Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 72. Leave The Door Open


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat. Satu hari, satu minggu, kemudian berganti hingga tak terasa sudah mencapai penghujung bulan. Dua minggu sejak acara di Iris hotel, dua minggu sejak pertemuan tak terduga dengan Arman, dua minggu sejak pertengkaran kecil Mark dengan Hannah, dan.. Dua minggu sejak percintaan panas Jeanno dan Judith untuk kali pertama.


Tiga kisah disini, berlalu selayaknya rollercoster. Ada yang bahagia, ada yang dilanda kesedihan, ada kebimbangan, ada pula pengkhianatan yang menjadi bumbu dalam pernikahan.


Mark pulang di hari yang sama, usai mendengar wejangan dari sang ibu, pria itu segera menuju apartemennya. Namun niatnya mengajak Hannah bicara rupanya harus diurungkan, ketika ia menemukan unitnya dalam keadaan kosong. Oh, tidak. Hannah tidak pergi, karena pakaian dan barang-barangnya masih tertata rapi di kamar. Namun ia menemukan pesan dari kekasihnya di ponsel.


Mine – Busy


Mark, aku pulang ke rumah.


Ibu dan adikku sakit, aku harus merawat mereka.


Maaf untuk pertengkaran kecil kita.


Bisakah kita menyelesaikannya sepulang aku dari rumah?


Aku mencintaimu, Mark. Selalu.


Sejak hari itu, Mark dan Hannah berkomunikasi dengan bertukar pesan. Itupun tidak intens karena sinyal di tempat asal Hannah terkadang hilang dan muncul kembali. Pernah Mark mencoba untuk menelpon, namun percakapan mereka terputus-putus. Membuat keduanya memutuskan lebih baik berkirim pesan saja untuk bertukar kabar. Setidaknya satu kali setiap hari, lebih baik dibanding tidak sama sekali, bukan?


Judith tetap menjalani kesehariannya seperti biasa. Menemani Aera, menyiapkan makanan. Tak ada yang berubah. Oh, mungkin ada tambahan baru. Ketika ada malam-malam dimana Jeanno membutuhkannya. Tidak setiap waktu, hanya beberapa kali. Judith menyambutnya dengan pintu kamar yang terbuka. Ya, mereka masih melakukannya di kamar Judith. Atau perpustakaan sekaligus ruang kerja Jeanno. Tak pernah sekalipun mereka menyentuh kamar pria itu. Untuk alasannya mengapa, Judith bisa menebak. Namun terlalu enggan untuk bertanya, tak ingin ia rasakan perih di hatinya lagi. Dipanggil ‘Nayara’ setiap selesai bercinta sudah cukup menyakitkan baginya.


Lantas bagaimana kabar Tyona? Gosip itu mereda, mungkin karena para tenaga medis disibukkan oleh membludaknya pasien akibat covid yang sedang merebak. Membuat mereka tak memiliki waktu bahkan untuk sekedar bergosip. Tyona juga menulikan telinga. Tak peduli dengan tatapan sinis orang lain, atau cibiran mengenai betapa tak tau terimakasihnya ia memiliki suami sesempurna Jeffrey, tapi malah bermain belakang dengan dokter yang sekaligus kawan dekat mereka. Tyona tak peduli, sekali lagi. Selagi gosip itu tak benar, tak perlu ia meluruskan apapun.


“Jangan melamun”


Tyona mengangkat wajahnya. Mendapati Darren yang sudah duduk di hadapanya dengan semangkuk soto dan secangkir teh hangat. “Kau mengagetkanku, Darren”


“Justru kau harus berterimakasih padaku karena membuyarkan lamunanmu. Kau tau sendiri melamun di jam jaga malam seperti ini berbahaya, terlebih kantin ini dekat dengan bangsal Jasmine yang terkenal berpenghuni itu”

__ADS_1


Tyona melempar bekas bungkus sedotan kearah Darren yang terkekeh. “Jangan bicara sembarangan, Darren”


“Bagaimana kabarmu, Anna? Kita berada dalam satu rumah sakit, tapi nyaris tak pernah berpapasan. Sepertinya pediatri sibuk sekali ya?”


“Kau menanyakan pertanyaan yang tak perlu kujawab, Darren”


Darren tersenyum. “Setidaknya jawab pertanyaanku yang pertama. Bagaimana kabarmu, Anna?”


