"baik Budi ya sayang". aku terus mengelus perutku.


beberapa saat kemudian mas bram masuk ke kamar.


"sayang". ucapnya.


"hmm". jawab ku.


"kamu kenapa?  kata naiya perut kamu kram ya. sini biar aku elus".


"gak usah mas, aku bisa sendiri". jawabku.


"kamu kenapa sayang?  kok tiba-tiba marah gitu sama aku".


"mas pikir aja ".


"kalau kamu gak cerita gimana aku bisa tahu sayang". mas bram mengelus kepalaku.


"kenapa kamu tadi bicaranya teriakan gitu mas sama aku, apa gak bisa bicara pelan".


"ohh yang di tangga tadi, maaf sayang. tadi itu aku khawatir sama kamu sayang, gak ada maksud lain. maaf kalau ucapanku udah buat kamu tersinggung".


"kamu pikir aku gak tau kalau itu bahaya, aku tau mas. maka dari itu aku pelan-pelan saat nurunin tangga".jelasku pada mas bram


"iya sayang, ya sudah aku salah udah neriakin kamu. maafin aku ya, udah dong jangan marah lagi". ucap mas bram.


aku memasang wajah cemberut di hadapan mas bram bentuk rasa kesal ku padanya.


"senyum dong sayang". mas bram menarik pipiku.


"aww sakit mas, suka banget ya nyiksa istri sendiri".


"kamu itu gemesin sayang". mas bram memelukku.


"mas, pelan-pelan. perutku sakit".


"ooh maaf sayang, sayang maafin papa ya". mas bram bicara dengan perutku.


" apa kita harus ke dokter lagi sayang". tanya mas bram.


"nanti aja mas nunggu mama dan papa  balik ke Singapura.  aku merasa gak enak kalau ninggali mama dan papa gitu aja".


"baiklah, tapi kalau kamu ada keluhan segera beritahu aku ya, jangan diam aja".


"iya mas, bawel banget sih kamu". ucapku.


"kamu itu harus di bawelin karena kamu suka anggap apapun sepele. aku gak mau terjadi apa-apa lagi sama kamu".jawab maa bram.


"iyaa mas, aku ngerti".


"kamu kok gak nemani mama papa dan Bayu di bawah mas.apa udah pada tidur semua?". tanyaku.


"belum kok sayang, mereka lagi minum teh di ruang tamu. tadi naiya bilang kalau kamu lagi kram perut jadi mama nyuruh aku lihat untuk lihat kamu". jawab mas bram.


"ohh jadi kamu naik ke atas nemui aku karena mama yang nyuruh ,bukan karena kemauan sendiri".

__ADS_1


"kan..kan..kan mulai salah pahamnya,gak gitu loh sayang .tanpa di ingatkan mama pun ,aku bakalan tetap nemui kamu kok". jawab mas bram.


"udah mas, kamu turun aja nemani mama papa dan Bayu. gak enak sama mereka kalau kamu tinggal. bilang sama mama, kalau aku baik-baik aja, cuma butuh istirahat sebentar".


"kamu ngambek lagi ya".


"gak mas, buruan sana turun". aku mendorong mas bram.


setelah aku paksa akhirnya mas bram mau turun ke ruang tamu untuk menemani keluarganya.


****


pagi hari....


matahari bersinar terang menembus jendela kamarku.  angin di pagi hari juga menerpa wajahku yang masih setengah tertidur .


karena terangnya cahaya matahari, membuatku kesulitaan untuk membuka mata.


saat aku terbangun, aku merasa ada benda di atas kepalaku.


"apa ini". sebuah handuk menempel di kepalaku.


"kamu sudah bangun sayang". ucap mas bram.


"ini apa mas?". aku memegang handuk kecil.


"kamu gak ingat semalam kenapa?  tiba-tiba tengah malam kamu demam tinggi dan buat aku khawatir". jawab mas bram.


"aku demam?  tapi aku gak ngerasa panas". aku memegang dahi. leher dan tanganku.


"sekarang panasnya udah turun, karena semalam aku langsung panggil dokter". ucap mas bram.


aku masih bingung, karena semalam aku hanya merasakan kram di perutku tanpa ada gejala lain tapi kenapa ku bisa demam.


"sayang,kok melamun sih".


"terus,dokter bilang apa mas?. tanya ku lagi karena penasaran.


