Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 75. Pembuktian


__ADS_3

Dunia ternyata sangat sempit, huh? Judith membatin. Jika saja ia mengetahui lebih awal jika kekasih yang selama ini Renatta sembunyikan adalah Jeffrey yang kebetulan suami dari dokter Tyona, sudah pasti Judith akan memaksa kawannya untuk melepaskan lelaki itu. Tidak peduli jika nantinya Renatta akan terluka atau marah padanya, tak peduli jika ia ikut campur dalam urusan percintaan sahabatnya.


Seakan menjadi selingkuhan saja tidak cukup, Renatta menambah pelik situasi dengan kehamilannya. Well, Judith tidak menyalahkan bayi tak berdosa itu. Hanya saja kehamilannya kurang tepat. Untuk saat ini, jelas Judith memilih berada dipihak Tyona. Karena bagaimanapun wanita itu adalah korban terbesar, dikhianati oleh orang yang dicintainya selalu menyakitkan dan membawa trauma.


“Judith..”


Perempuan itu mengangkat wajahnya kearah Jeanno. “Ya?”


“Hari ini Arman menelponku”


Mata Jeanno membidik bagaimana perubahan gestur tubuh Judith ketika nama Arman disebut. Gadis itu hanya diam kaku, ia memutuskan untuk melanjutkan. “Dia meminta maaf atas perlakuannya padamu”


“Oh..”


“Dan…” Jeanno menggantung kalimatnya. “Dia mengundang kita untuk makan malam sebagai permintaan maaf secara formal. Karena aku juga memintanya untuk mengatakan maaf langsung padamu”


“Tapi Tuan, jika dia bertemu denganku, bukankah nantinya akan buruk? Arman pasti akan mengenaliku”


Jeanno menggeleng. “Justru kita harus mainkan peran kita dengan baik ketika bertemu dengannya. Gunakan pertemuan itu sebagai ajang pembuktian bahwa kau benar adalah Nayara, istriku. Bukan perempuan yang ia cari”


“Tapi—“


“Dengar, Judith. Kita punya satu kesempatan, jika kita berhasil meyakinkannya bahwa kau adalah Nayara, maka untuk seterusnya kau akan aman darinya. Dan satu-satunya ancaman kita akan hilang”


Pundak Judith turun, melemas. Sesungguhnya ia tak yakin apakah keputusan untuk bertatap muka dengan Arman lagi adalah keputusan yang benar atau tidak. Karena jangankan bersandiwara, memandang pria itu saja Judith sudah ketakutan setengah mati.


“Hey..” Jeanno mengulurkan tangannya meremat punggung tangan Judith lembut. “Percaya padaku, aku akan membantumu”


Senyum itu, senyum teduh dengan netra sabit yang selalu menjadi favoritnya. Judith balas tersenyum, setidaknya ia memiliki Jeanno.

__ADS_1


**


Jeffrey menyadari ada pemandangan yang tidak biasa ketika ia pulang ke kediamannya. Tyona menyambutnya seperti biasa, menanyakan bagaimana harinya, membawakan pakaian kotornya ke ruang laundry, menyiapkan air untuknya mandi. Namun tatapannya sendu dan wajahnya sembab. Tak ada senyuman hangat, semua yang dikatakan Tyona dingin tanpa nyawa, tanpa cinta. Fakta itu membuat dada Jeffrey nyeri. Pertama kali sejak sekian tahun lamanya, Tyona memandangnya datar tanpa adanya sayang disanaa.


“Anna..”


“Airnya sudah siap, kau bisa mandi sekarang”


Tyona melewatinya begitu saja, ketika berkata pun pandangan wanita itu turun menatap lantai, bukan tertuju padanya. Jeffrey menghela nafas, mungkin istrinya mengalami hari yang buruk di Rumah Sakit. Ia memutuskan untuk bicara padanya nanti setelah mandi.


Sementara Tyona, wanita itu berusaha keras menahan perasaannya yang bergejolak ketika berhadapan dengan Jeffrey. Segala emosi bercampur menjadi satu hingga untuk menatap suaminya saja tidak sanggup ia lakukan. Takut jika tiba-tiba airmatanya mengalir tak terkontrol. Takut jika amarahnya meluap hingga menyakiti harga diri Jeffrey.


