Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Cemburu


__ADS_3

entah setan apa yang sudah merasuki Nathan, pria itu termakan rasa cemburu buta yang begitu besar pada sang istri, Nathan yang baru pulang dengan penampilan acak-acakan, ada Raisa yang sudah terlelap di gendongan, ia tidak mengucap salam seperti biasa, amarah masih terpendam di dalam sana, Nathan butuh penjelasan dari Alayya, ia letakkan Raisa di atas ranjang kecil di kamar nya, amarah kian memuncak, kala tak ia temukan sang istri di rumah, melihat pintu ruang kerja pribadi di masuki tanpa izin kembali menyulut api di dalam diri.


pintu ia yang sedikit terbuka di hempas dengan kuat, sosok wanita yang duduk memandangi bingkai kecil di tangan sampai terperanjat, benda berbahan dasar kaca lepas di genggaman, membentur lantai hingga pecah tak tersisa, yang tersisa hanya foto usang milik mendiang kembaran juga istri pertama dari pria yang sekarang sudah berjalan penuh emosi mendekati nya.


"ALAYYA, AKU NGGAK PERNAH NGASIH IJIN KAMU BUAT MASUK KE RUANG KERJA KU" Nathan menunduk karena sempat mendengar bunyi pecahan, ia lihat bingkai foto mendiang istri tercinta sudah tidak berbentuk lagi, bingkai foto kesayangan yang sengaja ka sembunyikan dari Alayya untuk menjaga perasaan wanita itu.


"APA YANG KAMU LAKUKAN ALAYYA, BINGKAI FOTO ALESHA PUN KAMU HANCURKAN KARENA RASA CEMBURU YANG BELUM USAI, ALESHA ITU KEMBARAN KAMU, SEGITUNYA KAMU MEMBENCI DIA"


"ma--af Nat, aku nggak sengaja" Alayya kembali merasakan sakit di perut bagian bawah, mungkin karena tekanan atas bentakan Nathan Padanya.


"ARGGHH" dengan kasar dan tidak punya hatinya karena rasa cemburu yang menguasai hati dan pikiran, Nathan menarik tangan Alayya dengan kasar, wanita itu masih duduk di kursi kerja Nathan, ia rasakan tangan besar Nathan menarik pergelangan tangannya sampai dirinya terhempas duduk di lantai yang dingin


"MINGGIR" Alayya meringis menahan sakit, hempasan tubuh ke lantai tidak main-main kasarnya, Nathan sungguh tega Padanya, suara nya tertahan karena hanya rasa menyiksa di perut yang semakin terasa sakitnya.


Nathan memungut foto yang masih utuh.


"kamu sampai kapanpun nggak akan pernah bisa sama dengan Alesha, alesha bisa menjaga harkat dan martabatnya sebagai wanita, ia bisa menjaga perasaan ku sebagai suaminya, tidak seperti kamu, yang dengan gampangnya berpelukan di tengah banyak orang"


luluh air mata di pipi, sakit hati akan hinaan, perbandingan dengan Alesha, di tambah sakit di perut menjadi satu.


Nathan berdiri, ia enggan menatap sedikit pun pada sang istri, yang sudah pucat wajahnya.


ia berjalan keluar tanpa ingin berbalik sedikitpun


BRAK!!!


pintu kembali tertutup rapat, meninggalkan Alayya yang kesakitan di dalam


"Na--nathan, to--loong, nath--an" Alayya menyingkap dress yang ia kenakan, cairan kental merah kini telah mengalir di antara kedua betisnya.


Alayya menggeleng


"jangan, nak, bertahanlah demi ibu"


"NATHAAAAN, TOLOONG"sekuat tenaga Alayya berteriak meminta tolong, berharap Nathan datang membantu, ia takut terjadi apa-apa pada janin di dalam kandungan.


"Nathaaaan, TOLOONG aku, Nathan" nihil pria yang baru saja keluar dari kamar menggendong Raisa yang sudah menjerit memilih abai, padahal ia mendengar dengan jelas suara teriakan sang istri.

__ADS_1


"Nathan, ku mohon kembali lah, tolong aku dan anak kita, Nathan" lirih Alayya dengan suara memelan di sertai tangisan.


"Nathan..." di remas nya kuat bagian perut, semakin deras darah yang keluar.


"ibu ayah ,sakit, tolong alayya, siapapun TOLOONG"


hatinya di penuhi dengan rasa cemburu, Hingga membutakan perasaannya, Nathan memilih pergi bersama sang putri meninggal kan istri yang sedang bertarung nyawa seorang diri.


