Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 135. Bad News


__ADS_3

Koridor rumah sakit kala itu lengang, hanya ada beberapa orang yang lalu lalang. Entah apa karena sore itu hujan mengguyur bumi dengan derasnya, atau karena tidak banyak orang sakit. Mark mendongak, memandang istrinya yang sedari tadi duduk dengan menggoyangkan kakinya gelisah. Ketika mereka menemukan Judith dalam keadaan yang memprihatinkan, Hannah menangis cukup lama, sembari mengusap surai karibnya dengan lembut, berharap dengan seperti itu Judith akan sadar.


Keduanya memahami apa yang sebenarnya terjadi. Mark dan Hannah bukanlah anak remaja tanggung yang tidak bisa membaca situasi. Mereka tahu bahwa Judith sedang hamil, jika dilihat dari darah yang merembes diantara pahanya. Bukan hal mengejutkan sebenarnya, mengingat hubungan tanpa status Jeanno dan Judith yang sampai ke tahap yang begitu intim. Hanya saja Mark tidak menyangka Jeanno kurang berhati-hati dalam ‘bermain’. Kecuali jika ia memang menginginkan anak dari Judith.


“Mark.. kenapa dokter lama sekali?”


Mark baru saja akan menjawab, akan tetapi detik selanjutnya ia memilih bungkam. Dadanya sesak akibat hantaman rasa bersalah. Karena jika diurut dari awal, semua kekacauan ini berasal dari dirinya sendiri. Jika saja Mark membuang berkas tentang Judith. Jika saja ia tidak memilih untuk menyimpannya dengan anggapan suatu saat tidak akan sampai ke tangan Jeanno.


Tidak apa jika Jeanno harus menumpahkan kekesalan padanya. Sungguh, keluar dari perusahaan sepupunya yang dibangun dari 0 bersama-sama bukan suatu hukuman yang berarti. Karena setelah ini Mark bisa langsung masuk ke perusahaan milik ayahnya sendiri. Tidak apa jika tali persaudaraannya dengan Jeanno putus, selama pria itu masih angkuh dan keras kepala.


Tapi Judith, gadis itu tidak bersalah. Ia hanyalah korban dari drama yang tak pernah berkesudahan. Kisah lama yang seharusnya sudah ditutup sejak sang pemeran utama wanita meninggal dunia. Jeanno seharusnya tahu itu, bahwa segala ‘kesialan’ dalam hidup Nayara dulu adalah andil dari orang tua Jeanno sendiri yang licik dan egois. Tak ada campur tangan Judith disana, sama sekali. Ia hanya perempuan yang kebetulan memiliki kemiripan wajah dengan Nayara.


Hanya itu.


Jeanno Alexander. Pria jenius, kaya raya dan tampan. Yang menyimpan dendam dan keangkuhan yang tak bisa ditembus oleh siapapun. Juga bodoh, karena ‘menghukum’ orang yang salah. Astaga, Mark takut setengah mati jika terjadi apa-apa dengan Judith maupun janinnya. Jika salah satu tidak bisa diselamatkan, Mark bersumpah akan menghajar Jeanno.


Pintu terbuka, sama-sama mengagetkan sepasang suami istri yang tengah tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hannah lantas berdiri dari duduknya, memandang penuh harap seorang wanita bersnelli dengan tag nama ‘dr. Kirana Sp.Og’


“Bagaimana dokter?”


Kiran memandang Hannah dan Mark secara bergantian. Tanpa lisan yang terurai pun, mereka sama-sama tahu hasilnya buruk.


Bug!



__ADS_1


Bug!




Bug!


Tak terhitung berapa kali buku-buku jari itu meninju stir kemudi yang tak memiliki salah apa-apa. Keterangan dokter Kiran beberapa menit lalu tak membuat pikirannya kalut. Amarah, kecewa, sedih, serta rasa bersalah bergelut satu sama lain dalam benaknya. Satu-satunya yang ingin Mark hajar sekarang adalah Jeanno, akan tetapi ia teringat bahwa dirinya sendiri juga memiliki ‘andil’ dalam hilangnya nyawa janin yang tidak berdosa.


Judith kehilangan bayinya, bahkan sebelum janin itu memasuki bulan kedua.


Mark ijin pamit ke kamar mandi, meninggalkan Hannah untuk menunggui Judith yang masih belum sadar. Tanpa Hannah sadari bahwa langkah suaminya bukanlah ke kamar mandi, melainkan ke parkiran, masuk ke mobilnya. Niatan semula Mark akan memburu rumah Jeanno, membuat wajah tampan itu babak belur. Namun sekali lagi, bukan hanya Jeanno yang bersalah disini, namun juga Mark sendiri.


