
Jeanno tidak bergurau ketika ia menyebut nama Thomas Alexander. Sosok yang paling ia benci beberapa tahun terakhir. Membawa Mark bereaksi lumayan heboh. “Kau yakin?”
Yang ditanya, menganggukkan kepala mantap. “Aku tidak bisa jika harus menggulingkan tuan Robert sendirian”
“Jeanno, musuh kita disini Arman. Apa perlu membawa tuan Robert?”
Jeanno memandang lurus kearah Mark. Benar, memang masalah diantara mereka hanyalah persoalan pribadi yang rasanya tidak adil jika harus menyeret pihak diluar Jeanno dan Arman, sekalipun itu keluarga.
“Aku tidak tahu bagaimana respon tuan Robert jika kita mengusik Arman. Bagaimanapun dia adalah putra kandungnya. Dan lagi.. aku mau memberikan efek jera”
Mark meremat jarinya. Dahinya mengerut seakan tengah membaca apa yang sepupunya tengah rencanakan dalam otak cerdasnya. Mengenal Jeanno lebih dari siapapun, Mark yakin rencana balas dendam yang disusun Jeanno tidak akan main-main efeknya.
“Aku hanya ingin mengingatkan, jika kau melanjutkan apapun yang kau rencanakan… hal itu tidak hanya mengancurkan Arman saja, tapi rumah tangga, karir istrinya dan perusahaan keluarganya. Kau yakin, Jean?”
Seulas seringai mengerikan ditunjukkan Jeanno. Berbeda dengan penampilannya yang kacau dan rapuh beberapa jam lalu, kini Jeanno Alexander kembali pada sosok dingin dan penuh percaya diri seperti biasanya.
“Arman sudah berani mengusik perempuan yang kucintai. Akan kupastikan dia hancur lebih cepat, Mark”
**
“Hot News! Suami aktris populer Paula Winona tertangkap basah tengah memasuki hotel dengan perempuan asing”
“Suami aktris Paula Winona diketahui sering menyewa perempuan malam untuk menemani malam-malamnya!”
“Paula Winona memilih bungkam dengan isu keretakan rumah tangganya”
“Ditengah terpaan masalah rumah tangga, muncul bukti-bukti perselingkuhan Paula Winona dengan aktor C yang merupakan lawan mainnya di film The Widow”
“Agensi membantah berita perselingkuhan Paula, dan mengatakan bahwa aktrisnya akan vakum”
“Aktor C mengakui mempunyai hubungan istimewa dengan P, yang telah terjalin 6 bulan terakhir”
__ADS_1
“Pernikahan menuju kehancuran, akankah Paula Winona mampu menyelamatkan karirnya yang turut dalam ambang kehancuran?”
Jeanno tersenyum puas membaca headlines portal berita online yang hampir semua menampilkan pemberitaan mengenai Paula Winona. Sebelumnya ia tak pernah tertarik dalam dunia hiburan, akan tetapi baru-baru ini ia merasa sedikit tertarik, niat awal ingin membongkar kelakuan mesum Arman, justru dirinya menemukan fakta lain mengenai Winona yang ternyata juga berselingkuh. Membuat permainan ini terkesan lebih seru dan menantang.
“Kupikir kau hanya akan membongkar aib Arman”
Mark menuang wine, menyesapnya perlahan. Sedari tadi ia hanya bisa menggelengkan kepala melihat akibat perbuatan yang dilakukan sepupunya. Jeanno memang tidak secara gamblang mengaku, tapi dirinya cukup tahu seperti apa bekas campur tangan pria itu.
“Aku tidak punya pilihan lain”
“Aktor C sangat mudah mengaku. Apa itu juga karena kau?”
