Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
perjuangan


__ADS_3

"Iya, kenapa sayang"


"ke--ketuban ku pe--cah"


"astaga, sayang ko bisa" andai Nathan ada di sampingnya dan bertanya hal bodoh seperti itu, sudah pasti Alayya akan menendang mulutnya.


"akuuu mau lahiraaaaan, nathaaaaan, pulanglaaaaaah"


"aa--aku mau lahiran"Nathan yang kaget langsung berdiri dari kursinya


"iya sayang, iyaa, aku pulang sekarang"


"cepat"


titiit


Nathan berlari keluar dari ruangannya menuju parkiran, mobilnya ia kendarai begitu cepat, Nathan Bahkan tidak lagi memedulikan kendaraan lainnnya, Nathan ingin segera pulang.


"sayang" Nathan membuka pintu kamar, di lantai... Alayya duduk bersandar menahan sakit yang teramat menyiksa di perutnya, kepala wanita itu mendongak ke atas, mendengar panggilan Nathan, Alayya berpaling menatap suaminya.


"na--nathan, sa--sakit" Nathan yang panik jadi bingung harus melakukan apa, bukannya langsung membawa Alayya ke rumah sakit, Nathan justru duduk kebingungan bercampur kawatir rasa takut di samping sang istri.


"kenapa bisa kaya gini" pertanyaan bodoh dari Nathan mendapat jambakan dari Alayya, Alayya menarik kencang rambut Nathan,


"a--aa, sayang" Nathan meringis kesakitan karena jambakan Alayya


"Nathan, aku mau lahiran cepat bawa aku ke rumah sakit, nathaaaan" jerit Alayya tidak tertahankan lagi.


"ii--iya sayang, iyaa" Nathan meletakkan satu tangannya di antara paha Alayya, satu tangannya di belakang punggungnya, takut-takut Nathan mengangkat tubuh sang istri.


"Nat, t--taa, tas bayi kita ketinggalan" mereka melupakan tas jinjing yang berisikan perlengkapan bayi yang sudah mereka persiapan satu bulan sebelum hari kelahiran, Nathan kembali menurunkan Alayya tepat di depan pintu dan ia kembali lagi, tapi dengan membawa tas juga sang istri sekaligus, akan kesulitan untuk nya, Nathan sempat bengong lagi karena panik


"NATHAAAAAN, CEPAT, ANAK MU MAU KELUAAR, NATHAAAAAN"


"ii--iya sayang iya" Nathan letakkan lagi tasnya dan menggendong kembali Alayya, Alayya menengadah menahan sakit.


"Ya Allah, sakiiit, Nathaaaan sakiiit"


"iya sayang , iya" Nathan kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil tas yang tadi ia tinggalkan.


"sa--sakit, sa--kit" Nathan menggenggam tangan Alayya, wanita itu sudah menangis kesakitan, Nathan sampai tidak tega melihatnya.


"sebentar lagi kita sampai, sabar yaa" Nathan hanya mencoba menenangkan, padahal ia sendiri takut, takut sekali, Sudah pernah ia rasakan kehilangan seseorang yang begitu ia cintai untuk melahirkan putrinya, jangan sampai Nathan merasakan hal yang sama lagi, jangan sampai kejadian itu terulang lagi.


"Nat" Alayya berpaling menghadap Nathan,


"telpon ibu, aku mau ibu sama ayah datang" Nathan Mengangguk, dan merogoh saku bajunya.


"assalamualaikum Bu"


"waalaikumsallam, Kenapa nak"


"ibu Alayya mau lahiran"


"lahiran?" Farah juga kaget dengan kabar tiba-tiba itu, pasalnya Alayya tidak pernah memberitahu kapan kira-kira hari perkiraan lahirannya.


"ibu sama ayah ke sana sekarang"


"iya Bu, assalamualaikum"


."waalaikumsallam"


"apa kata ibu Nat"

__ADS_1


"mereka langsung ke Jakarta"


....


sesampainya Alayya di rumah sakit, Alayya langsung di bawa ke ruang persalinan, Alayya sudah katakan pada Nathan, ia ingin lahiran normal saja, Alayya tidak ingin di cecar. saat diperiksa pembukaan Alayya baru pembukaan 5, mereka harus menunggu sampai pembukaan lengkap, dengan setia nathan berada di samping Alayya, ia usap punggung wanita yang sedang merasakan kontraksi.


"na--nat, sakit, Nat"


"iya sayang iyaa, andai bisa... aku saja yang merasakan sakitnya, adai bisa sakitnya kamu berpindah... aku rela Al, rela" Alayya menarik nafasnya dalam, terkadang rasa sakitnya begitu menyiksa, terkadang hilang sesaat tapi muncul lagi dengan rasa sakit yang amat sakit, rasanya perut besar Alayya ingin robek.


Alayya merubah posisinya jadi terlentang lagi, selang oksigen terpasang di hidungnya.


"Nat" panggil Alayya pelan


"iya sayang, kenapa"


"sakit, sakit sekali" Nathan mengusap kepala Alayya yang tertutup hijab instan


"sabar sayang, bersabarlah sebentar lagi"


"Nat, maafkan aku, maafkan Semua perlakuan kasar ku, maaf kalo selama menjadi istri mu, aku sering marah-marah, menghakimi kamu, membentak, bahkan tak jarang aku bermain fisik dengan menampar kamu" Nathan mengangguk, ia cium telapak tangan Alayya


"aku sudah ridho sayang, aku sudah maafkan semuanya, aku ridho pada mu"


"rasanya sakit sekali Nat, sakiit sekali, aku takut...aa--aku takut ngga bisa bertahan sama seperti Alesha" menetes sudah air mata Nathan yang sejak tadi ia tahan, Nathan menggeleng.