Disaat gejolak berbagai emosi memerangi batinnya, ia harus menyalurkannya ke suatu tempat. Dan stir kemudi yang menjadi sasarannya. Mark meninju. Satu, dua kali. Kobaran amarah dan rasa bersalah itu masih membara. Empat, lima, enam kali. Buku-buku jarinya mulai memerah. Kemudian bayangan wajah Judith yang sepucat salju sewaktu mereka menemukannya pingsan, kembali membayangi. Mark berteriak frustasi.


Bug!




Bug!



__ADS_1


Delapan. Sebelas. Lima belas. Hingga kepala Mark terlalu ‘ramai’ untuk sekedar melajutkan hitungan bogemannya. Kini tangannya sudah tak berbentuk sempurna seperti sedia kala. Tak hanya merah, namun juga berdarah. Pria itu tak kunjung berhenti, karena menurutnya kesakitan yang ia rasakan pada buku jarinya tak sebanding, tak ada secuil kukupun jika dibandingkan dengan Judith.


“Maaf, maafkan aku, Judith”


Entah keberapa ratus sekon, Mark berhenti. Bukan karena rasa bersalahnya hilang, namun karena ia lelah. Lelah untuk sekedar mengayunkan bogeman kearah stir kemudi yang telah terbalut darahnya. Pria itu memejamkan mata, menaruh dagunya di stir.


Ironis ketika beberapa minggu lalu ia menangis bahagia di altar usai mengucap janji suci kepada wanita yang dicintainya. Sekarang ia kembali menangis. Menangisi kecerobohannya hingga memakan korban lain yang tersakiti.


Tangan Hannah tak berhenti menyugar rambut Judith. Usai dipindah ke kamar rawat hingga detik ini perempuan manis itu belum juga sadar. Hal itu sedikit banyak membuat Hannah tenang, karena ia tak tahu bagaimana caranya memberi tahu kabar duka kepada Judith jika sahabatnya bangun nanti.


“Dulu kau yang selalu menjaga aku dan Renatta jika terjadi sesuatu dengan kami. Judithku yang cerewet, percaya diri, cantik, dan perhatian. Aku merindukanmu, sayang. Kau yang sekarang, bukan Judith yang kukenal selama ini. Kau yang sekarang begitu pucat, kurus, dan menyedihkan. Aku mau Judithku yang dulu.. Berjanjilah untuk kembali lagi seperti dulu, ya?”


Hannah kembali menangis, mengingat ketika diperhatikan fisik sahabatnya sungguh berbeda dengan Judith yang ia lihat dipernikahannya. Padahal baru beberapa hari, namun Judith sudah terlihat sangat ‘berbeda’.


“Maafkan aku yang tidak ada ketika kau jatuh. Disaat kau mungkin membutuhkan seseorang, aku justru berada dibelahan negara lain, menjalani hariku dengan bahagia bersama pria yang sekarang menjadi suamiku. Sementara kau, kau sedang berjuang sendirian bersama janinmu. Aku.. bukan sahabat yang baik, ya?”


“Kau tau? terkadang aku berpikir Victoire tidak begitu buruk. Ketika kita bekerja disana, tak ada hal menyakitkan terjadi. Satu-satunya masalah adalah jika kita mendapatkan klien yang menyebalkan. Kau ingat sewaktu itu dihari yang sama, Renatta yang menampar klien yang memegang dadanya, kau yang meludahi pria yang menjelekkan fisik istrinya didepanmu, lalu ada aku yang memilih mengurung diri di kamar mandi jika mendapatkan klien yang aneh”


Hannah tertawa disela ceritanya, membayangkan ‘menyenangkan’ terdahulu.


“Lalu setelah itu kita bertiga dipanggil ke ruangan Johnny. Disemprot habis-habisan dan mendapatkan hukuman berupa skorsing selama satu minggu. Berakhir Johnny mendapatkan komplain dan kehilangan beberapa klien penting karena tidak ada kita di show satu minggu itu. Lucunya lagi, Johnny kemudian menelpon kita dihari kelima, ketika kita sedang berlibur ke Lombok. Memohon supaya besok kita bisa masuk untuk memulai show seperti biasa”


Tawa yang semula terdengar renyah, kini meredup. Kesenduan kembali menghampiri perasaan Hannah.


“Kau benar ketika mengatakan jatuh cinta hanya akan membuatmu lemah. Walaupun itu tidak berlaku untukku. Tapi Judith, seandainya waktu bisa diputar, hal pertama yang akan kulakukan adalah mencegahmu sekuat tenaga untuk tidak datang menemui Jeanno. Karena jika itu terjadi, kau pasti tidak akan semenderita sekarang”


Satu hal yang Hannah ketahui pula, jika waktu diputar dan Judith tak menemui Jeanno, sekarang ia masih menjadi penari erotis di Victoire, berada dibawah kungkungan Louis sebagai budak ****.

__ADS_1


__ADS_2