Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 126. The Mighty Alexander


__ADS_3

Kemegahan Ballroom itu tidak sebanding dengan tamu di dalamnya. Acara itu mengundang lumayan banyak mengundang orang. Selain para konglomerat yang datang, ada pula segelintir pers yang siap dengan kameranya. Nayara meremat pegangan pada goodie bag digenggamannya. Suasana asing seperti ini membuat tangannya berkeringat. Sepanjang ia menoleh ke berbagai penjuru, tak ia temukan batang hidung kekasihnya, maupun tuan Alexander yang kemarin mengundangnya.




Ketika seseorang menapaki podium diatas panggung yang tak lain adalah Thomas Alexander, semua aktifitas terhenti. Yang semula tengah menyesap champagne atau sekedar bercakap dengan sesama tamu, mereka secara refleks memusatkan perhatiannya kepada tuan Alexander. Begitu pula pers yang sudah siap siaga dengan kameranya. Termasuk Nayara, dalam hati ia bersyukur acara segera dimulai. Dengan begitu ia bisa fokus pada satu titik dan tidak terlihat kebingungan seperti tadi.*



“Selamat malam, terimakasih kepada para tamu dan teman-teman pers yang sudah bersedia datang ke acara ini. Saya, Thomas Alexander ingin membagikan dua kabar baik pada malam yang hangat ini”*



Nayara tersenyum, begitu pula dengan tamu lain. Ada yang berbisik penasaran apa kabar baiknya, bukan hanya satu, melainkan dua. Bukankah itu sangat membahagiakan?*



“Pertama, saya ingin memperkenalkan putra tunggal saya yang mulai hari ini akan resmi menjadi penerus Alexander. Jeanno Alexander”*



Semua hadirin bertepuk tangan kala seorang lelaki tampan berpakaian rapi menapaki panggung. Nayara masih tersenyum, sekalipun pandangannya memburam karena terharu melihat Jeanno yang terlihat sangat rupawan diatas sana. Jeanno tersenyum, menundukkan kepala sekilas guna merespon sambutan para tamu.*



Tapi tunggu, Nayara baru menyadari bahwa para tamu tidak membawa kado sepertinya. Bukankah ini acara ulang tahun Jeanno? Atau mungkin perayaan acara ulang tahun orang kaya memang sedikit berbeda? Nayara tidak ingin ambil pusing dengan itu. Ia kembali memusatkan atensinya pada Jeanno yang tengah memberikan sambutan kecil.*



Jeanno disana, berbeda dari sosok pria yang dikenalnya dulu. Jeanno yang sekarang bukan hanya terlihat lebih dewasa dari segi penampilan, tapi juga dari gestur dan tutur kata. Terlihat tenang dan berwibawa. Tak hanya para gadis yang memuji kerupawanan putra Alexander, namun para pria juga berdecak kagum. Nayara melihatnya sama sekali tidak ada rasa kecemburuan, justru ia bangga. Karena Jeanno-nya telah berubah menjadi yang lebih baik.*



Sambutan dari Jeanno selesai. Thomas kembali mendekati podium, bermaksud menyampaikan kabar baik yang selanjutnya.*



Dari keramaian yang ada, mata Nayara masih terpaku pada Jeanno yang berdiri disamping ayahnya. Netra keduanya belum bertemu. Jeanno belum menyadari kehadiran gadisnya diantara puluhan pasang mata disana. Nayara menunggu, menanti kekasihnya menyadari bahwa mereka berada didalam ruangan yang sama.*



“Kabar baik selanjutnya… saya ingin mengumumkan bahwa hari ini adalah hari pertunangan putra saya”*



Kegaduhan terjadi tepat ketika telinga para tamu menangkap kata-kata ‘pertunangan’. Begitu pula Nayara. Jantungnya yang semula berdetak tenang, kini berlarian gugup. Maksud dari tuan Alexander apa? Putranya yang dimaksud… apakah Jeanno? Akan tetapi bukankah Jeanno anak tunggal?*


__ADS_1


Keterkejutan juga tak lepas dari ekspresi Jeanno. Ia sama sekali tidak mengetahui adanya kabar ‘baik’ yang dimaksud ayahnya. Yang ia tahu acara ini hanya pengenalan dirinya sebagai penerus keluarga secara resmi. Sudah, tidak ada pembicaraan apapun selain itu apalagi mengenai pertunangan.*



“Putraku, Jeanno Alexander.. akan bertunangan dengan putri pertama dari keluarga Widjaja, yaitu Sharin Widjaja”*



Tepat setelah Thomas mengucapkan nama Sharin, kedua netra yang sedari tadi tersesat, kini bertemu. Jeanno terlihat terkejut bukan main melihat adanya Nayara diantara para tamu yang datang. Tengah memandangnya sedih.*



Berbanding terbalik dengan Jeanno dan Nayara, Thomas dan para tamu bertepuk tangan ketika sosok Sharin melangkah dengan anggunnya menuju panggung tempat Thomas dan Jeanno berada. Thomas mendekati Jeanno, meraih tangan anaknya untuk ia berikan kotak cincin yang telah disiapkan. Jeanno, tetap tak bisa menarik pandangannya dari Nayara yang masih membeku di tempatnya. Gadis itu menunduk sekilas, mengusap airmatanya. Kemudian meletakkan goodie bag yang ia bawa, sebelum memutuskan untuk pergi meninggalkan Ballroom usai memberinya senyuman tipis.




