
setelah seminggu kepergian abyan, akhirnya aku bisa mulai menerima keadaan yang sebenarnya. hari-hari yang aku lalui berasa seperti hal baru karena aku menjalani kehidupan ku penuh dengan semangat.
"pagi sayang". ucap mas bram yang menghampiri dan mengecup kening ku.
"pagi juga mas. udah mau berangkat mas?". tanyaku.
"iya sayang, aku ada rapat pagi ini jadi harus cepat datangnya". jawab mas bram yang duduk di meja makan.
"ini mas kopi dan rotinya". aku menyiapkan sarapan pagi untuk mas bram.
"terima kasih sayangku". mas bram langsung menyeruput secangkir kopi yang aku sajikan.
"mas, kapan alisya pulang?. aku kangen sama alisya mas".
"ya ampun sayang, alisya baru kemarin dia pergi ke rumah mama, kamu sudah tanya kapan dia pulang". mas bram ketawa mendengar ucapanku.
"aku kesepian mas tanpa dia, rumah ini terasa sepi gak ada yang teriak-teriak, gak ada yang serakin rumah". ucapku.
"kan ada aku sayang, lagian ini kan kesempatan kita untuk berduaan". mas bram mengedipkan matanya.
"iihh apaan sih mas". aku tersipu malu dengan ucapan mas bram.
"aku udah selesai sarapannya sayang, aku berangkat dulu ya takut telat".
"iya mas, hati-hati di jalan ya".
saat mas bram berjalan untuk menuju ke garasi, tiba-tiba dia memutar badannya dan menghampiri ku.
"kenapa mas?".
"aku lupa sesuatu, mmuuaachhh...mmuuacch". mas bram mengecup kening dan bibirku.
"udahh ah buruan sana pergi, nanti terlambat". ucapku
"bye sayang". mas bram berangkat kerja menggunakan mobilnya.
"hati-hati mas".
setelah mengantarkan mas bram, aku kembali masuk ke dalam rumah dan bersiap untuk bersih-bersih.
"non, bunga ini letakkan dimana?". ucap bi nina.
"letakkan aja di ruang tamu bi".
"baik non".
terasa sepi rumah saat tidak ada alisya, kemaren papa dan mama datang untuk menjemput alisya dan membawanya ke Singapura.
walapun baru sehari tapi aku sudah sangat merindukan alisya. biasanya setiap hari aku selalu mendengar teriakkan alisya memanggilku.
"hahh...tidak apa-apa karin, alisya di sana hanya seminggu". aku menghela napas dalam-dalam.
"non, biar bibi aja yang beresi dapur". ucap bi nina.
"gak apa bi, aku harus banyak beraktivitas agar berat badanku cepat turun lagi". jawabku dengan tertawa kecil.
"kenapa harus nurunin berat badan non? non gak gemuk kok. nanti non sakit kalau terlalu banyak beraktivitas".
"ya ampun bi, badan aku udah kayak bantal guling gini masih di bilang gak gemuk. baju-baju aku udah pada gak muat semuanya bi".
"hahahaha non ada-ada saja, mau gimana pun non tetap keliatan cantik kok". puji bi nina.
"ahh bibi paling bisa deh buat aku senang". jawabku.
sudah hampir sebulan pasca aku melahirkan tapi berat badanku tidak turun juga. awalnya berat badan ku sekitar 53 kg sekarang menjadi 65 kg dan itu membuatku kelihatan pendek dan bulat.
aku berusaha untuk menurunkan berat badan secara alami tanpa harus minum obat tapi tidak kurus juga. walaupun mas bram tidak pernah mempermasalahkan berat badanku tapi sebagai istri aku merasa harus jadi lebih baik buat mas bram.
"apa lagi ya yang harus aku kerjakan untuk membakar kalori ku yang berlebihan ini". aku menatap cermin dan melihat setiap lekuk tubuh ku yang penuh dengan lemak.
bi nina yang menatap ku dari kejauhan langsung datang menghampiri ku.
