Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 81. All Fell Down


__ADS_3

Nora melangkah tergopoh-gopoh dari kantin kantor menuju lift khusus yang membawanya menuju ruangan Jeanno sekaligus meja kerjanya. Perempuan itu memencet tombol secara brutal. Berharap dengan begitu lift akan meroket dan membawanya ke lantai tujuan dalam hitungan detik.


“Ayolah, ayolah”


Nora menggigit kuku, kebiasaannya jika sedang gugup. Ia sadar mau sekeras apapun mengomel atau memencet tombol lift, benda itu akan bergerak dengan kecepatan normal. Maka dari itu, yang ia lakukan hanya diam bersandar, sekaligus berdoa. Berdoa semoga Mark dalam keadaan selamat.


Ya, beberapa menit lalu ketika sedang makan siang bersama rekan-rekannya. Kemudian Adeline, sekretaris Mark mendapatkan telpon dari Nyonya Maria bahwa putranya kecelakaan tunggal di tol. Sepertinya cukup parah karena Mark langsung dirujuk ke Rumah Sakit Pelita yang berjarak lumayan jauh dari tempat kecelakaannya. Mendengar berita itu, sontak saja Nora meninggalkan makan siangnya untuk berlari menuju ruangan Jeanno guna memberitahu bosnya. Bisa saja Nora memberitahu melalui telpon, namun sang atasan sudah mewanti-wantinya untuk tidak menelponnya selain urusan pekerjaan. Lagipula menurutnya tidak etis jika memberikan kabar buruk melalui telpon.


Ding!


Pintu lift terbuka, Nora mengambil langkah panjang menuju pintu hitam yang berjarak beberapa meter dari lift. Tanpa perlu repot mengetok seperti biasa, Nora merelakan dirinya mendapatkan amarah Jeanno, yang penting ia sudah menyampaikan informasi buruk ini.


“Ck, dimana sopan santu—“


“Maaf Tuan, tapi saya kemari untuk memberikan kabar bahwa Tuan Mark kecelakaan”


“APA?!”


**


Johnny membuang ponsel di tangannya usai memastikan bahwa pesan yang ia kirim telah sampai dan dibaca oleh sang penerima. Pria jangkung itu meraih ponselnya yang lain, membaca pesan dari sang bos bahwa ia telah sampai di kota Hannah. Johnny menyimpan benda itu, tanpa perlu repot membalasnya. Karena sesungguhnya, ia telah lelah mengikuti permainan Louis.


Johnny merebahkan tubuhnya ke sofa, meraih remote untuk melihat ada berita apa hari itu. Mungkin informasi yang disampaikan di televisi lebih berfaedah dibanding meladeni obsesi bosnya memiliki salah satu penari yang jelas-jelas sudah memiliki kekasih.


“Breaking News. Telah terjadi kecelakaan tunggal di Tol kota XXX, mobil Pajero Sport yang dikendarai oleh pria berinisial MS diketahui menabrak beton pembatas jalan hingga mobil terlempar beberapa meter. Belum diketahui bagaimana kondisi MS, namun dikabarkan korban tengah kritis dan sedang dirujuk ke Rumah Sakit yang lebih besar”


MS. Mark Sebastian. Johnny mengenali mobil Mark yang kebetulan pada layar televisi itu menyorot plat nomornya. Kamera tak menyorot tubuh Mark, tentu saja. Namun Johnny bisa melihat ada bekas darah pada jalanan dan badan mobil yang sudah tak berbentuk. Pria itu menggeleng, meraih remote untuk mematikan televisi.


Louis pasti belum tau, pikirnya. Pria bermata biru itu seakan mendapatkan jackpot hari ini. Mencuri start ke rumah Hannah, menyabotase dengan mengirim foto-foto Hannah yang cukup vulgar, ditambah bonus kecelakaan Mark. Johnny tidak mau menyumpahi, namun dilihat dari seberapa berat kondisi kerusakan mobil Mark, kesempatan pria itu untuk bertahan kecil. Jikalau pun selamat, akan butuh waktu lama untuk pemulihan. Secara tidak langsung memperlancar jalan Louis untuk merebut Hannah.


“Persetan. Aku sudah tidak ingin ikut campur lagi dengan drama ini”


**


Tubuh Mark sudah sampai ke Rumah Sakit Pelita, yang langsung ditangani oleh dokter-dokter ahli disana. Jose, Maria dan Jeanno juga sudah disana. Maria yang menangis di pelukan Jeanno, sementara Jose yang diam mematung. Sibuk mendoakan keselamatan sang putra.


Menurut penjelasan dokter, kecelakaan yang dialami Mark cukup fatal. Ada beberapa tulang yang patah, juga pendarahan di kepala dan bagian perut. Dokter harus mengambil langkah cepat untuk melakukan operasi demi keselamatan Mark. Operasi baru dimulai satu jam, entah berakhir sampai jam berapa. Jose, Maria dan Jeanno hanya bisa berdoa dan berharap masa kritis Mark segera berlalu.