Nayara membawa tubuhnya pergi dengan sisa tenaga yang ia miliki. Jika berlama-lama disana dan melihat Jeanno memasangkan cincin di jari manis gadis lain, Nayara tidak yakin dirinya akan kuat. Nayara menyesali, seharusnya ia cukup peka bahwa dirinya dijebak. Bahwa tak mungkin seorang Thomas Alexander mau merendahkan dirinya untuk mengundang Nayara secara langsung jika bukan karena ada sesuatu. Yang tadi itu bukanlah acara ulang tahun Jeanno. Melainkan acara pertunangan Jeanno dan Sharin. Pantas saja tidak ada yang membawa kado seperti dirinya.*



Pertahanan gadis itu runtuh. Airmata yang ia tahan selama ini, bercucuran membasahi wajah ayunya. Tidak pernah ia sangka ada hari dimana Jeanno benar-benar meremukkan hatinya, keseluruhan hatinya. Nayara yakin setelah ini hatinya tidak akan sama lagi.*



***





Sebab itu Mark memilih untuk datang terlambat. Hanya untuk sekedar ‘setor muka’. Setelah itu ia akan kembali ke apartemennya.*



Setidaknya begitulah rencananya sebelum ia berpapasan dengan figur gadis yang tak asing baginya. Tengah menangis sendirian.*



“Nayara?”*



**


Jeanno tak berpikir panjang ketika ia mengambil langkah menjauh dari panggung. Fokusnya hanya pada Nayara yang beberapa menit lalu meninggalkan ballroom. Mengabaikan teriakan dari ayahnya dan Sharin yang memintanya kembali ke podium. Tidak, ia tidak peduli. Faktanya butuh waktu sekian sekon untuk menyadarkannya bahwa mengejar Nayara adalah keputusan paling tepat menurut hati kecilnya. Sudah cukup dengan segala omong kosong dan trik licik ayahnya dan Sharin. Sudah cukup dirinya menjadi boneka yang sesuka hati bisa dikendalikan oleh sang ayah. Untuk kali ini saja, Jeanno ingin memilih jalannya sendiri. Kebahagiaannya sendiri, biarlah ia yang menentukan. Dan ia tahu dimana letak kebahagiaannya.*

__ADS_1



Yaitu pada gadis manis yang sekarang tengah berada di pelukan Mark. Jeanno bersyukur karena Nayara belum pergi jauh. Gadisnya masih berada di depan elevator, kemungkinan berpapasan dengan Mark yang datang terlambat.*



“Jika kau mau menangis, sekarang adalah saat yang tepat. Menangislah sepuasmu, Nay. Kau tidak perlu berpura-pura tegar dihadapan siapapun. Kau berhak menangis, terutama setelah hatimu terluka”*



Kepekaan Mark membuatnya menyadari kehadiran Jeanno. Keduanya tidak saling bicara, hanya saling menatap saja. Mencoba memahami apa yang baru terjadi. Mark mengangguk, perlahan melepaskan pelukannya pada Nayara. Menjauhnya jarak Mark berbanding terbalik dengan Jeanno yang melangkah perlahan. Nayara menyadarinya, ia menggumamkan nama Jeanno lirih.*



“Maaf, maafkan aku, Nana”*



Jeanno tak membutuhkan persetujuan Nayara untuk menghapuskan jarak mereka. Didekapnya tubuh mungil itu erat. Nayara membalas pelukan Jeanno yang telah lama dirindukan.*



Jeanno sebagai orang pertama yang melepas pelukan, menangkup wajah gadisnya. Ia seka sisa airmata yang masih basah disana. “Ayo kembali ke dalam”*



Nayara menggeleng. “Tidak. Kaulah yang harus kembali kedalam. Tunanganmu… menunggu”*



“Ck! Aku tidak mau bertunangan dengan siapapun, selain kau. Aku tahu aku telah menjadi pria brengsek beberapa bulan belakangan ini. Jika bukan malam ini, aku tidak tahu kapan aku memiliki kesempatan seperti ini lagi. Ikut aku kedalam, Na. Aku akan mengatakan kepada semua orang mengenai kita. Aku memilihmu, apapun resikonya”*



Tangan Jeanno turun meraih jemari Nayara. Keduanya memandang Mark sebentar, yang direspon dengan anggukan singkat. “Aku selalu bersama kalian apapun yang terjadi”




“Terimakasih Mark”*



Dengan langkah tegap Jeanno menghela Nayara kembali ke ballroom.*


*


__ADS_1


**


__ADS_2