
aku duduk dan menundukkan kepalaku, rencana awal ingin jogging agar pikiranku fresh tapi aku malah mengahancurkankan nya.
"lama banget sih bi nina". ucapku sambil menghentak-hentakkan kaki di lantai.
sesekali aku melihat kearah pegawai caffe dan melemparkan senyum. aku merasa tidak enak karena belum membayar coffe yang aku pesan.
jam sudah menunjukkan pukul 7:30 pagi, dimana banyak orang-orang yang akan pergi ke kantor.
"sudah banyak orang di jalanan, gimana ini?bi nina please buruan datang". aku menggerutu kesal.
aku takut ada seseorang yang mengenaliku dengan keadaan ku yang seperti ini. bukan aku yang malu tapi aku takut membuat mas bram malu jika teman atau karyawan kantornya melihatku.
"aghh.... ". aku menghela nafas dan merebahkan kepala ku di atas meja.
tidak lama kemudian, aku seseorang yang meletakkan tangannya di atas kepalaku dengan lembut.
"apa kamu bodoh sayang, keluar tidak membawa uang sama sekali". ucap mas bram yang datang menemui ku.
"ma.. mas bram". mataku terpana melihat sosok mas bram yang datang.
"aiihh... baru kali ini aku melihat kamu seperti orang linglung". mas bram berjalan ke arah kasir.
entah bagaimana mas bram bisa datang menemuiku. mas bram datang dengan setelan pakaian kerjanya dan ia terlihat sangat tampan saat aku memperhatikannya dari belakang.
"berapa biaya pesanan istri saya?". ucap mas bram pada pegawai caffe.
"istri bapak?". pegawai caffe itu terlihat kebingungan.
"iya istri saya, wanita itu". mas bram menunjukkan kearah ku.
"oh ibu itu, totalnya 28 ribu pak".
"28 ribu?". mas bram terlihat terkejut dengan jumlahnya yang sangat kecil.
"ahh ini". mas bram memberikannya kartu kreditnya.
"ini pak kartunya, terima kasih".
mas bram segera menghampiri dan duduk di depan ku, ia terus menatapku dengan wajah yang sedikit mengesalkan.
"apaan sih mas, gitu banget lihatin aku". aku merasa malu karena tatapan mas bram.
"kamu itu istriku yang paling lucu, istri seorang bramantyo CEO perusahaan terbesar tapi tidak bisa membayar secangkir kopi. pppfftt.... ". mas bram tertawa meledekku.
"jadi kamu kemari hanya untuk meledekku ya mas. dengar ya mas, yang kaya itu suami ku bukan aku, jadi wajar dong kalau aku tidak bisa bayar". jawab ku.
"ya.. ya.. ya.. kamu ya, bisa-bisanya berfikir seperti itu". mas bram mencubit pipiku.
"sakit mas". aku menarik tangan mas bram dari pipiku.
"ya sudah, ayok aku antar kamu pulang". mas bram menggandeng tangan ku untuk keluar dari caffe.
saat tiba di depan caffe, tiba-tiba langkah mas bram terhenti dan mengambil ponselnya di saku.
"hallo". mas bram langsung mengangkatnya.
"baiklah, aku akan segera kesana". jawab mas bram.
"ada apa mas?". tanyaku.
"oh ini sayang, sekretaris ku barusan menelpon bahwa hari ini aku ada pertemuan dengan investor asing .jadi aku.... ".
"tidak apa-apa mas, aku pulang sendri aja". tanpa basa-basi aku langsung melangkahkan kaki pergi dari hadapan mas bram.
"bukan begitu sayang, karin... tunggu aku" teriak mas bram.
aku tidak memperdulikan ucapan mas bram dan terus berjalan dengan perasaan kesal dan kecewa.
"kalau akhirnya ada keperluan yang penting, ngapain juga pake acara mau antar aku pulang segala. hhuuhhh.... ". sepanjang jalan aku terus menggerutu.
saat sampai di rumah, aku di kejutakan oleh bi nina yang menunggu ku di depan pintu rumah.
