
“Bagaimana belanjanya? Kau senang?”
Hannah masuk dengan menenteng dua goodie bag dari butik Mike tadi. Dikira hanya itu, ternyata pintu kamar diketuk sebentar sebelum datang asisten rumah tangga Mark yang masuk dan menaruh belanjaan Hannah. Tidak hanya kembali sekali, tapi total tiga kali harus bolak balik dari mobil menuju kamar Mark hanya untuk mengantar belanjaan.
“Perlukah aku menjawabnya?”
Mark terkekeh. “Kalau kau lelah, biar aku yang bilang kepada Ibu untuk tidak mengajakmu berbelanja”
“Aku tidak lelah, Mark. Justru aku senang sekali bisa menemani Ibu belanja. Apalagi Ibu bilang bahwa sudah lama memimpikan hal seperti ini. Aku hanya tidak menyangka Ibu akan membelikanku… barang sebanyak ini, dan harganya Mark. Astaga.. hampir membuatku jantungan”
Mark kembali tertawa, tangannya bertengger di pundak Hannah, memberikan pijitan lembut. “Biarkan saja. Ibu melakukannya karena senang pada akhirnya memiliki calon menantu. Dan jangan cemaskan mengenai berapa banyak yang Ibu keluarkan. Percayalah, uang Ibu lebih banyak daripada uangku”
Hannah menoleh, memicingkan matanya. “Terimakasih untuk infomasinya, Mark”
Pemuda itu memajukan kepala, dikecupnya pundak Hannah beberapa kali. “Kau membuat suasana rumah ini menjadi seribu kali lipat lebih baik. Terimakasih”
Hannah menoleh ke belakang, membalas dengan mencium pipi tunangannya. “Menjadi salah satu bagian dari keluargamu adalah kebahagiaanku, Mark. Aku tidak sabar untuk menjadi istrimu”
“Akupun tidak sabar menjadikanmu Nyonya Sebastian. Lalu akupun tidak sabar menanti Sebastian-Sebastian junior”
Keduanya berbagi tawa, sebelum kekehan Mark terhenti dan tatapan pria itu menjurus ke bibir Hannah. Gadis itu mengerti, diberinya anggukan samar sebagai ijin bagi prianya untuk melangkah lebih jauh. Usai mendapatkan sinyal tersebut, tanpa membuang waktu disatukannya dua belah ranum mereka. Awalnya lembut, bermaksud menyalurkan setiap rasa untuk satu sama lain. Namun didorong oleh kerinduan dan kebutuhan, pagutan itu berubah menjadi lebih intens dan dalam hingga posisi mereka sudah berubah, Hannah yang berbaring di ranjang dengan Mark diatasnya.
Pemuda itu menarik kepalanya, memandang puas bagaimana nafas Hannah yang pendek-pendek, wajah memerah dan bibir mengkilap yang sedikit bengkak.
“Kau.. kau bisa melakukannya lebih jauh jika kau menginginkannya, Mark”
Mark mengusap kepala Hannah lembut. Dikecupnya kening wanita yang akan menjadi calon istrinya itu. “Aku bisa bersabar sampai kita sah nanti. Dengan begitu kau tetap menjadi Hannah yang selalu menjaga kegadisannya hanya untuk suaminya kelak”
**
Yang disampaikan Nayara benar adanya. Tidak ada yang perlu dicemaskan karena toko bunga sederhana itu hanya berisi tiga pekerja perempuan termasuk Nayara, satu delivery boy, dan satu pemilik wanita paruh baya yang jarang berada di toko. Tidak ada yang mengusik sifat posesif Jeanno keluar, namun begitu ia tetap keukeh mengantar jemput kekasihnya sepulang bekerja.
