Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 149. One Last Hope


__ADS_3

“Maaf merepotkanmu, Hannah. Kau sedang hamil muda, harusnya kau banyak beristirahat. Bukannya malah merawatku. Aku tidak apa-apa, sungguh”


Hannah menghentikan gerakan tangannya mengupas jeruk. Ditatapnya sang karib lamat-lamat. “Kita memiliki satu sama lain, kau masih ingat kalimat itu kan? Aku tetap peduli padamu mau bagaimanapun kondisiku. Dan aku sedang hamil, bukan lumpuh. Aku bisa menjaga kesehatanku dan merawatmu”


Tak ada yang bersua, hanya keheningan yang membekap. Kala Hannah kembali menyuapinya buah jeruk yang telah ia bersihkan sebelumnya. Benak Judith berkelana, memikirkan bahwa sudah hampir dua hari berlalu, yang itu artinya waktunya hanyalah esok hari. Ia telah berpasrah, seperti sudah menghadapi segala skenario buruk dalam hidupnya yang menjadi kenyataan. Satu skenario lagi, seharusnya tidak masalah, kan?


“Hannah..”


Yang dipanggil, mendongak. “Ya?”


“Maafkan aku”


Pundak itu turun seiring dengan helaan nafas. “Aku tidak paham maksud dari permintaan maafmu itu apa. Tapi sejauh yang kuingat, kau tidak memiliki kesalahan apapun padaku ataupun kepada Mark. Kau juga tidak perlu minta maaf atas kondisimu yang menurun. Aku mengerti, kami mengerti, Judith”


“Boleh aku pegang perutmu?”


Hannah lantas memindahkan piring buah-buahan di pangkuannya ke meja dekat kursi. Kemudian dibawanya telapak tangan Judith untuk menyentuh permukaan perutnya. Senyumnya merekah. Hannah bisa melihat matanya berbinar, seperti memang adanya sentuhan bahagia dalam kelamnya hari Judith akhir-akhir ini.


“Seandainya aku tidak keguguran, pasti menyenangkan.. membayangkan kita hamil bersama. Mual bersama, ngidam bersama, kemudian memeriksakan kandungan bersama”


“Lalu melahirkan bersama. Anak-anak kita pasti akan berteman baik seperti ibu mereka. Kau mau kan mengijinkan anakmu berteman dengan anakku?” Judith mendongak, memandangnya penuh harap sekaligus takut. Hannah mendekap punggung tangan kawannya disana, merematnya pelan. “Kau pikir aku siapa yang bisa melarang anakku untuk berteman dengan anakmu?”


“Hannah.. jaga baik-baik kesehatanmu dan baby, ya? Jangan sampai, kumohon, jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan. Kali ini, kau harus melahirkan dengan selamat dan sehat. Baik ibu maupun si kecil, semoga selalu berada dalam lindungan Tuhan”


Hannah mengamini, sementara Judith tersenyum pilu. Dipikirnya, tentu saja kehamilan Hannah lebih terjaga dibanding dengannya dulu. Kehamilan Hannah adalah penantian semua orang. Ia berada di lingkungan yang penuh dengan orang-orang baik. Disayang oleh suami dan mertuanya. Dijaga mental dan fisiknya, juga gizinya. Tentu saja Hannah akan melahirkan bayinya dengan sehat.


Situasi yang jauh berbeda dari kehamilannya dulu. Berakhir tragis akibat kelalaiannya menjaga si kecil. Tak apa, karena mungkin lebih baik jika Tuhan mengambilnya, karena belum tentu kehidupannya akan bahagia di dunia, ketika terlahir dari rahim perempuan rendahan seperti Judith.


‘Ya, memang lebih baik seperti itu’ batin Judith.


**


Nora tak bisa fokus pada pekerjaannya. Seharian ini ia mencuri lirik kearah ruangan Jeanno yang tengah berbicara serius kepada pengacaranya. Entah apa yang mereka rencakan, tapi Nora yakin itu berhubungan dengan Judith dan bukan sesuatu yang baik. Kebetulan ketika mengantarkan minuman, sekretaris muda itu sempat melihat surat tuntutan yang ditujukan untuk Judith. Juga menyebut hari esok, penangkapan, dan kata lain yang membuat kuduk Nora meremang..


