
beberapa saat kemudian,mas bram datang menghampiri ku dan naiya.
"gimana sayang, masih pusing?". mas bram mengusap kepalaku.
"tidak mas, aku baik-baik saja ".
"ayo kita kesana, aku perkenalkan kepada beberapa kolega ku". mas bram menggandeng tanganku.
"mbak duluan saja, aku mau mencari mas Bayu dulu". ucap naiya.
akhirnya mas bram membawaku untuk menemui kolega-koleganya yang juga hadir di acara paman charly.
"paman, perkenalkan ini istriku".
paman charly terlihat tinggi, besar dan berwibawa, ia pun langsung menatapku dan mengulurkan tangannya.
"Karin". aku menyebutkan namaku.
"aku senang bisa kenal langsung istri bram, selama ini aku hanya mendengar dari ceritanya saja". paman bram tersenyum padaku.
"iya paman, aku juga senang bisa kenal paman". jawabku.
"beruntung kamu bram punya istri seperti karin, sudah baik, cantik, ramah lagi". paman charly memujiku di di depan mas bram.
"paman bisa saja". mas bram terlihat tersipu Malu.
"ohh iyaa, selamat ya atas kehamilan kamu. akhirnya keluarga kita akan punya anggota baru, nanti akan aku kirim hadiah kerumah kalian". ucap paman bram.
"iya paman, terima kasih". aku sedikit membungkukkan badan sebagai ucapan terima kasihku pada paman.
"baiklah, bersenang-senanglah nikmati acaranya. aku akan menyapa tamu yang lainnya". paman charly pergi ke rekan-rekannya.
setelah menyapa paman charly, mas bram mengajakku duduk di dekat mama dan papa. aku melihat begitu banyak tamu yang hadir dan semua mengenal mas bram.
"banyak banget yang kenal kamu sayang" bisikku pada mas bram.
"mereka semua kolega bisnis ku, wajar kalau mereka kenal aku". jawab mas bram.
mungkin aku yang berpikiran bahwa mas bram tidak memiliki banyak kenalan, tanpa aku sadari seluruh penjuru negeri ini semua kenal mas bram, seorang pengusaha muda yang memiliki saham di mana-mana.
"mas, alisya kemana?". aku baru sadar tidak melihat alisya.
"tadi sama bi nina sayang, kenapa?". tanya mas bram.
"aku kangen aja mas gak lihat dia". mataku terus mencari keberadaan alisya.
"mas, aku pergi cari alisya dulu ya".
"jangan lama-lama sayang". mas bram meraih tanganku.
"iyaa mas".
aku pergi mencari alisya, begitu banyak orang yang hadir membuat aku susah untuk menemukan alisya dan bi nina.
sampai aku bertemu dengan naiya dan Bayu yang sedang menikmati hidangan acara.
"mbak, mau kemana?". tanya Bayu yang melihatku seperti orang kebingungan.
"kalian lihat alisya gak? tadi mas bram bilang sama bi nina".
"bi nina? bi nina itu lagi pegang aira mbak". naiya menunjukkan bi nina yang duduk di sudut ruangan.
"terus alisya?". segera aku menemui bi nina.
"bi". panggilku
"ah iya non". bi nina terkejut karena aku tiba-tiba menepuk bahunya.
"alisya kemana bi?".
"non alisya disitu non lagi makan cake". bi nina menunjukkan meja di belakangnya.
aku langsung melihat kebelakang tapi tidak ada alisya di sana.
"gak ada bi".
"loh kemana non alisya? baru aja bibi lihat masih ada non. itu cake yang non alisya makan". jawab bi nina ketakutan.
"ya ampun bi,kenapa bibi tinggal sendiri sih". aku mulai panik alisya tidak ada.
"maaf non, tadi non aira minta duduk di sini jadi bibi pindah dan bibi tetap ngawasi non alisya non. gimana ini non, tuan pasti marah sama bibi.biar bibi cari aja non".
