
Ada jeda keheningan lumayan lama. Yang membuat Arman nyaris bersorak karena meyakini dirinya telah menang. Sesungguhnya Arman sendiri tidak tahu apa Nayara masih hidup atau tidak, kalimat yang ia utarakan hanya pancingan belaka, sekedar ingin menarik reaksi Jeanno Alexander.
“Apa yang kau bicarakan? Jika kau ingin minta maaf, katakan itu langsung didepan istriku. Berlutut jika perlu”
“Baiklah. Tapi kapan aku bisa bertemu dengan istrimu? Yang kumaksud adalah nyonya Alexander yang sesungguhnya, bukan pelacur yang kau sewa untuk didandani seperti nyonya besar”
Nafas Jeanno memberat. Tangan kanan yang sedang menggenggam pena, dieratkannya hingga benda panjang itu patah. Dadanya bergemuruh, hawa ingin menghabisi si penelpon sungguh kuat, terlebih ketika Arman melontarkan tawa yang mengejek.
“Aku tahu siapa yang ada dirumahmu sekarang, Jeanno. Bukan Nayara Alexander. Melainkan perempuan kelas rendahan yang menjajakan tubuhnya untuk ditiduri pria yang membayarnya mahal. Akulah salah satunya. Aku membayarnya dengan harga mahal hanya untuk satu malam. Tapi kau, ‘menyewanya’ untuk berapa lama? Aku penasaran.. berapa nominal yang kau keluarkan untuk ****** itu”
Jeanno menggeram. “Bajingan sepertimu tidak pantas menyentuhnya barang seujung kukupun. Dan ya, memang benar perempuan dirumahku bukanlah Nayara. Puas?”
“Dugaanku benar” Arman tertawa keras. Merasakan kali pertamanya menang melawan Jeanno. “Judith pasti sangat bahagia dilirik oleh pria sepertimu. Sudah berapa kali kau menidurinya? Sisakan untukku. Dia milikku sejak awal, dan akan kuambil kembali darimu”
“Lupakan obsesimu, Arman. Dia tidak akan sudi disentuh oleh pria menjijikkan sepertimu”
Tawa Arman terhenti. “Terlambat. Aku sekarang sedang berada didekat rumahmu. Hanya dalam waktu dua menit, aku sudah sampai dan siap mengetuk pintu”
“Kau sudah memperlakukanku sebegitu buruk, merendahkanku dihadapan ayahku sendiri” ekspresi Arman mengeras. “Sudah saatnya giliranmu mendapatkan hukuman, Jeanno”
Sambungan telpon terputus. Sebelum Jeanno mengambil tindakan lain, Arman sudah lebih dulu mengirimkan pesan berupa titik lokasi yang memang berjarak dua menit menuju kediaman Jeanno. Kemudian pesan dibawahnya berupa video. Video vulgar yang menampilkan persetubuhannya dengan Judith dulu. Diiringi pesan menjijikkan dibawahnya.
‘Aku akan mengambil kembali jalangku. Setelah dia menjadi milikku, aku jamin tidak akan ada yang merampasnya dariku. Akan kupakai tubuhnya setiap saat, jika perlu kulumpuhkan kakinya supaya dia tidak pergi lagi. Kali ini kau kalah, Jeanno. Aku renggut keluarga kecilmu yang penuh kepalsuan itu. Kau tidak berhak bahagia’
Jeanno yang membaca deretan kata itu, sontak langsung keluar dari ruangannya seperti orang kesetanan. Memencet tombol lift dengan brutal dan mengumpat kasar ketika pintu itu tak kunjung terbuka. Kesabaran yang setipis tisu, memutuskannya untuk memilih jalur tangga. Melupakan fakta jika Nora ada disana, menyaksikan kepanikan Jeanno yang tak pernah ditunjukkan kepada siapa-siapa. Melihatnya heran sekaligus takut terjadi sesuatu, Nora putuskan untuk menelpon Mark.
