
“Kau dimana?”
Hannah memandangi angka yang tertera pada elevator yang akan membawanya ke lantai 6. “Aku.. sedang ke supermarket. Kau masih di kantor?”
“Ya, sepertinya masih lama. Kau mau membeli apa?”
“Mendadak aku ingin memasak. Jadi sekalian saja belanja sambil mengisi kulkasmu”
“Oh, nanti kalau sudah sampai rumah, jangan lupa kabari aku. Sudah dulu ya, sayang. Aku harus kembali bekerja”
Hannah menggangguk sekalipun Mark tidak dapat melihatnya. Usai berpamitan, Hannah menyimpan ponselnya. Bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.
Lantai 6.
Hannah melangkah keluar, mencari letak kamar 610 yang ditunjuk Louis. Tak butuh waktu lama karena kamar itu ternyata berada di paling pojok. Butuh berapa kali helaan nafas untuk membuat Hannah kembali berpikir apakah ini sudah keputusan yang tepat. Tapi uang yang ditransfes Louis sudah ia kirimkan kepada Ibunya disana, yang mana pasti sudah diserahkan kepada rentenir sebelum rumah mereka dirampas paksa.
Jika Hannah mundur, ia yakin hal itu akan memperumit keadaan. Cukup menemui bosnya, mencaritahu keinginannya, dan bernegosiasi jika memang Louis meminta hal diluar kewajaran.
Hannah memantapkan hati sekali lagi sebelum mengetuk pintu. Yang langsung dibukakan oleh pria bermata biru yang tersenyum menyambut kedatangannya, tubuh tinggi itu bergeser untuk membiarkan Hannah masuk.
Sementara di sudut lain, seseorang tengah tersenyum puas ketika kameranya berhasil menangkap momen Hannah yang tengah memasuki kamar hotel.
**
“Untung mommy masih menyimpan piyama Aera, jadi tidak akan kebingungan kalau Aera menginap dadakan seperti ini”
Aera mendongak, menunjukkan lengan piyama yang sudah melewati pergelangan tangannya. “Tapi ini sudah kekecilan, mommy”
Tyona terkekeh, tak tahan untuk tidak mencubit gemas pipi Aera. “Iya, maaf ya sayang, besok mommy belikan yang baru”
Semula Tyona memang akan mengantarkan Aera kembali ke rumahnya usai makan malam. Namun terjadi perubahan rencana ketika Judith menelpon, memberitahu bahwa Jeanno sakit dan ia harus merawat pria itu karena Jeanno enggan dibawa ke rumah sakit. Tyona yang mengerti bahwa waktu Judith akan tersita untuk merawat orang sakit, memilih menawarkan Aera untuk menginap saja. Supaya Judith bisa fokus kepada kondisi Jeanno.
“Papa sudah lama tidak sakit”
Tyona menghela Aera ke kamar tamu yang memang walau jarang ditempati, namun tetap nyaman karena dibersihkan setiap hari. Disanalah kamar yang biasa Aera tempati jika gadis kecil itu menginap.
“Papa sepertinya kelelahan bekerja, jadi jatuh sakit”
“Aera tidak suka Papa sakit. Mengingatkan Aera ketika Mama sakit”
__ADS_1
Tyona tersenyum tipis. Tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Aera tau bahwa Judith bukanlah sosok Mamanya.
“Aera senang melihat Mama sudah sehat?”
Si kecil mengangguk sembari tersenyum lebar. “Senang sekali, mommy. Aera jadi bisa seperti teman-teman”
“Teman-teman?”
“Iya, mereka diantar dan dijemput mama. Lalu dibuatkan bekal, lalu mama mereka datang di acara sekolah. Aera iri sekali, tapi sebal ketika Ray bilang Aera tidak punya mama”
Tyona merentangkan tangannya, memeluk tubuh mungil itu erat. “Jahat sekali mereka bilang Aera tidak punya mama. Aera jangan dengarkan, oke? Aera punya mama, punya papa, punya paman Mark, ada Mommy juga. Kami semua sayang sekali sama Aera”
“Aera tau, Aera juga sayaaang sekali dengan papa, mama, paman Mark, mommy, dan aunty Hannah”
Tyona menunduk. “Siapa itu?”
“Teman dekat paman Mark dan Mama. Aunty Hannah cantik sekali, mommy. Sama seperti mommy dan mama. Dan baik sekali”
“Nah kan, bertambah lagi orang-orang yang menyayangi Aera. Aera senang kan?”
Tyona meraih buku dongeng yang memang ia simpan. Seperti biasa, membacakannya sebagai pengantar tidur Aera. Ketika bocah cantik itu sudah terlelap pulas, Tyona merapatkan selimut dan keluar usai mengecup kening Aera.
Tak berselang lama, pintu apartemen terbuka, menampakkan Jeffrey yang baru pulang jaga.
Jeffrey mengangguk singkat. “Hey..”
“Bagaimana hari ini?” Tyona menghampirinya dan membawakan perlengkapan jaga Jeffrey. Suaminya memijat pundak pelan. “Tidak ada yang istimewa”
Netra Jeffrey tertuju pada tas dan sepatu Aera yang memang belum sempat Tyona rapikan dan masih ada di ruang tengah. “Aera disini?”
