Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 52. Betrayer


__ADS_3

“Nah sudah selesai, ayo membakar jagung\~”


Jeanno berhenti untuk menoleh kearah Judith. “Kau keluar dengan pakaian seperti itu?”


Judith mengikuti pandangan Jeanno. “Memang apa yang salah?”


“Ganti, atau setidaknya pakai jaket. Diluar dingin”


“Oh, baiklah. Aera sudah membawa jaket? Kalau belum sekalian aku ambilkan”


Jeanno mengangguk. “Sudah, jaketku dan Jaket Aera ada di kursi depan”


“Kalau begitu aku naik dulu untuk mengambil jaket. Kalian duluan saja”


Jeanno mengangguk, lagi. Kemudian menggendong Aera menuju halaman depan. Sementara Judith, sedikit menggerutu mengapa ia ditempatkan di kamar lantai paling atas. Membuatnya yang baru kekenyangan makan menjadi lapar lagi karena harus menaiki banyak anak tangga. Ketika sampai, dirinya baru sadar betapa luasnya kamar ini. Seperti kamar utama. Tapi tunggu, jika ia menempati kamar utama, lalu kemana Jeanno akan tidur nanti?


Ah, iya, pertanyaan akan siapa yang menggendongnya tadi masih belum terjawab. Tapi biarlah tidak perlu Judith tau siapa pelakunya. Terkadang lebih baik tidak tau dibanding nantinya akan membawa dampak lain yang tidak ia inginkan.


**


Tyona berkali-kali mengecek ponselnya, sekedar melihat apakah ada pesan balasan dari Jeffrey atau tidak. Suaminya berkata akan pulang bersama tadi sekitar jam empat sore. Usai selesai berjaga dan mengabari suaminya bahwa Tyona sudah siap pulang, Jeffrey masih belum membalas pesan maupun panggilannya. Sebetulnya bisa saja ia pergi ke poli kejiwaan, namun kakinya sudah pegal sekali. Rasanya sudah tidak sabar sampai ke apartemen untuk sekedar meluruskan kaki.


“Dimana kau Jeff..”


Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Sudah setengah jam Tyona menunggu di bangku dekat IGD tempat mereka biasa janjian bertemu jika Jeffrey tidak sempat menjemputnya di poli anak. Sembari menunggu, Tyona membalas sapaan tenaga medis yang melewatinya.


“Anna? Kau sedang apa disini?”


Wanita itu mengangkat wajahnya dari ponsel yang ia tatap sedari tadi. “Oh, hai Darren. Aku sedang menunggu Jeff. Apa dia masih sibuk?”


Satu alis pria itu terangkat. “Jeffrey? Dia sudah pulang sejak satu jam yang lalu, Anna. Kupikir pulang bersamamu”


“Benarkah? dia mengajakku pulang bersama sore tadi jam 4. Tapi sejak tadi kuhubungi tidak kunjung dibalas”

__ADS_1


Lelaki berkacamata itu mengambil tempat di samping Tyona. “Apa mungkin dia lupa dengan janjinya? Jahat sekali, membiarkan istrinya menunggu seperti ini”


Tyona tersenyum tipis. “Mungkin dia kelelahan sampai lupa bahwa kami akan pulang bersama. Tidak apa, Darren. Aku pulang dulu ya”


“Kau pulang naik apa?”


“Entah, mungkin taksi online. Ada banyak pilihan, aku tinggal memilih” Tyona menjawabnya masih dengan tersenyum. Namun Darren bisa melihat kilah kecewa dari mata bambinya.


“Pulanglah denganku”


“Eh, tidak perlu. Rumahmu berlawanan arah dengan apartemenku”


“Aku memaksa. Kau juga belum makan malam kan? Kita sekalian mencari makan. Biar aku yang traktir. Sudah lama kita tidak mengobrol seperti dulu. Mau, kan?”


Tyona diam beberapa saat sebelum mengangguk. Tak ada salahnya, lagipula memang sudah lama ia tidak berbincang santai dengan Darren yang merupakan kawan sejawatnya. “Baiklah. Tapi aku ijin ke Jeffrey dulu”


“Tidak masalah. Jika dia mau menyusul malah kebetulan, jadi semakin ramai. Ayok”


Tyona bangkit mengikuti langkah kaki Darren menuju mobilnya.


**


Menceraikan Tyona, tidak mungkin. Wanita itu sudah bersamanya sejak lama. Ia mencintainya, bersamanya mereka menjadi pasangan yang disanjung satu rumah sakit karena kecocokan satu sama lain. Tapi bersama Renatta, Jeffrey mampu menjadi dirinya sendiri tanpa dituntut sempurna. Renatta bisa membuatnya membuka diri menjadi sosok Jeffrey yang ia rindukan, sosok Jeffrey yang ada sebelum masuk ke fakultas kedokteran. Sosok Jeffrey yang telah lama ia pendam jauh didalam sosok wibawanya sebagai dokter spesialis kejiwaan.


