Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 82. Asa


__ADS_3

Jeanno benci aroma itu. Benci dinding berwarna putih kelamnya. Benci segala suasana berbau rumah sakit. Segala yang ada pada bangunan itu dan seisinya mengingatkan kembali kepada kenangan terburuk dalam hidupnya. Yaitu kehilangan Nayara. Begitu besar efeknya hingga menciptakan ketakutan baru baginya untuk menginjakkan kaki di Rumah Sakit untuk alasan apapun.


Hari ini mungkin adalah rekor terlamanya tahan berada dalam Rumah Sakit. Mengabaikan respon negatif pada tubuhnya demi Mark. Omong-omong, operasi Mark berlangsung kurang lebih enam jam. Berjalan lancar namun belum bisa membawa Mark melewati masa kritisnya. Intinya, sang kakak sepupu tengah koma disana. Tak ada jaminan kapan ia akan sadar. Semua kembali lagi pada Kuasa Sang Semesta.


Maria sudah sadar dari pingsannya, kini sudah tak lagi tersengguk. Berdua dengan Jose, pasangan Sebastian itu saling berpegangan tangan, tak hentinya berdoa dalam hati sembari memandangi putra mereka dari balik kaca pintu ruang rawat.


“Jean, pulanglah. Aera nanti mencarimu kalau kau terlalu larut disini”


Jeanno nyaris terceplos nama Judith, jika saja ia teringat bahwa dirinya belum menceritakan apapun perihal perempuan itu. Walaupun ia sesungguhnya yakin pasti Aera pernah kelepasan menyebut sosok ‘mama’nya kepada Jose maupun Maria.


“Tapi bagaimana jika Ibu membutuhkanku?”


Maria tersenyum tipis, dalam dukanya pun masih Jeanno rasakan aura kehangatan seorang Ibu. “Ibu sudah lebih baik. Disini kan ada paman Jose juga. Jadi tidak apa kalau kau mau pulang”


“Berjanjilah untuk menghubungiku segera jika membutuhkan sesuatu, atau jika ada kabar baik”


“Ya, pasti sayang”


Jeanno memeluk Maria sebelum berpamitan pulang.


**


Airmata Hannah sudah mengering. Panas di pipinya akibat tamparan sang Ibu tak sebanding dengan luka di hatinya. Dipermainkan oleh bosnya, tak dipercaya oleh ibu kandungnya sendiri. Hannah tak memiliki kesempatan untuk membela diri. Begitu pula ketika ancaman sang Ibu yang seakan tamparan telak untuknya supaya tidak menolak lamaran Louis. Seperti teringat bahwa Ibu adalah orangtua satu-satunya yang ia miliki selagi pria berstatus Ayah tidak tau dimana rimbanya, Hannah terpaksa menuruti.


Catat, terpaksa.


Juga ketika Louis mengajaknya pulang, Hannah tak berbuat banyak selain mengikuti ke mobil. Tanpa perlu repot dan terpikirkan membawa apapun. Hanya membawa dirinya sendiri. Percayalah, di titik itu Hannah sangat ingin meloncat dari mobil yang dikendarai Louis. Lebih baik dirinya yang mati dibanding ibunya. Lebih baik ia mati daripada menikah dengan pria yang tak dicintai. Sialnya Louis terlalu pintar, pria itu sudah siaga mengunci pintu. Berjaga jika Hannah macam-macam.

__ADS_1


“Maafkan aku. Aku terpaksa mengambil cara ini supaya bisa memilikimu”


Louis mengatakannya dengan ringan dan tanpa rasa bersalah. Membuat Hannah semakin ingin melayangkan pukulan lagi ke wajah itu.


“Surat itu. Kau pasti sudah menyiapkannya secara matang sampai membawa bukti palsu”


Pria itu melirik sebentar, kemudian mengulurkan tangannya mengusap paha Hannah. “Surat dari kedokteran memang bukti palsu. Tapi mengenai foto-foto itu, kurasa kita sama-sama tau kau memang sering telanjang di hadapanku”


“Singkirkan tangan kotormu dari tubuhku, Louis”


Bukannya menyingkir, tangan pria itu justru semakin berani meremat paha dalam Hannah. Pada wajahnya terulas senyuman tercongkak yang pernah Hannah lihat.


