Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 97. New ‘friend’


__ADS_3

“Anna? Kenapa kau diam saja?”


Tyona berdehem sembari beringsut melepaskan diri dari pelukan Jeffrey. “Aku.. melakukan pemeriksaan rutin saja, seperti biasa”


“Oh.. tidak ada yang lain?”


Ada sebersit kekecewaan pada nada bicara Jeffrey. Seakan pria itu mengharapkan ada kabar lain dari hasil pemeriksaan Tyona, yang tentu saja sejujurnya memang ada. Namun Tyona memutuskan untuk menyimpannya dulu. Ia tak ingin melihat respon Jeffrey, tak ingin bahagianya dirusak jika harus mengungkit perkara permasalahan rumah tangganya.


Biarkan Tyona menyimpan bahagianya sendiri, sementara.


“Sana mandi. Setelah itu istirahat”


Jeffrey tak membantah, hanya mengangguk sambil lalu menuju kamar mereka.


**


“Nayara?”


Judith mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang memanggil namanya. May tengah berjalan riang kearahnya diikuti oleh perempuan asing yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


“Oh, hai May”


May memajukan tubuhnya, memberikan kecup pipi kanan dan kiri khas teman wanita yang baru bertemu. “Bagaimana kabarmu? Rasanya lama sekali tidak melihatmu menunggui Aera di sekolah”


“Ah itu..” Judith mengulum senyum, segala permasalahan Hannah dan Mark memang turut menyita waktunya, yang membuatnya jarang menunggui Aera menjelang jam pulang sekolah. “Iya, iparku beberapa waktu lalu kecelakaan dan lumayan parah, jadi kami menungguinya di rumah sakit”


May menunjukkan raut prihatinnya. “Maaf mendengarnya. Apa dia sudah baik-baik saja?”


“Ya, berkat keajaiban Tuhan”


“Syukurlah” Kemudian May menggandeng rekannya yang sedari tadi hanya berdiri di belakang. Wanita itu terlihat seperti seumuran dengannya, mungkin selisih sedikit. Judith menyadari bahwa selama ia berbincang dengan May, rekan May itu memandanginya penuh rasa penasaran. Membuat Judith berpikir apakah ia pernah melihat perempuan itu sebelumnya?


“Perkenalkan Nay, ini temanku, Celine. Dia mama dari Lea, teman Aera juga namun beda kelas”


Judith mengangguk tipis, mengulurkan tangannya sebagai perkenalan formal. “Nayara”

__ADS_1


Celine masih terpaku. Hanya berselang beberapa detik sebelum ia balas mengulurkan tangannya, menjabat salam perkenalan dari Judith. “Celine. Maaf, tapi.. apa kita pernah bertemu? wajahmu seperti tidak asing”


Judith menggumam, merasa ia memang tak pernah bertemu dengan perempuan dengan wajah seperti Celine. “Aku tidak yakin kita pernah bertemu”


“Entahlah, wajahmu benar-benar tidak asing”


May menyikut Celine. “Mungkin kau pernah bertemu dengannya di acara pertemuan murid”


Celine menggeleng. “Aku yakin kita pernah bertemu disuatu acara. Tapi coba aku ingat-ingat nanti”


Judith tak begitu memikirkan ucapan Celine, karena ia yakin Celine mungkin melihat Nayara pada suatu kesempatan. Bukan masalah berat yang patut ia khawatirkan. Sembari membunuh waktu, May mengajak keduanya untuk makan di kafe di seberang sekolah. Obrolan yang sebagian besar didominasi oleh May, yang ditanggapi seadanya oleh Judith dan Celine.


Tak berselang lama, ponsel Celine berbunyi. Wanita itu pamit menjauh untuk menjawab telpon. Yang selanjutnya ia kembali hanya untuk mengambil tas di bangkunya. “Maaf aku harus pergi. Dia sudah sampai di bandara. Sampai bertemu lagi”


Judith tak bereaksi apapun mengenai kepergian Celine yang mendadak. Berbeda dengan May yang mengangguk seakan paham kemana dan kenapa Celine tampak begitu tergesa. Wanita itu menyesap tehnya dengan anggun.


