Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 13. Still Counting


__ADS_3

Tepat dua minggu sudah Jeanno Alexander tidak masuk kuliah. Absennya Jeanno berpengaruh pada perundungan yang diterima Nayara. Surat kaleng tetap didapatnya, namun tidak sebanyak dulu. Tatapan sinis masih dilayangkan padanya, yang mulai Nayara terima karena terbiasa. Sharin, gadis itu terkadang muncul terkadang tidak. Dari kabar yang Nayara dengar ia baru saja mengikat kontrak dengan agensi model terkenal, itulah mengapa jadwal kuliahnya terusik karena schedule pemotretan dan segala ***** bengek dunia modeling. Baguslah, dengan begitu Nayara bisa menyelesaikan semester terakhirnya dengan tenang.



*



Namun tetap saja, tidak bertatap muka dengan sang kekasih membuat hatinya gundah. Jeanno masih memberinya kabar melalui pesan singkat, hanya satu-dua pesan perhari. Tanpa ada video call, atau minimal telpon. Tapi tak apa, setidaknya ia tahu bahwa prianya baik-baik saja.



*



Mark Sebastian menemuinya tiga hari sekali. Mengajak Nayara makan siang atau makan malam, atau mengantarnya pulang.


“Jeanno berpesan padaku untuk menjagamu selagi ia tak bisa”



*



Begitulah jawaban Mark ketika Nayara bertanya mengapa pria itu sering menemuinya akhir-akhir ini.



*



“Kak Mark”



*



“Ya?” Mark berhenti mengunyah pastanya. Melihat kearah kekasih adiknya yang bukannya makan, justru asik memainkan spageti dengan garpunya. “Aku merindukannya”



*



“Aku tau. Dia juga merindukanmu. Tapi keadaan belum bisa membuatnya kemari untuk menemuimu”



*

__ADS_1



Nayara menghembuskan nafas samar. Frustasi akan keadaan. “Selama ini aku selalu berpegang teguh bahwa tak apa kami hanya berkirim pesan, asal dia baik-baik saja. Tapi aku ingin memastikan lagi, paling tidak dengan mendengar suaranya”



*



Mark meletakkan garpunya. Mengubah fungsi tangannya menjadi penopang dagu. “Kondisi paman masih belum membaik. Sementara tuntutan pekerjaan semakin membludak setiap harinya”



*



Nayara terdiam. Pandangannya memburam oleh genangan airmata yang siap luruh kapanpun. Kerinduan yang ia pendam membuat dadanya sesak. Ia sungguh rindu prianya. Kehadiran Jeanno yang tak pernah absen dihari-harinya rupanya telah membuat Nayara, gadis mandiri menjadi seorang yang bergantung pada eksistensi seorang Jeanno Alexander.



*



Kembali lagi pada janjinya untuk tetap berada disisi Jeanno apapun yang terjadi, Nayara meneguhkan hatinya untuk mencoba mengerti posisi Jeanno serta tidak menuntutnya macam-macam. Ia lantas mengangkat wajahnya, mengusap genangan airmata sebelum luruh sebelum tersenyum pada Mark.



*




*



Mark menggeleng. “Tidak, Na. Aku paham mengapa kau seperti itu. Jeanno sendiri juga gundah karena tidak bertemu denganmu dua minggu terakhir ini. Jadi.. anggap saja hal ini ujian untuk hubungan kalian, okay?”



*



Nayara mengangguk, merespon ucapan Mark. “Terimakasih kak”



*


__ADS_1


**


“Bagaimana dengan ibumu?”


Hannah menyesap coklat hangatnya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Judith. “Aku sudah menelpon, Mark juga sudah mencoba menelpon dengan nomornya. Tapi jawaban ibu hanya ‘terserah, itu pilihanmu. Ibu sudah tidak mau tau lagi’ kemudian sambungan terputus secara terpihak”


“Sepertinya bibi benar-benar kecewa ya telah mempercayai Louis sebelumnya”


“Tapi bukankah seharusnya dia mendukungku? Kau tau, sayang. Aku merasa malu karena ibuku sampai sekarang belum berkenan untuk bertemu dengan orangtua Mark. Sementara kau tau sendiri bagaimana baiknya mereka padaku. Tapi disisi lain ibuku, justru memiliki harga diri kelewat tinggi sampai enggan bertemu orang-orang yang akan menjadi besannya”


“Bagaimana dengan Mark, apa dia berkata sesuatu?”


“Mark bilang dia akan menunggu sampai ibu siap”


“Tapi hal itu tidak mengganggu pernikahan kalian, kan?”