“Mark pasti berhasil melewatinya, Ibu. Dia pemuda yang kuat.. dia pasti bisa”


Entah untuk keberapa kali Jeanno mengucapkan kalimat tersebut guna menenangkan Maria. Sesungguhnya, kalimat itu ia tujukan untuk dirinya sendiri juga. Melihat bagaimana parah mobil dan luka Mark, Jeanno sedikit pesimis. Sungguh, ia berharap ada keajaiban yang membuat Mark bisa selamat. Sudah cukup ia kehilangan Nayara. Tidak dengan Mark. Tuhan, tolong selamatkan Mark.


Oh, ketakutan Jeanno akan rumah sakit masih sama besarnya. Bahkan semakin bertambah parah melihat kondisi sekarang, duduk di depan ruang operasi, seperti digantung akan nasib pasien di dalam sana. Entah selamat, atau tidak. Pria itu sudah berkeringat dingin, dan jantungnya berdetak tak karuan. Tapi ia sadar kondisinya saat ini tidak sebanding dengan perjuangan Mark di ruang operasi. Oleh karena itu, Jeanno mengabaikan phobianya, demi menemani Paman dan menguatkan Bibinya, serta mendoakan Mark disana.


“Tadi pagi dia baik-baik saja, Jean.. Dia bahkan sangat bahagia”


Jeanno mempererat pelukannya ketika merasakan tangis Maria semakin keras. Detik berikutnya tubuh wanita itu memberat. Maria hilang kesadaran di dekapannya.

__ADS_1


**


“Aku masih di Rumah Sakit. Operasi sudah berlalu hampir dua jam tapi belum ada tanda-tanda selesai. nanti malam kau dan Aera bisa langsung tidur, jangan menungguku”


Jeanno melirik kearah Maria yang masih terbaring di ruang rawat. Jose memintanya untuk menemani Maria saja sementara dirinya yang menunggu operasi Mark hingga selesai. Jeanno menyetujui, karena bagaimanapun Maria juga membutuhkan teman.


“Astaga.. aku berharap semoga Kak Mark baik-baik saja. Aku akan mendoakannya dari sini”


Jeanno mengangguk, sekalipun Judith tidak bisa melihatnya karena percakapan mereka melalui telpon. “Ya, teruslah berdoa. Ajak Aera juga untuk berdoa”


“Tuan?”


“Ya?”


“Bagaimana dengan phobia Tuan?”


Jeanno meremat ponselnya. Disaat seperti ini Judith masih mencemaskannya. Fakta yang membuat hatinya sedikit lebih tenang. “Aku akan egois juga mementingkan hal itu, Judith”


“Aera. Jika respon tubuh Tuan semakin buruk karena terlalu lama berada di Rumah Sakit, pejamkan saja mata Tuan dan pikirkan Aera. Aku tidak tau apakah ada pengaruhnya atau tidak, tapi semoga itu membantu”


“Ya, akan kucoba nanti”


“Kabari aku jika ada perkembangan mengenai kak Mark”


“Iya, akan kulakukan begitu operasinya selesai. Oh iya, Judith”


“Tolong kabari Hannah mengenai kecelakaan yang menimpa Mark”


**


“Ibu tidak bisa menerima lamarannya begitu saja, dia bukan kekasihku, Bu!”


Sang Ibunda memandang Hannah tak mengerti. Usai menerima tamu dari pria yang mengaku sebagai kekasih anaknya dan menerima lamarannya tanpa pikir panjang, Hannah justru menariknya masuk kedalam kamar untuk bicara empat mata.


“Apa yang kau bicarakan, Nak? Bukankah dia pria yang kau ceritakan?”


Hannah menggeleng panik. Kepalanya berdenyut nyeri menyadari skenario mendadak yang tak pernah ia duga. “Bukan, Ibu. Nama kekasihku Mark. Bukan Louis!”


“Tapi dia bilang dia kekasihmu, Hannah. Dia juga mengatakan kalau dialah yang meminjamkan uang padamu untuk menutupi hutang Ayah”


Hannah menoleh terkejut. “Dia bilang begitu?”


“Ya, bukankah itu benar?” Hannah tak memiliki pilihan lain selain mengangguk lirih. Karena memang pada kenyataannya yang dikatakan Louis benar, toh?


“Dengar, sayang. Pria itu terlihat baik dan sangat menyayangimu. Dia juga tidak segan meminjamkan uang dengan nominal yang tidak sedikit untuk membantumu keluar dari kesulitan. Sementara kekasihmu sendiri? Dimana dia disaat kau sedang kebingungan terjerat hutang. Jika Ibu bisa memilih, maka Ibu akan memilih Nak Louis sebagai menantu Ibu”


Seperti tak habis keterkejutannya, Hannah terpaku melihat ucapan yang tak ia sangka keluar dari mulut ibundanya.

__ADS_1


“Ibu.. menyuruhku menerimanya atas dasar.. balas budi?”


