
sejak saat berkonsultasi dengan dokter jeff, bahwa aku harus banyak melakukan gerakan sujud agar posisi bayi bisa berputar normal, aku selalu melakukan hal itu setiap pagi dan malam.
aku melakukan itu dengan dukungan penuh dari mas bram yang selalu mengawasi ku dan mas bram tak henti-hentinya dia menyemangati ku agar terus berusaha dan tidak mudah menyerah.
terkadang aku merasa lelah dan malas untuk melakukan gerakan sujud, tapi mas bram terus mendorong ku agar tidak malas.
****
2 bulan kemudian....
"sayang, ayo cepatan". teriak mas bram.
"iya mas sebentar". aku berjalan perlahan-lahan.
semenjak kehamilanku semakin besar, aku kesusahan dalam berjalan ataupun melakukan aktivitas sehari-hari lainnya.
"kamu ya mas, sudah tau istri lagi hamil besar susah jalan, masih juga teriak-teriak suruh aku cepat". aku terus mengomel pada mas bram.
"hehehe maaf sayang". mas bram menghampiri ku dan memeluk.
"alisya udah berangkat sekolah mas".
"sudah sayang, pak Ahmad yang mengantarnya". jawab mas bram.
sudah sangat jarang aku mengurus alisya setiap paginya, karena di usia kehamilan 8 bulan ini setiap pagi aku kesulitan untuk bangun pagi.
"bi, aku pergi dulunya kerumah sakit".ucapku.
"iya non, hati-hati di jalan".
"ayo sayang". mas bram merangkulku.
aku menatap mas bram dengan senyuman, bersyukur memiliki suami yang selalu siaga selama aku hamil. sesibuk apapun mas bram dengan pekerjaannya, dia akan selalu menyediakan waktu untuk ku.
mas bram membukakan pintu mobil untukku dan menuntunku masuk ke dalam mobil.
"pelan-pelan sayang, awas kepalanya terbentur". mas bram melindungi kepalaku dengan tangannya.
perlahan-lahan aku masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi.
"apa nyaman duduknya sayang". ucap mas bram.
"gak mas, apa bisa di mundurkan sedikit kursinya".
"baiklah".mas bram langsung menyetel kursi mobilnya.
"apa sudah cukup sayang".
"iyaa mas sudah". jawabku.
setelah selesai membantuku, mas bram masuk ke dalam mobil dan langsung pergi menuju rumah sakit.
"apa kamu sudah menelpon dokter jeff mas?".
"ohh sudah tadi sayang, dia sudah standby di rumah sakit. sayang, aku mau bicarakan sesuatu". wajah mas bram terlihat serius.
"apa mas?".
"minggu depan aku akan pergi perjalanan bisnis ke amerika sayang, ke perusahaan papa yang baru".
jantungku berdebar-debar mendegar ucapan mas bram.
"perjalanan bisnis? apa harus pergi mas".
"iya sayang, aku sendiri yang harus langsung pergi kesana. cuma seminggu aja kok sayang, aku janji saat kamu melahirkan aku pasti nemani kamu". mas bram menggenggam tanganku.
"selama hamil kamu udah dua kali ninggali aku sendiri mas, saat pertama hamil dan di saat aku ingin melahirkan". aku menundukkan wajahku.
"sayang, jangan sedih gitu. sebenarnya aku juga tidak ingin pergi tapi ini sangat penting".
"iya mas pergilah, pekerjaan kamu sangat penting dan aku tidak berhak melarang kamu. kita pulang saja mas, gak usah kerumah sakit". hatiku merasa sesak dan tidak ingin melakukan apapun.
mas bram meminggirkan mobilnya di tepi jalan.
"kenapa gitu sih sayang, kita udah membuat janji dengan jeff. gak enakkan kalau tiba-tiba di batalkan gitu". ucap mas bram.
"aku sudah gak mood mas mau lakukan apapun". jawabku dengan singkat.
"sayang, kenapa kamu seperti ini sih. aku pergi ke Amerika bukan untuk main-main tapi karena pekerjaan".
