
Jeanno memandang penuh amarah kepada selembar cek senilai tiga miliar yang dibubuhi tandatangan Marco Sebastian disana. Usai perkelahian panas antara dua sepupu itu, esok paginya ia mendapatkan kiriman berupa cek dengan nilai yang sama sesuai gugatan yang ia layangkan kepada Judith.
Tidak menyangka, tentu saja. Jeanno tidak mengerti mengapa Mark sampai seperti ini membela Judith. Tak hanya memutus tali persaudaraan mereka, namun Mark juga harus rela merogoh kocek yang cukup besar untuk kompensasi yang mana Jeanno yakin Judith tidak memiliki uang sebesar itu untuk mengganti uang Mark.
Seharusnya sudah selesai, bukan? Tapi tidak. Sebut saja hatinya memang picik. Tapi Jeanno masih ingin membuat Judith jera. Maka demikian, ia meraih cek tersebut, lalu merobeknya menjadi beberapa bagian seakan lembaran itu hanya kertas biasa yang tidak berguna.
**
Judith nyaris gila. Ia tak mengatakan apapun, tidak mau makan apapun, tidak pergi ke kamar mandi. Ia hanya memandang kosong kearah luar jendela, mengabaikan eksistensi sepasang suami istri yang sedari kemarin membujuknya makan.
“Sayang, kita bantu untuk menyeka tubuhnya ya? supaya tidak terlalu lengket”
Sebetulnya kalimat Hannah adalah bentuk persetujuan, berharap setidaknya Judith merespon. Tidak perlu dengan suara, sekedar anggukan dan gelengan saja Hannah sudah sangat senang. Karena setidaknya respon sederhana mampu memberinya tanda bahwa kawannya masih mendengarnya.
Menunggu sekian sekon, lawannya masih bergeming. Satu nafas lolos dari Hannah, memutuskan untuk membuka pakaian rumah sakit Judith setelah Mark pergi.
Sejak pertama kali membantu menyeka tubuh sahabatnya, hati Hannah selalu mencelos. Tubuh elok yang sebelumnya berisi dan sangat seksi, kini seakan hanya kulit membalut tulang. Ada beberapa kissmark yang warnanya mulai memudar di leher, tulang selangka dan sekitaran dadanya. Tidak perlu menebak siapa, karena Hannah sudah tahu siapa pelakunya.
Oh, semalam Mark sukses membuatnya nyaris pingsan ketika kembali ke rumah sakit dalam keadaan babak belur. Hannah tak langsung bertanya, karena ia lebih memilih untuk membawa Mark supaya diobati luka-lukanya. Barulah ketika sudah selesai, Mark dengan sukarela menceritakan semuanya. Membuat Hannah tak berhenti terkejut menyadari betapa kejamnya sosok Jeanno Alexander.
“Kupikir kita sudah mengenal sejak lama. Tapi ternyata ada luka yang kau simpan rapat-rapat. Aku dan Renatta payah sekali ya? Haah sekali lagi, aku merindukan kita bertiga”
Selesai mengeringkan tubuh Judith, Hannah mengambil potongan pakaian baru dari dalam laci untuk dipakaikan kepada sahabatnya.
“Nanti setelah kau keluar dari rumah sakit, tinggalah di apartemenku dan Mark. Setidaknya disana kau tidak kesepian”
Tentu saja setelah semua ini terjadi, Hannah tidak akan membiarkan Judith sendirian. Wanita manis itu menarik kursi di samping ranjang Judith usai menaruh baskom air di kamar mandi. Disisirinya rambut panjang Judith yang mulai lepek.
“Hey, mau pergi ke panti asuhan tidak? sebelum menikah aku pernah beberapa kali diajak oleh Ibu untuk ke panti asuhan milik yayasan keluarga Mark. Aku baru pertama kali kesana, tapi kau tau? aku merasa sangat senang. Melihat para anak-anak yang terlihat bahagia walau tumbuh tanpa orang tua. Sewaktu bertanya mengapa tidak melihat kesedihan, salah satu dari mereka menjawab ‘Untuk apa sedih? Kami memiliki satu sama lain’ seperti itu. Aku terharu, sekaligus merasa hatiku tenang. Mungkin kau berkenan ikut?”
