
“Ayah..”
Robert Mahendera mendongak, pria berambut putih itu menyernyitkan dahi melihat kedatangan putranya disiang bolong.
“Ada apa, Arman?”
“Maaf jika aku kedatanganku mendadak. Aku ingin bertanya pendapat ayah”
Robert melepas kacamatanya. Membuat garis tegas wajah yang sudah tak lagi muda itu terlihat jelas. “Duduk. Jangan bicara padaku sambil berdiri”
Menuruti, Arman menarik kursi di hadapan ayahnya untuk diduduki.
“Ada apa? Cepat katakan, jangan buang waktuku”
Arman menarik nafasnya. “Begini, aku memiliki rencana untuk menjalin kerjasama dengan Jeanno Alexander. Bagaimana.. menurut ayah?”
“Hmm.. Jeanno Alexander” Robert menegakkan posisi duduknya, sebuah gestur yang ia lakukan jika tertarik akan sebuah topik obrolan. “Dia pria yang hebat, tapi aku tidak yakin apa kau bisa sejajar dengannya”
Jika tidak sedang posisi membutuhkan informasi, Arman tidak akan sudi menghabiskan waktunya untuk duduk berhadapan dengan ayahnya hanya untuk dicerca serta dibandingkan dengan orang lain.
“Justru bekerja sama dengan Jeanno akan menjadi batu loncatan bagiku untuk karirku yang selanjutnya, ayah. Aku memohon dukunganmu”
Robert menyeringai. Bukan tanpa alasan ia yang sudah memasuki kepala enam masih enggan mewariskan tahta kepemimpinannya kepada Arman yang notabene anak lelaki satu-satunya. Dibanding kakak sulungnya yang seorang wanita, Arman jauh lebih payah jika dihadapkan dengan masalah bisnis. Putranya ini masih mengedepankan kesenangan duniawi. Mengejar nafsu dan menghabiskan uang keluarga untuk entah keperluan apa. Adalah mimpi jika Arman berharap ayahnya dengan sukarela mewariskan perusahaan padanya. Dan lagi apa ini, bekerja sama dengan Jeanno Alexander? Lelucon siang hari yang terik, bagi Robert.
“Kau putraku, tapi aku harus jujur disini… Jeanno Alexander bukanlah tandinganmu, anakku. Dia membangun perusahaannya yang sebesar sekarang dari hasil kerja kerasnya. Tanpa campur tangan dari ayahnya yang tidak kalah sukses. Kau tahu kan, siapa ayahnya?”
Arman mengangguk kaku. “Thomas Alexander”
“Tapi ayah, jika tuan Alexander memang sehebat itu, mengapa beliau tidak membantu Jeanno untuk membangun perusahaan?”
“Masalah keluarga” Robert kembali menyandarkan punggungnya dibadan sofa. Mulai bosan akan percakapannya dengan Arman. “Mereka terlibat perang dingin sudah bertahun-tahun lamanya, sejak Jeanno memutuskan untuk menikah dengan gadis biasa”
“Kau paham maksudku, Arman? Jeanno memilih gadis biasa itu dan bekerja keras untuk membuktikan bahwa ia bisa tanpa nama ayahnya. Sesuatu yang patut diapresiasi. Pembuktian yang tidak akan pernah bisa kau lakukan”
“Apa Jeanno sehebat itu sampai membuat ayah merendahkan putra ayah sendiri?”
Cibiran sinis Arman, yang malah mengundang tawa remeh Robert. “Tidak semua orang masih fokus dalam bekerja ketika pasangannya sedang sakit serius, Arman. Itulah yang Jeanno lakukan ketika istrinya sakit keras. Memikirkan pekerjaan, merawat istrinya sekaligus mengurusi anak mereka. Jika aku jadi Thomas, aku tidak akan menyia-nyiakan Jeanno dan keluarga kecilnya”
Arman terdiam, tak lagi dimasukkan ke hati ucapan tajam sang ayah. Fokusnya adalah kepada perkataan mengenai Jeanno barusan. Jadi istrinya pernah sakit? seserius itukah? Tapi terakhir kali ia bertemu, Nayara Alexander nampak baik-baik saja. Sangat sehat malah, seperti tidak pernah terjangkiti penyakit serius.
Seperti menemukan permainan baru yang menarik, Arman memutuskan untuk masuk lebih dalam.
**
“Maaf, tapi saya tetap tidak bisa memberikan apa yang anda mau, nyonya”
__ADS_1
“Kenapa tidak bisa?!”
Kepala Judith berdenyut nyeri, sudah hampir setengah jam yang lalu tokonya kedatangan seorang wanita berpenampilan modis yang meluapkan emosi dan memaksanya untuk memberikan sebuah alamat. Yang jelas saja Judith tolak dengan alasan privasi.
“Suamiku jelas-jelas membeli kue dari toko ini dan mengirimkanya kepada wanita simpanannya. Aku sebagai istrinya berhak meminta alamat si ****** itu, sementara kau disini malah mempersulit dan menahan informasinya. Atau jangan-jangan kau.. teman pelacur suamiku?”
