Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 143. Kilas Balik


__ADS_3

Hari telah berganti.


Sejak pulang dari rumah sakit, Judith masih tinggal di rumah Mark untuk menemani Aera menjalani kesehariannya. Tentu saja tanpa sepengetahuan Jeanno. Jika pria itu kembali dari kantor, Judith akan bersembunyi di kamarnya sampai Jeanno pulang. Untunglah Aera tidak mengatakan kepada papanya perihal kehadiran Judith.


Mengenai sisa uang Jeanno, jujur saja Judith masih belum menemukan cara. Mark sudah berkali-kali menawarkan bantuan untuk meminjamkan uang kepadanya, tapi Judith menolak dengan berbagai alasan. Seperti yang terakhir Jeanno sampaikan, untuk jangan pinjam kepada Mark Sebastian. Tidak tahu apa yang melandasi Jeanno untuk berkata demikian, tapi Judith tidak berani melanggarnya.


Johnny calling…


Tersadar dari lamunannya, Judith meraih ponsel dan terheran melihat nomor mantan manajer Victoire itu pada layar benda pipih itu.


“Ada apa, Johnny?”


“Hey.. maaf mengganggu waktumu, Judith. Tapi ada hal yang ingin kusampaikan. Bisa kita bertemu?”


**


Pertandingan itu dimenangkan oleh pihak Ethan. Membuat kawan-kawannya bersorak penuh kemenangan. Herannya, sebagai pihak yang kalah Arjuna sama sekali tidak terlihat sedih. Justru wajahnya merona, sama cerahnya seperti Ethan yang keluar sebagai pemenang.



*



“Sesuai perjanjian, karena aku kalah maka…” Arjuna melepas helmnya, kemudian menarik lengan Nayara kasar. “Gadis ini milikmu”



*



Sorakan itu kembali terdengar, sementara Ethan yang postur tubuhnya jauh lebih tinggi dari Arjuna, melangkah mendekati Nayara dengan tatapan mengerikan. Perempuan itu berontak dari cengkraman tangan Arjuna, namun tenaganya tidak seberapa.



*



Belum sampai Ethan meraih Nayara, sirine polisi terdengar dari ujung jalan. Membuat keramaian itu mendadak bubar, memilih untuk menyelamatkan diri sendiri. Ketika Ethan hendak merenggut tubuh Nayara untuk ikut bersamanya, gadis itu sudah lebih cepat menendang tulang kering Ethan dan berlari sekuat tenaga. Ethan ingin mengejarnya, namun salah satu kawannya sudah lebih dulu menariknya pergi seiring dengan semakin dekat suara sirine itu. Arjuna yang dilanda kepanikan juga memilih untuk kabur.



*



Nayara berlari sekuat tenaga tanpa melihat ke belakang. Yang ia tahu dirinya telah dijebak dan harus berlari sejauh mungkin dari jangkauan Arjuna dan orang-orang asing itu. Tidak tahu sudah berapa lama berlari, kekuatan kaki Nayara sudah berkurang. Kecepatan larinya mulai menipis, bertepatan dengan sebuah mobil yang berhenti di hadapannya.



*



Semula Nayara ingin kembali kabur, namun begitu melihat Henry dan Jeanno yang keluar dari mobil tersebut, pecahlah tangisnya.


__ADS_1


*



**


Sedikit kilas balik, usai mendapatkan kabar bahwa Nayara dijadikan bahan taruhan, Henry langsung mengendarai mobilnya, sembari menghubungi Jeanno untuk menanyakan dimana keberadaan Nayara sekarang. Setelah yakin bahwa Nayara memang tidak bersamanya, Henry lantas menceritakan perihal pesan yang diterimanya. Singkatnya, keduanya langsung bergegas ke lokasi usai menghubungi pihak kepolisian, terimakasih kepada paman Henry yang memiliki pangkat tinggi di kepolisian sehingga mereka langsung mengirimkan banyak petugas untuk mengadakan razia balap liar.



*



Baik Henry maupun Jeanno sama-sama tahu bahwa balap liar memang pernah menjadi bagian hobi mereka ketika sedang jenuh. Namun dua kawan itu sudah lama berhenti, menyisakan Andy dan Arjuna. Sementara lawan Arjuna di medan balap, adalah Ethan. Ketua dari geng motor Zeroes. Geng motor yang cukup terkenal. Ethan juga dikenal sebagai pribadi yang keras, menyeramkan dan kejam. Ia pernah mendekam di penjara remaja karena menghilangkan nyawa musuh ketika tawuran kala masa sekolah dulu. Banyak yang ingin mengalahkan Ethan di jalanan, namun pria itu hanya bersedia bertanding dengan iming-iming hadiah.