Alayya menengadah, rasa sakit di perut semakin menjadi - jadi


"Ya Allah selamatkan anakku"


Alayya tidak bisa hanya berserah diri, ai perlu seseorang untuk membantu nya ke rumah sakit, dengan tertatih Alayya meraih ponsel miliknya yang terletak di atas meja kerja Nathan


di carinya nomor sang Suami, kembali Nathan menolak mentah-mentah panggilan nya, berulang Kali ia coba hubungi tapi hasilnya nihil.


dengan tangan gemetar Alayya mencari nomor sahabat yang paling mungkin ia hubungi, tidak membutuhkan waktu lama untuk menunggu, panggilan nya langsung terhubung.


"kenapa, Lo kangen" seperti biasa, pria itu Bercanda pada sahabatnya


"Alayya Lo kenapa" Azha di sebrang menjadi panik, dari suaranya saja azha bisa tau wanita itu sedang tidak baik-baik saja


sebelum kesadarannya hilang, Alayya kembali berucap


"to--loong, datang lah, sandinya, tanggal pernikahan ku di tambah tanggal ulang ta--hun ku" Hanya itu yang Alayya bisa ucapakan sebelum kesadarannya hilang total, wanita Malang itu masih dengan posisi duduk di lantai, dress rumahan semata kaki berwarna kuning sudah bercampur dengan warna merah, lantai putih kini tergenang darah yang mengalir melalui ke-dua betisnya.


Azha tidak butuh waktu lama untuk berpikir, tanggal gabungan itu adalah sandi untuk masuk ke dalam apartemen Alayya. ia lajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Azha berlari tergesa menyusuri lorong apartemen milik Nathan, ia tekan kan tanggal gabungan yang tadi di sebut kan Alayya, pintu terbuka.


"ALAYYA, LO DI MANA" dengan Nafas yang masih ngos-ngosan, dada yang nak turun, azha menyusuri setiap ruangan di hunian itu.


"Alayya, Lo di mana, jangan bercanda, nggak lucu"


Satu pintu yang tertutup menjadi ruangan terakhir.


ia lihat hanya kaki yang sudah di penuhi dengan darah, jangan lupakan lantai yang ikut memerah,

__ADS_1


"ALLAYAAA " azha langsung menggendong tubuh sahabat nya. wajan Alayya sudah pucat Pasih, seperti sudah tidak ada lagi darah yang mengalir di Tubuhnya.


"Alayya bertahan lah, apa yang terjadi sampai kamu kaya gini Alayya " sesampainya di rumah skait, azha mengendong tubuh kaku Alayya, beberapa perawat sigap datang mendorong satu brankar untuk Alayya, tubuh Alayya di bawa masuk ke ruang igd untuk di tangani, azha ingin ikut masuk tapi di hentikan.


"bapa suaminya "


azha mengangguk


"sebaiknya bapa urus dulu berkas-berkasnya" azha meraup wajah kasar, ia bingung harus apa sekarang, ia ambil beda pipih di saku celana untuk menghuni Suami Alayya, tapi tidak ada jawaban, berulang kali azha mencoba menghubungi tapi hasilnya sama, Bahkan terakhir kali panggilan nya di putuskan secara sepihak.


"Brengsek Lo Nathan, ARGGHHH " Ia terpaksa menghubungi orang tua Alayya yang ada di Bandung, setelah panggilan terangkat,azha ceritakan semua nya, azha mematikan panggilan karena orang tua Alayya akan segera berangkat dari Bandung menuju Jakarta menemui putri tercinta mereka.


azha sudah seperti setrika di atas selembar kain, ia menunggu kabar Alayya di dalam sana, pria itu tidak bisa tenang sebelum mendapatkan kabar dari sahabatnya.


ada sekitar 30 menit, pintu ruang igd terbuka, azha langsung mendekati perawat juga dokter yang keluar,


"dok, bagaimana keadaannya?".


"kita bicara di ruangan saya, ya pak" azha mengekor dengan perasaan campur aduk, ia duduk berhadapan dengan dokter di depannya.


"Maaf sebelumnya, bapak siapa pasien"


"saya suaminya dok"


"pak, benturan keras yang istri bapa alami membuat Janin di kandungnya tidak bisa di selamatkan" azha menutup mulut tidak percaya, Alayya pendarahan, Alayya hamil, Alayya hamil anak Nathan.


"pendarahan yang pasien alami membuatnya kehilangan banyak darah"


"pakai darah saya dok " azha menjulurkan tangan nya


"syukur nya kita masih memiliki stok darah yang sama seperti pasien, yang saya perlukan adalah persetujuan bapak, sebagai wali"


"iya dok, lakukan apapun untuk kesembuhannya, saya mohon"


"ber doa lah, pak, saya sebagai tenaga kesehatan pasti akan lakukan yang terbaik untuk pasien"


note, aku mau tanya nih, kalian harus jawab, hehehe Bercanda, terserah mau jawab atau enggak, jadi kalian Suka happy ending atau sad ending, nggak di jawab juga nggak papa, love sekebon.

__ADS_1


__ADS_2