Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 175. Consideration


__ADS_3

Proses memasak yang dramatis itu berakhir jauh lebih lama jika Judith memasak sendiri. Karena ternyata sang tuan muda sempat terkena minyak panas sehingga harus diobati lukanya. Kemudian drama lain seperti ikan yang gosong, nasi yang ternyata belum matang sempurna akibat rice cooker yang belum disambungkan ke aliran listrik. Tapi satupun dari hal diatas tidak membuat Jeanno dan Judith kesal, justru keduanya tertawa. Tawa lepas yang hampir tak pernah mereka lakukan ketika bersama. Hal itu yang membuat kehangatan tak hanya menjadi atmosfir apartemen kecil milik Judith, tapi juga menaungi perasaan dua jiwa tersebut.


“Mama, Aera ingin sekali mengajak mama kesini. Banyak yang mau Aera tunjukkan. Mama mau kan datang kesini? Tinggal bersama Aera lagi?”


Judith memandang Jeanno yang membelakangi ponsel. Pria itu hanya tersenyum simpul, tanpa memberi sinyal apakah Judith harus mengiyakan atau menolak. Seakan memberikan penjelasan bahwa Judithlah yang harus memutuskan sendiri mau menjawab apa.


“E-eum.. mama mau tinggal dengan Aera lagi. Tapi tidak sekarang ya, sayang? Toko kue mama belum bisa ditinggal”


“Tidak apa-apa, mama. Yang penting Aera tidak kehilangan mama lagi”




“Mama, sudah dulu ya, Aera harus belajar lagi. Selamat malam mama, Aera sayang mama”*



Sambungan telpon terputus usai Judith merespon ucapan Aera dengan kalimat yang sama. Ia kembalikan ponsel tersebut kepada Jeanno.


“Jadi, bagaimana?”


Judith mengangkat wajahnya. “Apanya?”


“Tawaranku. Ah, bukan. Mengenai pernyataan cintaku semalam, dan keinginanku untukmu bisa kembali pada kami”


Tidak langsung menjawab, Judith lebih memilih membuang pandangan. Rasanya tak sanggup jika harus menyelami netra elang itu. Jarinya yang berada dibawah memilin ujung pakaian, bimbang melanda. Ia ingin, sungguh, ingin kembali memulai dari awal tanpa adanya hitam diatas putih. Ia ingin memulai dengan menjadi dirinya sendiri, tidak dengan embel-embel Nayara. Tapi Judith terlalu takut. Banyak hal yang ia takutkan yang rasanya menahan langkah kakinya untuk kembali pada keluarga Jeanno.


“Aku.. tidak tahu, tuan”


“Jika kau ragu apakah aku mencintaimu karena kau mirip dengan Nayara, maka aku berani menjawab.. tidak. Awalnya memang kupikir demikian, tapi tidak, Judith. Aku sadar sepenuhnya bahwa yang kucintai sekarang adalah kau. Bukan karena kau mirip dengan Nayara, tapi karena kau adalah.. kau. Aku akan mengakui kepada publik bahwa Nayara sudah meninggal, dan kau adalah Judith. Aku tidak peduli apa yang kukorbankan jika publik mengetahuinya, tapi aku tidak ingin kehilanganmu lagi”


Judith menggeleng. “Bukan, tidak hanya itu, tuan”


“Lalu?”


“Aku.. aku takut. Pasti kedepannya tidak akan mudah, kan? Bagaimana dengan orangtua tuan? Tuan, jika mereka saja tidak menerima Nayara yang jelas-jelas mahasiswi berprestasi, apa yang membuat tuan berpikir mereka akan menerimaku? Mantan penari erotis yang juga wanita sewaan?”


Jeanno mematung. Dari sekian banyak skenario yang terbesit, sama sekali tak ada seperti apa yang baru diucapkan Judith.

__ADS_1


“Jika orangtua tuan menentang, apa tuan akan berontak seperti dulu? Atau tuan menyerah dan melepasku? Aku mencintaimu, tuan. Aku menyayangi Aera. Tapi itu saja tidak cukup. Kau baru saja berdamai dengan orangtuamu, aku tidak mau harus ada lagi drama keluarga selanjutnya. Tuan tidak perlu cemas, aku bisa tetap menjadi ibu pengganti untuk Aera kapanpun Aera membutuhkanku”


“Jika tuan begitu menginginkanku kembali karena rasa bersalah, tuan tidak perlu cemas. Walau terkadang mimpi buruk itu datang, tapi aku sudah mulai bisa menata hidupmu kembali. Aku sudah berdamai dengan masa laluku dan memaafkan diriku sendiri. Semoga itu bisa membantu mengurangi rasa bersalah tuan”


Rahang Jeanno mengeras. “Bukankah kau terlalu cepat menarik kesimpulan?”


“Ya?”


