
setelah kejadian itu, aku sedikit merasa bersalah terhadap mas bram karena tidak bisa menjaga alisya dengan baik dan menyebabkan keributan.
tapi syukurlah, mas bram tidak marah padaku ataupun alisya.
"bunda". alisya menarik tanganku.
"kenapa sayang? alisya capek? mau bunda gendong".
"gak bunda". alisya menggelengkan kepalanya.
"alisya mau apa?". tanya mas bram.
"alisya laper pa".wajah alisya terlihat lesu.
"ya ampun sayang, maafkan bunda ya. bunda kelupaan kalau kita belum makan malam". aku langsung menggendong alisya.
"alisya mau makan apa?". ucap mas bram.
"chicken". jawab alisya.
"oke, kita makan di restoran ujung sana ya". mas bram menggandeng tanganku dan kami pergi ke restoran.
acara ngedate kami sedikit berantakan tapi itu semua tidak merubah moodnya mas bram saat itu.
"alisya duduk di sini ya". aku meletakkan alisya duduk di sebelah ku.
"mbak.. mbak... ". mas bram memanggil pramusaji restoran.
"ini pak menunya, silakan di pilih". ucap mbak pramusaji.
"kamu pesan apa?". mas bram menyodorkan daftar menu padaku.
ada begitu banyak menu makanan di restoran, berulang-ulang aku membalik daftar menunya.
"aku bingung mas". jawabku.
"di sini, menu apa yang paling spesial". tanya mas bram pada pramusaji.
"menu spesial kami di sini Steak Honey Black Paper pak, itu menu andalan restoran kami". jawab pramusaji itu dengan cepat.
"baiklah, saya pesan itu dua ya dan chiken butter cream nya satu".
"baik pak". pramusaji itu langsung mencatat apa yang mas bram pesan.
"mas, makanan itu pasti mahal". bisikku pada mas bram.
"tidak apa-apa karin". jawab mas bram dengan tersenyum.
mas bram memang pria yang baik, hanya saja sikap dinginnya yang membuat dia terkesan cuek.
saat kami makan bersama, alisya terlihat menikmati makanannya begitu juga mas bram.
"alisya sudah kenyang? mau kemana lagi kita". tanya ku
"beli mainan bunda".
"ohh iyaa... ayo kita beli mainan". aku menggandeng tangan alisya.
"mas... aku.... ". aku melihat mas bram sedang sibuk menerima panggilan telpon.
"sebentar ya sayang, tunggu papa lagi nelpon".
"iya bunda".
sambil menunggu mas bram selesai nelpon, aku dan alisya bermain melihat pajangan di restoran.
"sudah selesai mas. mas, alisya ingin.... ".
"kita pulang aja ya, ada seseorang di rumah menungu ku". wajah mas bram terlihat panik.
"baiklah mas".
dengan cepat aku menggendong alisya dan mengikuti langkah mas bram di belakang.
"bunda, ayo beli mainan". rengek alisya.
"sayang, maafkan bunda ya. malam ini kita batal beli mainannya, karena papa ada urusan. tapi bunda janji, besok bunda belikan mainan yang banyak untuk alisya". aku mencoba bernegosiasi dengannya.
"bunda janji". ucap alisya dengan wajah kecewa.
"iyaa sayang, bunda janji". kami saling menautkan jari kelingking.
sepanjang jalan menuju rumah, mas bram terlihat panik dan selalu mengecek Handphone di tangannya.
"mas, jangan lihat ke Hp terus, bahaya mas". ucapku.
mas bram tidak menghiraukan ucapanku, dia masih saja terus berulang kali melihat Handphonenya.
"sebenarnya apa yang terjadi!!? kenapa mas bram terlihat sangat panik".
sampai tiba di rumah, mas bram langsung bergegas masuk ke dalam rumah.
"ayo sayang kita masuk". ucapku pada alisya.
mas bram meninggalkan kami di belakang tanpa berkata apapun. aku semakin penasaran siapa tamu yang sangat penting itu.
"bi nina, tolong....... ". seketika ucapanku terhenti saat melihat mas bram berpelukkan dengan wanita lain di ruang tamu.