Sebelum menjawab, Jeanno terkekeh. Tangannya terulur meraih gelas wine miliknya. “Aku hanya memberi penawaran sedikit. Agensi Winona adalah saingan terbesar agensi aktor itu, dengan Winona sebagai talent utamanya. Jika dia mau mengakui perselingkuhannya dimuka umum, maka akan dipastikan publik men-cancel Winona, berakibat buruk pada karirnya. Akan butuh waktu yang sangat lama untuk memulihkan kembali imejnya. Karena talent utama mereka redup, maka itu menjadi kesempatan bagi agensi lain untuk bersinar. Konsep sederhana dalam dunia bisnis, benar kan?”
“Aku tidak percaya hanya itu yang kau lakukan. Agensi aktor itu tidak akan semudah itu menurut padamu kecuali…”
Jeanno hanya tersenyum. Membenarkan apapun yang berada dalam pikiran Mark.
“Jawab, Jeanno? Dugaanku benar?”
“Aku hanya berinvestasi sedikit. Lagipula dengan adanya berita ini, publik akan teralihkan dari permasalahan Arman. Dengan begitu identitas Judith akan terjamin”
Mark mencibir. Dusta jika Jeanno mengatakan ia hanya membeli saham sedikit di agensi aktor C demi pengakuan perselingkuhan dihadapan publik. Jeanno sudah pasti berinvestasi dalam jumlah besar sehingga agensi hiburan itu bertekuk lutut padanya.
Dua pria dewasa itu menyesap winenya, terhanyut dalam pikiran masing-masing.
“Judith. Bagaimana dia?”
Mark menghentikan sesapannya. “Baik. Toko kuenya ramai seperti biasa, tapi kurasa dia mulai kewalahan karena mengerjakan semuanya sendiri. Jika terus-terusan seperti itu, dia bisa sakit”
“Bisakah kau minta Hannah untuk menyarankan padanya supaya mencari karyawan? Setidaknya satu.. supaya bebannya tidak begitu berat”
Mark mengangkat bahu. “Hannah sudah pernah menyarankan, beberapa kali malah. Tapi Judith selalu bilang akan dia pikirkan nanti. Sampai istriku kelelahan sendiri mengatakannya”
Jeanno mengangguk samar. “Biar kuurus”
**
Selesai membaca headlines pada ponselnya mengenai berita Paula Winona yang menjadi trending dimana-mana, Judith meletakkan alat komunikasi itu. Pikirannya menerawang, bagaimana bisa seorang wanita berkelas dan berpendidikan seperti Paula ternyata berselingkuh dengan aktor yang notabene juniornya dalam dunia hiburan? Berita Paula begitu heboh hingga menutup isu mengenai Arman yang suka membawa perempuan malam ke hotel. Membuat Judith sedikit lega, sekaligus berterimakasih pada aktor C. Karena dengan begitu identitasnya sebagai ‘si perempuan malam’ tetap terjaga.
Permasalahan yang terjadi padanya beberapa bulan terakhir, membuat Judith lupa eksistensi Arman Mahendera. Pria yang haus akan validasi itu, pasti sekarang sedang terpukul. Oh, tidak. Judith tidak kasihan. Ia hanya tidak menyangka Arman akan jatuh secepat ini, terpuruk begitu dalam. Judith bersyukur ia tak ada didekat Arman dalam situasi ini karena jika tidak, pria itu pasti akan lari padanya. Semakin ingin memiliki Judith terlebih ketika istrinya berselingkuh.
“Permisi”
__ADS_1
Lamunan Judith terganggu, ketika didapatinya seorang perempuan muda yang masih mengenakan pakaian sekolah tengah mengetuk pintu kaca yang sudah dikunci.
“Maaf, sudah tutup” serunya dari dalam. Namun gadis itu masih mengetuk, merasa kasihan dengan ekspresi memelas dan tubuhnya yang setengah basah akibat hujan sore tadi, Judith memutuskan untuk membukakan pintu. “Maaf, tapi toko sudah tutup”
“Aku lapar sekali, Kak. Rumahku jauh dan uangku diambil oleh teman-temanku. Bolehkah aku.. meminta sedikit roti? Separuh juga tidak apa-apa, jika kakak berkenan”
Gadis itu mengatakannya dengan ekspresi takut-takut dan tubuh menggigil. Membuat nurani Judith tersentuh, diajaklah masuk kedalam tokonya tanpa rasa curiga. “Masuklah dulu, diluar dingin” si gadis menurut, mengekor untuk duduk disalah satu kursi. Matanya mengikuti Judith yang tengah menyiapkan beberapa kue dan segelas coklat hangat.
