Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Bersikap dewasa


__ADS_3

mendengar mobil yang mulai masuk ke pekarangan rumah, Nathan bergegas keluar dari kamar Alayya, ia temukan Alayya yang sudah berjalan mendekat ke arahnya.


"sini aku bantu" Alayya menyerahkan tas bawaannya, ia mencium punggung tangan Nathan dengan takzim. Nathan ingin memeluk wanitanya itu, tapi Alayya selalu menghindar, ia berjalan lebih dulu


"Caca mana"


"ada di dalam, baru aja tidur, dia kangen kamu Al"


"Al..." panggilan Nathan Alayya abaikan.


....


Meja makan hening, keduanya hanya sibuk dengan makanan masing-masing, sesekali Nathan melirik Alayya yang terlihat makan dengan khidmat tanpa mau mengajaknya berbicara.


"Al" panggil Nathan tidak tahan di diamkan seperti ini, mendengar namanya di panggil, Alayya hanya mendongak, kemudian kembali menunduk.


"Al, aku mau ngomong"


"ya... ngomong aja, nggak ada yang larang kamu buat ngomong" Nathan menghela nafas, ia letakkan sendok dan garpu di atas piring, sungguh tidak ada selera untuk menghabiskan makanan di depannya. Nathan berpindah duduk di samping Alayya yang bahkan tidak sekalipun meliriknya.


"aku ada salah sama kamu, Hem?"


"jangan diam aku kaya gini, aku mohon Alayya"


Nathan merangkul bahu Alayya ia sandarkan kepalanya di sana.


"bicaralah Alayya, aku mohon "


Alayya mengusap lengan Nathan, ia juga tidak ingin berada di situasi seperti ini, apalagi mereka akan berangkat umroh bersama, tidak mungkin Alayya terus acuh pada Nathan, yang ada ia tidak bisa beribadah dengan benar.


"kamu marah?" tanya Nathan lagi


"menurut kamu?"


"kamu marah, aku nggak tau salah aku Al, Tolong beritahu aku letak kesalahannya"


"aku yang salah... karena terlalu mencintai kamu Nat" nathan mengangkat kepalanya, ia bingung dengan apa yang istri ucapkan, emang di mana letak kesalahannya Jika Alayya mencintai nya


Alayya menoleh, wajah mereka begitu dekat, alayya mengusap sisi sebelah kanan wajah Nathan dengan jemari dinginnya, Wanita itu tersenyum dengan banyak luka yang ia sembunyikan di dalamnya.

__ADS_1


"salahnya dimana?, nggak ada yang salah, Al "


"salahnya... karena kamu yang belum bisa menerima ku, Nat" Nathan belo, ia posisikan duduknya dengan benar menghadap Alayya, pria itu menggeleng.


"kamu ngomong apa Al, aku tulus sama kamu "


"tulus menerima aku sebagai ibu untuk Raisa, beda dengan menerima aku karena kamu mencintaiku, Nat"


Nathan kembali menggeleng, ia genggam tangan Alayya, Nathan letakkan jemari indah itu di depan dadanya.


"kamu bisa rasakan sekarang, kan Al" sorot mata Nathan tidak menunjukkan kebohongan di sana.


"kamu bisa rasain getaran nya kan, getaran ini yang selalu aku rasakan saat dekat dengan mu, seperti ini, Al, Aku mencintai kamu Alayya, aku mencintai kamu, aku menerima kamu tulus dari hati ku, meskipun kamu tau sendiri pernikahan kita hanya di awali dengan permintaan Alesha semata, tapi dengan berjalannya waktu... rasa cinta yang sulit aku berikan untuk orang lain kini semua berpindah pada mu Alayya, hanya untuk kamu"


Alayya bisa merasakan ketulusan pria itu dalam ucapannya, Alayya tidak sama sekali berkedip menatap Nathan, terlihat senyum di wajah cantiknya, helaan nafas juga terdengar begitu jelas


"kamu Nerima aku, Nat?, kamu cinta sama aku?" Nathan mengangguk, Alayya kembali mengusap wajah tegas sang suami, ia sedikit memiringkan kepala.