Hannah menggeleng. “Syukurlah, tidak. Haikal menelponku beberapa hari lalu, mengatakan kalau ibu mungkin tidak bisa datang ke acara, maka dari itu Haikal akan menjadi satu-satunya keluargaku yang datang”


Judith mengulurkan tangan mengusap jemari Hannah, menguatkan. “Badaimu pasti berlalu. Melihat bagaimana sosok kak Mark, aku yakin lambat laun bibi akan luluh”


Lawan bicaranya tersenyum sebelum bangkit dari kursinya. “Aku ke toilet dulu, setelah itu kita ke butik ya”


Judith mengangguk, memilih fokus pada ponselnya usai Hannah melenggang menuju kamar mandi. Nanti malam mereka berempat bersama Jeanno dan Mark memang memiliki acara makan malam. Bisa dibilang perayaan masa lajang calon pengantin sebelum menjemput hari H.


“Nyonya Alexander?”


Judith nyaris tersedak minumannya ketika mendapati sosok Arman tengah berdiri dan tersenyum ramah padanya. Sejak kapan pria ini berada di dekat mejanya?


“A-ar—eh tuan Mahendera?” Judith berdehem ketika menyadari suaranya bergetar. “Sejak kapan tuan berada disini?”


“Cukup lama. Aku duduk di lantai dua tadi, ketika mau membayar ternyata melihat anda disini. Jadi kuputuskan untuk menyapa”


Judith hanya mengangguk kaku, menyadari mejanya dan meja kasir memang berjarak lumayan dekat. Wanita itu memalingkan pandangannya, berharap Arman membaca gestur itu sebagai penolakan untuk berinteraksi dengannya. Ketika matanya tertumbuk pada tas Hannah yang tergeletak di kursi hadapannya, tubuhnya sontak menegang. Bagaimana jika Arman melihatnya bersama Hannah? Bagaimana jika Hannah kembali sebelum Arman pergi?


“Nyonya, aku tahu kehadiranku masih membawa ketidaknyamanan untuk anda. Tapi sekali lagi, ijinkan saya untuk meminta maaf sebesar-besarnya atas kejadian di masa lalu”


Judith mendongak, menyadari Arman yang bukannya membayar pesanan ke meja kasir, malah justru duduk di kursi Hannah. “Y-ya?”


“Apakah anda berkenan memaafkanku?”


Jangankan fokus dengan perkataan Arman, bahkan untuk bernafas dengan benar saja rasanya Judith sudah lupa bagaimana caranya. Jantungnya berdegup cepat seraya melihat pintu kearah toilet dengan gugup. Beruntung posisi Arman membelakangi arah toilet, jadi setidaknya jika Hannah kembali, Arman tidak langsung melihat gadis itu.


“Dan.. bisakah anda membujuk tuan Alex untuk memaafkanku juga? Dan tidak mengungkit kejadian ini terutama dihadapan ayahku?”


Picik. Bahkan ketika itu semua kesalahannya, Arman masih mementingkan dirinya sendiri. Judith tersenyum sinis, dirinya baru saja hendak membuka mulut, menimpali permintaan Arman yang menurutnya tak tahu diri, namun Hannah melangkah keluar dengan pandangan menunduk karena tengah merapikan pakaiannya.


Judith meremat ujung pakaiannya. Memutar otak bagaimana caranya ia memberitahu Hannah untuk tidak menghampiri meja mereka selagi Arman masih berada di hadapannya. Pasalnya, jika Judith menghambur kearah Hannah, Arman sudah pasti ikut menoleh. Jika pria itu mendapatinya berinteraksi dengan Hannah, habislah ia. Tamatlah penyamarannya.


“Bisakah.. anda melakukannya, nyonya?”


Usai berkata demikian, Hannah yang berada tiga langkah menuju kursinya, mengerutkan kening heran melihat kursinya sudah ditempati orang lain dengan Judith yang terlihat gelisah.


“Maaf, tuan ARMAN MAHENDERA, tapi mengenai apa yang akan suami saya lakukan, saya tidak bisa mengontrolnya. Mengenai apa dia akan memaafkan anda atau tidak, itu juga bukan wewenang saya. Tapi saya menghargai permintaan maaf anda”


Judith sengaja mengatakan nama lengkap Arman sejelas mungkin sebagai sinyal untuk Hannah supaya tidak menampakkan dirinya sekarang. Beruntung, Hannah mengerti dan kembali ke kamar mandi. Membuat Judith bernafas lega dan kegugupannya berangsur menghilang.

__ADS_1


Arman nampak kecewa, tapi ia dengan sopan bangkit dan tersenyum sebelum undur diri. Judith, tak ingin membuang waktu langsung meraih tasnya dan tas milik Hannah untuk disusulkan ke kamar mandi.


**


__ADS_2