Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 151. Let Her Go


__ADS_3

Mark menunggu. Menunggu Jeanno hingga lembaran terakhir. Ia harus memastikan sang sepupu memeriksa keseluruhan isi amplop itu tanpa ada yang terlewat. Tanpa ada rahasia yang disembunyikan lagi. Pahit getirnya rahasia kembar A, harus Jeanno ketahui.


Jeanno memasukkan kembali lembaran file yang telah ia baca kedalam tempatnya semula. Tak ada yang diucapkan dari bibir pria itu. Ekspresinya pun tak mampu terbaca, antara menerima, atau malah tetap pada penyangkalan?


“Ada hal lain yang perlu kau ketahui”


Jeanno menatap Mark, ada kejutan apa lagi?


Mark menghela nafas, dalam hati meminta maaf kepada Judith karena telah mengeruk kisah hidupnya begitu dalam, bahkan si empunyapun tidak tahu bahwa dirinya memiliki saudari kembar.


“Kau masih ingat Ethan?”


Lawan bicaranya mengangguk kaku. Ia masih ingat pemuda geng motor yang sempat mengganggu Nayara beberapa tahun lalu. Untunglah obsesi Ethan terhadap Nayara tak berlangsung lama, karena pria itu sudah tak terdengar kabarnya hingga sekarang.


Seperti air mengalir, Mark menceritakan dengan lengkap bagaimana obsesi Ethan yang berdampak kepada Judith karena kemiripan wajahnya dengan Nayara. Nayara yang kala itu memang sengaja ‘disembunyikan’ oleh Jeanno supaya tidak ada bahaya yang menghampiri, justru malah menjadi petaka bagi Judith. Menghancurkan hidup si gadis yang sebelumnya sudah retak. Pelecehan yang menjadi cikal bakal terjunnya Judith kedalam dunia malam.


“Kita harus penjarakan Ethan. Pastikan dia membusuk di penjara”


Mark menggeleng. Lantas mengeluarkan ponsel yang menampilkan potongan artikel keluaran empat tahun yang lalu. “Terlambat. Empat tahun lalu, polisi melakukan penggrebekan pesta narkoba dan prostitusi. Sebagian dari mereka tertangkap, tapi pemimpinnya, yaitu Ethan sendiri, mencoba kabur. Sampai polisi terpaksa menembak kakinya. Dan masih tetap memiliki nyali untuk melawan bahkan mengeluarkan pistol yang ia simpan dari balik pakaiannya, menodongkan kearah polisi. Tapi aparat jauh lebih cepat melumpuhkan Ethan sebelum tembakan pria itu melukai mereka”


“Dia tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit”


“Sejak pemimpin mereka tewas, geng motornya seperti menghilang begitu saja. Entah bubar, atau menjauhi radar polisi. Yang jelas tempat yang menjadi markas mereka, kini sudah tak lagi ramai seperti dulu”


Menjeda beberapa saat untuk memberi kesempatan Jeanno bicara, walau sampai detik ini sang Alexander masih bungkam. Mark kemudian menyambung. “Apapun rencana jahatmu sekarang, kumohon.. hentikan Jeanno. Jika kau tidak mau melakukannya demi Judith, lakukanlah demi Nayara. Bagaimanapun mereka adalah saudara sedarah. Jika kau menyakiti Judith, aku yakin Nayara juga tidak senang disana”


“Jangan bawa Nayara…”


Mark tidak peduli, tetap ia lanjutkan. “Judith sudah menderita bahkan sejak lahir Jeanno. Mereka, Alana dan Aleta sudah menerima cobaan berat dengan lahir dari pasangan gila Maharani dan Johan. Hanya saja, setidaknya Alana memiliki sedikit keberuntungan, ia memang jauh dari orangtua kandungnya, tapi di panti, dia mendapatkan kehangatan layaknya keluarga juga pendidikan yang mumpuni. Belum lagi dia memilikimu dan Aera”


“Tapi Judith, dia tidak memiliki apa-apa dan siapa-siapa, Jeanno. Kumohon, dengan segenap kerendahan hatiku, kumohon lepaskan Judith. Maafkan ia untuk segala kesalahan yang ia perbuat secara sadar maupun tidak. Aku berkenan melunasi sisa hutangnya berapapun itu. Tapi.. jika kau tetap pada rencanamu diawal, maka aku jamin kita akan menjadi lawan di pengadilan. Kau tidak hanya melawan Judih, tapi juga aku, Hannah, orangtuaku, Nora dan.. Aera. Kami semua berada dipihak Judith”


“Kuharap kau bersedia mengalah untuk kali ini saja, Jeanno”

__ADS_1


Menyudahi pembicaraan searahnya, Mark berbalik memilih untuk undur diri dan memberikan waktu bagi Jeanno untuk berpikir. Ia masih berharap adanya setitik belas kasih yang tersisa dalam hati sang tuan muda.


**


“Judith kemana?”


Hannah mematikan kran ketika telah dirasa volume air dan suhu sudah cukup mengisi bathtub. Dipandangnya sang suami yang tengah melepas kemeja kerjanya, menyisakan kaos polos putih yang membalut dada bidangnya. Hannah mendekat, meraih kemeja Mark untuk dibawa ke ruang laundry nanti.


“Dia kembali ke apartemen tadi sore. Tadinya aku sarankan untuk kembali besok saja diantar kau sekalian berangkat ke kantor. Tapi dia tetap bersikeras untuk pulang hari ini. Dia juga bilang mau berpamitan dan mengucapkan terimakasih lewat pesan. Apa sudah sampai pesannya?”