“Dia harus pergi ke bandara untuk menjemput sepupunya, Sharin”


Judith hanya mengangguk. Sesungguhnya tak peduli mengenai Celine, juga siapa yang harus ia jemput. Siapa pula Sharin? Tapi demi menghormati May yang sudah menjelaskan tanpa perlu ditanya, Judith merespon seadanya.


“Eum..” Pandangan May mengawang. “Sejak anak-anak berada di playgroup. Sejak itu kami sepakat untuk menyekolahkan anak-anak kami di tempat yang sama. Tapi untuk jenjang selanjutnya, aku belum memutuskan apakah akan sama atau tidak”


Sekali lagi, Judith hanya menganggukkan kepalanya. May teman yang baik, namun Judith merasa ia tidak sefrekuensi dengannya, terlebih dengan Celine. Tapi mungkin karena intensitas pertemuan mereka yang tidak begitu sering? Entahlah.


**


Hannah masih bergelung dibalik selimutnya walau matahari sudah tegak, memberikan sinarnya ke penjuru bumi, membuat suhu siang itu lumayan panas. Hannah meraih ponselnya, membuang nafas karena tak ada notifikasi apapun dari Mark. Usai kepulangan Ibu dan Helga menuju kampung halaman mereka, apartemen itu kembali lengang. Jauh lebih sepi dibanding biasanya.


Sudah seharian sejak Mark mengacuhkannya. Semalam Maria menelpon, bertanya ada masalah apa. Hannah tak sampai hati jika harus jujur pada ibunda Mark yang sudah sangat baik mau menerimanya. Hannah tidak akan sanggup jika harus menyakiti Maria juga dengan kejujurannya. Oleh karena itu ia mengatakan bahwa ingin istirahat sebentar karena badannya tidak enak. Untunglah wanita itu memaklumi, tanpa bertanya-tanya lagi.


Semalam ia baru bisa memejamkan matanya pukul tiga dini hari. Itupun karena terlelap saking lelahnya menangis. Hannah sudah mengira-ngira kemungkinan terburuk jika ia jujur, sudah pula menyiapkan hatinya. Namun ketika momen itu datang dan menjadi kenyataan, rasanya berkali-kali lebih sakit. Jangankan harus kehilangan Mark, diacuhkan prianya saja sudah membuat Hannah kalang kabut.


Bagaimana jika Mark memang tak menginginkannya lagi?


Bagaimana jika Mark memandangnya sebagai perempuan murahan sekarang?

__ADS_1


Bagaimana jika Mark sudah tak mencintainya lagi?


Hannah menarik selimutnya hingga ujung kepala. Menggeleng penuh ketakutan akan pikiran negatif yang tak berhenti membayanginya. Setelah Louis menghilang, ternyata cobaannya tak berhenti sampai disitu. Tapi setidaknya, beban di pundaknya sudah sedikit berkurang. Setidaknya, sudah tak ada lagi yang Hannah sembunyikan dari Mark.


Sedang apa pemuda itu sekarang? Apa ia sudah makan? Apa obatnya sudah diminum? Hannah meraih ponselnya hendak menelpon Maria. Namun ia urungkan, takut jika Mark menolak bicara padanya. Takut akan hatinya tak siap akan penolakan yang belum tentu akan ia terima. Tapi sungguh, Hannah sangat merindukan Mark.


Haruskah ia datang ke rumah sakit?


Usai menimbang cukup lama, Hannah menyingkap selimut. Bersembunyi bukanlah pilihan yang telat. Ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Jika Mark menolaknya, ia akan pulang. Jika Mark mengusirnya, ia akan pergi. Setidaknya ia ingin Mark tau bahwa Hannah tetap berusaha selalu ada untuk pemuda itu.