"iya aku tau mas karena pekerjaan, makanya aku bilang ya sudah pergilah. karena aku juga gak Mau jadi penghambat dalam pekerjaan kamu".
"kamu... kamu gak pernah menghambat pekerjaanku sayang, kenapa kamu berkata seperti itu. aku bicarakan sekarang karena aku gak mau terlalu mendadak memberitahukan kamu tapi malah membuat kita bertengkar seperti ini". mas bram terlihat menyandar tubuhnya di kursi mobil.
aku terdiam tidak ingin berkata apa-apa lagi, jika aku menjawab ucapan mas bram maka aku akan berakhir dengan menangis.
cukup lama kami saling diam dan tidak bicara satu sama lain dan terlihat suasana hening di antara kami.
"apa kamu beneran gak ingin kerumah sakit?". tanya mas bram.
aku benar-benar diam tidak menjawab apapun.
"karin, setidaknya jawab ucapanku".
"terserah kamu saja". jawabku dengan cuek.
mas bram terlihat menghela nafas dan menjalankan lagi mobilnya. saat tiba di rumah sakit, aku langsung turun dan berjalan masuk tanpa menunggu mas bram.
karena aku masih merasa kesal dan jalan dengan buru-buru, tiba-tiba aku menabrak seseorang dan tangannya mengenai perutku hingga aku terjatuh.
"aaghh". teriakku spontan saja.
semua orang yang melihatku langsung menghampiriku dan menolongku. mas bram yang melihatku jatuh langsung berlari kearah ku.
__ADS_1
"sayang, kamu gak apa-apa. ada yang sakit".mas bram memelukku.
"maaf mbak, aku tidak sengaja menabrak kamu. maafin aku". ucap seseorang yang bertabrakan denganku.
"apa kamu gak punya mata dan lihat ada ibu hamil". mas bram terlihat marah pada orang itu.
"maaf mas, aku gak sengaja". ucap pria itu.
fikiranku kosong dan aku tidak bisa lagi mendengar ucapan orang-orang di sekitar ku semuanya terdengar samar.
aku menahan perut ku yang sakit dan terasa sesak, sesekali aku meringis menahan sakit.
"suster tolong istri saya". teriak mas bram.
"cepetan bantu dia, perutnya pasti sakit". teriak orang-orang yang membantuku.
beberapa petugas kesehatan datang dan membawaku ke ruang IGD untuk melakukan pemeriksaan.
"sayang, kamu akan baik-baik saja. aku akan ada di samping kamu". mas bram terus menggenggam tanganku.
"aghh sakit mas". aku menagis.
"sabar sayang". ucap mas bram.
saat di ruang IGD aku mendapatkan pertolongan pertama untuk menghilangkan rasa sakitnya dan aku mendapatkan beberapa suntikan dari dokter.
"jeff akhirnya kamu datang, tolong periksa kandungannya karin.tadi dia berkata bahwa perutnya sangat sakit". mas bram terlihat gelisah dan khawatir.
"kamu yang tenang ya bram, aku akan melakukan yang terbaik untuk karin". ucap dokter jeff.
"suster tolong siapkan USG". dokter jeff langsung menanganiku.
"baik dok". suster itu datang dengan membawa alat USG.
"apa sudah di periksa semuanya".
"sudah dok, tekanan darahnya 90/70 mmhg, denyut jantungnya 72 x/menit. ada sedikit pendarahan karena benturan dok". jawab suster itu pada dokter jeff.
"apakah masih keluar darahnya?".
"masih dok, kali ini keluar dengan bercampur lendir".
"lakukan pemeriksaan dalam, apakah sudah ada pembukaan". dokter jeff menginfus tangaku.
"gimana?". tanya dokter jeff.
"sudah ada pembukaan 1 dok". jawab suster.
"baiklah, mari kita lakukan USG".
saat dokter jeff dan suster melakukan USG padaku, dia tidak mengatakan apapun. dokter jeff hanya terdiam dan mengamatinya sambil sesekali menganggukkan kepalanya.
mas bram yang berada di sampingku terlihat sangat khawatir, mungkin dia merasakan trauma atau takut terjadi sesuatu padaku. mas bram takut seperti Grace yang pergi ninggali dia saat melahirkan alisya.
