Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 64. Stolen Moment


__ADS_3

Hannah memijat pelipisnya. Percakapan secara singkat melalui telpon dengan Ibundanya bukannya mengobati rindu, malah justru menambah berat beban di pundaknya. Belum lama ia melunasi hutang sang ayah dari hasil pinjaman dari Victoire, atau lebih tepatnya Louis. Sekarang Ayahnya kembali melempar bom kembali ke wajahnya. Jika begini terus, mau sebesar apapun penghasilannya menari tetap tidak akan mampu menutup lubang yang dibuat oleh sang ayah.


Hannah menggigit bibir, memutar otak bagaimana ia bisa mendapatkan 600 juta dalam waktu sehari. Sementara tabungannya pun tidak seberapa. Apakah ia harus meminjam Mark? Tapi apakah etis jika meminjam uang sebesar itu pada kekasihnya?


Judith, Hannah yakin kawannya memiliki uang sebesar itu untuk ia pinjam. Hannah juga yakin Judith tidak keberatan meminjamkan uang padanya. Tapi yang jadi masalah, bagaimana ia mengembalikannya nanti? Uang 450 juta yang ia pinjam dari Louis saja masih dibayarnya dengan sistem cicilan. Jika ditambah pinjaman kepada Judith, pasti akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk lunas. Dan itu membuat Hannah tidak enak hari.


Haruskah ia meminjam lagi kepada Louis? Setidaknya ia tahu konsekuensinya, yaitu menambah jangka waktunya bekerja di Victoire menjadi lebih lama. Dengan anggapan seperti itu, Hannah lantas meraih ponselnya untuk menekan nomor Johnny. Begitu manajernya mengangkat telpon, tak perlu membuang waktu baginya menjelaskan kepada inti permasalahan.


“Aku yakin Mr Louis dengan senang hati meminjamkan uang lagi untukmu. Tapi dengar, Hannah. Permintaannya mungkin tidak hanya sekedar menari. Apa kau siap?”


Perempuan manis itu terdiam. Benar, ia sudah mengantisipasinya. Mengingat bagaimana membaranya gairah Louis terakhir mereka bertemu, bukan hal mengherankan jika pria itu akan menggunakan segala cara untuk mengajak Hannah ke ranjang.


“Hannah? jika kau siap dengan segala resikonya, aku akan menghubungi Louis setelah ini”


“Aku.. aku akan mencari cara supaya dia meminta yang lain”


Johnny menghela nafas. Seperti ingin menyela tapi diurungkan. “Baiklah jika itu maumu. Jika hal terjadi diiluar kendali, aku tidak bisa membantumu, Hannah”


“Ya, aku tau. Terimakasih Johnny”


Hannah menutup telpon. Tinggal menunggu ponselnya berbunyi panggilan dari Mr. Louis. Dan benar saja, berselang lima belas menit, benda itu menyala. Bukan sebuah panggilan, melainkan dua pesan dari Louis. Pesan pertama berisi bukti transfer uang sejumlah tersebut ke rekening Hannah. Sementara pesan kedua berisi perintah.


Mr. Louis – online


Hotel Jills, 610.


1 jam lagi.


Ia belum sempat membalas, Mark menelponnya, membuat Hannah terkejut hingga nyaris menjatuhkan ponselnya. Dengan terbata ia mengangkat.


“Ha-halo?”


“Hei sayang, kau sedang apa?”


“Ini…” Hannah meremat ponselnya. Seakan itu bisa menghilangkan gugup. “Aku.. sedang membaca novel. Ada apa, Mark?”


“Tidak, hanya mau berpesan kalau aku sepertinya pulang larut. Jeanno sakit jadi kami harus tinggal lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan yang dikejar dateline. Kalau kau mau makan, order saja. Dan jika mengantuk langsung tidur saja. Mengerti?”


“Ya.. cepat sembuh untuk Jeanno”

__ADS_1


“Iya, akan kusampaikan”


“Eum, Mark”


“Ya?”


Hannah menggigit bibir. “Aku mencintaimu”


“Aku juga mencintaimu, Hannah”


Sesungguhnya, ada kata maaf yang ingin Hannah ucapkan usai pernyataan cinta. Namun kata itu hanya menempel diujung lidahnya. Hingga sambungan telpon terputus, kata itu tak juga tersampaikan ke telinga Mark.


