Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
persidangan perceraian


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama persidangan perceraian Alayya dan Nathan, Alayya dan orang tuanya sudah lebih dulu tiba di pengadilan, setengah jam kemudian Nathan juga tiba bersama orang tuanya, pandangan pria itu kosong, tubuhnya lebih kurus dari biasanya, semenjak di jemput orang tuanya waktu itu, Nathan lebih memilih mengurung dirinya di dalam kamar, Nathan enggan di bawa untuk memeriksakan kesehatannya ke rumah sakit, makan pun jarang, yang ada di kepala Nathan hanya ada Alayya, ia ingin keluarganya utuh lagi, ia tidak ingin bercerai, Nathan mencintai Alayya, Nathan sangat amat menyayangi Alayya lebih dari apapun, tapi nasi sudah menjadi bubur, hari ini adalah hari persidangan mereka, pupus sudah harapan Nathan untuk memperbaiki rumah tangganya, perceraian ada di depan mata.


Nathan yang berdiri di lorong ruangan, menatap lurus ke depan, di sana ada Alayya yang sedang mengajak Raisa bermain, Nathan bisa melihat dengan jelas senyuman tulis wanita itu pada anaknya, Alayya memalingkan wajah, pandangan mereka bertemu, Alayya tidak bisa memungkiri rasa rindu pada Nathan, ia juga sama terpuruknya seperti pria itu, tapi keputusannya juga sudah bulat, Alayya akan tetap mengakhiri hubungan mereka.


"pria itu sakit, wajahnya pucat sekali" batin Alayya bertanya-tanya. Nathan tersenyum ke arahnya, Alayya tidak membalas senyuman itu, Alayya lebih memilih memalingkan wajahnya. terpukul hati Nathan melihat kebencian Alayya padanya.


mereka menunggu setengah jam lagi dan persediaan akhirnya di mulai, Alayya yang ingin masuk ke ruangan terhenti langkahnya, karena seseorang sudah melingkarkan tangannya di pinggang ramping miliknya. Alayya tahu betul siapa itu.


"Lepas" Alayya berusaha melepaskan pelukan Nathan, tapi Nathan justru mengeratkan pelukannya, Alayya bisa merasakan pundaknya kini basah karena air mata Nathan.


"al, aku mohon Al, batalkan perceraian ini, aku nggak sanggup hidup tanpa kamu Al, aku mencintai kamu" suara Nathan terdengar parau di pendengaran.


"aku kangen kamu, sayang, aku kangen"


"aku Minta maaf Al, aku harus apa untuk mendapatkan maaf kamu" lirih Nathan dengan suara parau.


"lepas... gue bilang " Nathan menggeleng


"please, jangan lanjutkan perceraiannya, aku mohon"


"maaf Nat, gue nggak bisa, perceraian adalah pilihan terbaik untuk kita" kini Alayya terbebas dari pelukan Nathan, Alayya langsung masuk tanpa mau menatap lagi wajah Pria itu, Alayya tidak ingin goyah, Alayya tidak ingin lemah jika terus-terusan melihat kerapuhan pria itu


"Alya..."


....


persidangan hari pertama telah Selasa, dan akan di lanjutkan Minggu depan dengan agenda mediasi, berharap agar mendapatkan jalan keluar untuk memperbaiki rumah tangga kedua suami istri yang masih terlihat masih sama-sama berat melakukan perceraian ini.


"nak, ayo pulang" Nathan duduk di kursi tunggu, dengan wajah menunduk, ia tidak merespon panggilan sang ibu, ana mengguncang pundak anaknya, alangkah terkejutnya ana, putranya jatuh tersungkur tidak sadarkan diri.


"Nathan...."


Nathan di larikan ke rumah sakit, tekanan batin atas perceraian yang ia lalui membuat tubuhnya melemah, belum lagi kondisi fisiknya yang memang sedang tidak baik-baik saja satu Minggu ini.

__ADS_1


"nak, kamu ko jadi gini" ana tidak sama sekali melepaskan tangan anaknya


"Nathan akan baik-baik aja mah" ucap Anton berusaha menenangkan istrinya, Anton juga sama kawatir nya, tapi Anton lebih bisa menutupi rasa kawatir itu.


"Nathan begitu terguncang karena perceraian ini, pah.... Nathan begitu mencintai Alayya, mama bisa rasakan itu"


"kita juga nggak bisa berbuat banyak, mah. sekarang kita Hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Nathan" ana mengangguk, ia tabahkan hatinya menerima semuanya.