Penjara.


Nora tidak tahu menahu mengenai permasalahan antara tuannya dengan Judith. Tapi sepertinya rumit dan serius, karena Nora baru pernah melihat Jeanno se’iblis’ ini. Bahkan sampai rela bertengkar dengan Marco Sebastian. Entah siapa yang salah disini, tapi Nora menaruh iba kepada Judith. Perempuan yang notabene tidak memiliki apa-apa, harus melawan seorang Jeanno Alexander yang memiliki segalanya.


Bekerja bersama Jeanno dalam waktu yang cukup lama, membuat Nora memahami karakter keras bosnya. Jika ada yang kurang berkenan menurutnya, pria itu tak akan segan-segan untuk turun tangan ‘meluruskan’ entah dengan cara yang baik atau melenceng. Jika kesalahan Judith membuat amarah Jeanno memuncak, maka Nora yakin seratus persen tak ada kesempatan bagi Judith untuk dimaafkan, apalagi dilepaskan.


Tidak jika Judith hanya berdiri sendiri.

__ADS_1


Tunggu, ada sebersit ide gila di kepala Nora. Seharusnya ia tidak melakukannya. Tapi rasa peduli kepada sesama perempuan, mendorongnya untuk tanpa sadar ikut campur dalam drama pelik yang membahayakan posisinya sendiri. Tapi apa boleh dikata, jika memang pada akhirnya Nora dipecat, toh ia memiliki pengalaman bekerja sebagai sekretaris direktur utama sebuah perusahaan bonafit, yang akan membuat Cvnya semakin indah.


Lagipula kesempatan bekerja tidak hanya disini, kan?


Judith perempuan yang baik. Nora banyak berhutang budi padanya dahulu, namun belum sempat membalas kebaikannya, Judith sudah lebih dulu menghilang. Dan mungkin, semesta memberinya kesempatan sekarang untuk membalas budi. Walau Nora yakin tidak setimpal.


Sambungan pada telponnya masih berbunyi nada tunggu. Dadanya berdetak dua kali lebih cepat, gugup dirasakannya hingga telapak tangannya basah akan keringat. Ia takut jika telponnya tidak diangkat oleh lawannya.


“Hallo?”


“Tuan Mark? Maaf mengganggu. Ini saya, Nora. Ada yang ingin saya sampaikan….”


**


“Terimakasih informasinya, Nora. Akan kupastikan kau tidak terseret dalam masalah ini”


Rahang pria itu mengeras sejak percakapan beberapa menit dengan sekretaris Jeanno. Nora memang tidak menjelaskan secara gamblang apa rencana Jeanno, namun Mark sudah bisa menebaknya bahwa sepupu gilanya itu memang serius akan menjebloskan Judith ke penjara. Atas tuduhan penipuan? Pemalsuan identitas? Entahlah. Jeanno bisa membuat skenarionya sendiri, skenario yang mampu membuat Judith masuk prodeo dengan mudah.


“Tidak akan kubiarkan itu terjadi. Tidak selama aku masih ada disini, Jean”


Baru saja Mark akan menelpon pengacaranya keluarga Sebastian untuk membantu Judith nanti, telponnya sudah lebih dulu berbunyi. Menampakkan nomor asing yang memang tidak Mark simpan, tapi tahu betul siapa identitas dibalik deretan nomor itu.


“Aku sudah mendapatkan informasi, Mark. Lebih dari cukup, beserta bukti-buktinya. Mau bertemu dimana?”


“Tempat biasa”


**


“Kau mau kemana?”


Judith terkejut ketika suara Hannah menyapanya. Begitu ia menoleh, kepala sahabatnya sudah menyembul dari balik pintu. “Maaf tidak mengetuk. Pintumu terbuka sedikit, kupikir kau pingsan”


Lawan bicaranya tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, sayang. Masuklah” Hannah menurut, dibawa kakinya memasuki kamar Judith. “Kau mau kemana?”