"gak usah bi,bibi jaga aja aira.biar aku cari sendiri alisya". aku pergi mencari alisya di setiap sudut.
setiap aku bertanya orang-orang, aku selalu menunjukkan foto alisya tapi tidak ada yang melihatnya.
jantungku mulai berdetak tidak karuan, pikiran ku kacau balau setiap aku mencarinya tidak ketemu, aku takut terjadi apa-apa pada alisya.
"alisya sayang, kamu dimana? ini bunda sayang". gumamku saat mencari alisya.
aku hampir putus asa mencari alisya, ruangan ini begitu besar dan memiliki beberapa rungan setiap sudutnya. dan itu membuatku kebingungan mencari alisya.
saat aku berhenti dan duduk di sofa dekat tangga darurat, aku mendengar suara berisik dan gaduh. aku berfikir bahwa alisya mungkin saja ada di situ dan aku pergi untuk memeriksanya.
perlahan aku berjalan membuka pintu tangga darurat itu, aku melihat alisya di tarik paksa oleh seorang wanita. setelah aku perhatikan lagi, ternyata itu ibu lidya.
sontak aku langsung terkejut dan menutup mulutku dengan tanganku.
"kenapa? kenapa bu lidya membawa paksa alisya".
langsung akun membuka pintu dan menarik alisya ke pelukanku.
__ADS_1
"cukup bu lidya, jangan paksa alisya".ucapku.
"apa urusannya sama kamu, jangan ikut campur.alisya cucuku ,aku berhak membawa dia". bu lidya masih saja menarik tangan alisya.
"kenapa ibu bisa ada di sini?". tanyaku
"kamu fikir, hanya kamu saja yang pantas hadir di acara seperti ini. kamu jangan salah ya, bahwa aku masih keluarga dari pak brata,jadi aku berhak berada di sini". jawab bu lidya dengan menarik tangan alisya.
"tolong bu, lepaskan tangan alisya jangan sakiti dia". aku menghempaskan tangan bu lidya dari alisya.
"ayo alisya ikut nenek". ucap bu lidya.
"bunda... bunda... ". alisya menangis memanggil namaku.
"tenang sayang, ada bunda di sini". aku memeluk alisya.
"tidak, dia cucuku. dia harus ikut denganku, dan kamu jangan ikut campur. kamu bukan siapa-siapa". bu lidya masih saja ingin memaksa alisya untuk ikut dengannya.
"saya ibunya, saya juga berhak untuk alisya".
"hahahaha kamu ibunya? kamu itu cuma ibu tiri gak lebih. jangan pernah berfikir bahwa kamu akan menjadi ibu alisya". dengan sangat lantang ibu lidya berkata seperti itu.
"ayo sayang, kita pergi dari sini". aku menggandeng alisya untuk pergi.
"tunggu". teriak bu lidya.
aku menghentikan langkahku dan menoleh ke belakang.
bbbyuuuuurrrr... bu lidya menyiramku dengan air dan sekujur tubuh ku basah.
aku terdiam sejenak, karena bagiku terasa nyata tidak nyata aku mengalami hal ini.
"rasakan itu, jangan pernah untuk ikut campur urusanku". ibu lidya tertawa terbahak-bahak menertawakan aku.
aku sempat tersulut emosi tapi aku berusaha menahan karena ada alisya di sampingku, aku tidak mau menunjukkan sisi burukku pada alisya.
"bunda". alisya menatap sedih kearahku.
"tidak apa-apa sayang,bunda baik-baik saja". aku tersenyum pada alisya.
"ayo ikut nenek".bu lidya menarik lagi alisya dariku.
"bunda..". aku melihat alisya ketakutan dan gemetar.
"mari kita bicara baik-baik bu.ibu sebagai nenek alisya seharusnya ibu tidak menyakitinya.kasihan alisya bu,dia merasa takut". aku berusaha menenangkan bu lidya.
"lebih baik kamu pergi,jangan ikut campur". ucap bu lidya.
di saat bu lidya lengah,aku memiliki kesempatan untuk menarik kembali alisya.
ternyata kesempatan itu tidak berjalan mulus,ibu lidya menyadarinya sehingga dia memegang alisya begitu erat.
