
Semakin hari perundungan yang diterima Nayara semakin gencar. Bukan hanya surat kaleng yang berisi kata-kata tak pantas sebagai seorang perempuan, lirikan sinis yang gadis itu tangkap setiap berpapasan dengan wanita-wanita yang bahkan tak ia kenalpun mulai mengganggu. Beberapa bahkan dengan sengaja menabrakkan pundaknya keras dan berlalu tanpa mengatakan maaf.
Jujur saja, jika hanya Sharin yang ia hadapi, Nayara tidak gentar sama sekali. Tapi jika seisi kampus, terutama para mahasiswi memusuhinya, nyali Nayara menciut. Berangkat kuliah saja seperti akan menghadapi eksekusi. Dulu sebelum menjalin hubungan dengan Jeanno, Nayara memiliki beberapa teman baik yang mau bergaul dengannya sekalipun ia tidak memiliki apa-apa. Tapi melihat keadaan sekarang, orang-orang yang ia anggap teman hanya meliriknya datar dan kabur seolah-olah ia hantu. Di asramapun sama keadaannya, membuat Nayara enggan keluar kamar.*
Setidaknya di tempat kerja ia bisa memiliki ruang dimana tidak melulu menghadapi pandangan orang-orang yang menghakiminya hanya karena ia memiliki kekasih kaya raya. Sekalipun Nayara yakin pasti ada presepsi aneh dari rekan kerjanya perihal hubungannya dengan Jeanno. Tapi nyatanya mereka tidak menunjukkannya secara gamblang seperti anak-anak kampus. Mereka tetap tersenyum ketika Nayara berpamitan pulang bersama Jeanno. Sesekali mereka menggodanya, mengatakan betapa beruntungnya ia. Well, ia memang merasa beruntung memiliki Jeanno yang memujanya, memperlakukannya bak porselen yang mudah lecet. Nayara beruntung memilki Jeanno.*
Sisi lain, gadis itu takut. Jika menjalin hubungan dengan Jeanno saja harus membuatnya dikucilkan satu kampus, lantas harga apa lagi yang harus ia bayar jika melanjutkan hubungan mereka lebih jauh?*
“Nayara?”*
Mendengar namanya dipanggil, gadis itu mendongak. Bertemu pandang dengan bola mata indah milik salah satu karib Jeanno. “Oh, hey.. Henry”
“Aku melihatmu melamun sedari tadi” telunjuk Henry menunjuk buku yang berasa dipangkuan Nayara. “Padahal kau sedang membaca buku”*
Pandangan Nayara menunduk, menyadari buku yang ia pangku sedari tadi masih terbuka dihalaman yang sama, padahal terhitung sudah hampir dua jam ia terduduk di bangku taman kampus. “Aku hanya sedang tidak mood untuk melanjutkan baca”*
Kemudian tangannya menutup buku tersebut dan memasukkannya kedalam totebag lusuh miliknya.*
“Menunggu Jeanno?”*
Nayara mengangguk. “Kelasnya selesai sepuluh menit lagi”*
__ADS_1
Keduanya terdiam setelah Henry memberi respon berupa anggukan kepala. Wajar saja jika ada kecanggungan, karena faktanya Nayara hanya pernah duduk di kantin bersama kawan-kawan Jeanno tiga kali saja.*
“Mengenai perilaku mereka yang tidak menyenangkan, jangan diambil hati ya”*
Nayara sontak saja menoleh, melihat lawan bicaranya yang memandang lurus kedepan. Dalam hati ia mencoba meyakinkan benarkah kepada dirinya Henry bicara? Tapi tak ada siapapun di dekat pemuda itu selain Nayara sendiri.*
“Mereka hanya iri padamu. Jeanno sudah menjadi pusat perhatian sejak awal masuk kuliah. Tampan, kaya raya, pintar. Siapa yang tidak jatuh hati? Sharin saja menjadi besar kepala ketika mendapatkan predikat sebagai ‘kekasih Jeanno’. Mau kuberitahu satu hal? Dari semua mantan, atau perempuan yang berhubungan dekat dengan Jeanno, Sharin adalah yang paling lama. Karena itulah dia merasa yang paling terkhianati ketika hubungan mereka usai, dan Jeanno terlihat sangat memuja gadis lain yang menurutnya tidak lebih baik dari Sharin sendiri”*
Henry mengubah arah pandangannya menuju Nayara. “Sharin mungkin terlihat seperti anak orang kaya yang manja dan menyebalkan. Tapi dia lebih dari itu, Nay. Kau harus berhati-hati. Dia akan menggunakan segala cara, melalui koneksi dan kekuasaan untuk menyingkirkanmu”*
Tengkuk Nayara bergidik, merasa gugup dengan nada bicara Henry yang sangat serius, didukung oleh sorot mata yang menatapnya dalam. “Aku tau bahwa aku tidak seharusnya mengatakan ini, tapi… selain Jeanno, jangan percaya pada siapapun. Termasuk Arjuna, Andy, dan.. aku”*
**
Sialnya, mereka bertemu di ruangan Jeanno. Bukan di kafe atau ruang terbuka lain. Hal itu karena kerjasama mereka yang bersifat rahasia. Sekali lagi, demi pekerjaan.