**


Jeffrey baru saja selesai membaca bukunya ketika Tyona sudah berbaring pulas disampingnya. Ia tersenyum, meraih selimut untuk menutupi tubuh istrinya hingga sebatas dada. Dipandanginya wajah Tyona yang damai dalam lelap. Bahkan ketika tertidurpun, kecantikan Tyona masih memikatnya. Dan Jeffrey merasa ia beruntung menjadi satu-satunya pria yang melihat kecantikan itu ketika terlelap, dan ketika mata indah itu terbangun.


Tyona yang sederhana tanpa riasan ketika menjelang tidur, juga Tyona yang rambutnya berantakan dan mata mengantuk usai bangun tidur, adalah Tyona dengan versi tercantik menurut Jeffrey. Kecantikan yang tak akan pernah orang lain dapatkan. Itulah mengapa yang menjadi salah satu alasan ia tak ingin melepas Tyona. Yaitu karena tak rela jika harus membagi keindahan istrinya kepada pria lain yang beruntung.


Tidak, hanya ia yang beruntung. Sekarang dan selamanya.


Pria itu melihat kearah jam dinding yang sudah menujukkan malam. Tubuhnya lelah, terlebih punggungnya. Jadi ia memutuskan untuk menyudahi baca dan menyusul Tyona terlelap. Pria itu berjalan menuju rak buku yang berada tak jauh dari ranjangnya. Sedikit terganggu kala melihat kotak kecil dipuncak rak yang tergeletak tak simetris. Dengan inisiatif ia mengulurkan tangannya, bermaksud membetulkan kotak itu. Namun alih-alih, sepucuk kertas jatuh menyentuh jemari kakinya. Jeffrey membungkuk, menyadari bahwa kertas dengan kop surat Rumah Sakit Pelita itu ternyata surat tertanggal dua hari yang lalu.


Penasaran, dibukanya surat tersebut. Dibacanya kata demi kata, dari mulai departemen, nama istrinya yang menjadi nama pasien, juga tanggal lahir dan alamat, serta hasil pemeriksaan.


Positif mengandung.


Surat itu terjatuh dari tangan Jeffrey. Matanya lantas tertumbuk pada tubuh Tyona. Kakinya bergetar, seakan tak mampu lagi menopang tubuhnya berdiri. Jantungnya berdegup keras. Bukan karena kegugupan, melainkan karena rasa bahagia yang melingkupinya.


Masih pada tempatnya berdiri, pandangan Jeffrey tertumbuk pada perut rata Tyona yang disana tengah berkembang buah cinta mereka. Seorang bayi yang sudah lama diimpikan hadir dalam keluarga mereka. Tanpa sadar, pipi Jeffrey basah. Airmata haru telah turun dari sana, menjadi bumbu akan kebahagiaannya yang akan menjadi seorang ayah.


Sejenak ia melupakan bahwa ada perempuan lain diluar sana yang juga tengah mengandung anaknya. Jeffrey melangkah maju, bersimpah di pinggir ranjang, memandang penuh puja pada sang istri yang masih tenggelam dalam mimpi.


“Terimakasih sayang, terimakasih. Aku berjanji akan menjagamu, menjaga anak kita dari siapapun pengganggu”


Andai Tyona sedang tersadar sekarang, mungkin ia akan marah dan menampar Jeffrey karena kalimatnya yang tak tau diri. Menjaganya dari pengganggu ketika sebenarnya dirinyalah yang pengganggu. Dirinyalah yang menjadi ancaman bagi Tyona. Itulah mengapa Tyona memilih untuk merahasiakan kehamilannya dulu dari Jeffrey.


Tapi Jeffrey tetaplah Jeffrey. Yang masih belum bisa memilih. Yang masih tak tahu letak kesalahannya. Yang masih enggan mengalah.

__ADS_1


**


__ADS_2