"bu ,lepaskan alisya.aku mohon,sebelum mas bram mengetahuinya lepaskan alisya dan pergilah".
pada akhirnya aku dan bu lidya saling menarik alisya satu sama lain. aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk mengambil alisya dari bu lidya.
karena begitu banyak air di lantai hingga kaki terpleset, aku dan alisya jatuh di lantai .aku menahan tubuh alisya yang terjatuh tepat di atasku.
"kamu baik-baik aja sayang". aku menatap alisya.
"bunda". alisya terus saja menangis.
"sayang, dengerin bunda ya. alisya lari keluar cari papa atau tante naiya. alisya ngerti kan". aku menyuruh alisya mencari bantuan.
alisya menganggukkan kepalanya dan dia langsung lari keluar. saat alisya lari, ibu lidya mencoba untuk mengejarnya tapi dengan sigap aku memegang kakinya agar dia tidak bisa mengambil alisya.
"lepaskan". ibu lidya menghempaskan kakinya.
"gak bu, jangan paksa alisya untuk ikut. aku mohon". aku terus memegang kakinya bu lidya.
"agghh... ". bu lidya menarik kakinya hingga menendang kakinya ke kepalaku.
"sudah berapa kali aku bilang, jangan ikut campur". ibu lidya langsung pergi ninggali aku sendiri yang terjatuh di lantai.
"semoga ibu lidya tidak mencari alisya lagi". aku berusaha untuk bangun tapi pinggangku terasa sakit.
drrrt... ddrrrt... aku mendengar suara handphone ku berdering, ketika aku mencarinya ternyata terlempar ke sudut ruangan.
"mungkin itu mas bram".tanganku mencoba meraihnya tapi tak sampai.
"awwhh pinggangku". sakitnya makin terasa.
aku merangkak ke arah dinding untuk meluruskan kakiku agar pinggangku terasa baikkan. tapi setelah beberapa saat sakitnya tak kunjung hilang juga.
"apa alisya berhasil bertemu dengan mas bram". aku menundukkan kepala berharap ada yang datang menolongku.
terdengar suara pintu terbuka, spontan aku menyebut nama mas bram dengan lantang.
"mas bram". mataku tertuju kearah pintu.
"non, kenapa non bisa di sini". bi nina datang dan menolongku.
"bibi kok bisa tau, aku ada di sini?". tanyaku heran.
"tadi bibi mencari-cari non alisya dan ada seorang pria bilang, kalau non masuk ke tangga darurat". jawab bi nina.
"terus,alisya mana bi? dia baik-baik aja kan?".
"non alisya baik-baik aja non, non alisya bersama non naiya. non ada apa?". tanya bi nina.
"ibu lidya bi, dia tadi mencoba untuk membawa alisya". ucapku dengan air mata mengalir.
__ADS_1
"ibu lidya, kenapa dia tidak jera juga". bi nina terlihat kesal mendengar ceritaku.
aku merasa bi nina menyembunyikan sesuatu padaku, karena terlihat dari ekpresinya berbeda saat aku menyebut nama ibu lidya.
"bi, ceritakan padaku. siapa sebenarnya ibu lidya itu? kenapa..... ".
"non, nanti saja bibi ceritakan. ayo sekarang kita keluar dari sini, nanti non sakit karena basah semua". ucap bi nina.
"bi, pinggang ku sakit. aku tidak bisa berdiri". aku duduk pasrah bersandar pada dinding.
"tuan!! bibi akan telpon tuan untuk menolong non,tunggu sebentar non". bi nina mengambil handphonenya dan mencoba menelpon mas bram.
"gak di angkat non ". bi nina terus mencoba menelpon semua orang tapi tidak ada yang mengangkatnya.
"bi, kalau alisya bersama naiya, berarti naiya tahu dong bi kalau aku di sini. kenapa naiya gak mengangkatnya bi".
tidak lama aku bertanya pada bi nina, naiya, Bayu dan mas bram datang. mereka terkejut melihat ku yang duduk lusuh di lantai.
"mbak, mbak kenapa?". naiya menghampiriku.
mas bram membuka jasnya dan memakaikannya padaku.
"karin, sayang. kamu kenapa? kenapa?". mas bram terlihat khawatir.
aku tidak berani menjawab dan hanya menundukkan kepalaku.