"non, jangan terlalu memaksakan diri. pelan-pelan aja non, bibi khawatir nanti non kelelahan karena terlalu banyak bekerja". ucap bi nina.
"benar sih apa yang di katakan oleh bi nina, buat apa juga aku memaksakan diri kalau itu akhirnya membuat tubuh ku jadi sakit".
"ohh iya bi, makasih ya bi perhatiannya".
aku duduk di ruang keluarga dengan memainkan ponselku dan menatap semua foto-foto alisya.
tapi tiba-tiba mas bram menelponku dan memintaku untuk mengantar kan berkas meetingnya yang ketinggalan.
"hallo mas, ada apa?".
"sayang, tolong lihatkan berkas yang ada di ruang kerjaku. aku lupa membawanya tadi dan aku ada rapat jam 11:30 nanti".
"ya ampun mas, sering banget deh kamu kelupaan gitu. oke, akan aku antarkan berkasnya".
"gak usah sayang, nanti sekretaris ku yang akan mengambilnya. kamu gak usah repot-repot antarkan, kamu di rumah saja".
"sekretaris?".
"sayang, udah dulu ya aku lagi banyak kerjaan. emmuuahh". mas bram menutup telponnya.
"sekretaris? sejak kapan mas bram punya sekretaris. bukannya selama ini mas bram bilang tidak suka punya sekretaris pribadi di kantor". aku masih merasa penasaran dengan hal itu.
"hmm sudahlah, lebih baik aku lihat dulu di ruang kerja mas bram".
saat aku berjalan menuju ruang kerja mas bram, aku melihat bi nina sedang berbicara dengan seorang wanita muda cantik.
lalu wanita itu terlihat berjalan memasuki ruang kerja mas bram dan aku pergi menghampiri bi nina.
"bi, siapa dia?". tanyaku.
__ADS_1
"ohh itu non rara, dulu sekretaris tuan non. non rara juga anak dari sahabat tuan besar, dia baru kembali dari inggris dan sekarang kerja lagi sebagai sekretaris tuan bram". jawab bi nina.
"kok mas bram gak pernah cerita ya sama aku, bahkan mas bram pernah bilang kalau dia gak suka punya sekretaris di kantor". ucapku.
"mungkin tuan fikir kalau non rara gak akan kembali lagi non, jadi tuan gak cerita ke non".
"bibi dekat sama dia?".
"gak terlalu non, dulu waktu non Grace meninggal. non rara yang bantu tuan jaga non alisya sampai usia 1 tahun, kemudian non rara pergi ke inggris".
"ternyata masih ada hal yang gak aku tahu".
tidak lama kemudian rara keluar dari ruang kerja mas bram dengan membawa beberapa berkas.
"bi, aku sudah mengambil berkasnya bram dan tadi aku sedikit merapikan ruang kerjanya. ternyata bram tidak berubah juga ,masih dengan kebiasaannya". ucap rara dengan senyum.
"ahh iya non". jawab bi nina.
"dia siapa bi? pembantu baru?". tanya rara saat melihatku berdiri di samping bi nina.
"ohh ini non karin, non Karin ini... ". ucapan bi nina terpotong karena rara buru-buru segera pergi.
"sudah ya bi, aku harus segera kembali ke kantor". ucap rara.
"baik non".
selepas rara pergi, bi nina menatapku dengan wajah sedih.
"kenapa bi? aku baik-baik saja". ucapku dengan tersenyum.
"maafkan bibi non, seharusnya bibi tidak membiarkan non rara masuk ke ruang kerja tuan tanpa izin non".
"tidak apa-apa bi. aku juga gak ada hak ngelarang apapun, karena jika aku tidak mengizinkan tapi mas bram sendiri mengizinkannya kan sama aja bi". jawabku dengan nada bercanda.
jujur, hatiku merasa tidak nyaman saat melihat wanita lain masuk sesukanya ke ruang kerja mas bram, meskipun wanita itu sekretarisnya.
