
Tyona menggigit bibirnya penuh antipasi, kuku-kuku jemarinya saling memilin. Ia tak pernah segugup ini selain pada hari H pernikahannya. Bagaimanapun Tyona tak ingin berharap. Karena jika perkiraannya salah, ia tak yakin hatinya mampu menelan kekecewaan lagi. Tapi dadanya berdegup hebat, sekuat apapun ia berusaha untuk tidak ingin berharap, nyatanya nalurinya berharap.
“Anna..”
Tyona mengangkat wajahnya, berhadapan dengan paras cantik Kiran yang tampaknya telah selesai dengan pemeriksaan. Ia tak bisa menebak apa arti tatapan Kiran. Sesungguhnya, Tyona ingin sekali angkat kaki dari duduknya sebelum Kiran memaparkan hasil pemeriksaan bahwa ia tak mengandung. Bahwa hasil dari keterlambatan haidnya adalah karena stress. Bahwa perubahan pola makannya hanya karena banyak pikiran. Bukan karena ha—
“Selamat, sayang. Kau positif mengandung”
**
Kondisi kesehatan Mark semakin hari semakin membaik. Bahkan para dokter dan perawat memuji kagum akan semangat pasien mereka yang membara untuk sembuh. Dari yang hanya bisa berbaring, perlahan Mark sudah bisa duduk. Pada hidungnya tak lagi dipasangi alat bantu oksigen. Kini peralatan medis yang masih menempel pada tubuhnya hanyalah selang infus. Dengan perkembangan yang signifikan, dokter yakin Mark akan diperbolehkan pulang paling cepat minggu depan.
“Sayang, kau tidak mau pulang?”
Hannah menghentikan kegiatannya yang tengah mengupas jeruk untuk memandang cemberut kearah kekasihnya. “Kau mengusirku?”
Mark terkekeh. “Bukan. Tapi kau sudah berhari-hari disini. Kau juga butuh istirahat, tidur di ranjang yang lapang dan hangat”
“Tidak mau”
Satu alis Mark terangkat. Hannah meletakkan jeruk diatas piring, menggantikan kekosongan tangannya dengan menggenggam tangan Mark. “Aku tidak mau meninggalkanmu barang seharipun. Aku ingin disini, kecuali kau tidak menginginkanku ada disini”
“Tentu saja aku suka kau disini, sayang. Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu?”
Oh, Hannah hampir lupa kalau Mark sama sekali belum tau mengenai Victoire. Ia memang tak membawa topik mengenai pekerjaannya setelah sang kekasih siuman. Baru sekarang Mark menanyakan pekerjaannya. Kabar baik, terimakasih untuk Jeanno karena semua berkas kejahatan Louis terbukti benar dan kemungkinan ia akan dihukum sangatlah besar. Jadi intinya, Hannah bebas. Bebas dari segala jerat licik pria bermata biru itu untuk merenggut bahagianya.
“Itu…” Hannah mengulum senyum. “Aku sudah berhenti, Mark”
Sepasang kelereng kembar itu membulat. “Benarkah? Tapi kenapa?”
“Ceritanya panjang. Tapi polisi menemukan banyak hal ilegal yang dilakukan oleh pemilik Victoire, dan itu membuatnya harus rela melihat aset-asetnya dibekukan, salah satunya Victoire”
“Jadi.. Victoire yang melegenda itu sudah.. tak ada lagi?”
__ADS_1
Hannah mengangguk. “Aku bebas. Aku sudah bukan lagi Hannah penari erotis”
Keduanya tersenyum, ibu jari Mark mengusap punggung tangan Hannah. “Aku bukannya senang karena kau jadi pengangguran, tapi jangan khawatir sayang, uangku cukup untuk menghidupimu”
Hannah lantas terkekeh, dicubitnya perut Mark pelan. “Kau berkata seolah-olah aku tidak bisa hidup sehari tanpa uang. Tenang saja sayang, aku mungkin akan mencari pekerjaan setelah kau sembuh. Pekerjaan yang ‘sehat’, dan tentu saja tidak perlu menunjukkan pahaku kepada pria-pria”
Mark tidak menjawab, akan tetapi lebih memilih memandang Hannah lamat-lamat. Yang dipandang berdehem kikuk, tatapan Mark begitu dalam seperti tengah menyelami setiap detail pikiran dan hatinya. Membuat tengkuknya panas dan pipinya serasa meleleh.
“Hannah..”
Hannah menggumam sebagai respon. Entah mengapa ia merasa kalimat yang selanjutnya keluar dari bibir Mark bukan sesuatu yang bisa ia jawab dengan candaan.
“Ada yang mau kau sampaikan padaku? Kau bilang menunggu waktu. Apakah ini.. waktu yang tepat?”
Tubuh Hannah menegang. Ia takut, tapi dirinya juga tak bisa mundur. Ketidakjujurannya dulu nyaris membawanya pada jurang penyesalan akan kehilangan Mark selama-lamanya. Dan Hannah tak ingin hal buruk sampai terulang lagi hanya karena ia mengulur waktu dengan tetap mengubur rahasianya.