Ia mencintai Tyona, tapi juga menyayangi Renatta. Ia tak ingin menceraikan Tyona, tapi juga tak ingin melepaskan Renatta dan bayi mereka. Egoiskah Jeffrey?


“Kau jahat. Aku mual setiap pagi, tidak bisa makan, tidak bisa mencium bau parfumku sendiri. Disaat aku kesulitan, kau masih makan dengan lahap, tidur dengan nyenyak bersama istrimu. Kau bahkan tidak mau repot-repot menanyakan pertanyaan sederhana seperti kabarku. Kau sungguh picik, Jeff”


Jeffrey memandang Renatta yang bercucuran airmata. Sepanjang ia mengenal perempuan mungil ini, Renatta tidak pernah menangis. Bahkan ketika ia jujur bahwa telah memiliki istri, ia tak menangis. Hanya memukul dadanya berkali-kali dan mengatakan betapa teganya Jeffrey.


“Maafkan aku..”


“Aku butuh kepastian, Jeff. Jika kau belum bisa memberikan itu, tidak apa. Tapi tolong.. jangan ada yang berubah diantara kita. Aku tidak apa menjadi bayang-bayang pernikahanmu seperti dulu, yang aku tau aku masih memilikimu”

__ADS_1


Jeffrey meraih jemari Renatta, mengusap punggung tangannya lembut. “Tapi kau tentu tau jika lambat laun keadaan akan berubah. Terlebih jika anak kita lahir. Kau mau dia lahir tanpa ayah?”


“Itu masih bisa kita pikirkan enam bulan kedepan. Jika memang harus lahir seperti itu, ya mau bagaimana lagi? Aku tidak peduli dengan omongan orang lain tentangku yang hamil diluar nikah. Aku tidak peduli sama sekali. Yang penting aku masih memilikimu, seperti yang sudah kukatakan”


Pria itu mengangguk, membawa Renatta kepelukannya. Bisa ia rasakan tubuh mungil itu bergetar. Renatta tersengguk dalam dekapannya. Entah karena terbawa hormon, atau tangisan itu adalah puncak dari permasalahan pelik mereka. Yang jelas Renatta ingin berada dipelukan Jeffrey selama yang ia bisa dapat. Menghirup aroma khas pria itu yang mampu menenangkannya.


Ketika sudah dirasa tenang, Jeffrey mengusap perut Renatta yang mulai berbentuk. Ada sensasi aneh yang menjalarinya. Sesuatu yang tak pernah ia alami dan tak pernah ia rasakan ketika bersama Tyona. Tangannya menyetuh perut perempuan yang didalamnya tengah tumbuh benihnya, yang nantinya akan lahir seorang bayi yang membawa darahnya. Pemikiran itu membuat perutnya dipenuhi kupu-kupu dan dadanya bergelora. Jeffrey tak kuasa menahan senyum. Ada rasa haru menyadari ia sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.


“Kata dokter pertumbuhannya normal. Morning sick yang kualami adalah hal biasa untuk trisemester pertama. Aku hanya berharap nafsu makanku kembali. Kau tau sendiri aku suka makan. Tidak bisa makan makanan favoritku itu termasuk menyiksa”


Jeffrey terkekeh melihat bibir Renatta yang melengkung. Dikecupnya ranum manis itu. “Nanti kalau nafsu makanmu sudah kembali, katakan saja mau makan apa. Nanti kubelikan untukmu”


“Benarkah?”


Jeff mengangguk. “Apapun yang kau inginkan”


“Apapun? Dan kapanpun?”


“Ya, apapun dan kapanpun. Untuk kekasih cantikku dan bayi kita”


Renatta menghadiahi Jeffrey dengan kecupan di pipi berkali-kali. “Terimakasih, sayang. Baby, papamu baik sekali. Nanti kita minta yang banyak, selagi papa yang bayar”


Jeffrey tertawa melihat Renatta berbicara dengan perutnya seakan-akan sang bayi akan merespon. Tapi tak dipungkiri, kehamilan membawa aura kekasihnya semakin bersinar. Jeffrey sedikit menyesal mengapa mengabaikan Renatta berhari-hari dan melewatkan momen membahagiakan ini.


“Jeff, menginaplah.. aku merindukanmu. Aku ingin tidur dalam pelukanmu seperti dulu”


Pria itu, tanpa pikir panjang, mengangguk. Ia bisa mengatakan tidur dirumah orangtuanya kepada Tyona esok hari. Mengenai pakaian, untunglah Jeffrey menyimpan beberapa potong pakaian dan snelli di lemari milik Renatta.


“Yei, papa akan tidur bersama kita malam ini sayang”


Usai bermonolog dengan si janin, Renatta kembali memeluk Jeffrey erat. “Aku mencintaimu, Jeff”


“Aku juga mencintaimu” jawaban Jeffrey yang cukup membawa lega dalam hati Renatta. Setidaknya ia memiliki separuh hati Jeffrey. Hanya tinggal menunggu waktu ia memiliki hati pria itu sepenuhnya.

__ADS_1


**


__ADS_2