"dokter bilang, kamu itu kecapean banyak gerak, jadi perut kamu jadi kram terus demam deh. kenapa kamu gak dengeri aku sih sayang, kamu itu jangan ngelakuin apa-apa lagi, biar ni nina aja".


"kasihan bi nina mas sendirian gak ada yang bantui". jawab ku.


"apa perlu aku carikan satu lagi asisten rumah tangga, biar ada yang bantuin bi nina, tapi kamu gak boleh kerja apa-apa lagi di rumah ini. dan aku juga akan cari baby sister untuk jagain alisya". ucap mas bram.


"gak mas, aku gak setuju kalau kamu cari baby sister untuk alisya, aku masih sanggup mas jagain dan ngerawat alisya sendiri".


"iyaa sayang aku tau, tapi aku cuma mau kamu banyak istirahat saat hamil. aku gak mau lihat kamu sakit terus, buat aku sedih". ucap mas bram.


aku jadi merasa ikut sedih melihat ekspresi mas bram yang sangat mengkhawatirkan aku. kadang aku berpikir, sikap ku terlalu egois sampai melukai hati mas bram.


"iya mas, aku gak akan capek-capek lagi.maafin aku, udah buat mas khawatir". aku menundukkan kepalaku.


"bukan salah kamu sayang, aku hanya tidak ingin kamu sakit".


"iya mas".


"kamu mau sarapan?  biar aku bawakan kemari".


"gak usah mas, biar aku saja yang turun".


"gak gak, kamu istirahat aja di kamar. biar aku bawa sarapannya kemari" ucap mas bram.


"tapi mas, gak enak banget sama mama dan lainnya".


"gak apa sayang, mereka semua udah tau kalau kamu lagi sakit. udah ya, tunggu di sini aja, aku akan ambil sarapannya". mas bram langsung keluar kamar.


"kenapa aku harus bentar-bentar sakit sih". aku memegang kepalaku.


salah ku juga, karena telah memaksakan diri untuk mengurus segala keperluan rumah. padahal mas bram sudah berkali-kali memperingatkan aku agar istirahat jangan terlalu capek, tapi aku selalu menganggap hal itu sepele,wajar saja jika mas bram marah dan khawatir.


"sayang, ini aku bawakan sarapannya. ini mama yang buatkan bubur buat kamu". ucap mas bram.


"loh kok jadi mama yang masakin buat aku sih mas". aku merasa tidak enak sama mama.


"gaka apa sayang, makan aja. mama cuma ingin kamu cepat sembuh, jadi mama buatkan bubur". jawab mas bram.


"baiklah mas, aku akan memakannya". aku langsung melahap buburnya.


"gimana sayang? enak?". tanya mas bram.


"enak banget mas, bilang sama mama terima kasih ya".


" iyaa sayang. makan lagi dan habiskan ya". mas bram terlihat senang melihatku lahap makan buburnya.


"mas, alisya lagi apa?". tanyaku.


"lagi main sama aira. kamu jangan mikirkan alisya dulu ya, selagi ada mama dan papa alisya baik-baik saja". ucap mas bram.


"apa gak ngerepotin mama mas".


"gak sayang".


aku langsung menghabiskan semangkuk bubur buatan mama yang sangat lezat.


"udah sayang".


"udah mas, aku jadi merasa baikan setelah makan bubur". ucapku.


"sini, biar aku letakkan di meja mangkuknya".


lalu mas bram duduk di sampingku dan memeluk ku.


"kenapa mas?". tanyaku.


"aku pengen peluk kamu aja sayang".


"kamu gak ke kantor mas?".


"gak sayang, hari ini aku mau nemani kamu aja di rumah.nanti kalau aku ke kantor,kamu gak ada yang ngawasin". jawab mas bram.


"mas, aku bukan anak kecil lagi kenapa harus di awasi sih". aku protes kepada mas bram.


"kamu itu suka ngelanggar janji sendiri, jadi kamu harus di awasi 24 jam penuh".


"udah kalah ya mas CCTV kamu buat". ucapku.


"karena istriku ini selalu mengabaikan perkataan suaminya, jadi perlu di awasi. senyum mas bram.


begitu besarnya rasa sayang dan khawatir mas bram terhadapku. mas bram adalah suami yang sangat perhatian buat ku.

__ADS_1


"I Love You Mas". aku mencium pipi mas bram.


__ADS_2