**


“Jeanno sangat membenci rumah sakit. Tubuhnya akan memberikan respon negatif seperti gemetar atau keringat dingin jika ia berada di dalam rumah sakit. Tempat itu memberinya peran besar dalam trauma ketika kehilangan Nayara. Bahkan ketika Aera sakitpun, ia lebih suka memanggilku ke rumah untuk memeriksa anak itu. Untunglah selama ini sakitnya Aera masih dalam tahap yang bisa disembuhkan di rumah, tanpa perlu ke rumah sakit”


“Hal paling mengejutkan sekaligus menarik adalah, beberapa waktu lalu aku bertemu Jeanno berada dalam rumah sakit. Dia nampak baik-baik saja. Tak ada gemetar, keringat dingin, wajah pucat. Justru aku melihat kecemasan. Dan ketika aku bertanya mengapa dia disini, kau mau tau jawabannya? Karena kau”


“Dia mencarimu karena kau tidak mengangkat telponnya sejak beberapa jam setelah kau mendaftar untuk pemeriksaan. Dia menanggalkan segala ketakutannya untuk memastikan kau baik-baik saja”


Judith menggelengkan kepalanya ketika percakapannya dengan Tyona tadi siang terputar kebali dalam benaknya. Satu fakta baru tentang Jeanno yang baru ia tau. Dari penuturan dokter cantik itu, hati Judith sedikit berbunga. Sekalipun setelah kejadian itu ia harus menghadapi amarah Jeanno yang luar biasa mengerikan. Tapi benarkah dirinya istimewa? Seistimewa itu hingga mampu mendorong Jeanno masuk ke tempat yang memberinya kenangan buruk?


Lagi, Judith menggeleng kasar. Tidak, sekarang bukan waktunya memikirkan hal yang bukan-bukan. Netranya memandang nampan berisi nasi dan sup yang asapnya masih mengepul. Jeanno sudah ia panggil dua kali, namun tak ada jawaban. Apa tuannya pingsan?


“Tuan Jeanno?”


“Masuklah”


Suara balasan parau itu terdengar tak lama. Setidaknya membuat Judith yakin bahwa ia telah mendapatkan ijin. Dengan satu tangan menahan nampan, ia gunakan tangan lainnya untuk membuka pintu. Jeanno yang sudah berbalut sweater tebal tengah berbaring bergelung selimut. Tubuhnya menggigil dan wajahnya pucat. Judith meletakkan dulu nampan makannya di nakas, untuk kemudian menghampiri pria itu.


“Maaf, tuan” ucapnya sebelum mengulurkan tangannya kedahi Jeanno. Dan terkejut pada detik selanjutnya mengetahui suhu tubuh pria itu yang begitu tinggi.


“Astaga, tuan panas sekali. Tuan mau ke rumah sakit? Tuan Jeanno?”


Judith terpaksa mengguncang lengan Jeanno sedikit keras untuk meminta respon Jeanno. Tak berselang lama, pria itu membuka matanya, menggeleng pelan. “Tidak usah, Judith. Setelah minum obat, tolong kompres dahiku saja. Biasanya dengan begitu aku akan sembuh esoknya”


“Tapi.. tuan harus makan dulu supaya bisa minum obat. Aku sudah bawakan nasi dan supnya, tuan makan, ya?”


Jeanno tak mengangguk juga menggeleng, sementara Judith yang tak punya pilihan, mengambil resiko untuk menata bantal supaya bisa menjadi sandaran yang nyaman ketika Jeanno duduk untuk makan. Tak peduli jika harus dimarahi, daripada nanti sakit tuannya semakin parah.

__ADS_1


“Tuan, duduk sebentar ya? makan beberapa suap saja, setelah itu minum obat dan tuan bisa tidur lagi sampai besok”


Jeanno tak memprotes ketika Judith membantu tubuhnya untuk duduk. Membuat kepalanya dilanda nyeri hebat. “Pusing sekali”


“Iya, aku tau tuan. Maka dari itu tuan cepat makan, semakin cepat habis semakin cepat tuan berbaring lagi”


Judith meraih mangkuk sup, meniupnya sebelum sendoknya ia suapkan kemulut Jeanno. “Pelan-pelan saja”


Jeanno membuka mulut, mengunyah masakan Judith yang lezat seperti biasa. Jika saja kepalanya tak sedang berdenyut hebat, mungkin ia akan menghabiskan sup itu. Tapi yang ia butuhkan sekarang hanya berbaring guna meredamkan sakit di kepalanya.


