
Semua berjalan begitu mudah, ketika cuti mereka dipermudah baik Jeffrey maupun Tyona. Juga ketika mengatur rencana kepergian mereka selama satu minggu ke Bangkok. Sampai dengan hari itu, Tyona masih belum bisa jujur pada Jeffrey mengenai kehamilannya. Kebetulan morning sicknya tidak begitu berat. Ia memuntahkan isi perutnya ketika sedang mandi, sehingga Jeffrey tidak menaruh banyak kecurigaan.
Tyona menyadari perubahaan sikap Jeffrey yang memperlakukannya dengan sangat lembut dan hati-hati. Seperti ia adalah gelas kaca yang mudah retak. Terkadang ia merasa bersalah menyembunyikan kabar baik ini, yang mana Jeffrey memiliki hak untuk mengetahuinya. Mungkin Tyona akan jujur ketika mereka berada disana. Mungkin kepergian mereka kali ini memang terjadi dengan maksud untuk membicarakan perihal pernikahan mereka. Apakah pondasinya bisa diperbaiki, atau diruntuhkan total untuk membangun pondasi yang baru? Entah.
“Mama memberi pesan supaya hati-hati dan menjaga makan. Dan selanjutnya mama berharap kita pulang membawa kabar baik”
Tyona mengangguk sekilas usai Jeffrey selesai menelpon mertuanya. Tyona nyaris lupa perihal Rianti. Sang Ibu mertua pasti sangat bahagia jika mengetahui dirinya sedang hamil muda. Tapi sekali lagi, Tyona harus bersabar. Jika Rianti tau pasti akan semakin sulit baginya mengambil keputusan untuk tetap bertahan atau pergi. Dan jikalaupun ia memutuskan untuk pergi, sudah pasti Rianti tidak akan mengijinkan.
“Aku tau kepergian kita bukanlah bulan madu kedua seperti yang Mama pikirkan. Tapi biarlah yang terjadi disini, tetap tinggal disini. Aku mau membuat kenangan baru yang indah bersamamu dan…” pandangan Jeffrey turun kearah perut Tyona. “…. Calon anak kita”
Terkesiap, Tyona refleks menyentuh perutnya. “K-kau tau?”
Jeffrey mengangguk, ia berjalan mendekati istrinya, kemudian membingkai wajah ayu Tyona dengan kedua tangannya. “Aku tidak mengerti mengapa kau menyembunyikannya dariku. Jujur, itu sedikit menyakitiku. Berpikir mungkin aku tidak akan menjadi ayah yang baik sehingga kau memutuskan untuk menyembunyikan kabar bahagia ini”
“Tidak Jeff, bukan maksudku begitu”
Jeffrey tersenyum, seakan membantu Tyona menepiskan pikiran buruk dalam benaknya. “Aku memang bukan suami yang baik, bukan juga kekasih yang baik. Aku pria brengsek yang telah menyakiti dua hati perempuan sekaligus. Baik kau maupun Renatta tidak pantas untuk mendapat perlakuan seperti ini. Tanpa pernah lelah, sekali lagi aku meminta maaf untuk segalanya, Anna. Aku minta maaf..”
Siapa yang tak luluh melihat Jeffrey meratap seperti sekarang? Salahkan juga pengaruh hormon yang membuat Tyona menjadi sensitif dan mudah tersentuh. Ia mengangguk sekilas, kemudian membiarkan tubuhnya mendekap Jeffrey. Merasakan detak jantung pria itu yang berlarian sama sepertinya. Sekali lagi setelah sekian lama, ia merasakan pelukan Jeffrey yang dikenalnya.
“Setelah kita pulang dari Bangkok, aku akan menerima apapun keputusanmu mengenai pernikahan kita. Jika kau ingin kita berpisah, aku akan menerimanya. Aku pantas dengan hukuman apapun yang kau berikan, Anna. Aku mau kau bebas menjemput bahagiamu sendiri…”
**
“Ibu, biarkan Hannah masuk”
Satu kalimat yang seakan angin segar untuk Maria dan Hannah. Wanita itu tak sabar untuk menyampaikannya pada Hannah yang duduk di kursi depan, seperti hari-hari sebelumnya.
“Sayang, Mark mengijinkanmu masuk”
__ADS_1
Hannah berdiri dengan penuh antusias, namun detik berikutnya binar di matanya meredup. Membuat Maria mendekat dan bertanya mengapa.
“Ibu, disatu sisi aku sangat ingin melihat Mark. Tapi disisi lain aku takut, takut jika melihat raut wajahnya yang penuh kekecewaan”
Maria menghela nafas, digenggamnya tangan Hannah dengan dua tangannya. “Ibu tidak bisa menerka ekspresi Mark ketika mengatakan ia membiarkanmu masuk. Entah hasilnya baik atau buruk, doa Ibu akan selalu menyertai kalian. Dan kau, sayang. Ibu tetap akan menyayangimu apapun yang terjadi”
Hannah tersenyum, memberikan pelukan kepada Maria sebelum meneguhkan hatinya untuk masuk. Rasanya nyaris sama ketika kali pertama ia masuk saat Mark masih dalam keadaan koma. Gugup, dan penuh antisipasi akan apa yang akan terjadi. Mark memandang keluar jendela dalam posisi duduk. Ketakutan dalam dada Hannah menguap perlahan, tergantikan oleh rindu yang luar biasa ia tahan karena tak bertatap muka lama dengan prianya.