Hannah melayangkan pertanyaan yang sama ketika pertanyaan awal tadi belum terjawab. Masih tersenyum, Judith melanjutkan kegiatannya memasukkan pakaian-pakaiannya kedalam koper. “Aku tidak mungkin menumpang disini selamanya”


“Tidak ada yang keberatan. Ibu juga senang kau disini. Jadi ada yang menemaninya memasak”


Judith terkekeh. Beberapa minggu disini memang Judith habiskan sebagian besar untuk mengajari Maria beberapa resep yang sebelumnya gagal dilakukan oleh ibunda Mark. Bahkan Maria sampai menyodorkannya beberapa buku resep miliknya untuk dicoba Judith, yang tentu saja hasilnya berhasil. Membuat wanita itu kagum sekaligus sebal mengingat kegagalannya dahulu.


“Ibu bisa bertanya padaku mengenai resep kapanpun beliau mau. Aku akan menjawabnya dengan senang hati”

__ADS_1


Merengut, Hannah merajuk. “Tapi kehadiranmu disini tidak hanya membantu Ibu, tapi juga menemaniku supaya tidak kesepian. Lagipula kau bukannya masih harus terapi rutin ke dokter Jeffrey?”


“Dokter Jeffrey memberiku obat-obatan yang dulu. Setelah meminumnya aku sudah lebih baik. Sudah tidak bermimpi lagi. Mungkin yang kemarin hanya kebetulan karena aku terlalu banyak pikiran sebelum tidur”


“Jadi kau mau kembali ke apartemen?”


“Bisa iya, bisa tidak. Aku sebenarnya ada niatan ke luar kota, untuk mencari pekerjaan. Sekaligus suasana baru” dustanya.


Hannah mendekat, merangkul pundak sang sahabat. Dagunya ia istirahatkan disana. “Judith, kumohon jangan pergi dulu. Kalau kau jauh, bagaimana aku bisa menjagamu. Kau ingat terakhir kali kita berpisah? Aku menemukanmu pingsan di apartemen sendirian. Untung saja kau masih punya tenaga untuk menelponku. Bagaimana kalau tidak? jangan dulu pergi, ya? aku tidak bermaksud mencegahmu, tapi kita sama-sama tahu kondisimu belum stabil”


‘Aku hanya tidak ingin kau melihatku dijemput polisi, Hannah’ Judith menoleh, mengusakkan hidungnya ke kepala Hannah dengan gemas. “Kita kan masih bisa telpon, atau video call”


“Aku janji aku akan baik-baik saja. Percaya padaku, ya?”


Judith yang kerasnya sebelas dua belas dengan Renatta, yang tak pernah Hannah mampu cegah jika sudah memiliki kemauan. Pada akhirnya, Hannah mengangguk lirih. Menghormati segala keputusan sahabatnya. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menyetujui dan mendoakan semoga Judith baik-baik saja.


“Biar aku dan Mark yang mengantarmu pulang”


Sepeninggal Hannah, Judith termenung cukup lama diatas ranjang. Diraihnya ponsel yang berada didekat bantal. Jemarinya membuka roomchat seseorang yang tak pernah tega ia hapus.


Jeanno Alexander.


Judith menghela nafas, mengabaikan segala ketakutan yang sejak tiga hari lalu tak kunjung enyah dalam dadanya. Ia biarkan jemari rantingnya mengetikkan sesuatu pada roomchat tersebut. Tak berharap mendapat balasan, apalagi penerimaan maaf. Judith hanya meminta satu hal, untuk yang terakhir kalinya.


Tuan Jeanno – Busy




Tuan, jika sudah waktunya mereka menjemputku, bolehkah aku minta satu permintaan terakhir?


Tolong jemput aku di apartemen, bukan di rumah kak Mark.*



Maaf, dan terimakasih untuk segalanya.


- Judith


**

__ADS_1


__ADS_2