Judith memperhatikan Jeanno yang terkadang menyernyit ngilu. Sepertinya kepalanya sakit sekali. “Tuan yakin tidak mau ke rumah sakit? kalau iya, aku bisa sampaikan ke supir selagi pak Pram belum pulang”


Jeanno menggeleng sembari menahan tangan Judith yang tengah menyuap, petanda ia sudah selesai dengan makannya. “Tidak. Aku baik-baik saja, dan lagi aku tidak suka rumah sakit”


Ah, benar. Bagaimana bisa Judith lupa akan fakta yang jelas-jelas baru ia dengar tadi siang?


“Baiklah kalau begitu. Sekarang tuan minum obat ya?”


Usai meminumkan obat, Judith membantu Jeanno untuk berbaring lagi. “Aku ambilkan kompresan dulu”


Menghadari orang sakit bukan hal baru bagi Judith. Terimakasih kepada Renatta dan Hannah yang memberinya kemampuan bersosialisasi. Mereka, terutama Renatta lumayan sering flu dan demam. Membuatnya dan Hannah bergantian merawat kawan mereka hingga sembuh. Judith sendiri sebetulnya juga mudah sakit, tapi ia lebih memilih untuk meminum obat tidur supaya bisa terlelap sempurna. Tau-tau esoknya sembuh saja. Walau terkadang hal itu membuatnya didamprat Renatta.


Usai menaruh nampan bekas makan Jeanno dan menyiapkan kompresan, Judith kembali naik menuju kamar Jeanno. Yang empunya masih terbaring dengan tangan memijat kening namun matanya tertutup.


“Tuan, aku sudah membawa kompresannya. Tunggu sebentar”


Judith menurunkan tangan Jeanno untuk diganti dengan kompresan. Sesaat tubuh itu terkejut ketika kompresan dingin itu menyapa permukaan kulitnya. Namun lambat laun, ia terbiasa dan dahinya sudah tak lagi menyernyit.


Judith masih di tempatnya, yaitu kursi kecil disamping ranjang Jeanno. Dengan telaten mengganti kompresannya ketika sudah mengering. Nafas pria itu teratur, menandakan ia sudah terlelap. Seharusnya Judith bisa kembali ke kamarnya, tapi tidak. Ia belum ingin. Rasanya ia harus benar-benar memastikan suhu tubuh Jeanno turun, barulah ia bisa tenang.


“Bagaimana bisa lelaki diijinkan setampan ini” lirihnya. Wajah pucat Jeanno yang tengah pulas masih terlihat mempesona bagi Judith. Seperti lupa daratan, Judith mengulurkan jemarinya untuk menelusuri pahatan sempurna pada wajah Jeanno. Dimulai dari alis, hidung bangir hingga tulang rahangnya.


Tersenyum kecut menyadari bahwa sosok itu sulit digapai, Judith menarik tangannya. Dari wajah beralih kepada telapak tangan besar yang berada disisi tubuh Jeanno. Hatinya teremas kala melihat cincin pernikahan yang masih melingkar di jemarinya. Diusapnya cincin itu pelan, sembari membatin betapa beruntungnya Nayara.


Jeanno meracau dalam tidur, membuat Judith refleks menarik tangannya menjauh, namun kalah cepat karena tangan Jeanno sudah lebih dulu menggenggam jemarinya. Detik berikutnya racauan pria itu terhenti, dan lelap kembali.


Judith melihat tangannya yang tenggelam dalam telapak tangan Jeanno. Hangat dan pas. Judith tersenyum, ia tak perlu repot-repot menarik tangannya lepas. Tak apa jika menghabiskan semalam seperti ini.


Didorong kantuk yang mulai mendera, Judith menggeser kursi dan duduk beralaskan karpet bulu dibawah ranjang Jeanno. Mengistirahatkan kepalanya di kasur samping tangan mereka yang bertaut. Berharap mendapatkan mimpi indah karena melihat genggaman tangan mereka sebelum terlelap.

__ADS_1


“Selamat tidur, Jeanno”


**


__ADS_2