
“Kau gugup?”
Jeanno yang baru mematikan mesin mobil, menoleh melihat gestur Judith yang pandangannya tidak fokus, dan menggigit bibir bawahnya. Belum lagi tangannya yang memilin gaun. Kegugupan Judith masuk dalam batas kewajaran, karena sebelumnya perempuan itu tidak mengenal sosial yang seperti ini.
Judith mengangguk. “Terlihat ya?”
“Bagiku, ya. Tapi tidak tau yang lain”
Judith membuang nafas kasar. “Tuan, bagaimana jika mereka menyadari aku bukan Nayara? Bagaimana jika salah satu dari mereka adalah tamuku dulu? Bagaimana jika mereka mempermalukan tuan? Aku.. aku tidak usah ikut masuk ya? nanti biar aku pesan taksi untuk pulang”
“Tenang, Judith. Atur nafasmu dulu, iya, keluarkan perlahan”
Judith mengikuti perintah Jeanno untuk mengatur nafas. Dahinya mengerut, mengapa pria ini nampak begitu tenang?
“Kau tetap ikut denganku. Aku akan melindungimu. Kau percaya padaku, kan?”
Yang ditanya masih diam. Sungguh, ia gugup sekali. Seperti akan dieksekusi mati.
“Judith”
“Berjanjilah untuk jangan meninggalkanku sendirian di dalam sana”
Jeanno terkekeh. “Kalau aku mau ke toilet bagaimana?”
“Tahan dulu saja sampai rumah”
Tangan pria itu terulur kearah tangan Judith yang masih memilin gaun. Dirematnya pelan, sembari ibu jarinya mengusap punggung tangan tersebut. “Ayo turun”
“Tuan”
“Hm?”
“Bisakah.. bisakah aku menggenggam tangan tuan selama disana? Aku, merasa tenang jika tangan kita bertaut”
Jeanno tanpa ragu, mengangguk sebagai tanda persetujuan. Detik berikutnya mereka turun dari mobil menuju Ballroom yang ada di lantai 12.
**
“Mark Sebastian”
Yang dipanggil mendongak, melihat Lucas menghampirinya dengan segelas kopi yang asapnya masih mengepul, dan mengambil kursi di hadapannya.
__ADS_1
“Kepalaku pening melihatmu bekerja terus bahkan ketika makan malam seperti ini”
Mark tersenyum tipis. “Besok hari Sabtu, jadi aku harus menyelesaikan semua malam ini kalau mau liburku berlalu dengan tenang”
Jeanno sebenarnya memberikan Mark kelonggaran masalah pekerjaan. Tapi Mark tidak ingin seperti itu, ia memang sepupu Jeanno namun jika sudah dalam lingkup pekerjaan, ia tetap bawahan Jeanno Alexander. Sudah menjadi kewajibannya menyelesaikan pekerjaan. Lagipula besok ia berniat untuk membawa Hannah ke rumah untuk mengenalkan kepada orangtuanya.
“Hey, Mark.. aku jarang melihatmu di Victoire. Apa kau sudah tidak pernah kesana?”
Mark menutup laptopnya, kemudian menyesap kopi. “Hmm, tidak. Aku bahkan lupa kapan terakhir kesana. Kenapa?”
“Aku kemarin, well, sudah tiga hari secara berturut-turut aku kesana. Kau tau, untuk ‘penyegaran’. Tapi aku tidak melihat Hannah. Apa dia masih bekerja disana?”
Dahi Mark mengerut. “Ya, dia masih bekerja disana. Aku menjemputnya setiap saat”
“Aneh sekali. Tapi aku tidak melihatnya di panggung yang biasa. Mereka hanya memberikan kami penari yang monoton dan terlalu vulgar. Di hari pertama kupikir itu memang bukan jadwal Hannah, tapi hari berikutnya, sampai hari ketiga, gadismu masih belum muncul”
“Kau bertanya pada Johnny?”
Lucas menggeleng. “Aku tidak bertemu dengannya. Ketika aku bertanya kepada bartender keberadaan Johnny, dia mengatakan kalau pria itu sedang keluar kota”
“Mark, kau.. masih baik-baik saja dengan Hannah, kan?”
“Ya, kami masih baik-baik saja, Lucas”
“Dengar, Mark. Kau kawan baikku, aku ingin kau mendapatkan yang terbaik. Saranku, jika kau mau mendengar, mungkin ada baiknya kau mulai mengumpulkan informasi mengenai Hannah. Maksudku, sebelum semua berjalan terlalu jauh”
Lucas benar. Jika menunggu sampai Hannah siap, entah kapan hari itu tiba. Tidak ada pula yang menjamin Hannah akan terbuka padanya suatu saat nanti. Tapi Mark tidak ingin Lucas tau hubungan mereka terlalu dalam. Ia akan menyelidiki, sendirian tanpa bantuan siapapun. Baik buruk hasilnya nanti, akan ia simpan sendiri. Tak ingin oranglain tau keburukan Hannah.