"ahh ya ampun bi, kenapa buat aku terkejut sih".
"maaf non, tuan nyuruh bibi untuk menunggu non pulang". jawab bi nina.
"apaan sih mas bram, emangnya aku anak kecil yang harus di tunggui". aku terus menggerutu.
"non, tuan berpesan... ".
"bi, lain kali kalau mas bram pesan macam-macam, jangan bibi tanggapi ya". aku memotong ucapan bi nina.
"baik non".
aku beranjak pergi ke kamar untuk membersihkan diri dan mengganti pakaianku.
saat di kamar aku terduduk di depan cermin sembari memperhatikan wajahku yang lusuh dan kusut.
"kenapa aku merasa kesal ya, ketika mas bram berbicara dengan sekretarisnya di telpon. apa yang aku fikirkan? hahh sudahlah... ". aku mengusap-usap wajahku.
selesai aku membersihkan diri, aku merebahkan tubuhku ke atas ranjang dan memainkan ponselku.
ingin sekali aku menelfon alisya, tapi aku takut mama berfikiran yang tidak-tidak terhadap ku karena aku terus-terusan menghubungi alisya.
"aku bosan di rumah sendiri terus". resahku pada diri sendiri.
"aku ajak mas bram makan malam di luar aja deh, aku akan kirim pesan untuknya".
segera aku mengetik pesan teks untuk mas bram.
"Mas, malam ini kita dinner ya di restaurant biasa kita datangi. aku akan tunggu kamu di sana jam 7 malam. Love you mas".
"oke, selesai". aku telah mengirim pesannya untuk mas bram.
__ADS_1
tiikk.. ttookk.. tiikk... took...
terdengar bunyi detakkan jam detik demi detik tapi mas bram tidak juga membalas pesanku.
"gak seperti biasanya mas bram lama membalas pesan ku". aku terus menatap ponsel ku.
"ayoo dong mas, balas pesanku. aku di sini sangat bosan seperti orang gila". aku menggulingkan kepalaku di ranjang.
tokk.. tookk... took...
terdengar suara ketukkan pintu kamar.
"non". ucap bi nina.
"iya bi, silakan masuk".
"non makan siang nya sudah selesai".
"iya bi, aku akan segera turun". aku bangkit dari rebahan di ranjang.
***
meja makan....
"non, kenapa terlihat lesuh gitu". tanya bi nina.
"aku bosan bi dirumah terus, gak ada yang aku bisa kerjakan. alisya ikut mama dan papa,mas bram sibuk dengan pekerjaannya". jawabku.
"kenapa non gak pergi keluar untuk jalan-jalan non".
"masalahnya itu aku gak ada temen yang bisa di ajakin keluar bi. bibi tau kan semenjak aku pindah kesini ,aku tidak pernah bermain dengan seorang pun". sedikit banyaknya aku menceritakan keluh kesahku pada hi nina.
"kenapa non tidak mengikuti kursus saja, banyak kok ibu-ibu komplek sini yang melakukan kursus". jawab bi nina.
"wahh, boleh juga itu ide bibi. kebetulan aku kan gak pinter masak, lebih baik aku ikut kursus masak aja deh".
"bener banget itu non". ucap bi nina dengan semangatnya.
"hmmm... bibi ngakui kalau aku gak bisa masak ya". aku mencoba menggoda bi nina.
"aa... itu.. anu... gak non. bukan gitu... ". bi nina terihat gugup.
"hahahaha aku cuma bercanda kok bi". aku tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah bi nina.
"ahh non karin, bibi fikir non marah beneran".
"gak lah bi, emang pernah selama ini aku marah". tanyaku.
"gak sih non, non itu gak pernah marah sama sekali .apa yang terjadi non selalu tersenyum". jawab bi bina.
"ahhh bibi, aku jadi malu". aku sedikit tersipu mendegar pujian dari bi nina.
"oh ya bi, nanti gak usah buat makan malam ya. aku mau dinner di luar sama mas bram".