Dijalan, Jeanno mengendarai mobilnya seperti orang gila. Menyalip tanpa tedeng aling-aling. Membunyikan klakson berkali-kali setiap ada kendaraan yang mengacau, bahkan menyerempet beberapa mobil dan menerobos lampu merah. Jeanno tidak peduli, bahkan jika ia ditangkap polisi karena pelanggaran lalu lintas, ia sama sekali tidak peduli.
Fokusnya hanya satu, ia harus sampai rumah sebelum Arman sampai. Tidak boleh ia biarkan Arman menyentuh Judith barang sehelai rambutpun. Tidak boleh ada yang menyakiti Judith lagi.
“Brengsek!”
__ADS_1
Umpatnya keras begitu ia lihat pintu gerbangnya sudah terbuka. Tanpa perlu repot-repot memarkirkan mobil dengan benar, Jeanno langsung berlari masuk. Jantungnya berdebar luar biasa seiring dengan semakin dalam langkahnya menuju rumah.
Usai memasukkan passcode, pria itu masuk. Mengambil langkah panjang menuju kamar Judith yang kosong. Ia cari dikamar Aera, kosong. Dapurpun demikian. Ia terus mencari disetiap sudut. Salahnya yang terlalu kalap hingga melupakan ponsel. Salahnya yang kacau sehingga melupakan nomor ponsel Judith.
Pada batas emosinya yang tak kunjung menemukan Judith, Jeanno menendang kuat-kuat nakas kecil yang menyebabkan vas bunga diatasnya pecah. Vas bunga kesayangan Nayara dulu. Jeanno hanya meliriknya sekilas, tubuhnya bergetar dan nafasnya memburu.
“Judith… please”
Amukannya membuat tenaga Jeanno habis, pria itu seketika melemas dan jatuh terduduk dianakan tangga. Diusap kasar wajahnya. Ia takut setengah mati. Jika Arman berhasil membawa Judith pergi dan menyakitinya lagi, maka Jeanno tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri yang telah lalai. Ia yang memposisikan Judith dalam bahaya, ia pula yang gagal menjaganya.
Jeanno ketakutan setengah mati jika harus kehilangan lagi. Memang ia melepaskan gadis itu untuk mengejar bahagianya, asal Judith masih berada dalam jangkauan pandangannya. Asalkan ia tahu gadis itu memang hidup dan bahagia dengan kesehariannya.
Bukan seperti ini, diculik dan dihabisi oleh pria yang memiliki obsesi gila padanya.
“Jangan ambil Judith.. Jangan lagi, Tuhan”
Jeanno menyadari dirinya jauh dari Tuhan sejak Nayara tiada. Memang ia mulai menerima takdir, tapi hatinya masih berat jika harus bersimpuh dan berdoa. Merasa dirinya mampu menjaga Aera sendirian, Jeanno memilih untuk bergerak sendiri tanpa diiringi panjatan doa.
“Aku mencintainya, Tuhan. Jangan ambil dia..”
Pada akhirnya, kenyataan menamparnya dengan rasa yang susah payah ia pungkiri. Jeanno mencintainya. Jeanno mencintai Judith. Tak perlu waktu yang lebih lama untuk menyelami arti kekosongan hatinya. Semesta telah menunjukkan cara agar Jeanno mengerti, bahwa ia telah jatuh untuk yang kali kedua. Bukan karena Judith mirip dengan Nayara. Tapi karena Judith adalah Judith.
Jeanno jatuh cinta pada sepasang saudari kembar.
Dalam sesalnya yang dalam, sesosok bayangan memasuki kediaman megah Jeanno. Yang nampaknya belum disadari oleh pria yang saat ini masih meringkuk lesu ditempatnya. Figur yang semakin nyata, berjalan mendekati sang tuan muda dengan penuh tanya.
“Tuan?”
**
“Bagaimana, tuan?”