"iyaa non". bi nina menghampiriku.
"itu siapa bi?". suara ku agak melemah.
"oh itu.. anu non, itu non Cindy teman kecilnya tuan bram". bi nina sedikit gugup.
"ohh... ". aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
hatiku merasakan cemburu saat melihat mas bram memeluk cewek lain, walaupun temannya.
"bunda". alisya menarik tanganku.
__ADS_1
"ahh iyaa sayang, ayo kita ke kamar".
aku berjalan menuju kamar bersama alisya, aku tidak menghiraukan mas bram dan temannya itu (tapi hatiku cemburu).
"alisya tidur ya sayang, bunda temani". aku merapikan selimut di tubuh alisya.
masih terbayang di mataku, saat mas bram memeluk temannya itu. mereka berpelukan seperti sudah biasa melakukannya.
tiba-tiba aku tersentak, jelas saja aku ketiduran di kamar alisya selagi menemaninya tidur.
"sudah jam brapa ini?". aku melihat jam di ponselku.
"sudah jam 2 pagi". aku bergegas bangun dan pergi ke kamar ku.
sengaja aku perlahan membuka pintu agar tidak membangunkan mas bram tidur.
tapi saat pintu terbuka, aku melihat tidak ada mas bram di ranjang.
"mungkin mas bram lagi di ruang kerja".
aku berjalan turun ke dapur untuk mengambil air minum, tapi aku melihat pintu ruang kerja mas bram terbuka jadi aku perlahan untuk melihatnya.
"mas kamu....... ".
prakkk.....
suara gelas terjatuh dari tanganku, jelas saja begitu terkejutnya saat aku melihat mas bram sedang berciuman dengan Cindy temannya.
aku tidak berpikir bahwa Cindy akan menginap di rumah, mas bram tidak ada berkata apapun pada ku.
"karin.. ". ucap mas bram saat melihatku.
aku tidak bisa berkata apa pun, air mataku jatuh menetes membasahi pipiku. hatiku sakit, seluruh tubuh ku terasa lemas tak tertahankan.
"aghh....". kaki ku terinjak pecahan gelas yang terjatuh.
dengan cepat aku membalikkan tubuhku dan berlari ke lantai atas.
"apa ini semua mas? kenapa... kenapa kamu tega berciuman dengan wanita lain. kenapa.... ". aku berteriak dalam hati.
sampai di kamar aku menjatuhkan tubuh ku ke lantai, bahkan kaki ku tidak bisa di gerakkan lagi semua terasa lemas.
aku ingin berhenti menangis tapi tidak bisa, air mataku terus mengalir.
"karin.... ".
aku mendengar suara mas bram memanggil-manggil nama ku.
"karin, dengarkan aku". mas bram mengetuk-ngetuk pintu kamar.
"karin, aku akan jelaskan. itu semua tidak seperti yang kamu lihat".
"karin, ayo buka pintunya. dengarkan aku karin".
mas bram terus memanggilku tapi mulut ku sulit untuk menjawabnya. sekian lama kami menikah, mas bram tidak pernah menyentuh ku tapi sekarang aku melihat dia berciuman dengan wanita lain dengan mudahnya.
"karin.. tolong buka pintunya".
"karin.. dengarkan aku, aku bisa jelaskan". mas bram menggenggam tanganku.
"apa lagi mas, kalau aku tidak turun dan melihat mungkin entah apa lagi yang akan kalian lakukan di belakangku".
"bukan begitu karin... ".
"lantas apa mas, kamu mau bilang kalau aku salah paham. kamu mau bilang kalau Cindy itu cuma teman kamu, sahabat kamu, iya kan. gak ada temen ciuman seperti itu mas, gak ada". ucapku dalam sesak tangisan.
"karin, aku juga gak tau kalau dia tiba-tiba masuk ke dalam ruang kerja ku".
"aku juga tidak tau mas, kalau dia nginap di sini. dari kita pulang jalan-jalan, bahkan kamu tidak ada menjelaskan padaku siapa Cindy itu, sampai aku harus bertanya pada bi nina".