"bram, sepertinya karin harus melahirkan bayinya karena kondisinya sudah mengalami pembukaan 1 karena sudah ada kontraksi yang karin rasakan". ucap dokter jeff.
"memang belum waktunya tapi bisa di lahirkan karena sudah ada pembukaan. tapi bayi yang di lahirkan akan prematur".dokter jeff menjelaskan pada mas bram.
"lakukanlah yang terbaik jeff, aku mohon agar karin dan bayinya tetap sehat". ucap mas bram.
"baiklah, sekarang kita akan pindahkan karin ke ruang bersalin dan aku akan memantau perkembangannya".jawab dokter jeff.
dengan segera suster-suster itu membantu ku memindahkan ku keruang bersalin. mas bram yang terus menemani ku tanpa meninggalkanku sedetik pun.
"kalau ada apa-apa segera hubungi kami pak". ucap suster.
"terima kasih suster". jawab mas bram.
mas bram mendekat ke arahku dan duduk di samping tempat tidurku. dia terus menatapku dengan wajah sedih dan khawatir.
"mas, aku baik-baik saja". ucapku.
mas bram menyeka air matanya
"iya sayang aku tahu, bahwa kamu akan baik-baik saja".
"apa kamu mau kabarin ayah dan ibu? biar kita telpon". tanya mas bram.
"iya mas".
segera mas bram mengambil handphonenya dan menelpon ibu.
ttuutt.... ttutt... ttutt....
"hallo".
"hallo ibu, ini bram". jawab mas bram.
"ohh iya bram, ada apa? semuanya baik-baik saja kan".
"aku hanya ingin memberitahukan ibu bahwa karin akan segera melahirkan ".
"apa? kok di percepat, bukannya masih 8 bulan. apa yang terjadi bram?".
"tadi karin terjatuh bu dan perutnya sakit, kata dokter karin sudah mengalami pembukaan awal. tapi dia dalam keadaan baik-baik saja kok buk".
"syukurlah, nanti ibu akan bicarakan dengan ayah dan segera berangkat ke sana untuk melihat karin".
"iya bu, hati-hati dijalan bu dan jangan terburu-buru".
"iya nak". ibu langsung mematikan telponnya.
"ibu pasti khawatir ya mas". tanyaku.
__ADS_1
"iya sayang, dan ibu bilang akan segera datang untuk melihat kamu".
"iya mas. o iya mas, telpon bi nina agar membawa alisya kemari".
"iya sayang, sebentar ya aku telpon bi nina dulu sekalian mau beli makanan dan minuman ".
"iya mas, jangan lama-lama".
"iya sayang". mas bram mengelus kepalaku.
mas bram pergi keluar dan meninggalkan ku sendirian di ruangan. aku terbaring di tempat tidur dengan infus melekat di tanganku. aku mengelus-elus perutku yang sesekali terasa sakit.
"sehat-sehat terus sayang, sebentar lagi kita akan berjumpa". ucapku sambil mengelus perutku.
tidak lama kemudian mas bram datang dengan membawa minuman dan makanan yang ia beli.
"sayang". ucap mas bram saat masuk ke dalam ruangan.
"kok cepet banget mas".
"iya sayang, aku kepikiran kalau begitu ninggalin kamu lama-lama". mas bram meletakkan belanjaan yang ia bawa.
"sudah telepon bi nina mas".tanyaku yang sudah tak sabaran ingin bertemu alisya.
"sudah sayang, tapi tunggu alisya pulang sekolah baru bi nina datang kemari. aku juga sudah menyuruh bi nina membawakan beberapa baju ganti untuk kamu".
"terima kasih mas". aku tersenyum pada mas bram.
"ohh iya sayang, aku juga sudah menelpon mama dan papa. mereka akan terbang hari ini juga".