"bi, ada apa ini?". mas bram bertanya pada bi nina.
"anu tuan, itu... bu lidya ". ucap bi nina dengan gugup.
"oh may god, wanita itu beraninya dia mencari masalah lagi". Bayu terkejut mendengar jawaban bi nina.
"apa mau dia? kenapa terus mengganggu keluargaku". mas bram terlihat kesal dan emosi.
mas bram meraih handphonenya dan menelpon seseorang.
"cepetan kalian Cari wanita yang aku kirim fotonya dan bawa dia kehadapanku".
"baik boss". terdengar suara laki-laki di balik telpon mas bram.
"mbak, ayo kita pulang. mbak sudah kedinginan". ucap naiya.
"aku tidak bisa bangun". jawabku
"tuan, non karin terjatuh di lantai saat bertengkar dengan bu lidya". bi nina mencoba memberitahukan mas bram apa yang terjadi.
tanpa ada kata-kata lagi mas bram langsung mengangkatku dan membawaku pulang.
"bi, cepat hubungi jeff untuk datang kerumah". ucap mas bram.
"baik tuan".
"mas, maaf".bisikku pada mas bram.
"bukan salah kamu sayang".
banyak sedikitnya aku juga merasa bersalah pada mas bram, aku telah membuat mas bram khawatir dengan kondisi ku seperti ini.
***
Rumah....
"apa yang terjadi pada karin". mama terkejut melihat aku di gendong oleh mas bram.
Bayu dan naiya menceritakan semuanya pada mama dan papa atas apa yang terjadi padaku,mama dan papa begitu emosi.
"bram, masukkan saja karin ke kamar di samping mama". ucap mama.
"iya ma".
"bi, tolong bantu karin mengganti bajunya. dan apakah jeff sudah di hubungi bi". tanya mas bram.
"sudah tuan, dokter jeff sedang dalam perjalanan". jawan bi nina.
"baiklah bi". mas bram langsung pergi ke ruang keluarga.
dari kamar aku mendengar papa berteriak dan marah. ini pertama kalinya aku melihat papa sebegitu marahnya.
"kenapa kalian diam saja melihat karin seperti itu, kenapa kalian tidak ada yang bisa menjaganya dengan baik". teriak papa.
"maaf pa,saat kami semua juga tidak menyadarinya". jawab Bayu.
"pa, sudahlah. karin sekarang baik-baik saja". mama berusaha menenangkan papa.
"iya pa, aku sudah menyuruh seseorang untuk membawanya kemari". ucap mas bram.
"sepertinya dia tidak memperdulikan peringatan kita pa". ucap mama.
"penjarakan dia, jangan biarkan dia lolos dengan mudah kali ini". tegas papa.
"baik pa". jawab mas bram.
di saat yang bersamaan juga, aku memaksakan bi nina untuk menceritakan semuanya, kenapa keluarga mas bram sangat membenci bu lidya.
"bi, tolong ceritakan padaku".
"baiklah non".
bi nina mulai menceritakannya
"sebenarnya bu lidya bukan ibu kandung non Grace melainkan ibu tirinya. ibu lidya terkenal liciknya,ibu lidya dulu sempat bekerja di perusahaan tuan brata, tapi ibu lidya malah menggelapkan dana perusahaan. tapi karena tuan brata memikirkan kalau beliau adalah ibunya non Grace, maka ibu lidya dilepaskan begitu saja, tapi itu semua gak membuat ibu lidya jerah terkadang juga suka memeras non Grace dengan meminta uang dan barang-barang mewah dan itu di ketahui oleh tuan bram sendiri.sebelum non grace meninggal, non grace meminta pada tuan agar alisya tidak di pertemukan pada ibu lidya. karna non Grace takut ibu lidya bakalan menyakiti non alisya. setelah non Grace meninggal, ibu lidya mencoba mendekatkan diri dan berpura-pura baik agar harta bagian non grace jatuh ke tangannya tapi tuan tetap saja tidak percaya lagi pada bu lidya".
__ADS_1
mendengar cerita bi nina sekarang aju mengerti kenapa mas bram sangat membenci bu lidya.