"jangan,ja--jangan ngomong kaya gitu, kamu pasti bisa bertahan dengan anak kita" Alayya mengangguk meskipun sulit.


dokter kandungan datang lagi memeriksa kondisi Alayya, tapi belum juga lengkap pembukaannya.


"Apa masih lama"


"sebentar lagi, sekarang sudah pembukaan 7"


"Nat, Raisa... kamu sudah jemput anak Kita"


"iya sayang, aku sudah minta mamah buat mampir jemput raisa dulu"


Sampai lah dimana saatnya Alayya melahirkan, Nathan dengan setia menunggu di sampingnya , ia genggam tangan istrinya erat.


"Tarik nafas, kemudian mengejan" Alayya lakukan sesuatu apa yang di perintahkan.


"uh uh uh, aaaaaaaa" kepala Alayya kembali menyentuh bantal, mungkin sekarang sudah terdapat bekas kuku Alayya di lengan nathan


"lagi Bu, tarik nafas kemudian mengejan"


"ahh, ahh, aaaaaaaaaaaaeeeeeeh"


"huuh, huhhhh, hhhhhh, aaaaaehhhhhh"


"ayo Bu lebih panjang, kepala anaknya sudah kelihatan, ayo Bu dorong lagi"


"ayo sayang, sedikit lagi"


"aeeeeeeeaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh"


suara tangisan bayi menandakan berakhirnya rasa sakit yang Alayya rasakan, Nathan merendahkan tubuhnya, ia peluk dari samping kepala Alayya, dokter membawa bayi yang masih berlumuran darah dan berjenis kelamin laki-laki itu ke arah ibunya...


"ini anak nya Bu, lengkap nggak ada kurangnya"


"aa--anak ku"


"kita bawa dulu untuk di bersihkan yaa" Nathan mengangguk.

__ADS_1


"Nat, anak kita"


"iya sayang, anak kita sehat" Nathan menyeka air mata yang bercampur keringat di wajah sang istri.


"Kenapa nangis, Hem" kali ini Alayya yang bertanya.


"aku takut, takut banget, aku nggak bisa ngurangin rasa sakit kamu, aku takut kamu pergi" Alayya tersenyum, wanita itu mengangkat tangannya, ia usap mata berair Nathan dengan ibu jarinya.


"cengeng" ejek Alayya dengan senyuman.


"kamu bikin aku takut" nathan letakkan telapak tangannya di atas punggung tangan sang istri yang masih menangkup pipinya.


"Makasih sudah berjuang melahirkan anak kita, sampai kapan pun aku nggak akan bisa menandingi perjuangan kamu saat melahirkan dia"


"makasih sudah bertahan, aku begitu mencintai kamu"...


Alayya sudah dipindahkan ke ruang rawat, bayi mungil yang baru saja lahir berada di gendongan ana, ada Raisa yang tidak ingin lepas dari pelukan Alayya, gadis mungil berumur 3 tahun tahun seperti tau sekarang sudah ada saingannya di rumah.


"sekali lagi, Al"


"sudah kenyang sayang" Nathan mengalah, ia letakkan lagi piring di atas Nakas.


"nak, turun Yo, ibu mau tidur" pinta Nathan, jelas Raisa menggeleng.


"biarin dia Nat"


"tapi Al...."


"Nathan, biarin" Nathan menghela nafas , ia mendekati orang tua dan mertua yang sedang mengerumuni bayi laki-lakinya.


"wah jagoan ayah, tampan nya, mirip ayah"


Farah dan Ali menghampiri Alayya yang duduk di atas ranjang dengan Raisa yang sudah tertidur di pangkuannya. perlahan Ali mengangkat tubuh mungil cucunya untuk di pindahkan ke ranjang yang satunya lagi. memang Alayya berada di ruangan VIP,. ruangan besar dengan pasilitas yang lengkap, selain tempat tidur untuk Pasian, ada juga tempat tidur untuk keluarga Pasian.


Farah merapikan rambut Alayya ke belakang telinga.


"anak ibu sudah jadi ibu, sekarang"


"anak ibu hebat"


"makasih ya bu, makasih ata semua doa'nya untuk Alayya, dan keluarga kecil Alayya"


"jangan berterima kasih nak, semua itu sudah jadi kewajiban ibu, harusnya ibu yang berterima kasih karena kamu sudah bertahan melahirkan putra kecil kalian, ibu nggak sanggup masuk waktu kamu sedang berjuang, ibu takut nak, takut. bayang-bayang Alesha melintas begitu saja"


"Ibuuu" Alayya merentangkan tangannya minta di peluk


"sayang nya ibu, jantung hidupnya ibu"


walaupun sekarang sudah menjadi ibu, tapi Alayya tetaplah putri kecil untuk orang tuanya, putri kecilnya yang Manja juga nakal.


"ya Allah, ya Allah" Ali kewalahan menahan amukan dari raisa, gadis kecil itu marah dan mengamuk karena di pisahkan dari ibunya.


"ibuuuu" teriakan Raisa membuat semua keluarga yang ada di sana fokus pada kakek dan cucu itu, mereka tertawa karena Ali kewalahan menangani cucu perempuannya.


"sayang, ibu di sini nak"


"Ibuuu" langsung saja Raisa berhamburan ke pelukan sang ibu.


"ya Allah lucu banget sih anak ibu, kakek sampai pusing Lo nak"


"dia kayanya cemburu deh, cemburu sama adik nya" ucap Nathan, Alayya Hanya tersenyum simpul dengan terus mengusap usap kepala sang putri.


"kesayangan ibu, tua putri ibu"

__ADS_1


__ADS_2