
Nathan mampir dulu ke apartemen nya karena Raisa seperti biasa sudah tidur di gendongan, ia juga ingin sekalian mengambil beberapa pakaian ganti untuk sang istri.
pintu rumah terbuka, Nathan meletakkan dulu sang anak di kamarnya, setelahnya masuk ke kamarnya, walaupun raganya ada di rumah, tapi jiwanya masih tertinggal di rumah sakit, pikirannya terus tertuju pada Alayya yang terbaring lemah di rumah sakit, Nathan memasukkan beberapa pasang baju milik Alayya ke dalam tas, pandangannya kosong, bayang-bayang saat alesha meregang nyawa mengembalikan kesadarannya, Nathan mengusap wajahnya, kini Matanya telah basah, andai ia tidak termakan api cemburu, mungkin sekarang ia dan Alayya sedang berbahagia, mungkin sekarang mereka saling peluk untuk merayakan kehamilan Alayya, tapi nyatanya, mereka kehilangan janin yang sudah lama mereka nantikan, semua itu karena rasa cemburunya yang berlebihan.
"argghhh" Nathan meraung sendiri meratapi kebodohannya"
"Maafin aku Alya, Maaf" lirih Nathan dengan isakan yang memilukan.
...
hati Nathan seakan di hantam benda tajam, saat ia melihat noda darah di lantai ruang kerjanya, darah itu menandakan betapa sakitnya Alayya berjuang untuk keselamatannya dan janin mereka, Nathan menunduk tepat di lantai yang di penuhi darah, di lantai itu ia buat sang istri jatuh terhempas yang akhirnya membuat Alayya pendarahan berakhir dengan kehilangan calon anak mereka, semakin menjadi-jadi lah penyesalan Nathan.
pria itu meraung Raung menyesali perbuatannya.
"ma--af" merasa mulai lebih tenang, Nathan ingin segera kerumah sakit menemui Alayya, tanpa sengaja tangannya menyenggol kotak kecil di atas Nakas, kotak berwarna putih gading dengan pita pink di atasnya.
tangisan yang tadi reda kembali turun, testpack dan hasil USG yang Alayya siapkan sebagai kejutan untuk Nathan berakhir dengan kabar duka, tangan Nathan bergetar saat ia pegang kertas berisikan bayangan cabang bayi yang seharusnya ia jaga, tapi justru tanpa sengaja Nathan habisi nyawanya karena rasa cemburu.
"maafin ayah nak, maaf" bukan hanya dua benda itu, di dalam kotak tersebut juga ada satu surat berisikan tulisan tangan Alayya.
"*assalamualaikum, ayah. sekarang adek ada di perut ibu Lo"
"Ade usianya baru 3 Minggu, kecil sekali, kata dokter adek masih sebesar buah ceri"
"kejutan"
"hehehehe, sayang, aku nggak tau gimana cara ngasih tau kamu kalo aku hamil, sebenarnya sudah dari kemarin aku tasnya, dan hasilnya positif , tapi takut kena prangk ... jadi aku cek ke dokter dulu, dan Alhamdulillah aku positif, kata dokter dia masih kecil banget, kamu senang nggak"
"sayang, sebenarnya kehamilan ku ini rentan, dokter nyaranin aku banyak istirahat, aku sering muntah yang nggak ke kontrol, habis muntah perutku sakiit banget kaya di remas, badanku lemas banget, aku jadi sering tidur, makanya akhir akhir ini aku sering telat jemput raisa, aku mau setiap pulang kerja kamu usap perut sama pinggang ku yaa. aku suka banget kalo kamu usap pinggang ku, rasanya nyaman banget, sakitnya juga mereda" lelehan air mata Nathan turun membasahi kertas itu
"semoga kejutan ku berhasil, Aku sayang kamu Nat, sebentar lagi kita akan jadi orang tua dua anak, hehehehe, I love you suamiku"
"aku berharap keluarga kita bisa terus bahagia kaya gini Nat"
"ARGGGHHHH "
pyar!!!
Nathan menyapu bersih semua benda yang ada di atas Nakas, kursi kerja ia lempar ke sembarang arah,
"argghhh, Alayyyaaaaa"
"ALLAYAAA, maaf", maaf" tangisan Raisa tidak lagi Nathan hiraukan, ia menangis sejadi - jadinya , menangis Semua kebodohannya, ruangan kerja sudah seperti kapal pecah, pecahan kaca di mana-mana, kain penutup jendela Nathan tarik hingga terlepas dari gantungannya.
__ADS_1
nafasnya sudah tidak beraturan lagi, pria itu tersungkur dengan derai air mata yang terus mengalir.
"aa--ayah" Nathan menoleh, di ambang pintu Raisa berdiri dengan ke adaan sama, gadis kecil itu menangis ketakutan.
"sini nak" Nathan merentangkan tangan, semoga saja kaki mungil Raisa tidak tertancap beling.
....
Nathan merapikan dulu penampilannya sebelum kembali ke rumah sakit, karena sudah malam, Nathan menitipkan Raisa ke tetangga.
perasaan Nathan tidak enak, ia ingin segera menemui Alayya, ia ingin bersujud meminta maaf pada wanita itu.
sesampainya di rumah sakit, Nathan berjalan cepat melewati lorong yang menuju kamar rawat sang istri,sapaan , panggilan dari orang-orang yang ia lalui Nathan abaikan.
Ruang rawat Alayya kosong dan rapi, Nathan kalang kabut mencari keberadaan istrinya, ia menuju ruangan perawat berharap apa Yang dan di pikirannya tidak terjadi.
"pulang?"