“Ya, dia menginap karena Jeanno sakit”
Jeffrey mengikuti Tyona ke kamar mereka. “Mau sampai kapan?”
“Ya?”
“Mau sampai kapan kau merawat anak oranglain”
Tyona meletakkan tas kerja Jeffrey di meja kerja yang menjadi satu dengan kamar luas mereka. Kemudian menoleh kearah suaminya yang sedang melepas jam tangan. “Aku tidak merawat Aera, dia hanya kuajak main kemari karena aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Dan lagi dia bukan anak oranglain, dia anak sahabatku”
__ADS_1
“Tapi kehadirannya akan semakin membuatmu ingin hamil”
Tubuh Tyona menegang, tak percaya kata-kata tersebut keluar dari mulut Jeffrey. “Aku memang ingin hamil, dengan atau tidak adanya Aera. Tidak ada pengaruhnya. Dan lagi memang apa salahnya jika aku ingin hamil? Aku sudah menikah, jika kau lupa Jeff”
“Kau harus menerima kenyataan, Anna. Tidakkah kau lelah berusaha?”
Mulut dokter anak itu ternganga. Seakan tak ada habis rasa takjubnya mendengar ucapan ajaib dari mulut lelaki yang sudah dikenalnya lebih dari satu dekade.
“Jangan salah paham, aku hanya mau memberimu kenyataan. Kita sudah mencoba banyak cara, tapi tidak ada satupun yang berhasil. Mungkin memang takdirnya kita tidak bisa memiliki anak. Berhentilah berusaha, Anna. Aku tidak mau kau kecewa lagi”
Tyona menggeleng, meraih piyama tidurnya. “Kau yang tidak mau aku kecewa, atau kau yang tidak mau memiliki anak dariku? Kau bosan padaku?”
“Kenapa kau membalikkan ucapanku dengan prasangkamu yang tidak penting itu”
Tyona melangkah berhadapan dengan dengan Jeffrey. “Kita sudah saling mengenal hampir 12 tahun, Jeff. Tapi akhir-akhir ini aku merasa seperti tinggal dengan pria asing. Aku ingin suamiku, aku ingin lelaki yang mengucap janji suci di altar padaku. Aku ingin dia kembali. Sementara kau.. kau yang ada di depanku sekarang, begitu angkuh dan dingin”
“Aku masih Jeffrey yang sama seperti 12 tahun yang lalu”
Wanita itu menggeleng, membuang pandangannya seakan enggan memandang Jeffrey terlalu lama. “Tidak. Kau berbeda”
“Mau kemana?” tanya Jeffrey ketika Tyona berjalan menuju pintu.
“Tidur dengan Aera”
**
Hannah melangkah tergesa menuju apartemen Mark. Berharap pria itu belum pulang. Hannah tidak bisa memastikan kepulangan Mark karena kekasihnya tidak bisa dihubungi. Ia hanya berharap dirinya sampai lebih dulu dibanding Mark.
Beruntung, unit megah tersebut masih lengang sama seperti sebelum ia pergi. Sepatu Mark juga belum ada, menandakan kekasihnya masih di kantor. Hannah mengatur nafas, tak pernah ia rasakan lega luar biasa. Usai kecepatan nafasnya normal, Hannah memutuskan untuk mandi air hangat. Seakan itu bisa menyapu memori buruknya bersama Louis di hotel tadi.
Well, pria itu memang tidak meminta bercinta dengannya. Belum. Terimakasih untuk usaha Hannah yang bersujud memohon padanya untuk melakukan apapun asal tidak yang satu itu. Louis, yang menyombongkan diri akan kemurahan hatinya, memberikan penawaran lain. Yang tentu saja lebih ringan dari bercinta, namun bukan berarti mudah juga.
Menari telanjang.
Akal dan hati Hannah tentu menolak. Karena tidak ada jaminan bahwa Louis bisa menahan gairahnya jika ia benar-benar menari tanpa pakaian di depannya. Tapi Louis, dengan angkuhnya mengatakan bahwa ia pria yang memegang perkataan. Ia bahkan memberikan Hannah ponsel yang sudah tertera nomor resepsionis. Berjaga jika Louis macam-macam, Hannah bisa langsung menelpon untuk meminta pertolongan.
Bermodalkan kata-kata dari mulut Louis, ditambah berkejaran dengan waktu supaya ia bisa lebih cepat pulang dibandingan dengan Mark, Hannah setuju pada akhirnya.
Wajahnya memerah seluruhnya ketika harus menanggalkan satu demi satu potong pakaian yang melekat di tubuhnya, sementara Louis terduduk di ranjang, memandangnya intens. Kemudian ketika musik terdengar, tubuhnya meliuk sesuai irama. Berusaha mengabaikan fakta bahwa ia tengah menari erotis tanpa pakaian di hadapan pria yang tak lain adalah bosnya.
__ADS_1
Dan memang, sampai waktunya menari selesai, Louis menepati janjinya. Namun bukan berarti sudah selesai sampai disini. Louis akan mengirimkan tempat dan waktu lain waktu untuknya menari polos lagi. Hannah hanya mengangguk, memakai kembali pakaiannya dengan cepat lalu pergi.
**