"karin, aku minta maaf. aku salah.... ".
"kamu tau sakitnya hatiku mas, sekian lama kita menikah, sedikit pun kamu tidak pernah menyentuhku, bahkan tidur pun kita terpisah. tapi sekarang, aku melihat suamiku berciuman dengan wanita lain. aku tau kamu belum bisa menerima aku sepenuhnya, tapi kenapa..... kenapa mas? kamu tega.... ". dadaku semakin sesak dan aku seperti tidak bisa nafas lagi.
"karin... karin.... karin.... ". aku mendengar suara mas bram terus memanggilku tapi lama-lama suara itu menghilang.
beberapa saat kemudian aku terbangun, aku melihat langit-langit berwarna putih seperti bukan di kamarku dan aku juga melihat ada cairan infus yang tergantung.
"aku dimana?".
begitu aku melihat ke samping, ternyata ada mas bram tertidur di sampingku.
"kenapa aku ada di sini?" ucapku keheranan.
"ahh karin kamu sudah bangun". mas bram mengusap kedua matanya.
"kenapa aku di sini mas?". tanya ku.
"semalam kamu pingsan karin dan aku membawa kamu kerumah sakit, karena aku begitu panik melihat kamu tak sadarkan diri". wajah mas bram terlihat sedih.
"alisya? alisya dimana mas?".
"kamu tenang karin, alisya di jaga oleh bibi nina".
"aku mau pulang mas, kasihan alisya di rumah sendiri".
"iyaa.. kita akan pulang tapi tunggu kamu sehat dulu ya". mas bram menggenggam tanganku.
"karin....aku ingin menjelaskan kejadian semalam".
mataku membelalak menatap mas bram
"aku gak mau dengar mas".
"karin, tolong kasih kesempatan aku untuk menjelaskan semuanya".
"gak mas, gak.... ". aku menutup kedua telingaku.
mas bram menarik tanganku dan meletakkan di dadanya.
__ADS_1
"karin, tolong percaya pada ku. aku dan Cindy hanya teman, aku tau dia menyukaiku tapi aku tidak pernah berfikir bahwa dia akan sampai nekat melakukan hal itu. dan maaf karena aku tidak memberitahu kamu kalau Cindy akan menginap".
"selama ini, mas tidak pernah minta pendapat ku tentang apapun, karena itu semua tidak penting bagi mas kan. bagi mas, aku hanya ibu pengganti bagi alisya dan gak lebih".
"tidak karin, tidak begitu. kamu sangat berarti bagi ku sama seperti alisya. maafkan aku kalau selama ini aku tidak menunjukkan kasih sayang ku pada mu. sejujurnya aku sangat menyayangimu karin". ucap mas bram dengan kesungguhan hatinya.
aku terdiam mendengar ucapan mas bram, kata-katanya membuat hatiku luluh dan bahagia. ini kali pertamanya mas bram mengungkapkan isi hatinya pada ku.
"karin, ku mohon maafkan aku dan percaya padaku". mas bram terus menggenggam tanganku dan meletakkan kepalanya di atas tanganku.
aku memejamkan mata dan sambil meneteskan air mataku, hatiku tidak tega melihat mas bram yang terus memohon maaf pada ku.
"baiklah mas, kali ini aku percaya pada mas. tolong jaga hati dan perasaanku mas". aku meneteskan air Mata.
mas bram langsung memelukku
"terima kasih karin, terima kasih".
"aku berusaha agar rumah tangga ini tetap bertahan dari suatu hal apappun, mungkin tidak ada salahnya jika aku mempercayainya sekali lagi".
"kamu istirahat ya, kalau keadaan kamu sudah baikkan, besok kita akan pulang". ucap mas bram.
"aku rindu alisya mas".
"baiklah, nanti aku akan beritahu bibi nina untuk mengantar alisya kemari". mas bram tersenyum dan membelai kepalaku.
"terima kasih mas". balasku dengan senyuman.
setelah kami berbaikan, aku melihat mas bram tertidur di sofa, betapa lelahnya dia semalaman menemaniku.