*



Jika kedatangan Henry dan Jeanno terlambat, maka akan sulit bagi Jeanno untuk membawa Nayara kembali.


“Arjuna kabur. Andy juga tidak bisa dihubungi”



*




*



“Apa menurutmu hanya Arjuna saja?”



*



Henry mengedikkan bahu. Sebetulnya ia mencurigai dua nama lainnya, tapi memutuskan untuk menyimpannya sendiri dulu sampai bisa membuktikan kecurigaannya benar.


**


Di kafe bernuansa minimalis namun nyaman, Judith duduk berhadapan dengan Johnny. Pria jangkung itu telah menunggu lebih dulu sebelum Judith sampai.


“Bagaimana kabarmu?”


Pertanyaan sederhana yang sebetulnya Judith sendiri bingung hendak menjawab apa. Ia tak sedang baik-baik saja, namun ia enggan jika jawaban itu memancing pertanyaan lain bagi Johnny.


“Baik. Kau? Aku tidak mendengar kabarmu setelah Victoire selesai”


Judith tidak bohong ketika mengatakan hal demikian. Sejak Victoire bangkrut dan Louis dideportasi, Johnny seakan menghilang ditelan bumi.

__ADS_1


“Aku baik-baik saja”


“Alasanmu bertemu denganku, kutebak bukan untuk sekedar menanyakan kabar, kan?”


Johnny berdehem. “Aku tidak tahu apa kau membutuhkannya atau tidak, tapi aku ingin mengajakmu bergabung”


“Bergabung?”


“Victoire telah buka kembali. Dengan manajemen yang baru, konsep yang baru dan pemilik yang baru”


Butuh waktu beberapa sekon bagi Judith untuk mencerna tawaran Johnny. “Jadi maksudmu.. ada yang membeli Victoire?”


“Jika kau ingin bergabung, aku akan menerima dengan tangan terbuka” Johnny mengindahkan pertanyaan Judith yang sebelumnya.


Lawan bicaranya terkekeh ringan. “Maaf, Johnny. Jika kau memintaku bergabung untuk menjadi wanita malam lagi, maka aku menolak. Aku sudah berhenti. Aku tidak ingin kembali kesana lagi”


Johnny memandangnya lama. Ekspresi pria itu datar, tatapannya pun demikian. Entah apa yang ada dalam pikirannya, sebelum ia mengangguk samar.


“Kau bisa menghubungiku jika berubah pikiran”


Judith tersenyum sedih. Ia memang sedang membutuhkan uang, dan cara paling cepat untuk mengumpulkan uang cukup banyak dalam waktu singkat adalah dengan cara memotong jalan. Yaitu kembali ke dunianya yang dulu. Tapi Judith enggan. Ia sudah bukan lagi Anata Judith yang dulu, yang rela membuka kaki lebar demi berselimut uang puluhan juta. Tidak.


“Kupastikan aku tidak akan menghubungimu”


Johnny hanya tersenyum tipis ketika Judith undur diri. Pria itu tidak kecewa, karena entah mengapa ia yakin Judith akan bergabung. Diraihnya ponsel dari saku jaket, untuk membawanya ke panggilan seseorang diseberang.


“Dia masih belum mau bergabung”


**


Ethan tidak pernah merasa sepenasaran ini dengan perempuan sebelumnya. Ketika Sharin dan Andy menemuinya dan mengatakan bahwa Arjuna ingin bertanding, Ethan bertanya apa yang akan ditaruhkan. Kemudian mereka menjawab perempuan. Ethan hanya tertawa penuh remeh. Karena selama ini ia bisa mendapatkan wanita manapun tanpa perlu bertarung di jalanan. Masih teringat bagaimana yakinnya Andy mengatakan bahwa ia tak akan menyesal dengan perempuan yang Arjuna bawa. Dan bermodal itulah Ethan memutuskan untuk menerima penawaran mereka.



*



Dan benar memang, perempuan yang Arjuna bawa sangat berbeda dari perempuan yang ditemuinya kebanyakan. Pakaiannya tertutup dan tak ada riasan mewah di wajah manisnya. Justru semakin menaikkan gairahnya membayangkan bagaimana penurutnya jika ia bisa membawa gadis itu ke ranjang.



*



Disitulah Ethan bertekad untuk menang. Herannya ia, yang mengetahui kemampuan Arjuna, justru merasa pemuda itu menahan gasnya dan sengaja membiarkan dirinya menang. Entah untuk apa, Ethan tak peduli juga. Karena yang ia pikirkan sejak tadi adalah ia akan membawa ‘piala’ kemenangannya, yaitu perempuan polos itu.



*



Well, memang semua bayangan indah itu gagal karena kedatangan polisi. Tapi tak apa, Ethan tidak akan berhenti mencari perempuan itu.



*

__ADS_1



__ADS_2