Mark meraih ponsel, benar kata Hannah. Ada satu pesan masuk dari Judith yang isinya ucapan terimakasih karena telah menampungnya beberapa minggu terakhir. Mark membiarkan pesan itu tanpa ia balas, mungkin besok dirinya akan menemui Judith secara langsung. Sekaligus memberitahu pelan-pelan mengenai ia dan Alana.


“Sudah. Mungkin besok aku akan menemuinya, ada yang ingin kubicarakan juga. Kau mau ikut?”


Hannah mengangguk. “Boleh”


Sepasang suami istri itu saling berbagi senyum. Mark membawa kepalanya mengecup kening Hannah. “Omong-omong, bagaimana kabar si kecil? tidak mual kan?”


Menggeleng sembari mengulum senyum. Hannah membawa telapak tangan suaminya keatas perutnya. “Tidak. Dia berkelakuan baik sekali. Sejak kemarin aku sudah tidak mual maupun sensitif dengan bau. Aku juga sudah makan dengan lahap”


“Tidak, aku hanya sedang berpikir. Tadi aku bertemu dengan Jeanno. Aku memberitahunya banyak hal mengenai Judith dan keluarganya, yang mungkin bisa membantu kita untuk tidak melanjutkan masalah ini ke jalur hukum. Tapi aku tidak menceritakan padanya kalau Judith sempat hamil anaknya dan keguguran”


“Jangan”


“Ya?”


Ekspresi wanita yang biasanya lembut dan penuh keramahan, kini terlihat keras dan penuh pendirian. “Jangan katakan itu kepada sepupumu. Aku tidak mau Jeanno masuk lagi kedalam hidup Judith. Biarkan sahabatku hidup tanpa adanya bayang-bayang Jeanno yang sudah membuatnya menderita”


“Sayang…”


“Kumohon, Mark. Jangan biarkan Jeanno tau, ya?”


**

__ADS_1


Sepasang kaki jenjang itu dibawa menyusuri tapak demi tapak kompleks pemakaman elite. Tak diindahkan gerimis yang mengguyur bumi sejak pagi tadi. Tak ia pedulikan tetesan air yang membasahi setelan mahalnya. Ia hanya butuh bersimpuh dipusara yang terkasih. Memanjatkan doa semoga disana ia baik-baik saja dan tenang disisi Tuhan.


Berhenti pada satu pusara yang bertuliskan nama perempuan yang sangat ia cintai. Jeanno berjongkok, meletakkan buket bunga kesukaan Nayara disana. Diusapnya ukiran nama pada batu nisan, seolah mengusap surai wanita yang telah terbaring dibawah sana.


“Hai.. maaf aku baru sempat kemari”


“Nana.. apakah aku sejahat itu? Kau pasti sudah tahu perbuatanku disini. Aku menyakiti adikmu, bahkan jika Judith bukan adikmu, aku tetaplah menyakiti hati perempuan yang begitu tulus pada keluarga kita. Kau pasti… kecewa padaku, ya?”


Jeanno tersenyum sendu. “Maafkan aku, Na. Ironis, ya? ketika aku begitu membenci sosok ayahku, yang padahal tanpa sadar aku berubah menjadi mirip dengannya. Atau bahkan lebih jahat? Setidaknya papa tidak mempermainkan mama. Sementara aku? aku mematahkan hati Judith, melecehkannya, dan membuangnya seolah dia hanya sampah. Aku… sungguh, aku malu sekali”


“Aku bahkan kehilangan Mark. Satu-satunya yang berada disisiku bahkan dititik terendahku selain kau. Aku yang begitu dibutakan oleh dendam yang tak berdasar, membuatku kehilangan orang-orang yang berharga. Bahkan Aera terlihat berbeda, dia menjadi pendiam dan tidak sering berbagi cerita denganku. Semua salahku, Na…”


Bumi yang menangis, menemani aliran airmata yang terlihat samar menuruni pipi Jeanno. Semalaman sejak Mark pergi, ia tak bisa tidur. Lelapnya hanya berlangsung satu jam, disana ia bermimpi bertemu dengan Nayara yang memandangnya sedih. Tanpa patah kata yang terucap, hadirnya Nayara lama kelamaan memudar, memberikan salam perpisahan berupa tetesan airmata yang entah apa artinya. Kemudian menghilang.


Jeanno biarkan dirinya berada di makam Nayara entah berapa lama. Mencurahkan segala kesah yang menaungi batinnya. Percakapan searah yang tetap memuaskan kebutuhannya. Pikirannya sedikit ringan, walau ia belum sepenuhnya tenang. Hingga detik berikutnya Jeanno baru menyadari, ada bekas taburan bunga kering diatas hijau rumput pusara Nayara. Siapa yang berkunjung? Karena Jeanno tidak pernah menaburkan bunga, ia selalu membawa buket.


Dilanda rasa penasaran, usai ‘berpamitan’ dengan Nayara, Jeanno lantas bangkit menuju pos keamanan yang berada di pintu masuk pemakaman.


“Permisi”


Seorang security berkumis lebat yang sedang meniup kopi, sontak langsung bangkit dan menunduk penuh hormat. “Oh, selamat pagi menjelang siang, tuan Alex”


“Ya. Maaf, ada yang ingin saya tanyakan”


“Ada apa, tuan?”


“Apa ada pengunjung yang berziarah ke makan Nayara selain saya sendiri?”


Petugas keamanan dengan name-tag Agus itu mengangguk tanpa perlu berpikir. “Setiap bulan ada perempuan yang datang membawa bunga. Dia selalu kemari dan bersimpuh hampir satu jam”


“Anda tau siapa namanya?”


Pak Agus mengangguk, dibukanya buku daftar pengunjung yang memang wajib diisi oleh siapapun peziarah yang datang. Buku pengunjung yang jarang terisi, namun secara intens penuh akan nama satu orang yang sama.

__ADS_1


Aleta.


**


__ADS_2