“Akan kupikirkan. Terimakasih, kawan”
**
Acara itu, seperti yang dibayangkan, berlangsung megah. Banyak tamu penting yang hadir disana. Membuat Judith semakin mempererat pegangan tangannya pada Jeanno, yang sepertinya pria itu bisa merasakan kegugupan Judith sehingga ia balas menggenggam tautan tangan mereka.
“Lihat? Mereka semua ramah, kan? Tidak ada yang mengenalimu” bisik Jeanno usai mereka saling bertukar sapa dengan beberapa rekan bisnis, dan pejabat negara. Perkenalan mereka berlangsung lancar, bahkan tak sedikit yang memuji kecantikan nyonya Alexander yang jarang terekspos media.
Judith mengangguk kaku. “Ya, mereka ramah. Tapi tanganku masih dingin, tuan”
Jeanno tertawa kecil. “Sebentar lagi. Dan.. Judith”
“Ya?”
__ADS_1
“Kau sudah melakukan yang terbaik”
Judith tersipu. Pujian Jeanno menjadi angin segar yang membantu memupuskan kegugupannya. Perlahan, kepercayaan dirinya kembali. Ia sudah tak lagi melihat kearah sepatu-sepatu, melainkan ia angkat pandangannya untuk bertukar tatap dengan mereka yang berpapasan dengannya.
“Hey, Jeanno Alexander” Seorang pria tampan dengan potongan rambut cepak menghampiri mereka. Ia menyalami Jeanno yang membuat genggamannya terlepas sesaat dari tangan Judith. Namun usai bersalaman, tangan itu mencari kembali jemari ranting Judith, untuk menjalin tautan kembali.
“Halo, Ryan Daniel. Bagaimana kabarmu?”
“Tidak terlalu baik. Karena sepertinya aku menyesal datang kemari. Dari semua tamu yang datang, aku mengharapkan ada yang datang sendiri tanpa gandengan. Ternyata hanya aku saja”
Jeanno tertawa, Judith yang kebingungan hanya diam saja. “Well, itu salahmu sendiri. Omong-omong, kenalkan.. Nayara, istriku”
“Wow…” Ryan mengulurkan tangannya sembari membungkuk, persis seperti seorang yang menawarkan dansa. Judith menoleh kearah Jeanno, yang direspon dengan anggukan pelan. Perempuan itu kemudian memberikan tangannya kepada Ryan yang dikecup sopan.
“Perkenalkan, Ryan Daniel. Perlu kukatakan, bahwa nyonya Alexander ternyata memiliki pesona yang luar biasa indah. Pantas saja selama ini Jeanno jarang memamerkannya kepada kami”
Jeanno menarik tangan Judith hingga terlepas dari Ryan, kemudian menaruh tangannya di pinggang ramping gadis itu.
“Aku lebih suka kecantikannya hanya untuk diriku sendiri. Dan Ryan, istriku ini manusia, bukan barang yang seharusnya dipamerkan”
Ryan memutar bola matanya jengah sembari mencicit ‘posesif sekali’. Jeanno menoleh, bercerita singkat bahwa Ryan adalah mantan sekretarisnya yang mendapatkan peluang pekerjaan lebih baik di Iris Group.
“Walaupun dia terlihat tidak pernah serius, tapi dia sangat pintar, sayang. Itulah mengapa dia bisa menaiki posisinya sekarang dengan cepat”
Judith hanya manggut-manggut. Sementara Ryan berdehem penuh kebanggaan mendengar pujian Jeanno yang jarang sekali ia dengar. Ketika mereka tengah berbincang santai, mata Ryan menangkap sosok yang tak asing baginya.
“Hey, Jeanno. Kurasa kau belum menyapa perwakilan dari Lou Group”
“Ah, Lou Group? Aku memang belum melihat tuan Robert sejak tadi”
Ryan mengangguk. “Tentu saja tuan Robert tidak terlihat. Karena sepertinya dia mengirim putranya kemari. Sebentar, kupanggil”
Ryan meninggalkan Jeanno untuk menghampiri tamu yang dimaksud. Sementara Judith masih memandang takjub keanggunan tamu-tamu terutama tamu wanita. Melihat sosial kelas atas yang tak pernah ia tilik sebelumnya. Perlakuan Jeanno, hingga pertemuannya dengan Ryan mengambil andil dalam hilangnya kegugupan yang membekapnya sejak di awal menjejakkan kaki di hotel Iris. Dan acara sudah berlangsung setengahnya, ia yakin akan melalui ini dengan mudah, dan lancar.
“Jeanno dan nyonya Alexander”
Ketika Ryan kembali dan suaranya terdengar dari arah belakang, Jeanno dan Judith refleks memutar tubuh untuk berkenalan dengan mitra bisnis yang dimaksud Ryan Daniel.
“Perkenalkan perwakilan dari Lou Group, Arman Mahendera”
**
__ADS_1