“Aku.. baik-baik saja. Lelah seperti biasa, tapi setelah tidur dan minum vitamin, aku segar kembali”


“Mengenai gosip itu, aku belum sempat untuk mengucapkan permintaan maaf secara langsung padamu”


Tyona mengangkat alisnya. “Untuk apa kau meminta maaf? Bukan salahmu, Darren. Bukan juga salahku. Gosip murahan seperti itu hanya disebarkan oleh oknum tak bertanggungjawab yang kurang kerjaan. Lalu disebarluaskan oleh orang bodoh”


“Tapi hal itu pasti mengganggumu, melihat banyak orang yang melihat kita sinis sejak rumor itu beredar”


Tyona tersenyum. Senyum sendu menurut Darren. “Bukan gosip itu yang menggangguku, Darren. Aku tidak peduli dengan pandangan orang. Selama aku tidak melakukan apa yang mereka pikir, aku tidak akan repot-repot meluruskan siapa diriku yang sebenarnya”


Tyona tak menjawab, masih tersenyum. Namun kali ini pandangannya turun, seakan menghindari netra Darren dari balik kacamatanya.


“Anna, jika aku mengatakan ini.. apa kau akan percaya?”


“Apa?”


Darren menghela nafas. “Aku tau ini bukan ranahku. Tapi aku berada dalam lingkup kerja yang sama dengan suamimu, aku bertemu nyaris setiap hari. Bahkan mungkin waktuku dengan Jeff lebih banyak dibandingkan denganmu yang notabene istrinya sendiri”


“Poinmu apa, Darren?”


“Aku hanya ingin mengatakan.. jangan terlalu percaya kepada Jeffrey. Aku tau kalian sudah mengenal lama. Kau mengenal Jeffrey cukup dalam. Tapi Anna, Jeffrey yang sekarang berbeda. Aku tidak ingin kau sakit hati nantinya”

__ADS_1


Tyona mengangguk. “Terimakasih untuk nasehatnya, Darren. Tapi kurasa akulah yang berhak untuk menilai suamiku”


“Anna, jangan salah paham”


“Kau sahabat yang baik, dan aku bersyukur memilikimu disisiku. Tapi untuk rumah tanggaku, biar aku dan Jeffrey yang mengurusnya. Kami baik-baik saja, Darren. Dan kurasa kau tau itu”


“Tyona..”


Anna lebih dulu bangkit dari kursinya sembari membawa nampan bekas makan malamya. “Aku sudah selesai makan. Kau tidak keberatan jika aku kembali lebih dulu ke poli?”


Tanpa menunggu respon Darren, Tyona pergi meninggalkan kawannya itu sendiri.


**


“Anna?”


Tyona menoleh, melihat Kiran dengan seragam jaganya tengah melangkah mendekatinya. “Kau jaga malam juga?”


Wanita itu mengangguk. “Hey, kenapa kau tega sekali menyembunyikan berita bahagia ini padaku, hm?”


Tyona tak memberikan respon lain selain ekspresi bingung. “Berita.. bahagia?”


“Iya. Kau tau kan adikku residen Obsyn juga di rumah sakit Harapan. Dia berkata kalau suamimu beberapa kali kesana bersama dengan perempuan untuk memeriksakan kandungannya. Dari penuturannya usia kandungannya sudah melewati trisemester pertama. Adikku mengenali Jeffrey karena dulu dia pernah menjadi pembicara di salah satu seminar di kampusnya. Kuberitahu bahwa suamimu sangat populer di kampus adikku karena ketampanan dan otak encernya, dan—“


Tyona sudah tak bisa lagi menangkap apa yang dibicarakan Kiran setelahnya. Telinganya menuli usai Kiran menuturkan fakta mengejutkan mengenai Jeffrey. Tidak mungkin kan adik Kiran berbohong?


“—Omong-omong, aku sangattt senang akhirnya kau berhasil. Benar kan, kataku, semua hanya masalah waktu. Pada akhirnya saat indah itu datang juga. Aku turut bahagia, Anna!” Kiran memeluknya erat sambil terus berceloteh akan betapa bahagianya ia. Disisi lain, Tyona tak mampu lagi menahan airmatanya, membalas pelukan Kiran.


Sungguh, ia tak siap dengan berita yang disampaikan Kiran secara tiba-tiba ini. Jadi inikah alasannya? Inikah alasan Jeffrey jarang pulang dan berubah sikapnya?

__ADS_1


Kiran melepas pelukannya, terkejut melihat Tyona yang bercucuran airmata. Namun ia menganggap itu adalah airmata kebahagiaan. Sekali lagi, Kiran memeluk Tyona. Dan memang, Tyona butuh sandaran. Walau hanya sebentar. Sebelum ia pulang ke rumah dan menghadapi prahara sesungguhnya.


__ADS_2