"ya ampun mas, kenapa tidak nanti saja kalau bayi kita sudah lahir baru kabari mama dan papa". aku merasa tidak enak merepotkan semua orang.
"tidak apa-apa sayang, biar semuanya bisa berkumpul bersama tapi Bayu tidak bisa ikut pulang karena ada beberapa pekerjaan yang gak bisa dia tinggalkan". ucap mas bram.
"iya mas tidak apa-apa, aku tidak ingin merepotkan banyak orang". jawabku.
"tidak ada yang merasa di repotkan oleh kamu sayang. kamu mau makan roti?".
"iya mas". aku perlahan bangun untuk duduk.
"ini aku belikan roti isi sandwich kesukaan kamu".
"wahh terima kasih suamiku". aku memakan roti sandwichnya dengan lahap.
"pelan-pelan makannya sayang, nanti kamu tersedak karena terburu-buru".
"iya mas".
"mas, nanti kalau ayah dan ibu datang, apa boleh nginap di rumah kita?". tanyaku.
"pertanyaan seperti apa sih itu, ya boleh aja sayang. sengaja aku bangun rumah sebesar itu dan kamar banyak di mana-mana, agar keluarga yang kita bisa berkumpul dan bersama sayang. jadi jangan pernah tanyakan hal itu lagi ya".
"terima kasih mas, sudah memperdulikan dengan baik orang tuaku". ucapku.
"iya sayang, mereka juga orang tuaku". jawab mas bram.
mas bram selalu menyayangi keluarganya lebih dari apapun. bahkan orang tuaku pun ia hormati layaknya orang tua kandungnya. aku berharap Bisa belajar dari sikap baik mas bram terhadap orang lain.
"sayang, tadi aku sudah bicarakan pada papa masalah aku yang akan ke amerika, dan papa bilang aku tidak perlu pergi karena harus menjaga kamu".
"lalu gimana dengan masalah perusahaanya mas?". aku merasa bersalah dengan mas bram atas ucapanku padanya.
"jangan khawatir sayang, aku sudah meminta Ryo untuk menggantikan aku". jawab mas bram.
"maafin atas ucapan aku tadi mas".
"bukan salah kamu sayang, bahkan bayi kita juga protes tidak ingin aku pergi, makanya dia ingin lahir lebih cepat". mas bram mengelus perutku.
"bunda... ". alisya datang menjengukku bersama bi nina.
"wahh anak bunda datang".
"bunda sakit". tanya alisya melihat tanganku di infus.
"gak sayang, bunda gak sakit. ini karena adik bayinya mau keluar".
alisya terlihat bahagia mendengar ucapanku
"beneran bunda, hore.... ".
"terus papa gak di peluk?". mas bram memasang wajah cemberut di depan alisya.
"papa". alisya tersenyum lebar dan memeluk mas bram.
"dari tadi papa di cuekin terus". ucap mas bram.
"kamu mas, sama anak sendiri cemburu". aku tersenyum melihat tingkah mas bram.
"non, gimana keadaan non". tanya bi nina.
"aku baik-baik saja bi".
"bibi sangat khawatir saat tuan menceritakan semuanya, bibi takut terjadi apa-apa dengan non". terlihat jelas rasa khawatir di wajah bi nina.
"jangan khawatir bi, dokter sudah menangani ku dengan baik saat aku terjatuh tadi".
"syukurlah non, bibi merasa lega rasanya melihat non baik-baik saja". ucap bi nina.
"oh iya non, ini bibi bawakan bubur untuk makan malam non nanti". bi nina meletakkan buburnya di atas meja.
"terima kasih bi. o iya bi, nanti tolong siapkan kamar tamu untuk orang tuaku ya bi, mereka akan datang".
"iya non".
__ADS_1
aku sangat bersyukur di kelilingi oleh orang-orang baik yang selalu perhatian dan peduli padaku. terutama mas bram, yang selalu mengalah padaku. sekeras apapun aku padanya, dia tidak akan pernah membalasnya dengan cara yang buruk, dia membalasnya dengan rasa sayangnya padaku.
" I Love You Suamiku".