Wanita itu masih sama. Sharin Widjaja yang kecantikannya tak perlu diragukan. Bahkan setelah nyaris sepuluh tahun berlalu. Tidak perlu bersusah payah untuk membuat para pria bertekuk lutut memujanya. Well, kecuali Jeanno.
“Kau tidak pernah berubah. Tetap Jeanno yang tampan”
Jeanno memalingkan wajah, mencoba mengontrol emosinya agar tidak kentara pada air mukanya. “Bisakah kita kembali kepada tujuan mengapa kau disini?”
Sharin terkekeh. “Santai saja, Jeanno. Aku sudah menjadi istri orang lain”
“Kalau begitu bersikaplah profesional”
Sharin menopang dagunya pada punggung tangan. Mengamati dengan pandangan penuh kagum kepada Jeanno yang tengah menerangkan susunan rencana kerjasama mereka. Bahkan usai sepuluh tahun berlalu, Jeanno tetaplah pria yang masih menempati tahta tertinggi di hatinya. Persetan dengan Brian yang berstatus suaminya, hatinya tetaplah milik Jeanno.
“Melihat respon nyonya Dharma yang hanya diam saja, saya asumsikan anda sudah mengerti apa yang saya sampaikan”
Sharin tersenyum. “Aku mengerti”
__ADS_1
Jeanno mengangguk, kemudian bangkit dari kursinya. “Jika begitu, maka saya rasa sudah cukup untuk pertemuan hari ini. Untuk selanjutnya saya akan sangat senang hati jika tuan Dharma sendiri yang datang kemari”
Sharin turut bangkit, mengulurkan tangannya bermaksud menjabat tangan Jeanno. “Senang bekerjasama denganmu, Jeanno”
Jeanno hanya mengangguk sekilas sebelum kembali ke kursinya, meninggalkan jabatan tangan Sharin yang menggantung menggapai angin kosong. Yang tanpa Jeanno sadari, wanita itu tengah tersenyum penuh makna padanya.
**
Jeanno menghilang.
Sudah tiga hari pesan Nayara hanya dibalas seperlunya. Pria itu juga tidak nampak batang hidungnya di kampus maupun menepati perkataannya untuk mengantar-jemput Nayara di tempat kerja. Gadis itu mendengus frustasi, sebab Jeanno tak pernah berperilaku seperti ini. Menghilang bak ditelan bumi. Terakhir kali yang ia tahu Jeanno tengah ada urusan bersama keluarganya. Entah urusan apa, namun sepertinya penting sekali karena mengharuskan Jeannno meluangkan waktu kuliahnya sampai berhari-hari.*
Sebetulnya ingin sekali Nayara menanyakan bagaimana kabar Jeanno kepada tiga karibnya. Namun perkataan Henry tempo hari membuatnya mengurungkan niat. Terlebih jika melihat pandangan penuh penghakiman dari Arjuna dan seringai sinis dari Andy. Tidak mau mereka berasumsi aneh-aneh mengenai hubungannya dengan Jeanno, Nayara lebih memilih berlalu. Menyerahkan kepada waktu mengenai kapan kekasihnya akan muncul kembali. Menepis segala kekhawatiran, berdoa semoga Jeanno dalam keadaan baik-baik saja.*
“Nayara”*
Gadis itu mengangkat dagunya, melihat seorang pria tampan berpenampilan rapi tengah melambaikan tangan seraya tersenyum ramah. Tak ada kesan negatif pada sosok itu, yang Nayara ingat sebagai Mark Sebastian, sepupu Jeanno. Tanpa ragu ia mendekati Mark.*
“Kak Mark”*
Masih dengan senyumnya yang hangat, tangan Mark terulur membuka pintu kursi kemudi mobilnya. “Masuklah. Ada yang ingin kusampaikan padamu”*
Jemari Nayara menggenggam pegangan totebagnya erat. Bingung apakah ia harus mempercayai Mark atau tidak. Karena bagaimanapun dirinya belum begitu mengenal Mark.*
“Ini tentang Jeanno, Nayara”*
*
__ADS_1