“Aku… Mark, aku bisa katakan bahwa kejujuran yang akan aku paparkan padamu mungkin, ah bukan, sudah pasti akan menyakitimu, menodai hubungan kita. Tapi aku sudah tidak bisa menyimpan ini sendiri. Aku tidak ingin diamku akan berdampak buruk pada kita, seperti sekarang. Aku sudah mendapatkan karmaku, dan rasanya tidak enak”
Mark mengangguk, membiarkan Hannah melanjutkan kalimatnya. Ia siap, telinganya siap menangkap setiap kejujuran yang terceplos dari bibirnya. Hatinya siap menerima rahasia yang mungkin akan menyakitinya seperti yang Hannah katakan barusan. Tapi jika ia ingin membawa Hannah untuk melangkah lebih jauh, bukanlah kejujuran adalah awal yang baik?
Setiap kata demi kata, tak ubahnya setajam pisau yang menusuk ulu atinya. Perih. Wajah Mark merah padam, merasa terkhianati. Merasa dibodohi. Dan merasa tak berguna. Ketika sang kekasih membutuhkan sesuatu yang ia yakin bisa ia bantu, Hannah justru berlari meminta bantuan kepada orang lain. Orang lain yang sudah jelas memiliki maksud tertentu. Orang lain yang sudah jelas akan memanfaatkan ‘bantuan’ yang ia berikan untuk menyerang titik lemah Hannah.
Hannah selesai menuntaskan ceritanya dua jam kemudian. Ditutup oleh satu lagi bulir airmata yang lolos membasahi pipinya yang masih tersisa jejak tangis sebelumnya. Hannah menunduk, tak berani menatap Mark. Dirinya malu, begitu malunya hingga rasanya ingin bersembunyi.
Mark melepaskan tangannya yang bertaut dengan Hannah. “Keluar”
Hannah yakin telinganya masih berfungsi dengan baik. Ketika ia mendengar satu kata pertama dari Mark setelah kejujuran yang ia berikan, saat itu pula Hannah mempertanyakan fungsi indera pendengarannya. Benarkah Mark menyuruhnya keluar?
“Y-ya?”
Mark memalingkan wajahnya. “Keluar. Untuk sementara.. aku tidak ingin melihatmu dulu”
Hannah mengangguk berat. Ia mengerti, bagaimanapun fakta yang baru Mark ketahui adalah pil pahit yang harus ia telan bulat-bulat. Pasti tak mudah untuk Mark. Hannah berdiri, membetulkan letak selimut Mark yang sedikit berantakan, namun kekasihnya tak merespon, tetap membuang muka.
__ADS_1
“Aku akan menelpon ibu untuk kemari. Kalau kau sudah tenang.. bisakah kau.. menelponku?”
Mark tidak menjawab. Bibirnya bungkam dan dari raut wajahnya terpeta kekesalan yang hanya ia dan Tuhan yang tau. Dada Hannah berdenyut nyeri, tapi sekali lagi, ia tak bisa menyalahkan Mark.
“Aku pergi dulu”
Seperti sudah menjadi rutinitas bahkan ketika Mark masih koma, Hannah memajukan kepalanya hendak mengecup pipi Mark. Namun pria itu menggeser posisinya untuk menghindar, membuat Hannah mencium ruang hampa. Perempuan itu tersenyum pedih.
“Selamat istirahat, Mark..”
Hannah berbalik. Melangkah dengan kaki yang berat menuju pintu keluar. Sebelum ia meraih gagang pintu, disempatkannya untuk berbalik melihat prianya. Mark masih berbaring dengan pandangan lurus keluar jendela. Berlawanan dengannya.
Begitu Hannah keluar, disitulah dirinya menyadari bahwa ia harus siap jika harus kehilangan Mark.
**
Tyona tak pernah sebahagia ini. Menyadari bahwa ada kehidupan lain yang tumbuh bersamanya, membuat dadanya seperti ingin meledak akan rasa bahagia yang tak terbendung. Hal yang selama ini hanya ia bisa dibayangkannya, kini menjadi kenyataan. Rasanya seribu kali lipat lebih indah. Pipinya mulai pegal karena terus tersenyum sedari tadi. Tapi ia tak peduli, biar saja orang-orang menganggapnya tak waras. Yang jelas Tyona bahagia!
Pintu apartemennya terbuka. Tak perlu melihat siapa yang datang, karena ia tahu sudah pasti suaminya yang baru pulang dari rumah sakit. Senyumnya luntur. Euphoria akan kehamilannya membuat Tyona benar-benar lupa mengenai Jeffrey. Kehamilan yang ia tunggu, namun datang disaat rumah tangganya sedang tak baik-baik saja.
Sepasang lengan kekar membungkus pinggangnya dari belakang. Nyaris membuatnya menjatuhkan piring yang baru saja selesai ia cuci.
“Kau harum” ucap Jeffrey sembari mengendusi lehernya, dibubuhi kecupan kupu-kupu pada tengkuknya. Tyona beringsut, mendorong Jeffrey pelan. “Lepas, Jeff. Kau kotor sehabis dari rumah sakit”
Jeffrey terkekeh, bukan melepaskan, pelukannya justru semakin erat. Telapak tangannya mengusap perut Tyona yang masih rata. Hal sederhana namun membuat Anna gugup setengah mati.
“Aku tadi melihatmu keluar dari poli obsgyn. Ada apa kesana?”
Degup jantungnya semakin berlarian. Membuat Tyona berdoa semoga Jeffrey tak mendengarnya. Ia menoleh, berpapasan dengan hidung tinggi Jeffrey.
Haruskah ia jujur?
**
__ADS_1