...


di rumah, Alayya menjadi gelisah, ia sendiri bingung apa penyebab dari kegelisahan hati yang ia rasakan sekarang, Alayya sudah berkali-kali membolak-balik tubuhnya di atas kasur.


pikirannya hanya tertuju pada seseorang, Nathan.


wajah lemah Nathan terus berputar di kepalanya, wajah menyedihkan pria itu terus terbayang di benaknya.


"arggh" Alayya mengusap wajahnya kasar


"Lo kenapa sih Nat, nggak puas Lo ngancurin hidup gue, sekarang Lo berusaha mengganggu hidup gue, keluar Lo Nat, keluar dari kepala gue " kesal Alayya dan kembali menghempaskan tubuhnya ke kasur.


....


"ibu sini, main sama naiyla... sama ayah juga Bu, sini"


"naiyla? ayah? ibu?" siapa sebenarnya gadis cantik bernama naiyla itu.


"ayah" Naiyla berlari menghampiri seorang pria yang Alayya kenal betul siapa dia


"Nathan" pria itu adalah Nathan, Nathan terlihat begitu tampan dengan pakaian putihnya, di gendongan Nathan... Naiyla tidak henti-hentinya melambai pada Alayya, meminta Alayya bergabung dengan mereka.


"Nathan, mau kemana kamu Nathan" teriakan Alayya membuat Nathan menoleh, ia turunkan naiyla dari gendongan, Nathan melangkah kan kaki lebih dekat pada Alayya.


Alayya rasakan tangan dingin Nathan mengusap sisi wajahnya.

__ADS_1


"Al, kamu tau siapa gadis kecil cantik itu" Nathan menunjuk Naiyla yang asik mengejar kupu-kupu di belakangnya, Alayya menggeleng


"namanya Naiyla, anak kita" ucap Nathan bahagia.


"anak kita?" ulang Alayya dengan mulut menganga


"iya sayang, dia anak kita, sekarang Naiyla hidup bahagia di sini, anak kita sudah tidak merasakan sakit Lagi, Naiyla begitu bahagia bisa tinggal di sini, dan sekarang aku juga akan tinggal di sini, bersamanya " Alayya menggeleng, ia genggam tangan dingin Nathan di pipinya


"kamu mau ninggalin aku Nat, kamu tega sama aku"


"sayang, percayalah, aku begitu mencintai kamu, aku tulus mencintai kamu, kamu adalah Wanita yang ingin selalu aku bahagian, tapi sayangnya kita harus segera berpisah, aku ingin ikut Naiyla, hidup bahagia di tempat indah ini"


"Nggak, aku nggak ngijinin kamu pergi, aku mau kamu pulang dengan ku" air mata mulai menetes di pipi Alayya.


"jangan Nat, aku nggak bisa Tanpa kamu, aku nggak mau di tinggal Nat, aku mohon jangan pergi" Nathan menggeleng di sertai senyuman, perlahan Nathan melepaskan genggaman tangan Alayya


"Ayah cepat, yang lain sudah menunggu" panggil Naiyla


"iya nak, sebentar ya"


"aku pergi ya, jaga diri kamu baik-baik, aku sayang kamu, selamanya" senyuman Nathan tidak luntur sama sekali, perlahan pria itu berjalan mundur, tangisan Alayya semakin deras, ia masih menarik ujung baju yang di kenakan Nathan.


"jangan pergi, aku mohon" lirih Alayya, semakin Nathan menjauh, semakin deras tangisannya


"NAIYLA JANGAN BAWA AYAH MU, NAK. IBU MEMBUTUHKAN AYAH MU, JANGAN AJAK AYAHMU NAK, NAIYLA... JANGAN PISAHKAN IBU DENGAN AYAH, NAK. IBU MOHON"


"Nathan..."


"Nathan..." nafas Alayya memburu, peluh di kening semakin deras, mata yang tertutup semakin basah, Farah dan Ali sejak tadi berusaha membangunkan putrinya dari mimpi buruknya, tapi Alayya tidak memberikan respon apapun.


"Nathan, jangan pergi Nat, jangan tinggalkan aku dengan Raisa"


"Al, sadar nak, sadar"

__ADS_1


"NATHAAAAN" mata Alayya terbuka, matanya merah karena menangis.


__ADS_2