"iya non".
selesai makan siang, aku kembali ke kamar ku. aku membuka lemari baju ku tapi aku tidak memiliki baju-baju yang Bagus.
semenjak hamil aku tidak pernah belanja pakaian untukku. jadi semua yang tersisa hanyalah pakaian lama.
"kenapa sih aku pakai acara ngajak mas bram dinner segala? bingung sendiri jadinya kan". ucap ku pada diri sendiri.
"kok berantakan semua sih pakaian mas bram". aku melihat ada beberapa pakaian mas bram tergeletak di sofa kamar.
aku mengambil pakaian mas bram dan meletakkannya di dalam lemari mas bram.tanpa sengaja aku melihat ada sebuah paper bag berukuran sedang berwarna coklat.
"apa ini?". aku sedikit membuka paper bag itu.
"gaun? punya siapa? apa mas bram ingin memberikan kejutan untukku?". aku langsung menerka-nerka tentang gaun itu.
"udahh ah, ngapain juga aku buka". cepat-cepat aku menutup kembali lemari mas bram.
setelah beres-beres kamar, aku melihat ponselku tapi tidak juga ada balasan dari mas bram. sampai akhirnya ku berinisiatif untuk menelponnya tapi tidak bisa.
"kemana sih mas? kenapa susah banget di hubunginya. aku telpon Ryo aja deh".
ttutt... ttutt... ttut...
"hallo". Ryo menjawab telponku.
"maaf ryo kalau aku menganggu, apa mas bram sedang sibuk?".tanyaku.
"oh, bram lagi ada rapat dengan pemegang saham. ada yang bisa aku bantu?".
"aku sudah berkali-kali menghubunginya tapi tidak bisa. tolong sampaikan ke mas bram, jam 7 malam ini aku tunggu dia di Restaurant Kejora. jangan lupa ya.. ". aku berharap Ryo benar-benar menyampaikannya.
"oke, aku akan sampaikan pada bram".
"terima kasih Ryo". aku segera mematikan panggilan teleponnya.
"huhh.. hanya Ryo di perusahaan mas bram yang aku kenal. waktunya untuk bersiap-siap". aku bangkit dari ranjang.
sudah lama kami tidak dinner berdua, bahkan kami jarang makan malam bersama, itu semua karena kesibukkan mas bram yang sulit untuk di tinggalkan.
akhirnya, aku menemukan gaun yang cocok aku pakai malam ini. gaun berwarna hitam dengan lengan panjang serta aku memakai high heels berwarna merah muda, serta rambut panjang yang aku urai.
"apa aku sudah terlihat cantik?". aku berputar-putar di hadapan cermin.
"sudah jam berapa ini ya?". aku melihat jam di ponsel ku dan menunjukkan jam 18:15 malam.
"wahh, aku harus cepat-cepat pergi". segera aku mengambil tas dan ponselku.
bi nina yang melihatku buru-buru terus menghampiri ku.
__ADS_1
"non, apa perlu bibi panggilkan pak Ahmad?".
"gak usah bi, aku naik Taxi saja". jawabku dengan cepat.
"baiklah non, hati-hati di jalan non". teriak bi nina pada ku yang berlari keluar rumah.
"taxi". aku memanggil taxi yang melintas di hadapanku.
"pak, tolong antarkan saya ke restaurant kejora ya". ucapku pada supir taxi.
"baik bu". supir taxi langsung melajukan mobilnya.
perjalanan menuju ke restauran memakan waktu 30 menit jika tanpa macet. aku berharap malam ini perjalanan semua lancar tanpa ada halangan.
di perjalanan aku juga menghubungi mas bram, tapi mas bram tidak mengangkat telpon dari ku.
"ada apa sih dengan mas bram?". aku merasa kesal karena mas bram sulit di hubungi.
aku tiba di restaurant pukul 18:55 malam, lima menit lebih cepat dari jam yang aku janjikan pada mas bram.
aku melihat di dalam restaurant sedikit ramai dengan orang-orang yang akan melakukan dinner juga.