"iya dok, pasien di ruangan 13 sudah pulang setengah jam yang lalu"
ponsel Alayya tidak aktif, ia mencoba menghubungi Ali, tapi Ali tidak sekalipun mengangkat panggilannya, firasatnya ternyata benar, Nathan melajukan mobilnya berniat menyusul sang istri, tapi ia ingat dengan Raisa yang dititipkan pada tetangga, nathan memukul setir mobil dan memutar arah kembali ke rumah
"makasih Bu"
"Bu, saya masuk dulu "
"iya, nak"
....
Nathan sama sekali tidak bisa terlelap, ia terus memikirkan Alayya, sudut matanya kembali berair, penyesalan demi penyesalan memenuhi hati, besok Nathan akan langsung menyusul Alayya ke Bandung, ia ingin segera menyelesaikan masalah keluarganya, Nathan tidak bisa terus seperti ini.
besok harinya Nathan di buat bingung seperti apa ia bisa menenangkan putrinya, sejak bangun tadi Raisa terus mencari keberadaan sang ibu, mata bayi berumur dua tahun itu mulai membengkak.
"ibu, ii--ibuu"
"huus, husst, sayang tenang nak, kita susul ibu, tapi Raisa Dian dulu, Jangan bikin ayah makin panik, nak, cup cup cup"
"huaaaaaaa, ibuuuu, ibuuuu, ibuuuu"
"iyaa, kita ketemu ibu, tapi Raisa Diam dulu, nanti Matanya bengkak nak"
"Diam yaa, sayang, cup cup"
__ADS_1
"ii-bu, ibuu" perlahan suara tangisan Raisa memelan, hanya isakan saja, tapi bahunya masih naik turun, tak hentinya ia memanggil ibunya meski terbata karena nafas yang tersengal-sengal
Nathan mendudukkan anaknya di mobil, sebenarnya nathan ingin menitipkan raisa di rumah orang tuanya, tapi ia urungkan karena tak tega melihat kondisi anaknya yang begitu merindukan sosok Alayya.
sedangkan Alayya di rumah sakit yang berada di Bandung, Alayya masih terbaring lemah, Wanita itu masih membutuhkan perawatan yang intensif.
"Bu, ko Al kepikiran Raisa ya"
"kamu kangen, nak" Alayya mengangguk
"kangen banget Bu"
"mau ibu hubungin Nathan?" Alayya kembali menggeleng, mendengar nama Nathan saja membuat darahnya mendidih.
"jangan bu"
"ya udah kamu istirahat aja " Farah menyelimuti putrinya, ia usap kening Alayya.
"Bu, ayah sudah urus berkas - berkas nya"
"iya nak, ayah mu lagi ke pengadilan buat urus semuanya" Farah kembali duduk, ia genggam tangan putrinya.
"Al, kamu yakin dengan keputusan kamu" mata yang tadi sudah terpejam kembali terbuka
"iya buk, nggak ada alasan lagi untuk Alayya bertahan dengannya, Al sudah berusaha menahan semuanya Bu, al sudah sabar menunggu dia membuka hati untuk Al, Al selalu yakinkan diri al... kalo dia bakal Nerima Al, tapi al salah Bu, sampai kapan pun nggak pernah ada tempat untuk Al di hati Nathan" Alayya mengusap air matanya yang kembali lancang turun.
"Al kira Nathan mulai tulus setelah kami pulang dari umroh, tapi nyatanya.... Nathan masih menyimpan Alesha di hatinya...
"nak---"
"Bolehkan Bu, alayya cemburu dengan ketulusan Nathan pada Alesha, boleh kan Bu, Al sakit hati kalo Nathan masih menyimpan bingkai foto Alesha di ruang pribadinya, wajar kan Bu, Al nggak salah kan?"
"iyaa nak iyaa, sudah yaa, sekarang Al tidur, Al istirahat yaa nak" Tangisan Farah tertahan, dadanya ikut sesak mendengar ucapan sang anak.
"Bu... Al sayang sama Nathan, sayang banget, bahkan al sayang sebelum kami menikah"
"Al..."
"iya Bu, Al sudah jatuh cinta dengan Nathan jauh sebelum kami menikah, Tapi cinta Al bertepuk sebelah tangan, Nathan nggak suka sama al, Nathan lebih memilih El, Tapi takdir berkata lain Bu... Al justru di satukan lagi dengannya, Al kira kami memang berjodoh, mungkin ini semua sudah takdir yang terbaik untuk kita, tapi nyatanya enggak Bu, pernikahan ini sama-sama membuat luka yang baru untuk Al ataupun Nathan, Nathan yang masih menyimpan masa lalunya dan membuat Al terluka, begitu juga dengan Nathan yang terpaksa menjalani hubungan ini dan berakhir menyiksa dirinya sendiri Bu... perpisahan adalah jalan terbaik untuk Al dan nathan"
"Anak am juga udah nggak ada Bu, apa lagi yang harus di pertahankan, Semua memang salah sejak awal Bu, pernikahan Al dengan Nathan tidak seharusnya terjadi, Al masih bisa menjaga Raisa sampai Nathan temukan perempuan yang lebih pantas , yang lebih cocok, yang jauh lebih baik dari Alayya, dan yang pasti bisa membuat Nathan merasakan kembali cinta yang seperti dengan Alesha Walaupun bukan dengan Alesha"
"Al juga sudah ikhlaskan kepergian anak Al, dan Al hanya ingin hidup tenang setelahnya, al ingin memulai lembaran baru, dengan orang yang bisa tulus menyayangi Al atau sendiri seumuran hidup Al... juga nggak masalah Bu"
__ADS_1
"sayang..."