"sebelum mengatakan hal itu, kamu tanya dulu sama hati kecil kamu, aku hanya takut... larut lagi dalam semua kalimat itu, padahal jelas... semua hanyalah pemanis di rumah tangga kita"


"percayalah Al, aku sungguh mencintaimu "


"hahhh" Alayya menghela nafas, ia berdiri membawa piring bekas makanan mereka untuk di cuci, sedangkan Nathan, pria itu diam, satu kalimat pun tak sanggup keluar untuk membantah perkataan Alayya, semua yang wanita itu katakan benar, cinta seperti apa yang ia sebutkan, jika di dalamnya masih di hantui masa lalunya dengan Alesha, cinta seperti apa yang ia maksudkan, jika kamarnya saja tidak pernah ia ijinkan Alayya masuk kedalam nya, bagaimana dengan hatinya?


Nathan mengusap wajahnya kasar, ia Raup oksigen rakus, nathan menatap punggung Alayya yang berdiri membelakanginya, tanpa Nathan sadari Alayya begitu terluka dengan diamnya Nathan, dengan diamnya Nathan cukup membuktikan jika pria itu benar masih belum bisa terbebas dari masalalunya.


....


keduanya kini berpindah di atas ranjang, ranjang milik Alayya, keduanya tidak tidur, mereka sibuk berperang dengan pikiran masing-masing, Nathan yang tidak tahan dengan masalah yang berkelanjutan memberanikan diri untuk mendekati Alayya, ia bergeser menimbulkan decitan kasur, Nathan melingkar kan tangan kekarnya di pinggang alayya, wajahnya ia tempelkan di leher sang istri.


"belum tidur?"


"belum" jawab Alayya apa adanya.


"kenapa?"


"kamu juga belum tidur, kenapa?" bukannya menjawab, Alayya malah bertanya balik.


"Nggak bisa tidur?, lagi mikirin apa?" tanya Alayya lagi

__ADS_1


"mikirin kamu"


"aku?"


"iyaa"


"kenapa, aku kenapa emangnya?"


"nggak Kenapa-kenapa, kamu makin hari makin cantik, Makin dewasa, cara kamu nyampai in rasa kesal kamu ke aku... membuat aku sadar kehilangan kamu di hidupku adalah hal yang paling salah"


Nathan mengeratkan pelukannya, matanya terpejam, sesekali ia hirup dalam aroma vanilla kesukaannya di tubuh Alayya.


"sudah tua Nat, nggak mau aku bersikap kekanak-kanakan lagi"


"kamu nggak marah lagi?"


"emang kalo aku marah bakal merubah semuanya? enggak kan"


Nathan tidak menjawab lagi, ia arahkan telapak besarnya ke perut rata Alayya


"cepat hadir anak ayah" ucap Nathan di telinga Alayya


"cepat tumbuh di perut ibu" Alayya menyunggingkan senyuman, ia usap punggung tangan Nathan di atas perutnya.


"tidur Nat, besok Kita sibuk pengajian "


"iyaa, kamu juga , seharian kamu sibuk banget ngurusin ini itu, padahal baru aja balik"


"hem" Masalah rasa memang belum terselesaikan, masalah hati pun belum jelas arahnya, tapi yang pasti... beberapa hari lagi mereka akan beribadah ke tanah suci bersama, Alayya tidak ingin berangkat bersama Nathan jika masih tersimpan kebencian padanya, ia tepis semua rasa sakit hati , agar ibadahnya berjalan dengan lancar, Alayya berharap... pulangnya ia dari tanah suci, ia akan mendapatkan Jawaban dari kegundahan hatinya selama ini.


malam semakin larut, mereka akhirnya tertidur juga, posisinya berubah sekarang, Alayya jadi menghadap Nathan, melingkarkan tangannya di pinggang sang suami, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Nathan, sedangkan lengan Nathan ia jadikan sebagai bantal, masa bodoh dengan keluhan nathan besok jika lengannya sakit karena ia tiduri semalaman.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hay, Hay. kalian tau nggak apa yang buat aku semangat lanjutin nulis nya atau yang buat aku males lanjutin nulis nya?


Dukungan kalian,hehehe, semakin kalian dukung aku dengan cara tulis komentar, vote, ngasih like, aku juga makin semangat nulisnya, tapi kalo yang dukung dikit, akunya jadi uring uring-uringan juga, berasa nulis dan menghayal sendiri hehehe. ya udah lah yaa segitu aja curahan hati ini love sekebon, dan yaa, untuk cerita ini aku bakal usahain buat endingin di bab 50, jadi tinggal dikit lagi,maaf ya kalo ceritanya cuman muter muter aja hehehe, semangat untuk kita semua, love sekebon.

__ADS_1


__ADS_2