Jujur saja, kehadiran tamu tak terduga ini sangat mengganggu. Pelanggan lain yang semula ingin mampir, memilih untuk pergi dikarenakan enggan menunggu lama akibat sang pemilik yang masih sibuk mengurusi ‘tamu’ lain. Sedangkan untuk mengusir wanita itu, Judith tidak sampai hati. Terlebih temperamen yang sedang buruk, bagaimana jadinya jika ia diusir? Oh, omong-omong mereka tidak sendiri. Beberapa pembeli yang sudah lebih dulu berada disana, memutuskan untuk tetap tinggal sekedar melihat ‘tontonan’.
“Ada apa ini?”
Owen datang menyela, masuk dan memposisikan tubuhnya diantara si istri sah dan Judith. Entah pertanyaan yang dilayangkan kepada siapa, yang pada akhirnya si istri yang menjawab masih dengan nada tinggi dan tatapan sinis.
“Suamiku membeli kue disini kemarin, aku melihat dari tagihan kartu kreditnya. Kemudian semalam ada pesan dari ponselnya yang mengucapkan terimakasih atas kiriman kuenya. Aku tau itu berasal dari wanita simpanannya, maka dari itu aku kemari untuk meminta alamat kepada nona muda ini, tapi dia terus berkelit dan menolak. Bukankah seharusnya dia sebagai sesama perempuan, membelaku yang merupakan istri sah?”
Judith meringis ketika bertukar pandang dengan Owen sebelum kembali kepada sang istri sah. “Begini bu, saya mohon maa—“
“Bukankah yang seharusnya anda tekan adalah suami anda?”
Wanita itu terbelalak, mengira bahwa Owen datang untuk berpihak padanya. “Apa katamu?”
Owen melipat tangannya didepan dada. “Nona ini hanya menjalankan kewajibannya. Suami anda membeli, sebagai owner yang baik sudah sepatutnya dia memberikan pelayanan yang terbaik. Jika suami anda menginginkan kue ini untuk diantar kesebuah alamat, maka diantarlah tanpa perlu tahu untuk siapa kue ini ditujukan. Mengenai alamat, saya rasa merahasiakannya adalah bentuk profesionalitas dan… dasar etika. Sebagai bentuk menghormati privasi orang lain. Kecuali jika anda tidak memiliki etika. Oh benar, anda kan memeriksa ponsel suami anda yang saya rasa itu dilakukan secara diam-diam. Melanggar privasi”
Wajah wanita itu sontak memerah, diikuti bisikan dan anggukan setuju oleh orang-orang disana yang menonton sejak tadi.
“Sekarang mari kita kembalikan, jika saya yang membocorkan alamat rumah anda. Apa anda marah? Dan lagi menyeret serta menyalahkan orang lain atas rusaknya rumah tangga anda dibanding menekan suami sendiri, kurasa itu kelakuan orang-orang pengecut”
Owen tersenyum. “Jadi sebelum nyonya merasa dipermalukan lebih jauh lagi, saya harap nyonya pergi dari sini dengan damai”
Si nyonya istri sah menggumamkan kata-kata umpatan lirih sebelum berbalik dan menerobos kerumunan dengan kasar diiringi sorakan remeh dari para penonton. Aktifitas toko kue yang sempat berhenti, kembali pada kegiatan normalnya. Judith mendongak kearah Owen, menyerukan ‘terimakasih’ sebelum berpamitan kebalik meja kasir untuk melayani.
Owen masih disana, menunggu sampai toko sepi. Sesekali memberikan rekomendasi rasa mana yang paling laris.
“Nona, kau benar-benar beruntung memiliki kekasih sepertinya” seorang wanita berambut ikal menunjuk Owen dengan senyum menggoda Judith, yang dibalas dengan senyuman saja.
Setelah wanita tersebut pergi, toko sepi. Owen berjalan mendekati meja kasir.
“Terimakasih banyak, Owen. Aku tidak tahu akan seperti apa jika kau tidak datang. Kejadiannya begitu mendadak, aku bahkan tidak tahu harus menanggapi apa”
Lawan bicaranya tersenyum. “Kau sudah mengambil keputusan yang benar. Tapi Aleta… bisakah aku meminta imbalan lain selain.. terimakasih?”
Judith menyipitkan matanya. “Pamrih, huh?” dibalas Owen dengan kekehan. “Aku hanya melihat peluang disini”
Perempuan manis itu menghela nafas. “Baiklah, apa yang kau mau, Owen? Jangan sesuatu yang sulit, oke?”
“Tidak. Aku hanya ingin mengajakmu keluar untuk.. yah nonton, makan malam. Itupun jika kau berkenan”
__ADS_1
“Boleh. Kapan?”
“Besok malam?”