"ibu karin?". tanya pramusaji restoran pada ku.
"iyaa benar".
"mari ikut saya, saya akan tunjukkan meja yang telah ibu pesan".
"baiklah".
pramusaji itu memberikan ku meja di lantai dua dengan pemandangan kota yang Indah pada malam hari.
"wahh cantik banget". aku terkesima dengan cahaya-cahaya lampu pada gedung-gedung tinggi.
"silakan bu". ucap pramusaji.
"terima kasih". mataku tidak bisa berpaling dari pemandangan malam itu.
aku segera mengambil ponsel dan mengabadikan momen Indah.
"semua terlihat cantik".
aku mengirim beberapa foto yang aku ambil ke mas bram, dan aku ingin menikmati malam yang Indah bersamanya.
"permisi ibu, mau pesan apa?".
"oh, tolong berikan saya jus apel satu ya. hmm pesanan yang lainnya tunggu suami saya datang". jawabku.
"baik bu".
waktu terus berputar, detik demi detik terus berlalu. aku sudah menghabiskan tiga gelas jus apel saat menunggu kedatangan mas bram.
sudah satu jam lebih aku menunggu tapi mas bram tidak kunjung datang juga, bahkan pesan yang aku kirim tidak ada balasan sama sekali.
aku merasa gelisah, kesal, kecewa yang bersamaan. kesal pada diri sendiri karena aku membuat janji tanpa ada persetujuan dari mas bram, kecewa karena mas bram tidak membalas pesanku.
entah kenapa mataku tertuju ke arah pintu masuk dan tidak berpaling sama sekali. aku melihat sosok yang tidak asing yaitu mas bram.
"mas bram akhirnya datang juga". aku tersenyum lega.
"tapi, kenapa begitu ramai yang datang dengan mas bram?". aku melihat ada beberapa pria yang bersama mas bram termasuk Ryo.
mas bram melangkah ke arah ku dan matanya terkejut ketika melihatku di hadapannya.
"karin? kenapa kamu ada di sini?". tanya mas bram dengan nada heran.
"kenapa ada di sini? apa maksud mas bram?. aku menggenggam tanganku yang terus gemetaran.
"a.. aku...".
"karin,maafkan aku. aku lupa menyampaikannya pada bram". tiba-tiba ryo memotong ucapanku.
"ada apa ryo? apa yang ingin kamu sampaikan padaku?". tanya mas bram penasaran.
"anu.. itu.. aku lupa kalau.... ".
"tidak apa-apa ryo, lagian aku sudah selesai makan malamnya. baiklah aku permisi dulu". dengan cepat aku mengambil tasku dan pergi keluar.
"karin, tunggu dulu". teriak mas bram.
aku merasakan ada gunung berapi di dalam hatiku, semua terasa panas dan mendidih. aku berusaha menahan amarahku agar tidak meluap.
aku mempercepat jalanku karena sudah merasakan sesak di dada. lalu tiba-tiba aku jatuh karena sepatu hak tinggi yang aku pakai.
"aghh..". aku berteriak karena terkejut.
orang-orang yang berada di restauran mereka semua menatapku dengan pandangan terkejut.
"apa kamu baik-baik saja". ucap seorang pria yang ingin membantuku.
"iya, aku baik-baik saja". jawabku dengan menahan rasa sakit.
"jauhkan tangan kamu dari istriku". ucap mas bram pada pria itu.
"sorry, aku tidak tahu kalau wanita ini adalah istri kamu. aku hanya ingin membantunya". jawab pria itu, lalu ia pergi ninggalin aku dan mas bram.
"apaan sih kamu mas, dia cuma ingin membantuku". ucapku pelan.
"aku tidak senang ada pria lain yang menyentuh istri ku. apa kamu baik-baik saja sayang?". mas bram memeriksa pergelangan kaki ku.
"aku baik-baik saja".
di saat seperti ini dia masih memikirkan rasa cemburunya dari pada perasaanku yang kecewa karenanya.
__ADS_1