Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 124. ‘Good’ News


__ADS_3

Judith menjatuhkan benda pipih bergaris dua di tangannya. Menyadari bahwa kekhawatirannya menjadi kenyataan, membuat segalanya semakin rumit.


Dirinya hamil.


Memang Judith belum melakukan pemeriksaan pasti ke dokter, tetapi petanda lain seperti haidnya yang terlambat dan mual luar biasa di pagi hari, itu cukup untuk mendorongnya membeli alat tes kehamilan hanya untuk sekedar memastikan bahwa kekhawatirannya salah. Akan tetapi takdir sepertinya ingin menambah epik kisahnya dengan Jeanno, sehingga memberinya ‘kejutan’ disaat yang tidak tepat. Judith mengutuki dirinya yang terbuai membiarkan Jeanno bercinta tanpa pengaman. Mengenal dirinya dulu, Judith sangat anti melakukan hubungan yang tidak aman. Ia lebih memilih untuk mengembalikan uang pria hidung belang daripada harus tidur dengan mereka tanpa pengaman. Tapi ketika dengan Jeanno, entahlah. Dirinya memang lemah jika sudah menyangkut Jeanno Alexander.


“Ck”


Hanya decakan frustasi yang bisa ia keluarkan dari bibirnya. Bagaimana ini? Bagaimana ia bisa mengatakan kepada Jeanno bahwa dirinya hamil? Bagaimana reaksi Jeanno ketika tahu ia sudah melanggar salah satu poin kesepakatan mereka? Well, sebenarnya dua poin. Karena ia sudah jatuh cinta pada tuan-nya walaupun tanpa sepengetahuan pria itu.


Kontrak kerjanya tinggal dua minggu lagi. Sambil menunggu waktu yang tepat, mungkin lebih baik jika Judith menyembunyikan berita ini untuk sementara waktu. Lagipula sepertinya Jeanno masih sedikit terguncang akibat pertemuannya dengan orangtuanya tempo hari. Pria itu menjadi pendiam dan tatapannya sendu. Judith tidak tahu bagaimana menyembuhkan luka yang terbuka kembali, namun ia berjanji akan menyelesaikan sisa masa kerjanya dengan baik.


“Tunggu dua minggu lagi ya? Kau bersama dengan mama dulu sekarang”


Untuk sesaat Judith merasa konyol karena bermonolog dengan perutnya. Tapi ia tak bisa menahan desiran hatinya menyadari buah cintanya bersama Jeanno tengah tumbuh dalam rahimnya. Yang dalam waktu beberapa bulan kedepan akan terlahir ke dunia.


Sekian sekon Judith tersenyum sendiri, sebelum menyadari bahwa sudah waktunya ia mengantar Aera pergi ke sekolah.


**


Menjelang ulang tahun Jeanno, Nayara semakin bersemangat menjemput hari-harinya. Ia sudah menyiapkan kado sederhana, berupa scraft yang ia sulam sendiri dengan inisial J diujungnya. Nayara tahu mungkin Jeanno akan mendapatkan berkali-kali lipat kado yang lebih bagus, lebih mahal dan lebih berkualitas dibanding kadonya, tapi ia yakin prianya akan menerima apapun yang Nayara berikan.




Gerak cekatan tangan Nayara yang sedang menyulam terhenti ketika melihat mobil Mark berhenti di depan tokonya. Segera ia merapikan peralatannya sebelum pria itu melihat apa yang sedang ia kerjakan.*



“Hai, Nay”*



Nayara tersenyum menyambut Mark yang memasuki tokonya. “Hai, Kak”*



“Maaf ya hari ini aku tidak bisa membawamu melihat Jeanno. Dia sedang berada di Singapore, baru kembali besok sepertinya”*



Nayara mengangguk simpul. “Tidak apa-apa. Yang selama ini kau lakukan sudah lebih dari cukup, Kak. Justru aku yang harus minta maaf karena merepotkanmu”*



“Tidak. Aku senang melakukannya”*


__ADS_1


Dahi Nayara mengerut. “Kenapa?”*



“Karena…” Mark mengulum senyum. “Karena aku tau kau perempuan yang baik dan tulus mencintai sepupuku. Tidak seperti gadis lain yang mengincar kekayaan Jeanno, kau yang paling apa adanya, Nay. Walaupun sekarang sepupuku sedang tidak waras, alias jarang memberimu kabar, tapi aku tetap berharap yang terbaik untuk kalian”*



“Aku rindu dengannya. Ingin memeluknya erat seperti dulu. Kalau boleh memilih, aku lebih baik jatuh cinta pada Jeanno yang biasa saja, karena itu artinya dia tidak memiliki tekanan dari keluarganya”*



“Jika seandainya Jeanno tidak kembali.. bagaimana? Aku bicara kemungkinan terburuk disini”*



Tidak terlihat kemarahan dalam ekspresi Nayara. Ia tetap tersenyum, walau kilah matanya terlihat sedih. “Jika itu yang dia mau, dia harus mengatakannya langsung padaku. Dia sudah mengambil hatiku, jika Jeanno tidak menginginkannya lagi, maka dia harus mengembalikan kembali hatiku walau bentuknya sudah tidak utuh. Tapi setidaknya, aku sudah tahu kepastian hubungan kami dan itu artinya aku harus melangkah maju. Tidak ditempat seperti sekarang, diam dan menunggunya”*