“Makanlah”
“T-tapi, ini terlalu banyak. Aku tidak bisa membayarnya”
Judith tersenyum. “Tidak usah memikirkan uang. Kau menggigil dan pucat. Utamakan kesehatanmu dulu. Aku tidak akan menyuruhmu untuk membayar”
Gadis yang semula lesu, kini memandang Judith penuh binar dan mulai melahap kudapan tersebut usai berkali-kali mengucap terimakasih.
Bukan apa-apa, Judith teringat akan kondisinya beberapa tahun silam usai dirinya kabur dari rumah. Luntang-lanting dijalanan dengan perut kosong. Tak ada yang mau mempekerjakan dirinya yang masih 14 tahun sebagai karyawan. Yang ia lakukan jika lapar dan tidak ada uang, hanyalah berdiri didepan restoran. Berharap makanan sisa yang tidak dihabiskan tidak dibuang. Dirinya sudi melahapnya, yang terpenting ia bisa terlelap dalam keadaan kenyang.
“Siapa namamu?”
“Mikha”
Bertemu dengan Mikha, seorang gadis SMA berumur 16 tahun. Judith menghabiskan malam dingin itu dengan mendengarkan cerita Mikha mengenai kehidupannya. Tentang ia yang hanya tinggal dengan neneknya yang sudah renta dan bekerja sebagai pemulung untuk menghidupi mereka. Mikha bisa bersekolah karena beasiswa, namun kepintarannya mengundang kedengkian kawannya yang lain sehingga ia menjadi korban bully yang sering diambil uang sakunya. Mikha mengatakan ia butuh uang untuk sehari-hari, karena tidak mungkin dirinya bergantung pada nenek yang sudah tua. Bahkan Mikha akan memilih untuk berhenti sekolah, asal ia bekerja.
Usai menimbang beberapa hal, pada akhirnya Judith menawarkan Mikha untuk bekerja di toko kuenya dengan jam kerja menyesuaikan jadwal sekolah. Yang tentu saja diterima Mikha dengan senang hati. Berkali-kali ia mengucap terimakasih, terharu akan kebaikan kakak cantik yang baru kali pertama ia temui.
Angka pada jarum jam semakin merangkak naik, menemani dua perempuan berbeda generasi itu tenggelam dalam percakapan layaknya sepasang kawan lama.
**
“Saya sudah bisa mulai bekerja besok, tuan. Nona Judith juga percaya dengan cerita saya”
“Baik. Untuk selanjutnya, tetap laporkan kegiatanmu diakhir hari. Kau bisa menelpon sekretarisku jika ada kondisi mendesak, atau ketika aku tidak bisa menjawab telponmu”
“Baik, tuan”
Jeanno meletakkan ponselnya usai sambungan terputus. Memandang lurus kedepan. Hatinya lega, tak dapat dipungkiri ketika orang suruhannya berhasil masuk ke toko Judith untuk melamar pekerjaan. Sedikit jahat memang, harus membuat kepalsuan untuk menarik simpati Judith supaya mendapat pekerjaan.
Ya, Mikha adalah orang suruhan Jeanno. Mikha yang nama aslinya Michelle, merupakan staff PR perusahaannya yang berusia 23 tahun, kebetulan memiliki rupa baby face yang mampu mengecoh banyak orang untuk mengira dirinya masih SMA. Dipercayai oleh bosnya untuk ‘menyamar’ dengan tawaran promosi jabatan, Michelle menerima dengan senang hati.
Perkara kedepannya akan ketahuan, biarlah Jeanno pikirkan nanti. Yang terpenting Judith memiliki karyawan. Setidaknya ia tidak kelelahan sendiri.
**
__ADS_1