__ADS_1
Mark mengumpat lirih, memijat tulang hidungnya ketika ia kehabisan cara bagaimana menemukan Jeanno. “Kenapa si bodoh itu tidak mengangkat telponku”
Melemparkan atensinya kepada sang sekretaris, Mark menarik nafas panjang. Tak ingin mengintimidasi Nora karena bagaimanapun gadis itu tidak bersalah. “Kau yakin hari ini Jeanno tidak memiliki masalah berat yang berhubungan dengan pekerjaan?”
Nora menggeleng. “Tidak, tuan. Proyek besar sudah berlalu dan itu sukses, tidak ada kesulitan berarti terutama hari ini. Tuan Jeanno terlihat baik-baik saja sampai….”
“Sampai?”
Sang sekretaris terdiam sejenak, mencoba meyakinkan bahwa yang ia lihat benar adanya. “Sampai tuan menerima sebuah telpon. Saya tidak tahu tuan bicara dengan siapa, karena saya hanya lihat sekilas. Saya juga tidak tahu apa apakah telpon itu pemicu kalutnya tuan Jeanno”
Seakan mendapatkan ilham dari pengakuan Nora, Mark melangkahkan kakinya ke ruangan Jeanno. Berharap benda yang ia cari ada disana, dan benar saja.. ponsel hitam milik adik sepupunya teronggok di lantai dekat kursi. Ia pungut ponsel Jeanno, mengusap layarnya yang sedikit pecah. Kemudian pria itu memasukkan 4 digit kode yang ia sendiri tak yakin masih menjadi kunci layar ponsel Jeanno.
‘Ulang tahun Aera, semoga masih bisa’ batinnya. Dan benar saja, kunciannya terbuka. Tak membuang waktu, Mark menelisik riwayat pesan dan telpon. Curiganya ada pada pesan dari nomor asing yang berada dibarisan paling atas. Dibukanya, dan benar saja dugaannya.
“Aku tahu kemana Jeanno. Kau tetap disini, kuusahakan memberimu kabar mengenai dirinya”
Nora mengangguk sopan dan membiarkan Mark pergi dengan membawa ponsel Jeanno. Sama seperti ekspresi tuannya, ekspresi Markpun terlihat marah. Nora tidak mengerti apa yang terjadi, yang ia harapkan hanyalah semoga semuanya baik-baik saja.
Kekhawatiran Mark semakin menjadi melihat mobil Jeanno yang terparkir sembarangan didepan gerbangnya, bahkan sedikit melintang menghalangi jalan masuk. Usai membaca pesan dari Arman, Mark tahu tujuan utama Jeanno pastilah rumahnya sendiri. Mengikuti langkah Jeanno dengan memarkir mobilnya asal, Mark tidak ingin membuang waktu dan langsung berlari masuk kedalam rumah. Dadanya berdetak sama kerasnya dengan langkah kakinya sendiri. Buliran keringat sebesar biji jagung sudah membasahi dahi pria Sebastian itu. Ia gugup setengah mati, karena dari yang ia cermati, Arman sama sekali tidak bergurau. Pria itu sangat menginginkan Judith, sekaligus dendam pada Jeanno. Sangat mungkin Arman merealisasikan apapun rencana jahatnya.
Mark sudah memikirkan untuk menghubungi kenalannya yang seorang petinggi di kepolisian untuk menangkap Arman, sekaligus menelpon pengacara keluarganya yang handal untuk menjamin Arman membusuk di penjara.
Satu langkah Mark melakukan itu, namun harus ia urungkan melihat pemandangan dihadapannya.
Bukan, bukan pemandangan mengenaskan yang ia takutkan sepanjang jalan. Perlahan, segala skenario buruk dikepalanya pupus, tergantikan oleh rasa lega yang luar biasa. Menyadari ia berada di waktu yang tidak tepat, Mark memutuskan untuk mundur tanpa suara, ia memilih untuk angkat kaki.. menyediakan waktu dua jiwa itu untuk saling mengisi.
Mark tidak ingin kehadirannya menginterupsi mereka.
Mereka, Jeanno yang tengah memeluk Judith dengan sangat erat.
**
__ADS_1