"aku sangat mencintaimu mas, aku berharap kita akan terus bersama ke depannya".
tidak lama kemudian, aku melihat sosok perempuan masuk ke dalam ruanganku dengan membawa seikat bunga.
"selamat siang karin". ucap Cindy yang datang menjenguk ku.
"ngapain kamu kemari". ucapku sedikit sewot padanya.
"aku datang untuk menjenguk mu". Cindy memberikanku bunga.
Cindy sesekali melihat ke arah mas bram yang tertidur di sofa dan menatapnya dengan senyuman.
"begitu lelahnya kamu bram". ucap Cindy dengan pelan.
"ahh, aku datang kemari hanya ingin minta maaf. apa yang kamu lihat kemarin tidak seperti apa yang kamu fikirkan, semua kekhilafan ku. aku minta maaf padamu karin". ucap Cindy.
"ya, aku sudah mendengar penjelasan semuanya dari mas bram. kali ini aku memaafkan mu ,bukan karena kamu tapi karena mas bram". jawab ku
"baiklah, semoga cepat sembuh". Cindy tersenyum padaku.
Cindy berbalik dan berjalan perlahan keluar dari ruanganku.
"kenapa aku merasa kalau dia tidak bersungguh-sungguh, kenapa aku merasa terancam olehnya. ada apa ini? kenapa perasaan ku jadi tidak karuan?".
tangan ku terasa gemetar dan aku meremas selimut yang menutupi tubuhku.
"karin... karin... karin, ada apa? kenapa kamu melamun". ucap mas bram yang memanggilku.
"karin..... ". mas bram menggoyangkan tubuhku.
"ahhh mas bram.... ". aku terkejut saat mas bram sedikit teriak manggilku.
"ada apa karin?". tanya mas bram.
"mas bram sudah bangun?". ucapku sedikit bingung.
"apa yang kamu fikirkan? bunga ini, siapa yang memberikannya pada mu? apa ibu dan ayah datang ? ". begitu banyak hal yang di pertanyakan oleh mas bram.
"ohh itu, anu.... bukan mas. cindy tadi datang dan memberikanku bunga". jawabku.
"apa cindy? apa yang dia katakan padamu? apa dia menyakiti mu? kenapa kamu tidak membangunkan ku? ".
"tidak mas, Cindy hanya meminta maaf dan lalu pergi".
"apa lagi yang dia inginkan ". gerutu mas bram.
"sudahlah mas, aku tidak ingin membahas tentangnya lagi. kita sudahi saja masalah kemarin, lagian aku sudah memaafkannya".
"baiklah karin jika itu mau kamu, aku tidak akan membahasnya". ucap mas bram.
"bunda..... ". terdengar teriakan alisya yang datang dan berlari ke arah ku.
"anak bunda". jawabku dengan semringah.
"alisya rindu bunda". alisya langsung memelukku.
padahal baru beberapa jam kami tidak bertemu tapi aku sudah sangat merindukan alisya.
"bunda Juga sayang alisya ".
"hehehehe". alisya tertawa.
"ohh.. jadi sekarang alisya tidak rindu papa lagi". mas bram memalingkan wajahnya.
"papa". alisya merentangkan kedua tangannya.
mas bram langsung merespon alisya dan menggendongnya.
"anak papa sudah besar ternyata, berat banget".
"makasih bi, sudah jagain alisya saat saya tidak dirumah".ucapku pada bibi nina.
"iyaa non sama-sama". jawab bi nina dengan senyum.
suasana berubah menjadi ramai saat alisya datang menjengukku, mas bram terlihat senang saat bermain bersama dengan alisya.
"papa geli, hahhahhaa ampun pa". ucap alisya pada papanya.
"papa akan memakan alisya, nyam... nyam... ". mas bram menggelikan perut alisya.
__ADS_1
tanpa aku sadari, mataku terus menatap mereka berdua yang lagi asik bercanda bersama. bibir ku terus tersenyum tanpa henti dan sesekali aku ikut tertawa.
tidak ada hal yang paling bahagia, selain bisa bermain dan berkumpul bersama keluarga kecilku.