“Mark..”
Pria itu tak bergeming sekalipun menyadari Hannah telah berada di sampingnya. Hal itu membuat ada sebersit kesakitan yang melandanya lagi. Apakah ini akhir dari kisahnya dengan Mark?
Pemuda itu memutar kepalanya, memberikan atensi pada Hannah yang tengah menunduk menatap ubin.
“Kau.. sudah makan?”
Hannah yang menyadari Mark tengah memandangnya, lantas tergagap ketika pandangan mereka bertemu. “Ya? aku.. ehm, aku sudah makan”
Mark menggeser posisinya. Menepuk ruang kosong disisi tubuhnya. “Kemarilah, berbaringlah disisiku. Aku rindu memelukmu”
Disitu pertahanan Hannah runtuh. Ketegaran yang ia bangun sebelum memasuki ruangan, menguap, tergantikan oleh isakan lirih. “Maafkan aku, Mark. Maafkan aku”
Mark mengulurkan tangannya, menyeka airmata yang membasahi wajah sembab kekasihnya. “Aku yang minta maaf telah menghukummu sampai seperti ini. Pasti sulit untukmu hanya berdiam diluar sana berhari-hari. Aku sungguh egois”
Hannah menggelengkan kepalanya kuat. Tidak membenarkan ucapan Mark, namun terlalu tersendat untuk bicara. Ia menahan tangan Mark. Seakan memastikan bahwa sentuhan di wajahnya bukanlah mimpi.
“Aku memaafkanmu, Hannah. Aku tidak peduli masa lalumu. Yang aku tau, bahagiaku ada ketika aku bersamamu. Dan itu membuatku ingin membangun kenangan yang baru yang indah dimasa depan”
Mark mengangkat dagu Hannah. Untuk menyelami binar sendu itu lamat-lamat. Satu tarikan nafas lolos dari pria itu.
__ADS_1
“Hannah… maukah kau menikah denganku?”
**
“Aku pikir akan kehilanganmu selamanya”
Mark terus mengusap kepala Hannah yang tengah bersimpuh di pelukannya. “Memang kau siap?”
“Tidak” Hannah menggeleng. “Tidak akan pernah”
“Aku tidak menyangka hubungan kita akan naik turun seperti ini” Keduanya saling bertatapan. “Tapi anehnya itu tak mengubah perasaanku padamu. Justru semakin bertambah setiap detiknya. Aku ingin melindungimu, karena yang sebelumnya aku gagal”
Hannah menegakkan tubuhnya. “Sssh, jangan bicara seperti itu. Kau tidak gagal, Mark. Kau tidak pernah gagal menjadi kekasihku”
“Aku tidak ada ketika kau terpuruk. Aku justru mencurigaimu, menyudutkanmu dan mendiamkanmu tanpa memberikan kejelasan apapun mengenai hubungan kita. Aku seperti pria pengecut” Mark tersenyum pahit. Menyadari kekonyolannya usai semalam suntuk berpikir apakah tindakannya betul atau tidak. Hingga pada satu titik ia menyadari bahagianya memang bersama Hannah.
“Aku tidak suka kau merendahkan dirimu sendiri, Mark. Jadi tolong berhenti bicara seperti itu sebelum kau kucium”
Mark terkekeh. “Kalau begitu aku akan tetap bicara seperti itu supaya kau menciumku”
Selanjutnya Mark memekik karena cubitan Hannah di pinggangnya. Keduanya tertawa setelah itu. “Kau melamarku disituasi yang sangat amat tidak romantis. Tapi tidak apa, aku akan menceritakannya pada anak kita nanti kalau ayahnya melamar ibunya di rumah sakit setelah mendiamkan ibunya hampir empat hari”
Pandangan Mark mengawang lurus, membayangkan akan memiliki anak-anak dari rahim Hannah. Terlihat indah dan membahagiakan. “Anak kita pasti akan memihakku”
“Tidak, pasti akan lebih membelaku karena aku ibunya”
“Kalau begitu kita harus punya banyak anak. Supaya kubu kita terbagi secara adil”
Hannah mendongak, saling bertatapan sebelum tertawa bersama. Menyadari betapa aneh percakapan mereka. Selanjutnya keduanya melanjutkan obrolan ringan dan topik yang acak. Mengisi kekosongan waktu yang sempat hilang. Baik Mark dan Hannah menyadari bahwa mereka tak dapat hidup tanpa eksistensi satu sama lain. Itulah mengapa Mark tidak perlu membuang waktu untuk memilih waktu dan tempat yang tepat untuk melamar Hannah, begitupun Hannah yang tak perlu berpikir dua kali untuk menerima lamaran Mark.
__ADS_1
Hannah memejamkan mata, berdoa semoga keindahan yang ia alami ini bukanlah mimpi belaka. Ia takut jika membuka mata, yang terlihat adalah ia berada di rumah Louis, menjadi tawanan bersegel ‘istri’ oleh pria itu. Hannah menggeleng samar, membuka matanya dan menghela nafas lega ketika yang ia lihat adalah Mark yang tengah terlelap. Ia mendongak, mengecup pipi kekasihnya sebelum ikut terlelap bersamanya.
**