
Berita penangkapan Louis merebak begitu cepat. Kasus yang dinilai cukup serius ini membuat beritanya tak berhenti ditayangkan pada berbagai platform berita. Walaupun putusan pengadilan belum dibuat, namun berbagai aset Louis sudah mulai disita sebagai barang bukti. Termasuk rumah yang ditinggalinya, dan juga Victoire.
Hannah memboyong keluarganya untuk tinggal di apartemen lamanya yang telah lama kosong. Tanpa perlu menghibur sang Ibu dan Helga yang bermuram durja akibat gagalnya impian mereka memiliki menantu asing yang akan mengajak mereka tinggal di luar negeri.
Kini Hannah telah bebas. Bebas dari Louis, bebas dari Victoire. Victoire, tempatnya mencari nafkah selama beberapa tahun terakhir ini, pada akhirnya runtuh tak berbekas dan tak ada harganya. Meninggalkan ratusan karyawan yang terombang-ambing dengan status baru, yaitu penganggguran.
Oh, Johnny juga diperiksa. Saat ini statusnya masih sebagai saksi. Namun menurut penuturan Jeanno, Johnny beresiko terkena imbasnya juga. Pria itu sudah menawarkan pengacara hebat untuk mendampingi Johnny. Namun ditolak dengan anggapan dirinya pantas menerima segala resikonya selama bekerja dibawah Louis.
“Bagaimana Ibu dan Helga?”
Saat ini Judith dan Hannah tengah makan siang di kantin Rumah Sakit, bergantian jaga dengan orangtua Mark. Hannah yang sejak kemarin tak berhenti tersenyum, memandang Judith dengan mata berbinar lucu.
“Ibu jarang bicara. Kurasa ia kecewa, tapi juga malu karena calon menantu yang dibanggakan ternyata tak lain adalah seorang kriminal. Sementara Helga lebih sering mengurung diri di kamar. Kurasa ia kecewa karena impiannya sekolah di Inggris kandas”
Judith mengulurkan tangannya, saling menggenggam tangan Hannah. “Aku senang satu masalahmu selesai”
“Tapi Judith, aku minta maaf”
“Untuk?”
Hannah membuang nafas, merasa bersalah. “Karena Victoire sudah tidak ada, maka kau tidak memiliki tempat untuk bekerja lagi”
Judith tersenyum. “Kau bicara seolah-olah Victoire adalah satu-satunya tempat untuk mencari uang. Tidak apa, sayang. Bukan salahmu. Lagipula aku juga tidak berpikiran untuk kembali lagi kesana setelah perjanjian kerjaku dengan Jeanno berakhir”
“Jika kau tidak akan kembali, lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?”
Lawan bicaranya mengangkat bahu. “Entah. Tapi aku berpikir untuk berhenti bekerja didunia malam. Mungkin aku akan memulai usaha dengan tabunganku. Doakan saja”
Percakapan mereka terhenti ketika ponsel Judith bergetar. Oia, tolong ingatkan Hannah untuk membeli ponsel setelah ini. Judith menarik tangannya dari Hannah untuk menjawab panggilan dari Bibi Maria.
“Ada apa, Bibi?”
“Ya? Benarkah? baik, kami segera kesana”
Judith memutus sambungannya. Beralih pada Hannah yang sedari tadi mendengarkan dengan seksama. “Kenapa Judith? Ada apa dengan Mark?”
“Sayang, kita harus kembali sekarang” Judith bangkit, menyiapkan uang untuk membayar makanan mereka. Namun Hannah mencegat tangannya, menginginkan penjelasan lebih.
Judith tersenyum. “Mark sadar”
__ADS_1
**
Ketika Hannah dan Judith kembali, dokter sudah selesai melakukan pemeriksaan dan mengijinkan Maria beserta Jose untuk melihat kondisi Mark. Membuat Hannah harus sabar mengantri gilirannya. Satu sisi ia gugup. Mengingat segala ‘dosa’nya kepada Mark yang sudah tulus menerima dirinya apa adanya.
“Bagaimana jika Mark menolakku, Judith?”
Judith mengibaskan tangannya. “Berhentilah bicara omong kosong”
“Aku gugup sekali, bahkan aku bisa mendengar detak jantungku sendiri”
“Pasti akan baik-baik saja, Hannah. Penantianmu telah sampai pada ujungnya. Mark sadar. Mark telah berhasil melewati masa kritisnya”
Pintu terbuka, menampakkan Jose dan Maria dengan ekspresi haru bercampur bahagia. Maria memeluk Hannah sebentar, karena mengerti gadis itu sudah tak sabar untuk masuk.
“Masuklah, sayang. Kata pertama yang Mark sebut ketika sadar adalah namamu.. cepat, temui dia”
Hannah mengangguk mendengar ucapan Maria. Dibantu perawat memakai pakaian steril, Hannah melangkah dengan perlahan diiringi detak jantungnya yang berlarian. Ketika sampai pada tujuannya, ia melihat Mark yang tengah mengerjapkan matanya perlahan, seakan masih menyesuaikan cahaya yang telah lama tak diterimanya.