Judith mengangguk tanpa beban. “Oke. Besok malam”
**
Dahi pria itu menyernyit ketika mengetahui drama yang terjadi antara Jeanno dan keluarganya. Bahwa Jeanno jatuh cinta pada kawan kuliahnya yang merupakan perempuan sederhana, kemudian ditentang keluarganya hingga tidak diakui sebagai anak. Lalu Jeanno memutuskan untuk menikahi kekasihnya, dan hidup sederhana untuk beberapa tahun. Tidak lama karena Jeanno dengan kecerdasannya mampu membangun perusahaan dari 0. Ketika usahanya mulai naik, istrinya diketahui sakit. Entah separah apa, tidak ada yang tahu. Dulu nama dan perusahaan Jeanno belum sebesar sekarang, sehingga orang-orang tidak begitu peduli dengan apa yang terjadi pada keluarganya. Nayara Alexander hanya muncul sekali dimuka publik, sebelum menghilang dirumorkan sakit parah hingga meninggal. Sejak saat itu Jeanno Alexander dikenal menjadi pria misterius yang sangat tertutup. Lalu secara tiba-tiba, Jeanno mendatangi acara akbar Iris Group dengan membawa wanita yang diakuinya sebagai Nayara Alexander. Berbanding terbalik dengan rumor mengenai sakit parahnya, Nayara justru datang dengan sangat cantik, sehat dan sempurna.
Kebetulan, Judith juga menghilang bak ditelan bumi. Menghilang dan tak ada satupun yang memberitahunya dimana keberadaan penari itu. Awalnya Arman mengira Nayara adalah Judith. Tapi sedikit tidak mungkin mengingat Nayara yang pernah Jeanno tunjukkan fotonya sangat mirip dengan Nayara yang ia temui di pesta kala itu.
“Jeanno terlihat sangat marah ketika aku menggangu Nayara. Jika dia Judith, sedikit tidak masuk akal melihat reaksinya sekacau itu. Tapi akan masuk akal jika wanita itu memang Nayara. Maksudku.. siapa yang terima melihat istrinya dilecehkan”
Arman memijat pangkal hidungnya. Teori gila mengenai Judith adalah Nayara yang semula ia tepis jauh-jauh, kini muncul lagi di benaknya. Bukan hal yang mengejutkan jika Jeanno menyewa Judith untuk menggantikan Nayara yang sedang sakit. Benar, kan?
**
Malam yang ditunggu Owen. Pria itu telah mempersiapkan rencana ‘kencan’nya dengan Aleta dengan sangat baik. Dimulai dari menjemputnya, hingga mengantarnya pulang dalam keadaan utuh. Satu langkah penting dalam pendekatannya. Menurut Owen, jika malam ini berjalan dengan lancar, maka peluang untuk menyentuh hati gadis itu akan lebih mudah kedepannya.
Maka dari itu menjelang petang, Owen sudah lebih dulu pulang awal. Bersiap mengenakan pakaian paling apik sampai mengundang tanya sang ibunda. Sebenarnya Owen ingin mengenalkan Judith, tapi ia tidak ingin ibunya berharap terlalu banyak. Nanti saja jika hubungan mereka sudah jelas, batinnya.
Dan disinilah ia, duduk diatas motornya menunggu Judith turun. Ia sudah mengirim pesan, dibalas ‘Ok’ oleh gadis itu lima menit yang lalu.
Dibalut cuaca petang yang berbalut bintang, Owen merasa semesta turut mendukung langkahnya mendekati Judith. Suasana hatinya bagus sekali, bahkan sepanjang jalan menuju apartemen Judith ia habiskan dengan bersiul dan bersenandung riang.
Selang lima menit berikutnya, yang ditunggupun datang. Owen bangkit, bersiap menyapanya. Hanya untuk disambut dengan wajah panik Judith.
“Owen, bisa tolong antarkan aku ke stasiun?”
Jika dilihat dari pakaian Judith, gadis itu memang terlihat bersiap pergi dengannya. Tapi apa yang barusan dibilangnya, stasiun?
“Stasiun?” Agaknya otak yang belum terkoneksi antar selnya dengan sempurna, Owen menanyakan kembali dengan wajah bingung.
Judith mengangguk. Kepanikan kentara sekali dalam binar matanya. “Iya. Stasiun. Bantu aku sekali lagi, ya? aku harus ke rumah sakit sekarang”
“R-rumah sakit?” nada bicara Judith yang cepat dan gemetar, tentu saja membuat Owen turut panik. Terlebih terselip kata rumah sakit disana. Untuk apa Judith ke stasiun untuk menuju rumah sakit? bukankah rumah sakit di kota ini juga banyak?
“Tapi.. tapi siapa yang sakit?”
Judith membiarkan netranya memandang Owen. Ada kilah kecemasan disana, tapi Judith tidak ada waktu untuk menceritakan dengan detail. Sungguh, ia takut sekali. Hanya ada satu nama yang memenuhi benaknya, yang membuatnya ingin ke rumah sakit detik ini juga.
“Putriku masuk rumah sakit. Aku harus kesana sekarang juga. Jadi tolong.. antarkan aku ke stasiun, ya? maaf jika acara kita kubatalkan. Kesehatan putriku adalah prioritas utamaku sekarang”
‘Putri..? jadi Aleta… sudah memiliki anak?’
__ADS_1
Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam batin Owen. Namun ia bisa menahan diri untuk tidak dengan kurangajar menanyakan lebih jauh. Yang bisa ia lakukan sekarang adalah membantu Judith pergi ke stasiun secepatnya.