“Mengenai kedua orangtuaku, apa yang terjadi pada kami 9 tahun yang lalu adalah potret ketika aku masih di usia muda. Begitupun orangtuaku yang termakan oleh ***** bengek nama baik dan citra perusahaan. Aku mau memperjuangkanmu seperti aku perjuangkan Nayara dulu, aku akan bicara pada orangtuaku tanpa harus berontak seperti dulu. Tapi kau bahkan sudah mengasumsikan penolakan sebelum aku berusaha”


“Lalu mengenai ibu pengganti, kau berkata seolah-olah aku memintamu kembali hanya karena Aera. Benar, memang benar aku menginginkanmu menjadi ibu Aera. Tapi aku juga menginginkanmu untuk diriku sendiri. Kau tau? sejak kau pergi, aku selalu tidur di kamarmu. Menciumi aroma yang masih tertinggal disprei. Aroma yang mampu membuat tidurku nyenyak. Aku menahan diriku sendiri untuk tidak menyusulmu dan merusak pelarianmu. Aku yang memutuskan untuk pergi jauh dari ibu kota karena aku yang hampir gila tidak bisa memilikimu!”


Jeanno mengusak rambutnya ke belakang. Senyumnya berubah sinis dengan pancaran sendu pada netranya. “Aku tidak bisa melepaskanmu pergi, lagi”


“Kita saling mencintai. Jika kita bahagia hidup bersama, kenapa kau memutuskan untuk berhenti sebelum mau kuajak berlari?”


“Tuan..”


Jeanno bangkit, meraih jaketnya yang menggantung dan memakai sepatu. “Sudah malam. Kau harus istirahat yang cukup. Besok adalah hari terakhirku disini, Senin aku kembali ke ibukota”


Jeanno berbalik. Menepuk puncak kepala Judith. “Rabu aku akan kembali ke Jepang. Jika kau berubah pikiran, beritahu aku sebelum hari Rabu”


Memutuskan untuk pergi tidur karena kepalanya pening, Judith mengabaikan ponselnya yang bergetar sedari tadi. Menunjukkan nama Owen pada layar pipih itu.


**


“Terserah padamu, sayang. Ikuti saja apa kata hatimu. Walau aku masih kesal terhadap Jeanno, tapi terkadang aku kasihan padanya. Dari cerita Mark sudah jelas sekali dia juga sama menderitanya”



*


Judith menghela nafas. Menangis hingga terlelap membuat kepalanya berdenyut ketika bangun. Sedikit terkejut melihat ponselnya dibanjiri pemberitahuan dari sang kekasih. Normalnya ia akan menelpon balik, menanyakan kabar Owen sekaligus memberikan penjelasan mengapa ia tidak mengangkat telpon. Tapi yang dilakukan Judith justru sebaliknya, ia mengabaikan pesan dan panggilan Owen. Dan lebih memilih menelpon Hannah. Mencurahkan segalanya pada sang karib.



“Aku juga tidak tau apa mauku, Hannah. Aku menyukai setiap detik yang kuhabiskan bersamanya. Kau tau kan dia cinta pertamaku, akupun masih memiliki perasaan yang sama sampai detik ini. Tapi bersama Jeanno tidak sesederhana itu. Keluarganya tidak seperti keluarga Mark yang menerimamu dengan hangat. Jika dipaksakan, aku tidak ingin merusak hubungan keluarga yang baru saja kembali terjalin. Sekarang apalah artinya Aera memiliki mama dibanding ia kehilangan kakek dan neneknya lagi? Begitu pula dengan Jeanno”


Terdengar Hannah yang berteriak memanggil nama putranya sejenak. “Maaf, Hazel tadi berlari tanpa melihat arah. Nyaris menabrak pintu”

__ADS_1


Judith terkekeh.


“Menurutku.. kau terlalu pesimis. Memang sih keluarga Alexander terkesan lebih arogan. Tapi sayang, yang terjadi pada Jeanno dan Nayara adalah kejadian bertahun-tahun lalu. Pikiran dan perasaan manusia saja bisa berubah setiap detiknya. Bagaimana dengan tahun? kau berhak takut, tapi kau tidak berhak menilai buruk orangtua Jeanno bahkan sebelum mereka mengetahui hubungan putranya denganmu”


“Mungkin saja mereka sudah berubah? Siapa yang tau, kan? Kau dan Jeanno sama saja. Sama-sama merasa tersiksa jika jauh satu sama lain. Tapi ketika bersama, mengumpulkan segala pikiran negatif untuk mendorong satu sama lain pergi. Satunya dihantui rasa bersalah, merasa tidak pantas memiliki karena sudah terlalu banyak menyakiti. Satunya lagi merasa tidak pantas, karena masa lalu yang kotor dan pendidikan yang minim”


“Kuberitahu, sayang. Kau berhak bahagia. Jeanno juga berhak bahagia”



*


“Lalu bagaimana dengan Owen?”



Satu hembusan nafas kasar terdengar dari seberang sana disusul keributan kecil dari teriakan Hazel. “Owen? Mengenai pria itu, kurasa kau harus mengambil keputusan yang cepat sebelum hubungan kalian berjalan terlalu jauh. Owen kan sudah menyadari dari awal bahwa kau memang belum membuka hati sepenuhnya. Putuskan saja”


Judith mencibir. “Terdengar jahat sekali”


“Hey, lebih jahat jika kau tetap melanjutkan hubungan kalian yang padahal tidak ada ruang baginya dihatimu. Kau sama saja memberinya harapan palsu. Aku yakin Owen akan menerima dengan lapang jika kau memutuskannya. Demi kebaikan kalian berdua”



*


“Kau benar..”



“Judith, perasaan Owen bukan tanggungjawabmu. Tanggungjawabmu adalah perasaanmu sendiri”




*


__ADS_1


__ADS_2