Ketika mendengar suara air dari dalam kamar mandi, Tyona menutup pintu kamar mereka dan memilih untuk duduk di kursi meja makan. Mengubur wajahnya di telapak tangan, Tyona kembali terisak. Bimbang akan keputusan apa yang harus ia ambil untuk pernikahan yang telah ternodai pengkhianatan.


Ia gagal, Ia dan Jeffrey telah gagal.


“Aku harus bagaimana…”


Sekian lama jatuh bangun bersama Jeffrey, membangun ‘rumah’ yang selalu menjadi tempat mereka pulang dan berbagi cerita. Apakah dengan semudah itu Tyona memilih pergi? Tapi jika Jeffrey semudah itu menyakitinya, mengapa Tyona harus berpikir seribu kali untuk memilih menyerah?


Tangisnya terhenti ketika ponselnya bergetar. Nama Darren terpampang pada layar benda tersebut. Tyona mengangkatnya usai berusaha menormalkan nafas dan suaranya agar tidak terdengar parau.


“Ya, Darren?”


“Kau baik-baik saja, Anna? Dengar.. aku mau minta maaf jika perkataanku di kantin menyinggungmu”


Pandangan Tyona kembali berkabut oleh airmata yang menggenang. Teringat jelas bagaimana Darren sudah berusaha memberitahunya mengenai Jeffrey. Darren pasti sudah tahu bahwa suaminya berkhianat, namun ia memilih untuk diam dan menghormati privasi Jeffrey. Tapi disisi lain, Tyona juga sahabatnya, membuat Darren dilanda kebimbangan apakah ia harus melindungi sahabatnya dengan menutupi rahasianya, atau membeberkan fakta yang sebenarnya kepada sahabatnya yang satu lagi?


“Tidak apa-apa, Darren”

__ADS_1


Hening sejenak. Sampai Tyona ragu apakah Darren masih tersambung dengannya atau tidak. “Anna, kau menangis?”


Tyona baru akan menjawab, namun responnya menggantung karena secara tiba-tiba ponselnya sudah berpindah tangan. Dilihatnya Jeffrey, dengan rambut setengah basah usai mandi, mendekatkan ponselnya ke telinga.


“Aku cukup tau sekarang kalau kau sering menelpon istriku di jam selarut ini, Darren”


“Bukankah tidak ada salahnya menelpon temanku, Jeff? Kurasa itu lebih wajar dibanding pergi bersama dengan perempuan lain yang jelas-jelas bukan istrimu”




“Aku tidak main-main dengan ucapanku dulu. Dengar Jeff, aku akan merebut Anna jika kau tidak bersedia menjaganya lagi”*



Darren memutus sambungannya sepihak. Membuat amarah Jeffrey semakin memuncak hingga tak sadar membuat istrinya terlonjak kaget ketika ia menaruh—atau lebih tepatnya melempar ponselnya keatas meja dapur.


“Jadi seperti ini? Setiap malam Darren menelponmu?”


Tyona lelah, lelah akan kecurigaan Jeffrey yang tak berdasar sementara dirinya menutupi borok yang ia simpan sendiri agar tidak tercium baunya. Wanita itu berdiri, menatap Jeffrey lesu. “Aku lelah, Jeff”


“Kau belum menjawab pertanyaanku”


Tyona menghentikan langkahnya. Memutar tubuh dan menunjuk ponselnya yang masih tergeletak usai dilempar Jeffrey. “Kau bisa mengecek ponselku semaumu. Tak ada yang kusembunyikan. Jadi kau bisa menghentikan kecurigaanmu yang tak berdasar”


“Itu bukanlah sebuah bukti, Anna. Kau bisa saja sudah menghapus pesan atau bahkan fotomu bersama Darren sebelum ketahuan olehku”


Tangan itu mengepal, namun tak ada yang ingin ia keluarkan dari bibirnya. Seperti tadi, Tyona merasa lelah sekali. Baik fisik maupun mental. Fisiknya yang lelah akibat pekerjaan yang menumpuk di Rumah Sakit, juga mentalnya yang bolak balik diguncang oleh suaminya sendiri. Tyona memutuskan untuk melanjutkan langkahnya ke kamar. Memutuskan bahwa malam ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan perihal rumah tangga mereka. Setidaknya ia harus mendinginkan kepala dan perasaannya supaya pikirannya jernih.

__ADS_1


**


__ADS_2