__ADS_1
Hannah tersenyum sendu. “Kalau kau lelah, tidak apa. Gunakan waktumu sebanyak mungkin untuk beristirahat, menata kembali semuanya dari awal. Sulit memang, karena kau kehilangan nyaris segalanya. Tapi perlu kau ingat, sayang. Aku dan Mark ada bersamamu selama masa pemulihan. Jadi jangan pernah merasa sendirian, ya? kami tidak peduli latar belakangmu, orangtuamu, atau apapun itu. Kau adalah sahabatku, dan akan seterusnya seperti itu”
Hannah bangkit, mengecup kening Judith sebelum melangkah keluar. Membiarkan kawannya beristirahat.
Mark sedang duduk di kursi tunggu yang kebetulan ada di depan kamar rawat Judith. Pria itu menoleh ketika melihat sang istri mengambil tempat kosong disampingnya.
“Bagaimana?”
Hannah menggeleng, ia sandarkan kepalanya di pundak Mark. Tak bisa dipungkiri bahwa fisik dan batinnya juga lelah. Tapi Hannah tak ingin menyerah akan Judith. Ia sudah berjanji itu. Lelah yang ia rasakan tak sebanding barang seujung kukupun dengan penderitaan yang diterima karibnya.
“Aku bingung harus membawa topik apa lagi. Dia masih tidak merespon”
Tangan Mark meraih jemari Hannah. Menyalurkan dukungan satu sama lain. “Tadi Nora menelponku. Katanya Jeanno merobek cek yang aku berikan”
“Sungguh?” Mark mengangguk. “Aku tidak tahu apa yang memotivasinya, tapi kurasa dia mengharapkan Judith menderita dalam upayanya mencari uang sebesar itu. Sementara jika aku yang memberinya, itu berarti permasalahan sudah selesai dan dia tidak berhak mengusik Judith lagi”
“Lagipula aku yakin Jeanno tidak membutuhkan uang itu. Tujuannya hanya ingin membuat Judith menderita”
“Kau.. sudah memberitahunya mengenai kehamilan Judith?”
Mark menggeleng. “Aku belum ingin. Reaksinya antara dua. Pertama dia akan tertawa puas, kedua dia akan menyesal dan datang kemari. Aku tidak mau melihat dua reaksi itu. Mungkin lebih baik kita menjauhkan Judith dulu dari Jeanno”
Hannah mengangguk, memahami ucapan sang suami.
“Sayang, apa kau tau perihal masa lalu Judith?”
Yang ditanya menggeleng. “Tidak. Dia hanya pernah cerita kalau kabur di usia 14 tahun karena keluarganya kurang harmonis. Aku tidak tahu menahu mengenai latar belakang keluarganya, termasuk nama lahirnya”
“Aku berniat mencari tahu lebih dalam mengenai keluarganya”
__ADS_1
“Tujuannya untuk apa?”
Mark mengangkat bahu. “Orang kepercayaan paman Thomas tidak akan sebodoh itu salah menyelidiki latar belakang orang lain. Kau tahu maksudku?”
Keduanya saling bertatapan, mencari koneksi dari kalimat Mark barusan.
“Aku ragu, apa jangan-jangan Judith dan Nayara memang saudara kembar”
“Tapi bukankah Nayara teman kuliah Jeanno? Jika begitu teori mereka kembar tidak mungkin, Mark. Usianya saja sudah berbeda”
Mark terpaku sekian sekon, seakan otaknya baru menghubungkan titik-titik permasalahan itu. “Tidak, bukan tidak mungkin, sayang. Nayara.. setauku dia pernah lompat kelas ketika masih sekolah dulu”
“Aku harus mencari tahu segera”
Mark meraih ponsel di kantung celananya, mendial nomor orang yang ia percayai untuk menyelidiki Judith.
**
Aleta kecil menangis sembari menutup telinganya rapat-rapat. Bunyi gelegar petir bercampur dengan riuhnya pecahan barang yang menembus pintu kamarnya, membuat hatinya ketakutan setengah mati. Menjalani malam dengan latar suara pertengkaran ayah dan ibunya tak kunjung membuat gadis cilik itu terbiasa.
“Aleta takut.. hiks”*
Tak banyak yang bisa ia lakukan selain menangis. Sampai lelah menghampirinya dan membawanya kealam mimpi. Selalu, ia berharap akan bertemu dengan sosok orangtua yang menyayanginya didalam mimpi.*
__ADS_1