"bi, aku ke kamar dulu ya. oh iya bi, gak usah buat makan siang tapi nanti siapkan makan malam untuk mas bram saja".
"non gak makan siang?". tanya bi nina.
"gak bi, aku lagi diet". jawabku.
"baik non".
segera aku kembali ke kamar untuk membersihkan diri dan istirahat.
****
malam hari...
tanpa aku sadari aku tertidur begitu lama, mungkin karena selama ini aku tidak bisa tidur dengan nyenyak.
"hoaamm, sudah jam berapa ini?". aku melihat jam di ponsel ku menunjukkan jam 21 malam.
aku memeriksa ruang kerja mas bram tapi terlihat kosong, bahkan di ruang keluarga ataupun taman tidak terlihat mas bram.
"non ngapain?". ucap bi nina yang tiba-tiba muncul.
"aahhgg ya ampun bi, buat aku terkejut saja". aku mengelus-elus dadaku.
"non cari tuan ya? tuan belum pulang non". jawab bi nina.
"belum pulang? mas bram gak biasanya pulang terlambat. jika dia lembur pasti kabari aku tapi kali ini tidak ada". ucapku sambil memandangi ponselku.
"mungkin tuan tidak sempat ngabari non karena terlalu banyak kerjaan". ucap bi nina agar aku tidak khawatir.
"ohh iya bi. bibi istirahat aja, biar aku yang nunggu mas bram".
"baik non". bi nina langsung kembali ke kamarnya.
sudah jam 21: 30 mas bram juga tak kunjung pulang. aku sudah berusaha berkali-kali untuk menghubunginya tapi tidak bisa.
aku menunggu mas bram hingga akhirnya aku tertidur di sofa ruang keluarga. saat aku tertidur, aku merasa ada seseorang yang menatapku.
aku membuka mataku perlahan dan melihat mas bram di hadapanku.
"kamu tidur di sini sayang, gak pakai selimut lagi". ucap mas bram.
"kenapa sampai larut malam pulangnya?". tanyaku tanpa basa-basi.
"ohh itu, ada proyek yang harus di selesaikan secepatnya sayang. maaf kalau udah buat kamu menunggu". jawab mas bram.
"setidaknya bisa ngabarin aku kan". karena merasa kesal aku bicara sedikit jutek.
"maaf sayang, ponselku kehabisan baterai". jawab mas bram dengan simpelnya.
"oh". aku langsung bergegas beranjak dan pergi ke kamar.
"sayang, maafkan aku.aku salah karena tidak ngabarin kamu dan udah buat kamu khawatir". mas bram berjalan mengikuti ku dari belakang.
"bukan masalah khawatir mas, tapi kamu udah buat aku berfikir buruk tentang kamu".
"sayang, maafin aku ya".
"aku lelah mas, aku tidur duluan". aku langsung naik ke ranjang dan menutupi tubuhku dengan selimut.
"sayang.... hmm baiklah. besok kita bicarakan lagi saat kamu sudah tidak marah lagi ya". mas bram mengecup keningku.
"hampir 5 tahun kita menikah mas, tapi masih ada hal yang tidak aku ketahui bahkan kamu rahasiakan dari ku".
***
pagi hari....
__ADS_1
"pagi bi". ucapku saat melihat bi nina di dapur.
"kok cepat banget bangunnya non".
"iya bi, semalam aku nyenyak banget tidurnya. jadi pagi ini bisa bangun cepat". jawabku.
"mau minum susu non?".
"gak usah bi, aku minun air putih saja".
"non, beneran diet?". tanya bi nina.
"iya bi, ssttt jangan bilang sama mas bram ya bi". bisikku pada bi nina.
"ohh iya non. tapi non mau kemana pakai sepatu gitu?".
"aku mau jogging dulu bi, bibi siapkan aja sarapan untuk mas bram ya. aku pergi dulu bi".