“Cinta itu.. terkadang lucu ya?” pandangan Nayara mengawang lurus. “Dulu aku sangat anti dengan laki-laki yang statusnya jauh diatasku, juga laki-laki nakal yang suka bermain perempuan. Jeanno Alexander adalah pria terakhir yang ada dalam bayanganku untuk menjadi kekasihku kelak. Lalu siapa yang menyangka kalau pada akhirnya aku jatuh cinta setengah mati padanya”*



Mark turut tersenyum. “Kau menyesal? Karena jika dipikir-pikir, kalau kau tidak bertemu dengan Jeanno mungkin hidupmu akan baik-baik saja. No falling, no heartbreak”*




“Haah kapan aku bisa mendapatkan perempuan sepertimu”*



Gadis itu terkekeh. “Memang kak Mark sedang sendiri?”*



“Memang kau pikir aku punya banyak kekasih?” Nayara tidak menjawab. Bukan salahnya jika ia mengira para anak orangkaya punya banyak kekasih, atau setidaknya bergonta-ganti pasangan seenak jidat.*



“Tidak semua pria seperti kami mudah memiliki pasangan, Nay. Aku terakhir menjalin hubungan… dua tahun lalu. Setelah itu aku menyadari bahwa waktuku lebih berharga dibanding harus meladeni permintaan manja mereka, atau membujuk mereka jika sedang merajuk. Aku lebih memilih menghadiri rapat bersama ayahku”*



“Itu karena kau belum menemukan yang pas saja, kak. Memang tipemu seperti apa?”*


__ADS_1


Mark mengetukkan jemarinya. “Hmm.. tidak macam-macam sih. Aku suka gadis yang berkulit sawo matang, berparas manis. Tapi diluar itu, aku jauh lebih menyukai gadis yang berhati tulus, lembut, dan mencintaiku dan orangtuaku”*



“Kuharap kau menemukan gadis itu, Kak. Kau pria baik, aku yakin pasti jodohmu juga gadis yang baik. Jodoh adalah cerminan diri, kan?”


Jika jodoh cerminan diri, maka bagi Mark, Jeanno sangat teramat tidak pantas untuk Nayara.*



***



“Dari hasil pemeriksaan anda memang positif mengandung. Usia kehamilannya baru 10 hari. Tapi perkembangan janinnya sehat. Harus tetap jaga kesehatan dan pola makan. Jangan kelelahan, mengerti?”


Judith mengangguk, mengucapkan terimakasih kepada spesialis obsgyn bernama dokter Kirana usai pemeriksaannya selesai. Wanita itu keluar dari ruangan, melangkah menuju apotik untuk menebus obat yang telah diresepkan.


Sebenarnya Judith tidak berniat memeriksakan kandungannya dihari yang sama. Namun kebosanan disela menunggu Aera pulang, membuatnya berpikir lebih baik jika ia ke rumah sakit saja. Biasanya ada Hannah yang menemaninya sampai si kecil pulang sekolah. Namun kawannya masih berbulan madu dengan Mark. Dua minggu lagi mereka pulang, atau tiga hari sebelum kontrak kerjanya selesai.


“Judith? Kau.. Judith kan?”


Merasa namanya dipanggil, ia mengangkat kepalanya. Berpapasan dengan pria berbalut sneli dengan paras bak pangeran.


“Dokter Jeffrey”


**


“Bagaimana kondisimu?”


Judith berdehem. Merasa canggung ketika harus berhadapan dengan dokter itu setelah mengetahui bahwa Renatta adalah kekasih gelapnya. “Kondisi yang mana yang dimaksud dokter?”


“Traumamu”


“Oh itu..” Judith memalingkan wajah. Menurutnya lebih baik melihat ruang kosong dibanding memandang wajah Jeffrey. “Aku sudah berhenti mengkonsumsi obat”


“Baguslah kalau begitu. Tapi kenapa kau tidak pernah kontrol lagi?”


“Aku sibuk, dokter”


Jeffrey menganggukkan kepalanya. “Kau kemari.. apa sedang sakit? atau siapa yang sakit?”


“Aku. Asam lambungku naik”


“Begitu. Baiklah, aku tinggal dulu, ya? aku harus kembali ke poli. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan datang. Atau menghubungiku, mengerti?”


Judith hanya mengangguk sekilas. Jawaban yang cukup bagi Jeffrey untuk tidak melanjutkan obrolannya lagi. Pria itu melenggang meninggalkannya. Judith sebetulnya ingin sekali bertanya mengenai Renatta. Karena menurutnya dari semua orang, pasti Jeffrey yang paling tahu mengenai kawannya itu. Namun lidahnya kelu. Bukan karena ia tidak peduli pada Renatta, tetapi lebih kepada… ia menyadari bahwa dirinya memiliki masalah yang sama besarnya dengan Renatta.


Kekehan itu lolos dari bibirnya. Menyadari bahwa dari ketiganya, hanya Hannah yang sudah mendapatkan kisah yang bahagia. Bertemu dengan pangerannya, menikah dan dicintai oleh keluarga suaminya. Sementara ia dan Renatta, masih terombang-ambing. Meletakkan hati kepada pria yang belum pasti, sedangkan ada nyawa lain yang tumbuh didalam tubuh mereka. Judith berpikir, apakah ini karma baginya dengan Renatta akibat pekerjaan kotor yang selama ini mereka lakukan? Sementara Hannah yang menjaga kegadisannya hingga akhir masa lajangnya, memang berhak mendapatkan kebahagiaan sejati.

__ADS_1


Ya, mungkin yang terjadi padanya dan Renatta adalah buah dari doa-doa para istri dari lelaki hidung belang yang mereka tiduri setiap malam dulu.


**


__ADS_2