“M-mark…”
Yang dipanggil menggerakan kepalanya pelan sekali, nyaris tak terlihat gerakannya jika tidak teliti. Bibirnya yang masih berbalut tabung oksigen, mengulas senyum tipis. Sungguh, ia merindukan gadisnya. Ia ingin merengkuh Hannah yang sudah lama tak dilihatnya.
Hannah mengangguk berkali-kali. Digenggamnya tangan Mark. Satu dua airmata kebahagiaan luruh, disusul lainnya. “Iya, ya, ini aku, Hannah. Aku disini sayang. Aku disini bersamamu”
Mata Mark terpejam. Seakan berkedip membutuhkan tenaga yang besar. Namun Mark masih berusaha untuk merespon genggaman Hannah pada jemarinya.
“H..nnah. Ha..nhah..”
“Sshh.. jangan bicara dulu jika kau masih belum kuat. Aku disini, aku tidak akan pergi kemana-mana”
Mark masih tersenyum, menuruti perkataan Hannah untuk menghemat tenaganya yang belum terkumpul.
“Terimakasih sudah bertahan, Mark”
**
Genap tiga hari berlalu, Mark menunjukkan kemajuan yang sangat menakjubkan. Pria itu telah dipindah ke ruang rawat biasa. Berbagai alat medis berat juga sudah dilepas dari tubuhnya. Hanya saja Mark masih belum diperbolehkan untuk duduk, atau bicara terlalu banyak yang sekiranya menguras banyak tenaga.
Pria itu juga tidak mengingat penyebab dirinya kecelakaan. Ketika Jose bertanya, Mark hanya ingat dirinya tengah menyetir di jalan tol yang lengang. Kemudian seketika gelap.
__ADS_1
Hannah menghabiskan setiap harinya untuk menemani Mark. Bahkan tidak mau pulang sekalipun Maria memaksa. Sebagai gantinya, Judith yang membawakan pakaian bersih untuk Hannah dari apartemen Mark.
“Maaf.. aku tidak menepati janjiku.. menjemputmu”
Hannah tersenyum. “Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau tidak bangun, sayang. Tapi karena kau sudah sadar, maka semua termaafkan”
Hannah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa jika Mark sadar, maka ia akan menceritakan segala yang ditutupi. Tapi menunggu kondisinya membaik, tentu saja.
“Kau… baik-baik…. saja?”
Hannah mengerjap. Bukankah ia yang seharusnya bertanya?
“Ya, aku baik-baik saja. Hariku sempurna karena melihatmu sudah sadar, Mark. Dan aku bersyukur akan hal itu”
Mark tersenyum, memutuskan untuk memandangi wajah ayu itu sepuasnya. Oh, tentu saja Mark ingat dengan jelas penyebab keterkejutannya hingga terjadi kecelakaan naas itu. Tapi ia memutuskan untuk tidak mengatakan apapun demi kehormatan Hannah. Dirinya yakin foto yang ia dapatkan, pasti ada cerita dibalik itu. Dan Mark ingin mendengar sendiri dari bibir kekasihnya.
Mark masih mempercayai Hannah.
**
Tyona merasakan tubuhnya limbung. Sudah dua hari terakhir ini ia seperti masuk angin. Merasa pusing jika mencium bau menyengat, tak nafsu makan, bahkan memuntahkan semua yang masuk kedalam sistem tubuhnya kecuali bubur ayam kantin Rumah Sakit. Hal itu membuatnya memesan menu yang sama untuk jadwal makannya.
“Dokter memesan bubur ayam lagi?” tanya Eva, seorang perawat yang menemani Tyona makan siang. Yang ditanya terkekeh. “Ya, hanya ini yang menggugah selera makanku, Eva”
“Tapi apa tidak bosan, dok? Aku saja makan menu kesukaanku, paling maksimal 3x. Setelah itu aku berhenti karena enek”
Tyona menggeleng, menambah sedikit saus sambel untuk melengkapi rasa buburnya. “Aku pernah memesan menu lain, tapi aku langsung mual. Jadi daripada mubazir lebih baik kembali ke bubur ayam”
Eva menggelengkan kepala melihat tingkah dokternya. “Dokter mengingatkanku pada kakak perempuanku ketika hamil. Dia tidak mau makan apapun selain sayur brokoli. Padahal sebelumnya ia benci setengah mati pada brokoli”
Gerakan tangan Tyona terhenti ketika telinganya menangkap satu kata yang menarik. Hamil? Mungkinkah..
Tunggu, kapan terakhir kali haidnya. Tyona meraih ponsel, membuka kalender pada fitur benda itu. Lima. Sudah lima hari ia terlambat. Tapi bukankah dirinya pernah telat? Bahkan lebih dari lima hari. Haruskah ia memeriksakannya? Tapi Tyona tidak ingin berharap.
“Dokter?”
“Ya?”
Eva mengulum senyum. “Apa dokter sedang mengandung?”
__ADS_1
**