"hati-hati non". teriak bi nina.
akhirnya, aku bisa menghirup udara segar di pagi hari sekian lama. tubuhku terasa fresh dan bertenaga saat melakukan jogging.
sebelum aku menikah, aku selalu rutin melakukan jogging di pagi hari. tapi setelah menikah aku melupakan kebiasan lama ku itu.
sekarag aku memiliki kesempatan untuk melakukan jogging dan aku berharap bisa membawa alisya untuk melakukannya bersama.
"brruukkk". tiba-tiba aku menabrak seseorang.
"aaughh". aku terjatuh dan bokongku terasa sakit.
"apa kamu gak punya mata? nabrak orang seenaknya saja". terdengar suara wanita yang meneriakiku.
"maaf maaf, aku tidak sengaja". aku langsung meminta maaf dan membungkukkan badan ku.
"aaihh, kamu lihat itu kopi ku jadi tumpah semua". wanita itu masih saja terus memarahiku meskipun aku sudah meminta maaf.
"ma.. maaf, aku akan menggantikan kopinya. ayo kita ke caffe sebelah sana". akhirnya aku mengajak wanita itu untuk mengganti kopinya.
"kenapa pagi ini aku sial banget sih, pake nabrak orang segala".
setelah sampai di caffe, aku menawarkan wanita itu untuk memilih kopi yang dia inginkan.
"silakan pilih kopinya, aku yang akan membayarnya". ucapku.
"memang seharusnya begitu". jawab sinis wanita itu.
aku hanya membalas senyuman pada wanita itu, sekilas aku lihat wanita itu seperti kerja kantoran. dia terlihat muda, cantik dan elegan, wajar dia memandang rendah aku karena penampilanku yang seperti ibu-ibu.
"hhuuhh". aku menghela nafas.
"berikan coffe cream maca". ucap wanita itu ada pegawai caffe.
setelah menunggu 10 menit, kopi pesanannya sudah selesai.
"ini coffenya". ucap pegawai caffe.
"ohh iya, berapa mbak?". tanyaku.
"28 ribu bu". jawab pegawai caffe.
"ohh sebentar ya". aku memeriksa kantong baju dan celana tapi aku tidak menemukan sepersen uang.
"kenapa? gak ada uang kamu. belagu sih pake mau ganti segala". ucap wanita yang aku tabrak.
"gawat, bahkan ponselpun aku tidak membawanya".
"maaf mbak, apa boleh pinjam ponsel sebentar. aku ingin menghubungi keluargaku". aku memberanikan diri untuk meminjamnya.
"ohh baiklah". jawab pegawai caffe.
"ini coffenya, silakan di nikmati". aku memberikan coffe pada wanita yang aku tabrak.
"oh". wanita itu langsung pergi setelah menerima coffe.
"hhuh, masih ada juga wanita yang galak seperti dia". ucapku dengan nada pelan.
"ini bu ponselnya". pegawai caffe memberikan ponselnya padaku.
"ohh terima kasih". segera aku menelfon ke rumah.
ttuut... ttutt.. ttutt.....
"bi nina, ayo angakat telfonnya".
"hallo".
"hallo bi, ini aku karin". ucapku.
"non karin? ada apa non? non dimana?". tanya bi nina.
"bi, bisakah datang kemari di caffe dekat taman kota. aku membeli kopi tapi tidak membawa uang". jawabku.
"baiklah non, bibi akan segera kesana". ucap bi nina.
segera aku menutup telpon dan mengembalikan ponselnya ke pegawai caffe.
"terima kasih, tunggu sebentar ya". aku berharap pegawai caffe itu mengerti.
selagi menunggu bi nina datang, aku duduk sendirian di sudut ruangan dengan cemas,berharap bi nina segera datang.
"kenapa hari ini aku ceroboh banget sih,pakai acara gak fokus lagi saat jogging". aku mengusap-usap kepalaku.
berkali-kali mataku menatap ke pintu masuk caffe, tapi bi nina tidak kunjung datang juga.
__ADS_1