“Kekasihnya tampan sekali ya”*
Langkah Nayara terhenti ketika telinganya sayup-sayup mendengar obrolan dua rekan kerjanya. Ia yang semula hendak ke toilet, mengurungkan niatnya. Memang mencuri dengar tidak baik, tapi rasa penasaran mengalahkan hal tersebut.*
“Dia juga mengantar jemput dengan mobil mewah. Sudah pasti anak orang kaya”*
“Beruntung sekali Nayara mendapatkan kekasih seperti itu. Andai hidupku semudah Nayara”*
Nayara tersenyum simpul, walau pada faktanya hidupnya tak pernah ‘semudah’ itu.*
__ADS_1
“Tapi kalau dipikir-pikir Nayara biasa saja, oke dia memang manis. Tapi penampilannya sederhana sekali, tidak sebanding dengan kekasihnya yang serba wow. Apa menurutmu tidak berbanding terbalik?”*
“Aku sependapat denganmu. Siapapun yang melihat kekasihnya pasti akan beranggapan kekasih pemuda itu adalah aktris, atau model”*
“Hey, jangan-jangan Nayara hanya dipermainkan olehnya? Kau tau kan, seperti kisah klasik pemuda kaya yang memacari gadis sederhana yang polos hanya untuk main-main?”*
Cukup. Nayara lebih memilih memutar tubuhnya kembali ke counter. Ia merasa hatinya tak sanggup jika harus mendengar lebih jauh. Sesungguhnya gadis itu menyesal harus mencuri dengar. Lebih baik tidak tau sama sekali pandangan rekan-rekan kerjanya, bukan?*
Nayara sempat berpikir, bisa jadi Jeanno memang mempermainkannya. Tapi hal itu diindahkan, mengingat betapa manis perlakuan pemuda itu padanya. Tidak ada kesan bosan pada setiap sentuhannya. Justru dalam hubungan mereka, Jeannolah yang lebih cakap. Menelpon lebih dulu, mengirim pesan lebih dulu. Pria itu juga tidak pernah bertindak kelewatan, benar mereka berciuman. Namun hanya itu. Jeanno selalu tau kapan waktunya berhenti, dan Nayara menghargai hal itu.*
Tapi mengenai janji Jeanno yang katanya akan memperkenalkannya kepada kedua orangtuanya, tidak kunjung terlaksana walau ucapan itu sudah keluar dari bibir sang kekasih satu minggu yang lalu. Nayara tidak ingin mendesak Jeanno, karena bagaimanapun kedua orangtuanya pastilah orang sibuk. Tapi satu sisi Nayara berpikir, apakah hal tersebut tidak kunjung terlaksana karena Jeanno malu membawa Nayara yang tidak sebanding dengannya?*
Rekan-rekan kerjanya benar, perempuan yang pernah dekat dengan kekasihnya dulu adalah gadis-gadis cantik dan kaya. Beberapa dari mereka model, seperti Sharin contohnya. Hanya Nayara yang sederhana dan tak memiliki apa-apa.*
Gadis itu mengangkat wajahnya, mendapati Jeanno yang sudah berdiri di depan meja kasir. Ia lantas melihat kearah jam, sudah menunjukkan pukul tujuh malam, yang mana waktunya pulang. “Sejak kapan kau datang?”*
“Eum.. cukup lama untuk melihatmu melamun”*
Nayara membuang nafas. “Tunggu di mobil ya, aku mau berpamitan dengan rekan-rekanku”*
Walau sebetulnya enggan, namun Nayara tetap harus menghormati rekan-rekan kerjanya sebagai seniornya. Oleh karena itu ia melangkah ke belakang, untuk sekedar berpamitan. Mereka membalas dengan ramah, seakan tak pernah bicara buruk di belakang punggung Nayara.*
“Ayo”*
“Jeanno, bolehkah aku bertanya padamu?” tanya Nayara usai mereka berada di mobil. Jeanno mengangguk tanpa menoleh karena fokusnya berada di jalanan. “Ya, tentu”*
__ADS_1
“Tapi kau harus jawab jujur” Jeanno menoleh, kemudian mengangguk lagi sebelum mengembalikan atensinya ke jalan. “Ya, aku akan jujur”*
Jeanno kembali menoleh kearah Nayara. Untunglah lampu lalu lintas berubah merah. Kekasihnya tak kunjung bersuara sekalipun ia sudah mengiyakan akan berkata jujur. “Sayang?”*
Nayara menghembuskan nafas samar. “Apa kau…. Apa kau pernah malu memilikiku?”*
“Kau pasti habis mendengar ucapan-ucapan tidak baik tentang kita, iya kan?”*
Nayara tak ingin menjawab, namun ia sudah terlalu lelah untuk menyembunyikan segala sesuatu dari Jeanno. Pada akhirnya ia mengangguk samar. “Tidak sengaja dengar”*
“Aku tidak pernah malu memilikimu. Apa yang harus membuatku malu? Karena kau tidak memiliki barang-barang bermerk? Karena kau tidak memakai sepatu mahal? Karena kau tidak pergi ke salon kecantikan? Kalau aku malu, sejak awal aku tidak akan membuang waktuku untuk mendekatimu, Na”*
“Aku tidak pernah seserius ini dengan perempuan sebelumnya. Hari dimana kau memarahiku karena aku tidak mengerjakan tugas kelompok kita, disaat itulah aku tau bahwa kau orangnya. Detik itu pula aku tidak memikirkan apapun tentang penampilanmu, itu tidak penting bagiku”*
“Benarkah?”*
Jeanno meraih tangan Nayara, mengecup punggung tangan itu sekilas. “Aku tidak memintamu percaya, aku memintamu merasakannya. Merasakan kehadiranku, merasakan perasaanku. Hubungan ini tidak akan berhasil jika kita tidak percaya satu sama lain, Na”*
Nayara tersenyum tipis. Merasa malu sendiri karena ia sempat meragukan Jeanno. “Ya, aku percaya. Maafkan aku karena meragukanmu”*
“Hmm dimaafkan tidak ya\~”*
Jeanno terkekeh ketika Nayara meninju lengannya. Ketika lampu berubah hijau, ia kemudian menjalankan laju mobilnya menuju asrama Nayara.*
*
**
__ADS_1