“Ibu hanya memintamu untuk realistis, sayang. Kau tidak bisa hidup dengan cinta saja. Kau lihat apa yang terjadi pada Ibu yang terlalu percaya pada Ayahmu? Dia pergi hanya dengan meninggalkan hutang yang tiada putusnya, Hannah. Ibu tidak ingin kau berakhir seperti Ibu disini”


Hannah mundur, melihat bagaimana wanita di hadapannya yang nampak berbeda dengan sosok ‘Ibu’ yang ia kenal selama ini.


“Tidak. Jangan samakan aku dengan Ibu. Jangan samakan Mark dengan Ayah. Mark seribu kali lebih baik dari Ayah. Dan asal Ibu tau, pria diluar sana pernah berusaha melecehkanku ketika aku menari untuknya!”


“Menari?”


Satu kesalahan yang sering terjadi apabila membuka mulut disaat emosi sedang berada di puncak. Yakni membeberkan fakta yang selama ini Hannah sembunyikan.


“Menari apa, Hannah? Kenapa kau harus menari untuknya?”


Belum sempat Hannah menjawab, pintu kamarnya sudah lebih dulu diketuk. Karena putrinya tak kunjung membukakan pintu, maka Ibu-lah yang bergerak untuk melihat siapa gerangan yang mengetuk. Rupanya Louis, yang sepertinya mendengar pergulatan argumen antara Ibu dan Anak yang terdengar sampai ruang tamu, akibat tak adanya ruangan kedap suara.


“Maaf jika kedatanganku mendadak dan mengejutkan kalian. Tapi aku hendak meluruskan sesuatu yang sepertinya tidak bisa dikatakan oleh Hannah. Jadi, Ibu, sepertinya Ibu telah dibohongi oleh putri kesayangan Ibu. Katakan padaku, apa pekerjaan Hannah di Kota yang Ibu ketahui?”


Sang Ibunda menoleh kearah Hannah yang masih terpaku di tempatnya. “Pelayan restoran. Hannah mengaku bekerja sebagai pelayan restoran”


Louis tersenyum sembari menggelengkan kepala. “Pernah Ibu berpikir, bagaimana mungkin seorang pelayan restoran dengan gaji yang tak seberapa mampu mengirimkan uang bulanan dengan nominal yang lumayan banyak setiap bulannya?”


“Ibu, pekerjaan Hannah yang sebenarnya adalah… penari di barku. Aku pemilik klub malam, dan Hannah adalah salah satu penari disana. Aku tidak berbohong ketika aku mengatakan aku tertarik pada putri Ibu. Itulah mengapa aku tidak ragu meminjamkan uangku untuknya. Ibu, sesunggunya aku tidak mempermasalahkan uangku. Tapi.. aku kesini karena aku merasa bertanggungjawab”


“Bertanggungjawab?”


Louis mengangguk. “Aku merasa bersalah karena menjadi lelaki pertama yang mengambil kegadisan putri Ibu. Hannah sempat hamil, tapi karena dia tidak menerima kalau akulah Ayah dari bayinya, dia memutuskan untuk menggugurkannya. Aku dihantui oleh rasa bersalah sejak saat itu, jadi bermodal nekat, aku memutuskan untuk kemari dan menemui Ibu. Karena kurasa hanya ini cara satu-satunya untukku bertanggungjawab menikahinya”


Serta merta Hannah terbangun dari keterpakuannya, dan melangkah menuju Louis. Menampar pipi bosnya dengan keras. Hingga membuat Ibu dan Helga memekik kaget.


“Jaga bicaramu! Skenario buruk apa yang telah kau siapkan untuk menghancurkanku!”


“Hannah! jaga sopan santumu!”


Hannah berlutut dihadapan Ibunya, memohon dengan suara bergetar. “Aku bersumpah bahwa yang ia katakan tidak benar, Ibu. Jangankan hamil anaknya, bercinta dengannya saja tidak pernah. Ibu harus percaya padaku”


“Hannah sayang, apakah aku harus mengeluarkan bukti lain untuk membuat Ibumu percaya padaku?”


Louis tidak butuh persetujuan Hannah ketika ia meraih amplop coklat dari saku jaketnya. Yang ia serahkan kepada Ibunda Hannah, kemudian foto-foto vulgar Hannah yang tanpa busana berdiri dihadapan Louis. Ibunda Hannah yang masih terkejut, kemudian membuka amplop coklat tersebut. Berisi surat berkop salah satu nama Rumah Sakit. Yang disitu tertulis nama Hannah disana, dan keterangan bahwa tengah berbadan dua.


“Hannah…”


Hannah mendongak, melihat Ibunya nampak syok membaca entah apa pada lembaran putih itu. Ia lantas berdiri, merebut surat di tangan sang Ibu. Ketika Hannah bersiap menampar Louis lagi, tangannya sudah lebih dulu dicegah oleh Ibunya, dan yang membuat Helga memekik untuk kedua kalinya, adalah melihat Hannah sang kakak ditampar keras oleh Ibunya yang terkenal lembut dan penyayang.


“Kau benar-benar membuat Ibu malu, Hannah! Ibu tidak mau tau, kau tidak ada pilihan lain selain menikahi tuan Louis! Atau berita kematian Ibu yang akan kau dengar”


**

__ADS_1


__ADS_2