“Jika tanganku kotor, maka kau juga kotor, sayang. Lagipula apa yang mau kau tutupi, hm? Aku sudah melihat setiap inci tubuhmu. Dan sebentar lagi kita juga menikah. Ingat kan kata ibumu tadi? Menikah denganku atau kau melihat mayatnya segera”


Hannah diam. Energinya seperti sudah terkuras hari ini. Perempuan itu memejamkan matanya. Membiarkan tangan Louis bergerilya dengan kurang ajarnya ke setiap bagian tubuhnya. Ia ingin marah, tapi disisi lain Hannah juga merasa jijik pada dirinya sendiri. Semua yang terjadi padanya, adalah bumerang yang kembali dan merugikannya. Memang ia tak sampai bercinta dengan pria lain, tapi Hannah sudah mengkhianati Mark secara tidak langsung. Menggantung pria yang mencintainya dengan cerita yang selalu ia tutupi dan rahasiakan. Padahal mungkin saja jika jujur sedari awal, masalah tidak akan sepelik ini.


Sekali lagi, ingatkan Hannah untuk mencari pisau sesampainya di apartemen. Ia benar-benar ingin mati sekarang juga.


**


“Tuan..?”


Jeanno mengangkat wajahnya. Sedari tadi kegiatan mengaduk-aduk sup dengan sendok terlihat terlalu asyik baginya. “Ya?”


“Kenapa tidak dimakan?”


“Oh..” gerakan tangan Jeanno terhenti. “Maaf, tapi aku tidak lapar”

__ADS_1


“Tuan belum makan malam, kan? Atau bahkan belum makan sedari tadi siang?”


Jeanno ingat ia memang belum makan apapun selain sarapan tadi pagi. Siang hari ia berniat makan bersama dengan divisi pemasaran untuk mengevaluasi angka mereka di pertengahan bulan ini. Namun terpaksa ia batalkan karena harus ke rumah sakit.


“Aku tau Tuan tidak nafsu makan. Tapi jangan sampai Tuan juga jatuh sakit. Makanlah 3-4 suap, setidaknya ada nutrisi yang masuk kedalam sistem tubuh Tuan”


Jeanno tidak membantah, hanya mengangguk sekilas. Pria itu mulai meniup supnya dan makan dengan tenang. Dan benar saja, gerakannya terhenti di suapan kelima. Jeanno menghabiskan tidak sampai setengah dari porsi makan malamnya. Namun itu sudah cukup untuk Judith, setidaknya perut pria itu tidak kosong sepenuhnya.


“Sini biar kubawa ke pencucian”


Jeanno membiarkan Judith mengambil peralatan makannya. Selagi perempuan itu mencuci piring, ia kembali tenggelam dalam benaknya sendiri. Membayangkan segala skenario buruk yang bisa saja terjadi pada Mark. Pikiran negatif itu lantas membuat Jeanno mengusap wajahnya kasar. Ia pernah merasakan sakitnya kehilangan, dan tak ingin jika harus merasakannya lagi.


Judith telah selesai membilas bersih piring terakhir. Ketika berbalik melihat Jeanno yang tengah menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Wanita itu berjalan mendekat, mengusap pundak si Tuan muda perlahan tanpa bermaksud mengagetkan.


“Kak Mark pasti baik-baik saja. Aku yakin ia akan sadar cepat atau lambat”


Jeanno menurunkan telapak tangan yang membekap wajahnya. “Aku sudah mengatakan itu berkali-kali hari ini. Tapi tetap tidak bisa menghentikan pikiran negatif. Aku takut jika harus merasakan kehilangan lagi”


“Mark bukan tipe orang yang mudah hilang fokusnya, terlebih saat berkendara. Tidak pernah juga ia teralihkan oleh apapun. Maka dari itu aku heran bagaimana Mark bisa sampai celaka seperti itu. Pasti ada hal yang menggoyahkan fokusnya hingga ia hilang kendali”


Judith mengerjapkan mata, teringat akan sesuatu. “Oh iya, aku sudah mencoba menghubungi Hannah. Tapi tidak kunjung diangkat”


“Kau tau dimana kampung halamannya?”


Judith mengangguk tipis. “Aku tau nama Desanya. Tapi kurang begitu paham untuk alamat pastinya”


“Mungkin kita bisa kesana untuk menjemput Hannah. Barangkali kehadiran Hannah mampu mendorong Mark untuk cepat sadar”

__ADS_1


Judith mengangguk menyetujui usulan Jeanno yang masuk akal.


**


__ADS_2